- Laba bank sentral baru menekan inflasi bila lembaganya independen.
- Tanpa independensi, laba itu malah bisa menaikkan inflasi.
- Lima ekonomi ini lebih peka terhadap sentimen risiko dunia daripada kondisi keuangan dalam negerinya.
- Bank sentral yang kekurangan modal, seperti Bank of Thailand, sulit menjalankan kebijakan inflasi rendah.
- Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste tidak ikut dihitung karena datanya tidak memadai.
Daftar Isi
Tahun 2005 menjadi titik mula catatan ini. Sejak tahun itu sampai 2023, laporan keuangan lima bank sentral Asia Tenggara dibuka satu per satu dan disandingkan dengan laju inflasi di negaranya. Kelimanya adalah Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, Bangko Sentral ng Pilipinas, Monetary Authority of Singapore, dan Bank of Thailand.
Pekerjaan itu dilakukan Mega Fauziah, Hermanto Siregar, Solikin M. Juhro, Tanti Novianti, dan Sigit Wibowo. Hasilnya terbit sebagai artikel Central Bank Financial Strength, Credibility, and Global Market Risk: Evidence From Southeast Asian Economies dalam Bulletin of Monetary Economics and Banking volume 29 nomor 2 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari IPB University, Bank Indonesia, dan University of Indonesia.
Pertanyaan mereka satu. Apakah kuat-lemahnya keuangan sebuah bank sentral ikut menentukan kredibilitasnya, yaitu kepercayaan publik bahwa lembaga itu sanggup menjaga inflasi? Jawaban yang mereka temukan bersyarat: laba bank sentral baru menekan inflasi bila lembaganya independen.
1997/98 dan 2008/09: dua krisis yang mendahului
Catatan kawasan ini tidak dimulai dari keadaan tenang. Asia Tenggara, tulis para peneliti, mengalami krisis keuangan berat pada 1997/98. Sesudah itu kawasan ini terpukul lagi oleh sejumlah guncangan keuangan dunia, termasuk krisis keuangan global 2008/09.
Lima negara yang dipilih disebut sebagai penyumbang ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dengan hampir 80 persen dari total produk domestik bruto kawasan. Kelimanya juga digolongkan sebagai ekonomi kecil dan terbuka. Karena terbuka, dan karena daya serap guncangannya relatif terbatas, mereka rentan terhadap arus modal yang bergejolak dan nilai tukar yang naik-turun.
Gejolak semacam itu, menurut naskah tersebut, membawa risiko besar bagi neraca bank sentral. Dari neraca, risiko itu merambat ke kredibilitas dan keampuhan kebijakan. Hal ini berlaku apa pun rezim moneter yang dianut tiap negara.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
2005: lima bank sentral, lima cara menjaga harga
Kelima otoritas itu sama-sama mengejar kestabilan harga, tetapi jalannya berbeda. Indonesia, Filipina, dan Thailand memakai sasaran inflasi dan nilai tukar mengambang. Malaysia dan Singapura memantau nilai mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang lain yang tidak diumumkan.
Singapura paling lain. Negara itu mengandalkan nilai tukar untuk menjalankan kebijakan moneternya, sedangkan empat negara lain memakai suku bunga jangka pendek sebagai alat utama. Filipina punya rentang sasaran inflasi resmi 2–4 persen. Malaysia memakai sasaran inflasi yang luwes tanpa rentang resmi.
Bank Indonesia dicatat memegang mandat ganda, yaitu kestabilan harga dan kestabilan sistem keuangan. Semua negara itu membuka lalu lintas modalnya. Keterbukaan tersebut, kata para peneliti dengan merujuk Klyuev dan Dao, membuat kondisi moneter dalam negeri dan nilai tukar sulit dikendalikan pada waktu yang sama.
Untuk menakar kredibilitas, para peneliti memakai ukuran yang mereka sebut selisih inflasi. Caranya sederhana: sasaran inflasi suatu negara dikurangi inflasi yang sungguh terjadi pada tahun yang sama. Bila inflasi melampaui sasaran, angkanya jatuh di bawah nol.
