- Tanpa vaksinasi, tiga penyakit ditaksir membebani ekonomi Arab Saudi 385 juta dolar AS per tahun.
- Program imunisasi untuk ketiga penyakit itu ditaksir menelan 80 sampai 120 juta dolar AS setahun.
- Influenza memikul beban ekonomi terbesar, yakni 185 juta dolar AS setahun.
- Setiap satu dolar AS untuk imunisasi menghasilkan kira-kira 6,8 sampai 11,3 dolar AS manfaat ekonomi.
Daftar Isi
- Tiga Penyakit yang Dibiarkan Datang Menelan 385 Juta Dolar Setahun
- Program yang Mencegahnya Hanya Memakan 80 sampai 120 Juta Dolar
- Influenza Mahal karena Menyerang Begitu Banyak Orang Usia Kerja
- Pneumokokus Mahal karena Merenggut Nyawa Anak dan Lansia
- Satu Dolar yang Ditanam Kembali 6,8 sampai 11,3 Dolar
- Angka yang Diminta Dibaca sebagai Perkiraan, Bukan Ramalan
Rantai dingin penyimpan vaksin adalah ongkos yang dibayar di muka. Hari kerja yang hilang karena flu adalah kerugian yang datang ketika penyakit menyebar. Dua peneliti farmasi di Arab Saudi menghitung keduanya dalam satu kajian, lalu menaksir berapa manfaat ekonomi yang kembali dari setiap dolar yang dibelanjakan untuk imunisasi.
Hitungan itu dikerjakan Ali M. Alshahrani dan Ahmed M. Ashour dalam artikel Economic burden and return on investment of immunization programs in Saudi Arabia: a health economic evaluation, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Alshahrani bekerja di Departemen Farmasi Klinis Taif University. Ashour adalah profesor madya di Departemen Farmakologi dan Toksikologi Umm Al-Qura University, Makkah.
Mereka memilih tiga penyakit: campak, influenza, dan penyakit pneumokokus. Untuk masing-masing, keadaan sekarang dengan cakupan vaksinasi yang tinggi dibandingkan dengan keadaan andaian tanpa vaksinasi sama sekali. Semua angka dinyatakan dalam dolar Amerika Serikat tahun 2024 dan berasal dari data terbuka WHO, Bank Dunia, UNICEF, serta Kementerian Kesehatan Arab Saudi.
Tiga Penyakit yang Dibiarkan Datang Menelan 385 Juta Dolar Setahun
Di sisi kerugian, angkanya besar. Tanpa vaksinasi, ketiga penyakit itu ditaksir membebani ekonomi Arab Saudi 385 juta dolar AS per tahun, dengan rentang 315 sampai 460 juta dolar. Beban itu terdiri atas dua lapis. Lapis pertama biaya medis langsung, yakni rawat inap, rawat jalan, obat, dan pemeriksaan. Lapis kedua adalah produktivitas yang hilang karena orang sakit atau meninggal sebelum waktunya.
Jumlah orang yang sakit dalam keadaan andaian itu tidak sedikit. Kasus campak ditaksir 20.000 setahun, dengan rentang 15.000 sampai 25.000. Penyakit pneumokokus 55.000 kasus, antara 40.000 dan 70.000. Influenza jauh di atas keduanya, yakni 1,5 juta kasus setahun dengan rentang 1,2 sampai 1,8 juta. Para penulis mencatat kasus campak akan naik tajam karena penyakit ini sangat mudah menular.
Lapis kedua beban tadi mengambil bagian yang besar. Biaya tidak langsung, menurut kedua penulis, menyumbang kira-kira 40 sampai 60 persen dari seluruh beban ketiga penyakit. Biaya langsung seluruhnya ditaksir 160 sampai 215 juta dolar AS. Biaya tidak langsung ditaksir 155 sampai 245 juta dolar AS setahun.
Program yang Mencegahnya Hanya Memakan 80 sampai 120 Juta Dolar
Di sisi lain ada ongkos pencegahan. Program imunisasi untuk ketiga penyakit itu ditaksir menelan 80 sampai 120 juta dolar AS setahun, dengan angka dasar 100 juta dolar. Di dalamnya sudah terhitung pengadaan vaksin, distribusi, pemeliharaan rantai dingin, dan pemberian vaksin kepada penerimanya. Angka dasar itulah yang kemudian dihadapkan dengan manfaat ekonomi program.
