- Penyakit tidak menular menempati urutan pertama penyebab kematian imigran Afganistan terdaftar dengan 51,11 persen.
- Penyakit sistem peredaran darah paling sering muncul dengan 3.396 kasus, diikuti neoplasma dengan 839 kasus.
- Sejak 2019 frekuensi kematian akibat penyakit menular relatif dekat dengan penyakit tidak menular.
- Cedera lebih sering menimpa laki-laki dengan 831 kasus dan terutama mengenai kelompok usia 20 sampai 40 tahun.
- Imigran tanpa dokumen kurang terwakili dalam data sehingga temuan harus ditafsirkan dengan hati-hati.
Daftar Isi
Kehadiran imigran Afganistan di Iran, tulis sekelompok peneliti di Mashhad, membawa sederet tantangan, dan yang mereka sebut lebih dulu adalah risiko kesehatan baru berupa penyebaran penyakit menular. Namun ketika catatan kematian para imigran terdaftar itu ditelaah untuk satu dasawarsa, yang paling banyak tertulis di kolom penyebab justru penyakit yang tidak berpindah dari orang ke orang, terutama penyakit sistem peredaran darah, lalu neoplasma.
Telaah itu dikerjakan Samaneh Eslami, Ehsan Mosa Farkhani, Masoumeh Sadeghi, Masoumeh Andish, Najmeh Khodadadi, dan Mohsen Dehghani, yang menuliskannya dalam artikel Epidemiological pattern of death and causes of death in registered immigrants of Northeast Iran during the 2013–2023: a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keenamnya bekerja di Mashhad University of Medical Sciences, Mashhad, Iran, kota di timur laut negeri itu yang menjadi tempat tinggal para imigran yang mereka teliti.
Yang mereka baca adalah 10.777 catatan kematian imigran Afganistan terdaftar di Mashhad sepanjang 2013 sampai 2023, lengkap dengan usia, jenis kelamin, dan penyebab kematiannya. Latarnya, menurut data UNHCR 2024 yang dikutip naskah, Iran menampung salah satu populasi pengungsi dan migran terbesar di dunia, dan sekitar 99 persen di antaranya orang Afganistan. Provinsi Khorasan Razavi, tempat Mashhad berada, disebut sebagai salah satu kawasan permukiman utama mereka.
Lebih dari Separuh Kematian Bukan karena Penularan
Dari seluruh kematian selama dasawarsa itu, penyakit tidak menular menempati urutan pertama dengan 51,11 persen, sedikit di atas separuh. Penyakit menular menyusul dengan 24,27 persen, lalu sebab yang berkaitan dengan ibu dan bayi baru lahir 10,44 persen, cedera 9,62 persen, dan sebab yang tidak diketahui 4,56 persen. Urutan itu, catat para penulis, bertahan sepanjang 2013 sampai 2023: kematian akibat penyakit tidak menular selalu lebih tinggi daripada penyebab lain.
Di dalam kelompok penyakit tidak menular itu, penyakit sistem peredaran darah paling sering muncul, yaitu 3.396 kasus, diikuti neoplasma dengan 839 kasus. Usia menjadi garis pemisahnya. Pada kelompok di atas 60 tahun, penyakit peredaran darah tercatat pada 2.405 kematian atau 43,74 persen dari seluruh kematian di kelompok usia itu, sedangkan pada kelompok 40 sampai 60 tahun angkanya 800 kematian atau 35,71 persen.
Neoplasma mengikuti arah yang serupa, dengan 450 kematian pada kelompok di atas 60 tahun dan 262 kematian pada kelompok 40 sampai 60 tahun, serta lebih banyak dicatat pada laki-laki, yakni 498 kasus berbanding 341 kasus pada perempuan. Dalam simpulannya para penulis menyatakan bahwa kedua penyebab itu lebih banyak ditemukan pada laki-laki berusia di atas 60 tahun dibandingkan kelompok usia dan jenis kelamin lain. Kelompok usia itu pula yang mencatat jumlah kematian terbanyak, yakni 5.498 kasus.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Ketika Penyakit Menular Merapat sejak 2019
Namun urutan yang tetap itu tidak berarti jaraknya tetap. Penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan naik dari 2013 sampai 2019, lalu turun antara 2019 dan 2021 ketika penyakit menular justru naik, dan kembali naik dari 2021 sampai 2023. Para penulis menduga pandemi COVID-19 berada di balik perubahan itu, walaupun mereka menegaskan penyakit tidak menular tetap menjadi penyebab kematian utama dalam penelitian mereka.
