- Dari 215 orang itu, 143 orang atau 66,5 persen digolongkan memakai obat pereda nyeri secara tidak tepat, dan hanya 72 orang yang pemakaiannya dinilai tepat.
- Sebanyak 42 dari 215 peserta, atau 19,5 persen, memakai paket obat tanpa resep itu, dan sebarannya timpang.
- Obat yang paling banyak dipakai seluruh peserta adalah parasetamol, 78,6 persen.
- Nilai tengah skor gangguan itu adalah 1 pada kelompok yang pemakaian obatnya tepat dan 3 pada kelompok yang tidak tepat.
Daftar Isi
Obat pereda nyeri lazim dibayangkan sebagai urusan paling sederhana dalam merawat tubuh yang menua, cukup ditelan ketika lutut atau pinggang mulai ngilu, lalu dilupakan begitu sakitnya reda. Namun, di sebuah komunitas di Thailand selatan, urusan sederhana itu lebih sering keliru daripada benar, sebab dari 215 warga lanjut usia dengan nyeri otot dan rangka menahun yang obatnya diperiksa langsung di rumah mereka, kira-kira dua dari tiga memakainya secara tidak tepat.
Temuan itu dilaporkan Natagarn Ampornpiriyakul, Narucha Komolsuradej, dan Siwaluk Srikrajang dalam Prevalence and associated factors of inappropriate analgesic drug use among community-dwelling older adults with chronic musculoskeletal pain: a cross-sectional study, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ampornpiriyakul dan Komolsuradej berasal dari Departemen Kedokteran Keluarga dan Pencegahan, sedangkan Srikrajang dari Departemen Terapi Fisik, ketiganya di Fakultas Kedokteran Prince of Songkla University, Thailand. Mereka mendatangi warga berusia 60 tahun ke atas di komunitas Ban Phru, Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla, sepanjang Juli hingga Desember 2023.
Sebagian besar dari mereka perempuan, yakni 164 orang atau 76,3 persen, dan 62,8 persen berusia 60 sampai 70 tahun, sementara 76,3 persen bersekolah paling tinggi sampai sekolah dasar. Nyeri yang mereka tanggung paling banyak bersarang di tungkai, dilaporkan 74,9 persen peserta, disusul punggung bawah pada 38,6 persen, lengan dan tangan pada 20,5 persen, serta leher pada 1,9 persen. Hampir enam dari sepuluh merasakan nyeri di satu tempat saja, sedangkan 40,5 persen menanggungnya di lebih dari satu tempat.
Keliru yang punya tiga rupa
Dari 215 orang itu, 143 orang atau 66,5 persen digolongkan memakai obat pereda nyeri secara tidak tepat, dan hanya 72 orang yang pemakaiannya dinilai tepat. Kata tidak tepat di sini, sebagaimana dipakai para penulis, tidak hanya berarti menelan terlalu banyak. Mereka membaginya ke dalam tiga pola, yaitu memakai obat yang menurut Kriteria Beers 2023 dari American Geriatrics Society semestinya dihindari orang lanjut usia, memakai obat secara berlebihan, dan justru memakai obat terlalu sedikit sehingga nyerinya tidak mereda secara berarti.
Pola pertama adalah yang paling lazim. Di antara 143 orang yang pemakaiannya tidak tepat, 102 orang atau 71,3 persen memakai obat yang berpotensi tidak sesuai bagi orang seusia mereka, dan 97 dari 102 orang itu, setara 95,1 persen, memakai pereda nyeri yang memang dianjurkan dihindari lansia. Para penulis mencatat pula bahwa 41,2 persen dari kelompok 102 orang tersebut memakai obat antiinflamasi nonsteroid bersama kortikosteroid atau warfarin, sementara delapan orang, 7,8 persen, memadukan opioid dengan benzodiazepin, gabapentin, dan pregabalin.
Pola kedua, pemakaian berlebihan, ditemukan pada 35 orang atau 24,5 persen dari kelompok yang sama. Sebelas di antaranya menelan obat melebihi dosis yang dianjurkan, sembilan orang memakai obat antiinflamasi nonsteroid atau opioid padahal nyerinya tergolong ringan, dan dua puluh orang dengan nyeri sedang memakai sedikitnya dua jenis obat antiinflamasi nonsteroid atau opioid. Pemakaian semacam itu, tulis para penulis, tidak sejalan dengan pedoman penanganan nyeri otot dan rangka.