Sebagian besar pengeluaran itu dipakai untuk program vaksinasi anak. Vaksinasi influenza musiman mengambil porsi yang lebih kecil, tetapi tetap berarti. Program imunisasi nasional Arab Saudi sendiri, tulis kedua peneliti, menyediakan vaksin rutin bagi anak dan vaksin tertentu bagi orang dewasa secara cuma-cuma lewat Kementerian Kesehatan. Cakupan imunisasi utama pada anak dalam beberapa tahun terakhir melampaui 90 persen.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Cakupan setinggi itu tidak membuat penyakitnya hilang. Kasus campak masih sesekali dilaporkan, terutama karena celah dalam kekebalan kelompok dan infeksi yang dibawa dari luar negeri. Influenza musiman tetap menjadi penyumbang kesakitan yang penting, khususnya pada lansia dan kelompok berisiko tinggi. Penyakit pneumokokus pun masih membebani anak maupun orang dewasa.
Influenza Mahal karena Menyerang Begitu Banyak Orang Usia Kerja
Dari ketiga penyakit, influenza memikul beban ekonomi terbesar, yakni 185 juta dolar AS setahun dengan rentang 150 sampai 220 juta dolar. Kedua penulis menyebut temuan ini sebagai salah satu yang paling menonjol. Sumbernya kunjungan rawat jalan, rawat inap pada kelompok berisiko tinggi, dan produktivitas yang hilang karena pekerja tidak masuk.
Kematian akibat influenza sebenarnya lebih rendah daripada kematian akibat penyakit pneumokokus. Namun, penularannya yang luas, terutama di kalangan orang dewasa usia kerja, membuat kerugian yang terkumpul lebih besar. Biaya tidak langsung influenza ditaksir 70 sampai 120 juta dolar AS setahun. Biaya medis langsungnya berada pada rentang 80 sampai 100 juta dolar AS.
Campak berada di ujung yang lain. Beban ekonominya paling kecil di antara ketiganya, kira-kira 45 juta dolar AS setahun dengan rentang 40 sampai 60 juta dolar. Pendorong utamanya biaya rawat inap serta produktivitas yang hilang ketika orang tua harus merawat anak yang sakit atau mengalami komplikasi. Meski bebannya kecil, kedua peneliti tetap menilainya mengkhawatirkan karena mudah menular dan berpotensi mewabah.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Pneumokokus Mahal karena Merenggut Nyawa Anak dan Lansia
Penyakit pneumokokus menempuh jalan yang berbeda. Beban ekonominya ditaksir 150 juta dolar AS setahun, dengan rentang 120 sampai 180 juta dolar. Angka itu mencerminkan mahalnya pengobatan kasus berat seperti pneumonia dan meningitis, ditambah produktivitas yang hilang karena kematian. Biaya langsung dan biaya tidak langsungnya sama-sama berada pada rentang 60 sampai 90 juta dolar AS.
Pada pneumokokus, kerugian lebih banyak datang dari kematian. Bentuk beratnya dikaitkan dengan angka kematian kasus yang lebih tinggi, terutama pada anak kecil dan orang lanjut usia. Karena itu, vaksin pneumokokus menjadi penyumbang terbesar manfaat ekonomi yang terkait dengan kematian. Flu merugikan lewat hari kerja yang hilang, sedangkan pneumokokus merugikan lewat kematian dini.
Untuk memberi harga pada kematian yang tercegah, kedua penulis memakai ukuran yang disebut nilai nyawa statistik. Untuk Arab Saudi, nilainya ditaksir 3 sampai 5 juta dolar AS per nyawa statistik. Dengan ukuran itu, kematian yang tercegah lewat imunisasi setiap tahun bernilai 500 sampai 900 juta dolar AS. Angka rata-rata yang dipakai adalah 700 juta dolar.
Satu Dolar yang Ditanam Kembali 6,8 sampai 11,3 Dolar
Ketika biaya sakit yang terhindar digabung dengan nilai nyawa yang terselamatkan, manfaat ekonomi imunisasi ditaksir 1.085 juta dolar AS setahun. Rentangnya 815 sampai 1.360 juta dolar. Berhadapan dengan biaya program sekitar 100 juta dolar, imbal hasil investasinya ditaksir 9,85, dengan rentang 6,8 sampai 11,3.
