Tujuh Kali Periksa Ternak di Zhongjiang, Demam Keong Tak Muncul

A A

Induk kerbau dan anaknya merumput di tepi air di Yangshuo, Guangxi, Tiongkok [Foto: lienyuan lee/Wikimedia Commons, CC BY 3.0]

  • Tujuh putaran pemeriksaan ternak dari April 2024 sampai Oktober 2025 tidak menemukan satu pun hasil positif.
  • Sebanyak 108 dari 118 rumah tangga membeli atau menjual ternak dalam dua tahun terakhir.
  • Dari 74 rumah tangga yang mengomposkan kotoran ternak, 59 melaporkan lama pengomposan tujuh hari atau kurang.
  • Skor pengetahuan dan sikap peternak berkaitan positif dengan skor praktik pencegahan yang mereka laporkan sendiri.
Daftar Isi
  1. Gu dan Zhang Memilih Tiga Wilayah yang Paling Lama Terdampak
  2. Tujuh Putaran Pemeriksaan, Tujuh Kali Nol
  3. Rumah Tangga yang Didatangi: Peternak Berusia Lanjut dan Hidup dari Sapi
  4. Yang Dicatat Zhang tentang Padang, Pasar, dan Kotoran Ternak
  5. Pengetahuan dan Sikap Peternak Berjalan Seiring Praktik Pencegahan
  6. Batas yang Diakui Zhang, Gu, dan Chen

Xiao-qin Gu bekerja di Zhongjiang County Schistosomiasis Control Station, kantor pengendali schistosomiasis atau demam keong di sebuah kabupaten berbukit di Sichuan, Tiongkok. Bersama Yu Zhang dan Guo-sheng Qin, ia menjalankan penyelidikan lapangan tentang sapi, kambing, dan para pemiliknya. Hasilnya ringkas: tujuh putaran pemeriksaan ternak dari April 2024 sampai Oktober 2025 tidak menemukan satu pun hasil positif.

Temuan itu ditulis Yu Zhang, Xiao-qin Gu, Lin Chen, Jing-ye Shang, Nan-nan Wang, Guo-sheng Qin, Liang Xu, Dian-ju Kang, dan Ding Lu dalam artikel Post-elimination schistosomiasis surveillance in Zhongjiang County, Sichuan, China: livestock surveillance, household livestock management, and knowledge, attitudes and practices among livestock-keeping household heads. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Gu dan Qin berasal dari stasiun pengendalian di Zhongjiang, sedangkan Zhang, Chen, dan lima penulis lain bekerja di Sichuan Center for Disease Control and Prevention di Chengdu.

Zhang dan Gu, yang tercatat sebagai penulis pertama bersama, tidak berhenti pada angka nol itu. Mereka juga bertanya kepada 118 kepala rumah tangga peternak tentang cara menggembala, jual beli hewan, dan nasib kotoran ternak. Di daerah yang sudah memenuhi kriteria eliminasi, tulis mereka, keputusan sehari-hari semacam itu tidak terekam oleh uji parasit.

Gu dan Zhang Memilih Tiga Wilayah yang Paling Lama Terdampak

Zhang dan rekan-rekannya memusatkan perhatian pada tiga township, yaitu Fuxing, Jifeng, dan Jiqing. Ketiganya dipilih karena riwayat endemisnya, catatan lama sebaran keong Oncomelania hupensis, kegiatan beternak warganya, dan prioritas pemantauan setempat. Catatan program kabupaten menunjukkan betapa berat beban sejarah ketiga wilayah ini.

Menurut data yang dikutip Gu dan tim, tiga township itu mencakup 5.235.372 dari 5.883.500 meter persegi habitat keong yang pernah tercatat di kabupaten, atau 89,0 persen. Di sana pula tercatat 4.928 dari 5.838 kasus kumulatif pada manusia, setara 84,4 persen. Untuk sapi yang pernah tercatat terinfeksi, angkanya 2.590 dari 2.937 ekor, atau 88,2 persen.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Lin Chen dan para penulis juga menaruh Zhongjiang dalam gambaran yang lebih luas. Mereka mengutip perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia bahwa sedikitnya 253,7 juta orang memerlukan pengobatan pencegahan schistosomiasis pada 2024. Di Tiongkok pada tahun yang sama, satu infeksi pada manusia terkonfirmasi di antara 169.722 orang yang diperiksa, dan tidak ada infeksi di antara 167.475 sapi, tetapi habitat keong yang luas masih tersisa.

