Tiga dari Empat Keluarga Suku di Nagpur India Urung Berobat

A A

Kota Ramtek di distrik Nagpur, India, dilihat dari Bukit Ramagiri [Foto: Ms Sarah Welch/Wikimedia Commons, CC0]

  • Dari 2.085 rumah tangga suku di blok Ramtek, Nagpur, 72,4 persen pernah urung berobat dalam setahun terakhir.
  • Di kelompok termiskin 85,6 persen rumah tangga pernah urung berobat, sedangkan di kelompok terkaya 48,2 persen.
  • Di antara rumah tangga berasuransi 71,6 persen pernah urung berobat, tidak berbeda bermakna dari yang tidak berasuransi.
  • Alasan keluarga melewatkan pengobatan tidak ditanyakan, dan para penulis meminta studi lanjutan menggalinya.
Daftar Isi
  1. Forgone Healthcare, Sakit tetapi Urung Berobat
  2. Wealth Quintile, Lima Anak Tangga Kekayaan
  3. Out-of-Pocket, Biaya dari Kantong Sendiri
  4. Head of Household, Kepala Keluarga dan Baca Tulis
  5. Felt Need, Kebutuhan yang Dirasakan Sendiri
  6. Universal Health Coverage, Layanan untuk Semua

Forgone healthcare, istilah yang dipakai para peneliti kesehatan, artinya kira-kira begini: ada yang sakit di rumah, tetapi keluarga itu tidak jadi pergi berobat. Di blok Ramtek, distrik Nagpur, negara bagian Maharashtra, India, pengalaman itu bukan pengecualian. Dari 2.085 rumah tangga suku yang ditanyai, 1.510 mengaku pernah mengalaminya dalam setahun terakhir.

Angka itu dilaporkan Aravind P Gandhi, Kalaiselvi Selvaraj, Nandeesh Kuruvatti, Pradeep R Deshmukh, Ranjan Solanki, Aravind Kushwaha, Akkilagunta Sujiv, Deepak Selokar, Revathi Mahesh Sabale, Asim S Inamdar, Vishwajit Bharadwaj, dan Bontha V Babu dalam artikel Socio economic vulnerability and forgone health care among tribal population: a cross-sectional study from a block of Nagpur district in central India. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Gandhi bekerja di Department of Community Medicine, AIIMS Nagpur.

Ramtek punya satu ciri. Dari 13 blok di distrik Nagpur, blok inilah yang porsi warga sukunya paling besar, yakni 32,7 persen. Penduduknya 158.643 jiwa, dan 51.815 di antaranya warga suku yang tersebar di 158 desa. Suku utamanya Gond, Rajkond, dan Mana. Lebih dari dua pertiga penduduk hidup dari bertani dan bercocok tanam.

Forgone Healthcare, Sakit tetapi Urung Berobat

Para penulis mendefinisikan forgone healthcare sebagai layanan medis yang tidak dicari seseorang atau satu rumah tangga pada saat dibutuhkan, terutama karena alasan biaya. Istilah itu, tulis mereka, lazim dipahami sebagai jarak antara kebutuhan kesehatan yang dirasakan dan pemakaian layanan yang sebenarnya.

Untuk menangkapnya, satu pertanyaan diajukan kepada satu anggota dari tiap rumah tangga, dalam bahasa Marathi, pada 2020 sampai 2021. Isinya: apakah Anda atau anggota keluarga Anda pernah melewatkan berobat untuk penyakit apa pun dalam 12 bulan terakhir. Pilihan jawabannya empat, yaitu selalu, hampir selalu, kadang-kadang, dan tidak pernah.

Tiga jawaban pertama dihitung sebagai ya. Hasilnya 72,4 persen rumah tangga suku pernah urung berobat. Para penulis sendiri menyebutnya sekitar tiga perempat. Keluhan yang paling sering dilewatkan, menurut naskah itu, adalah sakit kuning, penyakit bawaan makanan, bengkak, abses, dan kondisi lain yang berpotensi memerlukan pembedahan.