2007–2009: sasaran inflasi meleset saat krisis global
Angka di bawah nol itu tidak muncul sembarang waktu. Selisih inflasi yang negatif, tanda bank sentral gagal mencapai tujuan moneternya, tercatat pada masa ekonomi menurun. Masa pertama adalah krisis keuangan global antara 2007 dan 2009.
Sepanjang masa data, tiap negara meninggalkan pola sendiri. Indonesia digambarkan menghadapi lingkungan inflasi paling berat. Suku bunga kebijakannya tertinggi, 10–12 persen, tetapi inflasinya tetap bergerak antara 4 dan 13 persen. Para peneliti membaca hal itu sebagai tanda kebijakan yang lambat merambat atau guncangan dari sisi pasokan yang dominan.
Malaysia berada di ujung sebaliknya. Datanya mengumpul rapat di wilayah bunga rendah dan inflasi rendah. Bank Negara Malaysia, menurut naskah itu, berhasil menjangkar harapan inflasi dan konsisten mencapai sasarannya. Penulis menyebutnya penargetan inflasi yang paling berhasil di antara kelimanya.
Filipina memperlihatkan dua gugus inflasi, yakni 2–4 persen dan 5–8 persen. Artinya masa stabil dan masa tertekan datang bergantian. Bangko Sentral ng Pilipinas mengalami inflasi di bawah sasaran maupun di atasnya, pada tingkat bunga yang mirip.
Singapura mencatat lonjakan harga komoditas dunia pada 2007–2008 yang tidak tertahan oleh penyesuaian nilai tukar. Selisih inflasinya mengumpul di dua tempat yang berjauhan. Menurut para peneliti, pola itu mencerminkan keterbukaan Singapura yang ekstrem terhadap guncangan harga dari luar.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
2010–2015: modal Bank of Thailand sempat di bawah nol
Babak berikutnya terbaca di neraca. Ukuran modal Bank of Thailand menurun dan untuk sementara bernilai negatif. Para peneliti menyebutnya tantangan neraca yang khas pada 2010–2015. Secara keseluruhan bank sentral itu dinilai dikelola konservatif dan mudah ditebak, dengan kekuatan keuangan terendah di kawasan.
Naskah itu menarik pelajaran dari sana. Bank sentral yang kekurangan modal, seperti Bank of Thailand dalam data mereka, sulit menjalankan kebijakan inflasi rendah. Hubungan suku bunga kebijakan dengan inflasi di Thailand juga tercatat paling lemah. Bunganya kebanyakan sangat rendah, sementara inflasinya melebar dari 0 sampai 5 persen.
Negara lain bergerak ke arah berbeda. Ukuran modal Bank Indonesia turun tajam, dan para peneliti membacanya sebagai tanda reformasi kelembagaan yang membawanya sejajar dengan standar kawasan. Bank Negara Malaysia menunjukkan kekuatan keuangan sedang. Bangko Sentral ng Pilipinas tampil paling konservatif.
Monetary Authority of Singapore lagi-lagi berbeda dari tetangganya. Dua ukuran labanya berubah ekstrem. Penulis mengaitkannya dengan peran Singapura sebagai pusat keuangan internasional dan pengelolaan neraca yang rumit.
2020–2022: pandemi dan tarikan pasar dunia
Masa kedua ketika sasaran inflasi meleset adalah pandemi COVID-19, antara 2020 dan 2022. Singapura kembali mencatat lonjakan harga komoditas dunia pada 2021–2022, yang lagi-lagi tidak tertahan oleh penyesuaian nilai tukarnya.
Di titik ini indeks VIX masuk ke dalam catatan. Indeks keluaran Chicago Board Options Exchange itu dipakai para peneliti sebagai penanda risiko pasar global. Pada semua hitungan mereka, VIX berhubungan nyata dengan selisih inflasi di lima negara tersebut.