Tujuh Putaran Pemeriksaan, Tujuh Kali Nol

Petugas kabupaten yang terlatih memeriksa kotoran sapi dan kambing pada April, Juli, dan Oktober 2024, lalu Januari, April, Juli, dan Oktober 2025. Jumlah pemeriksaan tiap putaran berturut-turut 551, 482, 497, 428, 471, 445, dan 396. Seluruhnya 3.270 pemeriksaan, terdiri atas 2.895 pemeriksaan sapi dan 375 pemeriksaan kambing.

Tak satu pun dari pemeriksaan itu positif Schistosoma japonicum, parasit yang dicari Zhang dan tim lewat uji tetas mirasidium. Pemeriksaan kambing bertambah di putaran-putaran akhir: 18 pada dua putaran pertama, lalu 93, 109, dan 81 pada tiga putaran terakhir. Pemeriksaan sapi bergerak dari 533 pada putaran pertama menjadi 315 pada putaran ketujuh.

Tujuh putaran periksa ternak di ZhongjiangTujuh putaran periksa ternak di ZhongjiangTujuh putaran periksa ternak di ZhongjiangPemantauan schistosomiasis pada ternak, Sichuan, Tiongkok3.270pemeriksaansapi dan kambing0positifdi semua putaran2.895pada sapitujuh putaran375pada kambingtujuh putaranJalan risetnyaTiga townshipTujuh putaranApril 2024-Oktober2025
Sumber: Yu Zhang, Xiao-qin Gu, Lin Chen, Jing-ye Shang, Nan-nan Wang, Guo-sheng Qin, Liang Xu, Dian-ju Kang, Ding Lu, Post-elimination schistosomiasis surveillance in Zhongjiang County, Sichuan, China: livestock surveillance, household livestock management, and knowledge, attitudes and practices among livestock-keeping household heads, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Zhang dan Gu meminta pembaca berhati-hati dengan angka 3.270. Hewan yang sama bisa diperiksa pada lebih dari satu putaran, sehingga angka itu mencatat kegiatan pemantauan yang berulang, bukan 3.270 ekor yang berbeda. Karena itu pula, menurut mereka, data ini tidak dapat dipakai untuk menghitung berapa bagian ternak yang terinfeksi per ekor.

Hasil nihil itu mereka sebut menggembirakan bagi pemantauan rutin. Namun Chen dan rekan-rekannya mengingatkan bahwa di daerah berpenularan rendah, infeksi yang ringan atau hanya ada di titik tertentu sulit ditemukan. Hasil negatif, tulis mereka, mencatat bahwa infeksi tidak terdeteksi dengan prosedur yang dipakai, tetapi tidak menetapkan kembali status eliminasi.

Rumah Tangga yang Didatangi: Peternak Berusia Lanjut dan Hidup dari Sapi

Dari 118 kepala rumah tangga yang ditemui tim Gu pada Mei 2026, sebanyak 78 orang atau 66,10 persen adalah laki-laki. Usia mereka condong tua: 27 orang berumur 60–69 tahun dan 40 orang, atau 33,90 persen, berumur 70 tahun ke atas. Tidak ada responden yang berusia di bawah 30 tahun.

Zhang mencatat 107 responden, atau 90,68 persen, berpendidikan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Bagi 98 rumah tangga, setara 83,05 persen, beternak adalah sumber utama pendapatan. Seratus rumah tangga memelihara ternak terutama untuk dijual, sementara tujuh rumah tangga menyebut hewan itu terutama sebagai teman.