Kedua penulis menerjemahkan angka itu ke dalam ukuran sehari-hari. Untuk setiap satu dolar AS yang ditanam pada imunisasi, kira-kira 6,8 sampai 11,3 dolar AS manfaat ekonomi dihasilkan. Manfaat itu datang dari biaya kesehatan yang terhindar, produktivitas yang tidak jadi hilang, dan nilai uang dari kematian yang tercegah.
Angka itu juga diuji dengan mengubah-ubah andaian. Jumlah kasus, biaya pengobatan, biaya program, tingkat diskonto, dan nilai nyawa statistik digeser ke batas bawah dan batas atasnya. Besar kecilnya hasil memang berubah. Namun, imbal hasil tetap di atas 5 pada semua skenario yang diuji. Nilai nyawa statistik dan jumlah kasus penyakit adalah dua hal yang paling memengaruhi keluaran model.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Dari sana kedua penulis menarik pesan bagi pembuat kebijakan. “Dengan mengurangi beban penyakit, menurunkan biaya layanan kesehatan, dan menopang produktivitas ekonomi, vaksin merupakan investasi penting bagi kesehatan masyarakat sekaligus pembangunan nasional,” tulis Alshahrani dan Ashour dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris.
Angka yang Diminta Dibaca sebagai Perkiraan, Bukan Ramalan
Kedua peneliti sendiri memberi batas pada hitungan mereka. Analisis ini bertumpu pada data sekunder. Ketika taksiran biaya khusus Arab Saudi tidak tersedia, dipakai nilai dari negara Dewan Kerja Sama Teluk dan sistem kesehatan Timur Tengah yang sebanding, lalu disesuaikan. Penyesuaian itu memakai cara yang sudah mapan, tetapi tetap dapat menambah ketidakpastian pada hasilnya.
Ada pula yang tidak ikut dihitung. Nilai rata-rata yang dipakai belum tentu menangkap perbedaan antarwilayah atau antarkelompok penduduk di Arab Saudi. Biaya yang tidak berwujud, seperti turunnya kualitas hidup, tidak diberi angka. Analisis ketidakpastian secara probabilistik juga tidak dilakukan, karena sebaran peluang untuk beberapa parameter khas Arab Saudi tidak tersedia.
Karena itu mereka meminta pembaca berhati-hati. “Akibatnya, taksiran beban ekonomi dan imbal hasil investasi yang dilaporkan harus dibaca sebagai perkiraan yang berorientasi kebijakan, bukan ramalan yang presisi,” tulis keduanya, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menyebut angka-angka itu sebagai petunjuk tentang nilai ekonomi imunisasi, bukan prediksi belanja kesehatan pada masa depan.
Analisis ini hanya mencakup campak, influenza, dan penyakit pneumokokus. Menurut kedua penulis, nilai ekonomi seluruh program imunisasi nasional Arab Saudi kemungkinan lebih besar, sebab beberapa penyakit lain yang dapat dicegah dengan vaksin tidak dimasukkan ke dalam hitungan.
Hal serupa berlaku untuk dampak tidak langsung vaksinasi. Kekebalan kelompok dan perubahan pola penularan penyakit tidak dimodelkan secara khusus. Bila keduanya ikut dihitung, tulis mereka, manfaat kesehatan dan ekonomi yang ditaksir bisa lebih besar. Manfaat pemerataan bagi kelompok rentan, yakni anak, lansia, dan penderita penyakit kronis, juga tidak diberi angka.
Untuk langkah berikutnya, keduanya menyarankan data ekonomi dan epidemiologi khas Arab Saudi yang lebih rinci, serta analisis yang memasukkan lebih banyak penyakit. Mereka juga menulis bahwa memperluas cakupan vaksinasi influenza, terutama pada kelompok berisiko tinggi dan penduduk usia kerja, dapat menambah manfaat kesehatan dan ekonomi. Investasi berkelanjutan dinilai perlu agar penyakit yang sangat menular seperti campak tidak kembali.
Kajian ini, menurut para penulisnya, menunjukkan bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin masih menimbulkan beban ekonomi yang terukur di Arab Saudi, bahkan ketika cakupan imunisasinya relatif tinggi. Program imunisasi, tulis mereka, menghasilkan manfaat ekonomi berkali lipat dari biaya awalnya.














