Bahasa Lauje Masih Dipahami Anak Muda, tetapi Jarang Diucapkan

A A

Hamparan sawah dan perbukitan berkabut saat senja di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah [Foto: Muhamad sucipto/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Anak muda masih mengerti bahasa Lauje, tetapi tidak memakainya secara aktif dalam percakapan sehari-hari.
  • Di antara teman sebaya, percakapan berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, padahal suasananya santai.
  • Gotong royong masih menjadi ruang penting bagi bahasa Lauje, meskipun pemakaiannya tidak lagi dominan.
  • Generasi muda pada umumnya masih memahami bahasa Lauje dan tidak bersikap negatif terhadap pemakaiannya.
Daftar Isi
  1. Pemahaman pasif: mengerti, tetapi tidak membalas
  2. Bilingualisme tidak seimbang: dua bahasa, satu yang lebih sering
  3. Alih kode: berpindah bahasa di tengah obrolan
  4. Pilihan bahasa: kebiasaan memilih di antara teman dan di kantor desa
  5. Campur kode: sepatah Lauje di warung dan di gotong royong
  6. Fase transisi: bertahan, tetapi dalam keadaan lemah

Pemertahanan bahasa, sebutan para ahli untuk usaha bersama sekelompok penutur agar bahasanya tetap dipakai di tengah desakan bahasa lain yang lebih kuat, di Desa Ogobagis terdengar seperti ini: seorang ibu bertanya dalam bahasa Lauje, lalu anaknya menjawab dalam bahasa Indonesia. Pertanyaannya dimengerti dan jawabannya sampai. Hanya bahasanya yang berbeda.

Percakapan itu dicatat lima peneliti Universitas Tadulako: Fara Klara Dita, Yunidar, Arum Pujining Tyas, Syamsyuddin, dan Ulinsa. Artikel mereka, Pemertahanan Bahasa Lauje di kalangan Generasi Muda Kabupaten Parigi Moutong (Kajian Sosiolinguistik), terbit di Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra volume 12 nomor 3 tahun 2026. Mereka menyimak tuturan anak muda penutur Lauje berusia 15 sampai 28 tahun di Desa Ogobagis, Kecamatan Sidoan.

Bahasa Lauje, tulis mereka, adalah bagian dari bahasa Austronesia yang dipakai turun-temurun oleh masyarakat etnik Lauje. Penuturnya tersebar di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Tinombo, Sidoan, dan Palasa. Pada 2024, Kabupaten Parigi Moutong berpenduduk sekitar 459.570 jiwa, dan 23,98 persen di antaranya anak-anak berusia 0 sampai 14 tahun. Data itu, menurut mereka, menunjukkan kelompok generasi muda sebagai calon penerus bahasa daerah masih cukup besar porsinya di wilayah tersebut.

Dari Ogobagis para peneliti membawa pulang delapan tuturan. Tiga terjadi di dalam rumah, dua di antara tetangga dan teman, tiga lagi di tempat umum: kantor desa, warung, dan kegiatan gotong royong. Kedelapannya dibaca dengan sejumlah istilah ilmu bahasa, antara lain alih kode, campur kode, dan pilihan bahasa.

Pemahaman pasif: mengerti, tetapi tidak membalas

Sore hari, seorang anak baru pulang. Ibunya bertanya, Lamaiga lioe? Artinya, dari mana kamu. Anak itu menjawab dalam bahasa Indonesia: dari rumah teman. Para peneliti menyebut keadaan ini pemahaman pasif. Maksudnya, telinga masih menangkap bahasa daerah, tetapi mulut tidak lagi mengucapkannya.

Bedanya begini. Generasi tua, menurut para peneliti, masih mempertahankan bahasa Lauje sebagai sarana komunikasi utama. Generasi muda cenderung membalas dalam bahasa Indonesia, walaupun mampu memahami pertanyaan yang diajukan. Anak muda masih mengerti bahasa Lauje, tetapi tidak memakainya secara aktif dalam percakapan sehari-hari.