Ternak yang dicatat Gu dan Qin hampir seluruhnya sapi. Sebanyak 115 rumah tangga memelihara 265 ekor sapi, sedangkan tiga rumah tangga memelihara 38 ekor kambing. Hewan-hewan dalam pemeriksaan rutin tidak dapat dipasangkan satu per satu dengan rumah tangga yang disurvei, sehingga kedua bahan itu dibaca berdampingan pada tingkat program.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

Yang Dicatat Zhang tentang Padang, Pasar, dan Kotoran Ternak

Bagian inilah yang menurut Zhang dan Gu tidak bisa dilihat dari uji laboratorium. Sebanyak 41 rumah tangga, atau 34,75 persen, melaporkan ternaknya setengah dilepas untuk merumput, sedangkan 77 rumah tangga sepenuhnya memberi makan di kandang. Jual beli jauh lebih umum: 108 rumah tangga, 91,53 persen, membeli atau menjual ternak dalam dua tahun terakhir.

Dari 108 rumah tangga yang berjual beli itu, tim Gu mendapati 89 di antaranya, atau 82,41 persen, tidak melaporkan memakai pasar yang teregulasi. Para penulis tidak membacanya sebagai tanda bahaya. “Penggembalaan setengah lepas dan jual beli ternak tanpa laporan penggunaan pasar teregulasi tidak menunjukkan adanya paparan atau infeksi,” tulis Zhang, Gu, dan rekan-rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Menurut Chen dan tim, kebiasaan itu hanya membuat asal hewan, perpindahannya, dan riwayat karantinanya lebih sulit ditelusuri kembali. Tindak lanjut setempat, saran mereka, dapat dipusatkan pada memastikan asal hewan, menjaga catatan transaksi dan karantina, serta meninjau perubahan cara menggembala. Mereka memilih pendekatan itu ketimbang melabeli rumah tangga tertentu sebagai berisiko tinggi.

Cara 118 rumah tangga mengurus ternak dan kotorannyaJual beli ternak, dua tahun terakhir: Persen rumah tangga +91,53%; Kotoran dikomposkan dulu: Persen rumah tangga +62,71%; Kotoran dikumpulkan tiap hari: Persen rumah tangga +61,86%; Ternak setengah dilepas: Persen rumah tangga +34,75%.Cara 118 rumah tangga mengurus ternak dankotorannyaJawaban kepala rumah tangga peternak, dalam persen25%50%75%100%0Jual beli ternak, dua tahun terakhir91,53%Kotoran dikomposkan dulu62,71%Kotoran dikumpulkan tiap hari61,86%Ternak setengah dilepas34,75%
Sumber: Yu Zhang, Xiao-qin Gu, Lin Chen, Jing-ye Shang, Nan-nan Wang, Guo-sheng Qin, Liang Xu, Dian-ju Kang, Ding Lu, Post-elimination schistosomiasis surveillance in Zhongjiang County, Sichuan, China: livestock surveillance, household livestock management, and knowledge, attitudes and practices among livestock-keeping household heads, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Soal kotoran ternak, Gu dan Qin mencatat 73 rumah tangga atau 61,86 persen mengumpulkannya setiap hari. Sebanyak 74 rumah tangga, 62,71 persen, mengomposkannya sebelum ditebar ke ladang. Di antara 74 rumah tangga itu, 59 melaporkan lama pengomposan tujuh hari atau kurang, atau 79,73 persen.

Zhang dan rekan-rekannya tidak menjadikan tujuh hari itu sebagai batas yang teruji untuk mematikan telur parasit. “Lama pengomposan yang dilaporkan tidak dapat dengan sendirinya menentukan efektivitas pengolahan,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Suhu, kelembapan, aerasi, pH, dan daya hidup telur tidak diukur dalam survei ini, sehingga tidak ada bukti pencemaran lingkungan yang dapat ditarik dari jawaban peternak.

Pengetahuan dan Sikap Peternak Berjalan Seiring Praktik Pencegahan

Kuesioner yang dibawa tim Gu memuat 19 butir: sepuluh tentang pengetahuan, empat tentang sikap, dan lima tentang praktik pencegahan. Pada skala 20 sampai 100, rata-rata skor pengetahuan para kepala rumah tangga adalah 78,47, sikap 83,60, dan praktik pencegahan 78,10. Nilai tengahnya masing-masing 80, 85, dan 84.