“Sejak 2019, frekuensi kematian akibat penyakit menular relatif dekat dengan frekuensi kematian akibat penyakit tidak menular; namun, penyakit tidak menular secara konsisten menempati peringkat pertama di antara penyebab kematian,” tulis Samaneh Eslami dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Keadaan itu mereka sebut mengkhawatirkan, sebab menurut pustaka yang mereka rujuk, banyak penyakit tidak menular merupakan faktor risiko utama infeksi COVID-19 yang berat.
Di dalam kelompok penyakit menular, penyakit sistem pernapasan menjadi penyebab yang paling sering, dan lagi-lagi bertumpu pada orang tua: 1.340 kematian pada kelompok di atas 60 tahun, atau 24,37 persen dari kematian di kelompok usia itu. Pada semua usia, penyakit ini tercatat pada 1.140 laki-laki dan 945 perempuan. Penyakit infeksi dan parasit tercatat pada 325 kematian di kelompok usia di atas 60 tahun. Pada bayi di bawah satu tahun, penyakit pernapasan paling jarang dicatat, yakni 58 kasus.
Para penulis menyandingkan temuan itu dengan penelitian Sohrabi dan rekan pada 2022, yang mendapati imigran dengan COVID-19 lebih mungkin mengalami akibat penyakit yang berat dibandingkan pasien kelahiran Iran, dan bahwa status imigran berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian akibat COVID-19. Mereka juga mencatat bahwa orang berusia 60 tahun ke atas serta mereka yang memiliki penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, atau kanker lebih berisiko mengalami akibat yang berat dan fatal.
Laki-laki Muda dan Jenis Kematian yang Lain
Justru sebaliknya yang tampak pada kelompok usia muda. Kematian laki-laki tercatat lebih banyak, 6.357 kasus berbanding 4.420 kasus pada perempuan, atau kira-kira 59 persen dan 41 persen, dan satu jenis penyebab menonjol pada mereka. Cedera lebih sering menimpa laki-laki, dengan 831 kasus, dan terutama mengenai kelompok usia 20 sampai 40 tahun dengan angka 40,04 persen.
Pada kelompok usia 20 sampai 40 tahun itu, cedera, keracunan, dan akibat lain dari sebab luar dicatat pada 209 kematian atau 19,83 persen, sedangkan kecelakaan transportasi pada 85 kematian atau 8,06 persen. Dilihat menurut jenis kelamin, kecelakaan transportasi tercatat pada 212 laki-laki dan 62 perempuan, sementara cedera dan keracunan pada 380 laki-laki dan 91 perempuan. Gangguan jiwa sebagai penyebab kematian pun condong ke satu sisi, 40 kasus pada laki-laki dan 6 kasus pada perempuan.
Penjelasan yang ditawarkan para penulis menunjuk pada pekerjaan. Kecelakaan, tulis mereka, terutama terjadi pada kelompok usia 20 sampai 40 tahun, yakni pekerja laki-laki di bidang berisiko tinggi seperti konstruksi dan transportasi, dan lebih rendah pada orang lanjut usia yang lebih jarang melakukan kerja berat. Mereka menambahkan bahwa ketiadaan alat keselamatan, status tanpa dokumen, deportasi, dan penyeberangan perbatasan yang berbahaya membuat angka itu tercatat lebih rendah daripada kenyataannya.
Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Bayi Laki-laki dalam Daftar yang Sama
Ada satu temuan yang oleh para penulis sendiri disebut menarik. Sebab kematian yang berkaitan dengan ibu dan bayi baru lahir, yang paling banyak dijumpai pada bayi di bawah satu tahun, ternyata lebih sering dicatat pada laki-laki, 617 kasus, daripada perempuan, 508 kasus. Dari 1.397 kematian bayi di bawah satu tahun, komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas tercatat pada 894 kasus atau 63,99 persen, sedangkan kelainan bawaan pada 174 kasus atau 12,46 persen.