Percakapan kedua lebih tipis lagi. Seorang ibu bertanya kepada anak perempuannya jam berapa sekarang, dalam bahasa Indonesia, lalu menutup kalimatnya dengan udo. Kata itu adalah sapaan Lauje untuk anak perempuan. Si anak menjawab pendek, juga dalam bahasa Indonesia: setengah lima.

Di sini bahasa Lauje tidak hadir sebagai kalimat utuh. Ia tinggal satu sapaan di ujung pertanyaan. Para peneliti menyebutnya penyempitan fungsi, yakni keadaan ketika bahasa daerah hanya muncul dalam bentuk tertentu saja dan tidak lagi dipakai penuh, baik oleh generasi muda maupun dalam seluruh susunan tuturan.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Bilingualisme tidak seimbang: dua bahasa, satu yang lebih sering

Bilingualisme berarti orang menguasai dan memakai dua bahasa. Percakapan ketiga menunjukkan bentuknya di dalam sebuah rumah. Seorang ibu berpesan kepada anak yang lebih muda: peluma kaka, pinejai monggoreng golau. Artinya, bilang kepada kakak, goreng telur. Pesan itu disampaikan dalam bahasa Lauje.

Si adik meneruskannya kepada kakaknya dalam bahasa Indonesia: mama suruh goreng telur. Kakaknya bertanya berapa biji. Adiknya menjawab satu saja. Sejak pesan berpindah tangan, tidak ada lagi kata Lauje yang terdengar. Pesan yang sama, di rumah yang sama, berganti bahasa begitu sampai kepada anak-anak.

Para peneliti menamai keadaan itu bilingualisme yang tidak seimbang. Maksudnya, kedua bahasa memang hidup di satu keluarga, tetapi tidak dipakai sama banyak. Bahasa Lauje hanya muncul pada tahap awal, dari mulut generasi tua. Dalam kelanjutan percakapan, anak-anak lebih dominan berbahasa Indonesia, meskipun mereka berada di lingkungan keluarga yang sama.

Keluarga penting dalam bacaan ini. Para peneliti merujuk Fishman, yang memandang keluarga sebagai pusat pewarisan bahasa antargenerasi. Berkurangnya pemakaian bahasa daerah di dalam rumah, menurut rujukan itu, adalah tanda awal pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa sendiri berarti peralihan pemakaian dari bahasa daerah menuju bahasa yang lebih dominan.

Siapa memakai bahasa apa di OgobagisSiapa memakai bahasa apa di OgobagisSiapa memakai bahasa apa di OgobagisTiga percakapan yang dicatat penelitiGenerasi tuaGenerasi mudaLaujeIndonesiaIbu dan anak dirumahLaujeIndonesiaWarga dan stafkantor desaLaujeCampuranAjakan mengambilkayu
Sumber: Fara Klara Dita, Yunidar, Arum Pujining Tyas, Syamsyuddin, dan Ulinsa, Pemertahanan Bahasa Lauje di kalangan Generasi Muda Kabupaten Parigi Moutong (Kajian Sosiolinguistik), Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 12(3), 2026. Grafik: Cekricek.id

Alih kode: berpindah bahasa di tengah obrolan

Alih kode adalah perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain dalam satu percakapan. Contohnya terjadi di depan sebuah rumah. Seorang tetangga bertanya kepada seorang ibu, Nodua sogumbeng lamai Palu? Artinya, kapan datang dari Palu. Ibu itu menjawab, juga dalam bahasa Lauje, Leon juma ee, hari Jumat.

Lalu peneliti ikut dalam obrolan itu, dan bahasanya berubah. Tetangga tadi melanjutkan dalam bahasa Indonesia, menanyakan apakah keberangkatan berikutnya ke Palu baru sesudah Lebaran. Peneliti menjawab dalam bahasa yang sama. Dua kalimat pertama berbahasa Lauje, kalimat-kalimat sesudahnya berbahasa Indonesia.

Perpindahan itu, tulis para peneliti, tidak terjadi secara acak. Ia merupakan penyesuaian terhadap peserta lain dalam percakapan, yang latar bahasa dan peran sosialnya berbeda. Bahasa Indonesia muncul ketika obrolan melebar dan melibatkan lebih banyak orang, supaya komunikasi tetap berjalan.