Arah hubungannya tidak seperti dugaan lazim. Anggapan umum menyebut modal akan lari saat VIX tinggi, mata uang melemah, dan inflasi dari barang impor naik. Hasil mereka memperlihatkan kenyataan yang lebih berlapis: modal dari pasar global justru masuk ke kawasan, mata uang setempat menguat, dan inflasi tertekan.
Gejolak bursa saham dalam negeri dan nilai tukar memberi pengaruh yang lebih lemah atau tidak nyata pada sebagian hitungan. Dari situ para peneliti menyimpulkan lima ekonomi ini lebih peka terhadap sentimen risiko dunia daripada terhadap kondisi keuangan dalam negerinya. Kebijakan moneter domestik bekerja di dalam batas yang dipasang keadaan global.
Akibatnya ruang gerak bank sentral menyempit. Para penulis mencatat kelima otoritas itu harus melawan inflasi saat ekonomi dunia tumbuh dengan ketidakpastian rendah. Mereka juga harus melawan deflasi saat ekonomi dunia merosot dengan ketidakpastian tinggi.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
2023: laba hanya bekerja bersama independensi
Data berakhir pada 2023, dan di sanalah seluruh catatan dirangkum. Suku bunga kebijakan tetap berhubungan nyata dengan selisih inflasi pada semua hitungan. Bagi para peneliti, itu menegaskan bahwa jalur kebijakan moneter yang lazim memang bekerja di lima negara ini.
Temuan pokoknya menyangkut laba. Dua ukuran yang menandai laba bank sentral, yang oleh penulis diberi kode CBFS2 dan CBFS3, berhubungan kuat dengan selisih inflasi. Koefisiennya 0,791 dan 3,865 ketika berdiri sendiri. Ketika dipasangkan dengan indeks independensi bank sentral, angkanya berbalik menjadi -1,769 dan -8,059.
Para peneliti menerjemahkan pembalikan itu dengan terang. Kekuatan keuangan hanya menurunkan inflasi bila berpasangan dengan independensi. Tanpa independensi, laba itu malah bisa menaikkan inflasi. Kemungkinan sebabnya, tulis mereka, bank sentral yang kuat keuangannya tetapi bergantung dapat ditekan untuk menjalankan kebijakan yang memicu inflasi.
Modal tidak berperan serupa. Berapa pun tingkat independensinya, modal bank sentral tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap inflasi. Ukuran pendapatan yang dirata-rata dari tahun-tahun sebelumnya juga tidak. Karena itu penulis menilai pengaruh laba tampak kuat hanya dalam jangka pendek.
Indeks independensi yang dipakai disusun Romelli pada 2022 dan memuat pula batas pinjaman bank sentral kepada pemerintah. Lewat unsur itu tekanan fiskal ikut terbaca. Negara dengan lembaga fiskal yang lemah, menurut temuan mereka, dapat menaikkan tekanan inflasi dan merusak wibawa kebijakan moneter.
Rumusan akhirnya singkat. “Independensi saja, tanpa kekuatan keuangan yang memadai, bisa jadi tidak cukup,” tulis Mega Fauziah dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Reformasi yang memperkuat independensi, saran mereka, perlu disertai ketentuan khusus tentang kekuatan keuangan.
Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste tidak ikut dihitung karena datanya tidak memadai. Para peneliti juga mengakui bahwa mencari ukuran kredibilitas berbasis inflasi untuk negara berkembang cukup sulit, sebab inflasinya bergejolak dan cara tiap bank sentral mengendalikannya berbeda.
Dua hal mereka serahkan kepada riset berikutnya. Yang pertama adalah ketidakpastian pasar global pada saat pasar tertekan, ketika lonjakan ekstrem bisa berubah memicu inflasi. Yang kedua adalah ruang kebijakan bank sentral menurut jaraknya dari batas bawah nol suku bunga.