Ketiga skor itu, menurut Zhang dan Gu, saling berhubungan secara positif. Setiap kenaikan satu poin skor pengetahuan berkaitan dengan skor praktik yang lebih tinggi 0,450 poin, dan setiap kenaikan satu poin skor sikap berkaitan dengan skor praktik yang lebih tinggi 0,534 poin. Hubungan keduanya tetap bertahan ketika para penulis menguji ulang dengan model lain.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Pendidikan dan umur lain ceritanya. Dalam hitungan utama Chen dan tim, setiap jenjang pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan skor praktik lebih tinggi 5,856 poin, dan setiap kelompok umur yang lebih tua berkaitan dengan skor lebih rendah 2,662 poin. Setelah delapan jawaban yang sangat berpengaruh dikeluarkan, kedua hubungan itu tidak lagi pasti. Karena itu para penulis menyatakan pendidikan dan umur tidak boleh dipakai sendirian untuk menentukan rumah tangga prioritas.

Dari sana Zhang dan Gu menarik saran untuk penyuluhan. Pendidikan kesehatan, tulis mereka, dapat dikaitkan dengan keputusan nyata dalam mengurus ternak, bukan hanya pesan umum tentang penyakit. Situasi yang mereka sebut antara lain membeli dan menukar hewan, catatan transaksi dan karantina, perubahan cara menggembala, penanganan kotoran, dan pelaporan perpindahan hewan.

Batas yang Diakui Zhang, Gu, dan Chen

Zhang, Gu, dan Chen menyebut beberapa keterbatasan penelitian mereka. Tiga township dipilih dengan sengaja, bukan secara acak, sehingga persentase rumah tangga dan angka hubungan tadi berlaku untuk wilayah kunci itu dan tidak boleh langsung diterapkan pada kabupaten lain. Uji tetas mirasidium juga dapat meluputkan infeksi yang ringan.

Tim Gu tidak mengumpulkan data manusia, keong, maupun lingkungan pada waktu yang sama. Tanpa itu, menurut mereka, hasil nol positif tidak dapat memastikan eliminasi atau menyingkirkan kemungkinan penularan yang tersisa. Jawaban peternak pun berupa laporan sendiri, dan butir praktik menanyakan pilihan yang biasa diambil dalam situasi tertentu, bukan hasil pengamatan langsung atas perilaku rumah tangga.

Chen dan para penulis juga menegaskan bahwa pengetahuan, sikap, dan praktik diukur pada waktu yang sama dalam satu kuesioner. Hubungan di antara ketiganya, tulis mereka, menggambarkan kaitan antarukuran yang dilaporkan sendiri, bukan bukti bahwa pengetahuan atau sikap menyebabkan perubahan perilaku. Kuesioner itu sendiri mereka perlakukan sebagai instrumen program setempat.

Bagi Gu dan stasiun pengendalian tempatnya bekerja, pemeriksaan ternak dan catatan rumah tangga dibaca bersama-sama. “Data ini dapat membantu petugas surveilans setempat mengenali catatan atau praktik yang perlu diperiksa, tetapi bukan bukti bahwa infeksi atau penularan telah terjadi,” tulis Zhang, Gu, dan rekan-rekan. Untuk penelitian berikutnya, mereka menyarankan pengambilan sampel yang jelas, ukuran perilaku yang tervalidasi, ternak yang dikenali per ekor, dan pemantauan manusia, keong, serta lingkungan pada waktu yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Pneumonia Berat di Ulaanbaatar Terkait Rokok dan Alkohol
Tanda Jantung Bawaan Kurang Dikenali Orang Tua di Tepi Barat
Telinga Berdenging Dialami Tiga dari Sepuluh Orang Dewasa Amerika
iPhone Duo Resmi Dijual, Pembeli Antre di Apple Store Shanghai
Anak TK Obesitas Heilongjiang Paling Sering Gagal Tes Kebugaran
Dua dari Tiga Lansia Nyeri Otot di Hat Yai Keliru Memakai Obat