Dari percakapan inilah para peneliti membaca sikap anak muda terhadap bahasa daerahnya. Mereka tetap memakai, atau setidaknya memahami, bahasa Lauje ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua atau berada dalam kegiatan sosial tertentu. Bahasa itu masih dianggap penting, hanya tidak lagi dominan.

Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat

Pilihan bahasa: kebiasaan memilih di antara teman dan di kantor desa

Pilihan bahasa, dalam naskah ini, berarti keputusan penutur memakai bahasa tertentu menurut konteks sosial dan kebiasaan kelompoknya. Dua orang teman sebaya merencanakan kumpul malam di rumah seorang kawan bernama Aril. Yang satu mengajak, yang lain bertanya jam berapa. Tidak ada satu pun kata Lauje di dalamnya.

Para peneliti menganggap percakapan ini penting justru karena tidak ada yang berpindah atau bercampur. Di antara teman sebaya, percakapan berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, padahal suasananya santai. Keadaan seperti itu, tulis mereka, sebetulnya memungkinkan bahasa daerah dipakai.

Di kalangan anak muda, bahasa Indonesia disebut para peneliti sudah menjadi pilihan utama, karena dianggap lebih praktis dan lebih umum. Bahasa Lauje, pada konteks tertentu, mulai kehilangan ruang pemakaiannya. Pemakaian bahasa Indonesia secara penuh itu mereka baca sebagai perubahan kebiasaan berbahasa di kalangan generasi muda.

Di kantor desa, pilihan itu berhadapan dengan pilihan sebaliknya. Seorang warga berusia 57 tahun bertanya kepada staf desa yang lebih muda, ou Kapala desa? Ada kepala desa? Staf itu menjawab dalam bahasa Indonesia: belum ada. Warga itu bertanya lagi, tetap dalam bahasa Lauje, jam berapa kepala desa biasa datang. Jawabannya kembali berbahasa Indonesia.

Masing-masing bertahan pada bahasanya sampai percakapan selesai. Para peneliti menyebut tiga hal yang memengaruhi pilihan itu: usia, peran sosial, dan suasana resmi. Generasi tua mempertahankan bahasa Lauje sebagai identitas dan kebiasaan. Staf desa memilih bahasa Indonesia sebagai penyesuaian dengan urusan pelayanan, tempat bahasa itu berfungsi lebih dominan.

Bahasa Lauje di kalangan anak muda OgobagisBahasa Lauje di kalangan anak muda OgobagisBahasa Lauje di kalangan anak muda OgobagisDesa Ogobagis, Kecamatan Sidoan, Parigi Moutong8tuturandicatat peneliti3ranahrumah, tetangga,umum15-28tahunusia anak muda3faktorpenopang bahasaJalan risetnyaDelapan percakapanDipilah per ranahTiga faktor penopang
Sumber: Fara Klara Dita, Yunidar, Arum Pujining Tyas, Syamsyuddin, dan Ulinsa, Pemertahanan Bahasa Lauje di kalangan Generasi Muda Kabupaten Parigi Moutong (Kajian Sosiolinguistik), Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 12(3), 2026. Grafik: Cekricek.id

Campur kode: sepatah Lauje di warung dan di gotong royong

Campur kode berbeda dari alih kode. Maksudnya, penutur tidak pindah bahasa, melainkan menyelipkan kata atau ungkapan dari bahasa lain ke dalam tuturannya. Di sebuah warung, pembeli berkata hendak membeli gula. Penjual bertanya, soga kilo, berapa kilo. Pembeli menjawab: satu saja.

Dua bahasa bergantian dalam tiga kalimat pendek. Para peneliti membacanya sebagai kemampuan dua bahasa yang lentur. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi yang lebih umum, sedangkan bahasa Lauje dari mulut penjual mencerminkan kebiasaan setempat dalam jual beli sehari-hari.