Untuk menerangkannya, para penulis merujuk sejumlah penelitian yang mengenali jenis kelamin laki-laki sebagai faktor risiko tersendiri bagi hasil kehamilan yang buruk, sementara bayi perempuan umumnya memiliki keunggulan bertahan hidup. Mereka juga menyebut keadaan ibu imigran, yang menurut pustaka rujukan mereka terhalang hambatan bahasa, ketidakpastian hukum, keterbatasan keuangan, dan ketidaksesuaian budaya ketika hendak memperoleh perawatan sebelum dan sesudah melahirkan.
Namun perbandingan dengan penelitian lain tidak selalu seiring. Soura dan rekan, yang dikutip dalam naskah, melaporkan penyakit infeksi sebagai penyebab kematian utama pada anak, lebih dari 75 persen kematian masa kanak-kanak. Temuan di Mashhad berbeda, kata para penulis, karena kematian akibat penyakit infeksi di sana lebih banyak ditemukan pada orang lanjut usia daripada kelompok usia yang lebih muda.
Angka yang Rendah dan Mereka yang Tak Tercatat
Angka kematian kasar pada populasi imigran itu 3,05 per 1.000 penduduk per tahun, sedangkan angka yang distandarkan menurut usia dan jenis kelamin 5,42 per 1.000, dengan rentang kepercayaan 5,31 sampai 5,54. Para penulis sendiri menilai angka kasar itu relatif rendah dibandingkan rata-rata negara tuan rumah, dan mereka tidak serta-merta membacanya sebagai tanda bahwa kematian memang sedikit.
Mereka menyebut tiga kemungkinan lain: kematian yang tidak dilaporkan pada kelompok tanpa dokumen, gejala yang mereka namai efek migran sehat, yakni pendatang awal lebih sehat daripada rata-rata, serta cakupan pencatatan yang tidak lengkap. Naskah itu mengingatkan bahwa dalam pendataan pemerintah Iran pada 2022 sekitar 2,6 juta orang Afganistan terdaftar, sementara kira-kira 500.000 orang tanpa dokumen diperkirakan tidak ikut didata.
“Temuan penelitian ini harus ditafsirkan dengan hati-hati mengingat keterbatasan data yang tersedia,” tulis para penulis, masih dalam bahasa Inggris. Keterbatasan utamanya, menurut mereka, ialah data yang bersumber dari pencatatan sehingga dapat mengandung bias pelaporan dan kesalahan pencatatan, dan imigran tanpa dokumen kurang terwakili di dalamnya. Penelitian ini juga hanya mencakup imigran di timur laut Iran, sehingga polanya belum tentu berlaku bagi imigran di kota besar lain.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Mereka mengakui pula bahwa keterangan tentang lama dan cara bermigrasi, jenis tempat tinggal di Iran, pekerjaan, penyakit yang sudah diidap, akses ke layanan kesehatan, status perkawinan, dan pendidikan tidak tersedia, sehingga analisis tidak dapat masuk lebih dalam ke wilayah itu. Di sisi lain, naskah mencatat bahwa imigran Afganistan terbatas hubungannya dengan fasilitas kesehatan di Iran, dan sebagian dari mereka tidak memiliki rumah maupun dokumen.
Yang Masih Diminta Para Penulis
Simpulan naskah itu kembali ke temuan pokoknya: kematian akibat penyakit tidak menular, terutama penyakit sistem peredaran darah dan neoplasma, lebih tinggi pada imigran dibandingkan penyebab lain. “Menangani kebutuhan kesehatan para migran tetap menjadi tantangan besar karena beragam risiko yang terkait dengan migrasi,” tulis Eslami dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris, seraya menyebut dokter, pengelola layanan kesehatan, dan pembuat kebijakan perlu memperdalam pengetahuan di bidang ini.
Para penulis menutup naskahnya dengan dua permintaan: penelitian yang luas pada berbagai ras, etnis, dan komunitas, mengingat penyebab kematian imigran di dunia begitu beragam, serta penelitian yang membandingkan pola dan penyebab kematian imigran dengan penduduk asli. Perbandingan itu, menurut mereka, diperlukan sebagai bahan yang lebih baik bagi pengelolaan kesehatan imigran di Iran.