Keluarga suku di Ramtek, sekilasKeluarga suku di Ramtek, sekilasKeluarga suku di Ramtek, sekilasBlok Ramtek, distrik Nagpur, Maharashtra, India, 2020-2172,4%urung berobat1.510 rumahtangga2.085rumah tanggasuku di blokRamtek65,1%kartu BPLbawah garismiskin52,1%berasuransiasuransikesehatanJalan risetnyaBlok Ramtek, Nagpur2.085 rumah tangga suku1.510 urung berobat
Sumber: Aravind P Gandhi, Kalaiselvi Selvaraj, Nandeesh Kuruvatti, Pradeep R Deshmukh, Ranjan Solanki, Aravind Kushwaha, Akkilagunta Sujiv, Deepak Selokar, Revathi Mahesh Sabale, Asim S Inamdar, Vishwajit Bharadwaj, dan Bontha V Babu, Socio economic vulnerability and forgone health care among tribal population: a cross-sectional study from a block of Nagpur district in central India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Siapa keluarga-keluarga ini tergambar dari catatan para penulis. Sebanyak 1.721 rumah tangga, atau 82,5 persen, adalah suku Gond atau Raj Gond. Sisanya suku Mana, Gowari, Nagarachi, Kaul, dan Burad. Pemegang kartu jatah pangan bagi warga di bawah garis kemiskinan mencapai 65,1 persen, dan 71,1 persen merasa pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan

Wealth Quintile, Lima Anak Tangga Kekayaan

Wealth quintile, atau kuintil kekayaan, adalah cara membagi rumah tangga ke dalam lima kelompok sama besar menurut harta yang dimiliki. Bayangkan lima anak tangga. Anak tangga pertama diisi keluarga yang paling sedikit hartanya, anak tangga kelima yang paling banyak.

Harta yang dihitung adalah benda sehari-hari di desa itu. Daftarnya antara lain sepeda, sepeda motor, traktor, gerobak sapi, radio, televisi, kulkas, telepon seluler, mesin jahit, lahan pertanian, dan ternak. Tiap rumah tangga hanya dicatat punya atau tidak punya, lalu diberi skor.

Ketika angka urung berobat disandingkan dengan lima anak tangga itu, polanya menurun rapi. Di anak tangga pertama, 85,6 persen rumah tangga pernah urung berobat. Di anak tangga kedua 81,2 persen, ketiga 74,7 persen, dan keempat 72,3 persen. Baru di anak tangga kelima angkanya jatuh ke 48,2 persen.

Makin miskin, makin sering urung berobatKelompok 1 (termiskin): Persen rumah tangga +85,6%; Kelompok 2: Persen rumah tangga +81,2%; Kelompok 3: Persen rumah tangga +74,7%; Kelompok 4: Persen rumah tangga +72,3%; Kelompok 5 (terkaya): Persen rumah tangga +48,2%.Makin miskin, makin sering urung berobatPersen rumah tangga suku yang urung berobat25%50%75%100%0Kelompok 1 (termiskin)85,6%Kelompok 281,2%Kelompok 374,7%Kelompok 472,3%Kelompok 5 (terkaya)48,2%
Sumber: Aravind P Gandhi, Kalaiselvi Selvaraj, Nandeesh Kuruvatti, Pradeep R Deshmukh, Ranjan Solanki, Aravind Kushwaha, Akkilagunta Sujiv, Deepak Selokar, Revathi Mahesh Sabale, Asim S Inamdar, Vishwajit Bharadwaj, dan Bontha V Babu, Socio economic vulnerability and forgone health care among tribal population: a cross-sectional study from a block of Nagpur district in central India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menguji selisih itu. Empat kelompok di bawah seluruhnya tercatat lebih sering urung berobat secara bermakna dibanding kelompok teratas. Hasil itu bertahan setelah jenis suku, pendidikan kepala keluarga, ketersediaan fasilitas kesehatan di desa, status wilayah pembangunan suku, dan penyedia layanan langganan keluarga diperhitungkan.

Pendapatan menunjukkan arah yang sama. Pendapatan tahunan keluarga, bila diurutkan, bertitik tengah 56.000 rupee. Pada keluarga yang pernah urung berobat titik tengahnya 50.400 rupee, sedangkan pada keluarga yang tidak pernah 78.000 rupee. Di antara rumah tangga yang merasa pendapatannya tidak berlebih, 92,7 persen pernah urung berobat. Di antara yang merasa berlebih, 53,8 persen.