Contoh kedua datang dari persiapan sebuah pernikahan. Seorang warga mengajak, Maimo li’ite mongade ayu, mari kita mengambil kayu. Seorang pemuda menyahut dengan kalimat campuran: inta, ambil di mana? Kata inta berarti ayo. Hanya satu kata Lauje, sisanya bahasa Indonesia.

Satu kata itu berarti bagi para peneliti. Unsur bahasa Lauje masih dipakai generasi muda, walaupun tidak dalam bentuk kalimat utuh. Kemampuan berbahasa daerah masih ada, tetapi tidak digunakan sepenuhnya. Gotong royong masih menjadi ruang penting bagi bahasa Lauje, meskipun pemakaiannya tidak lagi dominan.

Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera

Fase transisi: bertahan, tetapi dalam keadaan lemah

Fase transisi adalah sebutan para peneliti untuk keadaan di tengah, ketika sebuah bahasa belum ditinggalkan tetapi juga tidak lagi menjadi bahasa utama. Tiga hal mereka catat masih menopang bahasa Lauje. Pertama keluarga, sebab orang tua yang menegur atau bertanya dalam bahasa daerah membuat anak mengenal kosakatanya sejak dini.

Kedua, kegiatan sosial dan budaya. Dalam gotong royong, persiapan pernikahan, atau acara adat, warga masih berbahasa Lauje ketika bekerja bersama. Bahasa itu dipakai untuk membangun rasa kebersamaan dan menjadi penanda identitas kelompok, meskipun kerap disertai bahasa Indonesia dari mulut anak muda.

Ketiga, lingkungan dan sikap. Mayoritas warga Ogobagis masih memakai bahasa Lauje. Generasi muda pada umumnya masih memahami bahasa Lauje dan tidak bersikap negatif terhadap pemakaiannya. Sikap positif dan lingkungan yang masih berbahasa daerah itu, tulis para peneliti, turut mendukung keberlangsungan pemakaiannya.

Ketiga penopang itu, tulis mereka, belum cukup kuat untuk mempertahankan pemakaian bahasa Lauje secara dominan di kalangan generasi muda. “Dengan demikian, pemertahanan bahasa Lauje masih terjadi tetapi dalam kondisi yang lemah dan berada pada fase transisi menuju pergeseran bahasa,” tulis Fara Klara Dita dan keempat rekannya pada akhir naskah.

Temuan ini mereka sandingkan dengan penelitian Tamrin dan rekan-rekannya pada 2024, yang mendapati bahasa Lauje masih bertahan di ranah keluarga dan sudah bergeser di ranah pendidikan. Di Ogobagis, bahasa itu memang masih muncul di rumah dan dalam kegiatan sosial. Namun, pemakaiannya oleh anak muda tidak lagi konsisten, dan pergeseran paling terlihat dalam obrolan teman sebaya serta di tempat umum.

Bahan penelitian ini delapan tuturan dari Desa Ogobagis, dengan penutur muda berusia 15 sampai 28 tahun. Para peneliti menempatkannya sebagai gambaran praktik pemakaian bahasa dalam interaksi sehari-hari generasi muda, bukan hanya pembagian ranah secara umum.

Simpulan para peneliti, bahasa Lauje di Ogobagis masih dipakai dalam situasi tertentu, terutama di lingkungan keluarga dan dalam kegiatan sosial, tetapi tidak lagi menjadi bahasa utama dalam interaksi sehari-hari generasi mudanya. Keluarga berperan dalam pewarisan bahasa, sedangkan kegiatan sosial dan lingkungan masyarakat menyediakan ruang pemakaian bahasa daerah itu.

Bagikan

Baca Juga

Suku Bajo di Bajo Pulau Bima Berhenti Mengembara Sejak 1945
Sintuvu, Gotong Royong Orang Kaili yang Diawali Musyawarah
Tiga dari Empat Keluarga Suku di Nagpur India Urung Berobat
Suku Anak Dalam Selalu Menyisakan Madu dan Buah untuk Satwa Hutan
Murid di Sentani Belajar Bahasa Daerah Sambil Mengaduk Papeda
Hutan Adat Talang Mamak Jadi Taman Nasional, Hak Kelola Terbatas