Out-of-Pocket, Biaya dari Kantong Sendiri

Out-of-pocket adalah biaya berobat yang dibayar pasien dari kantongnya sendiri, tanpa ditanggung pihak lain. Para penulis menyebut biaya semacam ini memaksa banyak warga suku melewatkan atau menunda pengobatan. Asuransi kesehatan, tulis mereka, diperkenalkan sebagai salah satu strategi efektif menuju cakupan kesehatan semesta.

Di Ramtek, asuransi tidak berkaitan dengan urung berobat. Sebanyak 52,1 persen rumah tangga menyatakan punya asuransi kesehatan, 42,0 persen tidak punya, dan 5,9 persen tidak yakin. Di antara yang berasuransi, 71,6 persen pernah urung berobat. Di antara yang tidak, 73,9 persen. Selisih itu, menurut hitungan para penulis, tidak bermakna.

“Memiliki akses ke asuransi atau skema perlindungan finansial tidak mengurangi layanan kesehatan yang dilewatkan,” tulis Aravind P Gandhi, Kalaiselvi Selvaraj, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu. Kalimat itu mereka cantumkan sebagai salah satu dari tiga temuan kunci.

Para penulis menawarkan dua kemungkinan penjelasan. India punya skema asuransi untuk rumah tangga miskin bernama Pradhan Mantri Jan Arogya Yojana, disingkat PM-JAY, yang mencakup sekitar 120 juta keluarga. Skema itu menanggung layanan tingkat sekunder dan tersier. Rawat jalan tidak termasuk, padahal sebagian besar penyakit mungkin tidak berat dan hanya butuh rawat jalan. Kemungkinan kedua, warga kurang tahu apa saja yang ditanggung.

Naskah itu juga mengutip angka nasional India. Rawat jalan menjadi penyebab pengeluaran kesehatan yang membebani berat pada 47,8 persen kasus dan pemiskinan pada 15 persen, sedikit lebih tinggi daripada rawat inap yang 43,1 persen dan 10,7 persen. Sekitar 70 persen layanan rawat jalan di negara itu disediakan sektor swasta.

Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat

Head of Household, Kepala Keluarga dan Baca Tulis

Head of household, kepala rumah tangga, adalah orang yang pendidikannya dicatat untuk mewakili tiap keluarga. Di sini ukurannya sederhana: buta huruf, bersekolah sampai tingkat dasar, atau lebih dari tingkat dasar. Hasilnya ikut berjenjang.

Pada keluarga yang kepalanya buta huruf, 75,3 persen pernah urung berobat. Pada yang kepalanya bersekolah sampai tingkat dasar 73,7 persen, dan pada yang lebih dari itu 68,6 persen. Para penulis menduga celah ini berasal dari kurangnya kesadaran akan risiko kesehatan, yang bertaut dengan pendapatan dan akses terhadap peluang seperti asuransi.

Jenis suku pun berkaitan. Di antara rumah tangga Gond, suku terbesar di sana, 74 persen pernah urung berobat. Di antara suku lain, 64,8 persen. Para penulis tidak memetakan letak permukiman, tetapi mereka meyakini jenis suku dapat berpengaruh lewat cara tiap suku mengelompok di tempat tinggalnya, yang membuat peluang akses berbeda-beda.

Yang tidak tampak berkaitan justru jarak. Sebanyak 63,3 persen rumah tangga tinggal di desa tanpa fasilitas kesehatan, 27,3 persen di desa yang punya pos kesehatan pembantu, dan 9,5 persen di desa tempat pusat kesehatan primer berada. Angka urung berobat di ketiganya hampir sama, yakni 72,6 persen, 72,8 persen, dan 70,0 persen. Jarak ke pusat kesehatan primer pun bertitik tengah 10 kilometer pada kedua kelompok.

Felt Need, Kebutuhan yang Dirasakan Sendiri

Felt need berarti kebutuhan berobat yang dirasakan oleh orang yang sakit itu sendiri, bukan yang ditetapkan tenaga kesehatan. Seluruh angka di atas bersandar pada ukuran ini. Keluarga yang menjawab ya adalah keluarga yang merasa perlu berobat, lalu tidak pergi.

Di situlah para penulis memasang batas. Bisa saja kondisi seseorang, dari kacamata tenaga kesehatan, sudah layak dibawa ke fasilitas kesehatan, tetapi orang itu tidak merasakannya sebagai kebutuhan. Kasus seperti itu tidak terhitung. Karena itu mereka merasa angka urung berobat dalam laporan ini mungkin masih terlalu rendah.

Batas lain mereka tulis terang. Alasan keluarga melewatkan pengobatan tidak ditanyakan, sehingga dugaan tentang biaya, penyakit yang dianggap ringan, atau ketiadaan fasilitas di sekitar rumah tidak dapat dipastikan. Pertanyaannya juga tidak merujuk penyakit tertentu, melainkan keluhan apa pun pada anggota keluarga mana pun.

Waktu pengumpulan data ikut dicatat. Survei berlangsung pada 2020, fase awal COVID-19 di India, dan para penulis menyebut hal itu bisa turut membesarkan angka. Mereka juga menjelaskan mengapa angkanya lebih tinggi daripada studi lain: definisi yang dipakai berbeda, dan satuan hitungnya rumah tangga, bukan perorangan. Sebuah analisis survei nasional yang mereka kutip mencatat hanya 1,8 persen orang tidak berobat saat sakit.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Universal Health Coverage, Layanan untuk Semua

Universal health coverage, atau cakupan kesehatan semesta, adalah tujuan agar setiap orang memperoleh layanan bermutu tanpa jatuh ke dalam kesulitan keuangan. Komitmen India pada tujuan itu, tulis para penulis, bergantung pada dua hal tersebut. Sebagai langkah awal, mereka menyebut layanan primer yang kuat, tangguh, dan dekat sebagai kuncinya.

Beberapa saran mereka konkret. Kunjungan rumah bulanan oleh petugas kesehatan dulu membuka kesempatan untuk mengenali keluarga yang urung berobat, tetapi belakangan kunjungan itu terbatas pada hari kesehatan dan gizi desa. Pelatihan penyegaran bagi kader yang disebut Accredited Social Health Activist, atau ASHA, perlu menekankan penyebaran informasi tentang layanan yang tersedia, termasuk obat dan pemeriksaan gratis.

Saran berikutnya menyangkut asuransi. Para penulis mengusulkan agar skema perlindungan finansial yang sudah ada diperluas sampai membeli layanan primer, disertai peningkatan pengetahuan warga tentang kegunaannya. Menurut mereka, langkah itu dapat meredakan rasa takut pada biaya dan berpotensi mengurangi beban urung berobat di kalangan warga suku.

Ada pula soal sasaran. Mengenali kelompok yang paling terdampak akan memudahkan intervensi terarah di tempat yang sumber dayanya terbatas. Namun, karena sekitar tiga perempat rumah tangga suku dalam studi ini mengalaminya, para penulis menulis bahwa perhatian mungkin perlu diarahkan kepada seluruhnya.

Para penulis menyebut studi mereka yang pertama memastikan angka urung berobat beserta faktor sosial ekonominya pada kelompok suku di India. Mereka juga mencatat bahwa studi yang membandingkan urung berobat antarjenis suku masih jarang.

Simpulan mereka pendek. Urung berobat tinggi di kalangan rumah tangga suku di India tengah. Status ekonomi yang rendah, baik dari sisi harta maupun pendapatan, tingkat baca tulis yang rendah, dan jenis suku ditemukan berkaitan bermakna dengannya. Perbaikan status sosial ekonomi warga suku, tulis mereka, mungkin dapat menguranginya.

Angka urung berobat dalam laporan ini adalah jawaban ya dari satu anggota keluarga atas satu pertanyaan tentang setahun terakhir, di 2.085 rumah tangga suku di Ramtek. Mengapa mereka tidak jadi berobat belum terjawab, dan para penulis meminta studi lanjutan menggali alasan itu.

Bagikan

Baca Juga

Mahasiswa Chattogram Setuju Tes Pranikah, Sedikit yang Paham
Riset Penyakit Tropis Malaysia Menumpuk pada Dengue dan Kota
Suku Anak Dalam Selalu Menyisakan Madu dan Buah untuk Satwa Hutan
Tujuh Kali Periksa Ternak di Zhongjiang, Demam Keong Tak Muncul
Pneumonia Berat di Ulaanbaatar Terkait Rokok dan Alkohol
Tanda Jantung Bawaan Kurang Dikenali Orang Tua di Tepi Barat