Justru sebaliknya yang terjadi pada pola ketiga. Sebanyak 48 orang, atau 33,6 persen dari mereka yang pemakaiannya tidak tepat, tergolong kurang terobati, yakni memakai pereda nyeri di bawah dosis atau frekuensi yang dianjurkan sehingga nyerinya tidak cukup mereda. Para penulis menyebut pola ini tidak diamati dalam penelitian-penelitian terdahulu, dan menurut mereka hal itu mungkin ikut menjelaskan mengapa angka di Ban Phru lebih tinggi daripada yang pernah dilaporkan di Thailand dan Italia, masing-masing hanya 16 persen dan 9,2 persen.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Kantong plastik kecil dari toko kelontong
Di tengah ketiga pola itu ada satu benda yang berulang kali disebut para penulis, yaitu Yaa-Chud. Mereka menggambarkannya sebagai gabungan beberapa obat yang dikemas bersama dalam kantong plastik kecil, dapat dibeli bebas untuk mengobati diri sendiri, diminum kira-kira satu sampai tiga kali sehari, dan lazim tersedia di sebagian toko kelontong di Thailand. Isinya, menurut naskah itu, mencakup obat antiinflamasi nonsteroid, kortikosteroid, dan obat lain yang tidak teridentifikasi, baik untuk meredakan nyeri maupun untuk keluhan lain seperti selesma atau alergi.
Sebanyak 42 dari 215 peserta, atau 19,5 persen, memakai paket obat tanpa resep itu, dan sebarannya timpang. Di kelompok yang pemakaian obatnya tepat hanya dua orang, 2,8 persen, yang memakainya, sedangkan di kelompok yang tidak tepat jumlahnya 40 orang atau 28 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, pemakai Yaa-Chud memiliki kemungkinan 11,45 kali lebih besar untuk tergolong memakai pereda nyeri secara tidak tepat, dengan selang kepercayaan 95 persen dari 3,32 sampai 72,15.
“Meskipun Yaa-Chud meredakan nyeri dengan cepat, redanya hanya sementara pada orang lanjut usia,” tulis Natagarn Ampornpiriyakul, Narucha Komolsuradej, dan Siwaluk Srikrajang dalam naskah berbahasa Inggris. Karena memuat berbagai jenis obat antiinflamasi nonsteroid dan steroid, lanjut mereka, paket itu memperpanjang gangguan pada proses peradangan, mengganggu pemulihan tulang dan otot, serta menaikkan risiko osteoporosis dan patah tulang, sedangkan pemakaian steroid jangka panjang dapat melemahkan dan menyusutkan otot.
Rangkaian itu, dalam uraian para penulis, dapat berujung pada nyeri otot dan rangka menahun yang mengganggu keseharian, mendorong upaya mengobati diri sendiri yang makin sering, lalu menaikkan lagi pemakaian obat yang tidak tepat. Mereka juga mencatat bahwa Yaa-Chud banyak dipakai karena mudah didapat, terjangkau, dan cepat meredakan nyeri, dan bahwa pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid bersama kortikosteroid menaikkan risiko tukak atau perdarahan saluran cerna. Pada penelitian terdahulu yang mereka rujuk, pemakainya bahkan mencapai 31 sampai 35 persen peserta.
Nyeri yang mengusik kenikmatan hidup
Faktor kedua yang bertahan dalam hitungan para penulis bukan benda, melainkan pengalaman, yakni seberapa jauh nyeri mengganggu kenikmatan hidup. Nilai tengah skor gangguan itu adalah 1 pada kelompok yang pemakaian obatnya tepat dan 3 pada kelompok yang tidak tepat. Setiap kenaikan satu angka pada skor tersebut berkaitan dengan kemungkinan pemakaian tidak tepat yang 1,16 kali lebih besar, dengan rentang 1,04 sampai 1,30.
Gangguan itu tidak berhenti pada satu sisi kehidupan. Kelompok yang pemakaian obatnya tidak tepat melaporkan nyeri yang lebih mengganggu kegiatan umum, suasana hati, kemampuan berjalan, pekerjaan sehari-hari termasuk pekerjaan rumah, dan kenikmatan hidup, dengan nilai tengah gangguan pada kemampuan berjalan 4 berbanding 2 dan pada suasana hati 2 berbanding 0. Hasil pengobatan yang mereka rasakan pun lebih rendah, nilai tengahnya 5 berbanding 7 pada kelompok yang tepat, sedangkan gangguan pada tidur dan hubungan dengan orang lain tidak berbeda bermakna.
Para penulis membaca kaitan itu sebagai sebuah dorongan. Lansia yang nyerinya mengganggu keseharian, tulis mereka, cenderung mencari tambahan obat pereda nyeri, terutama obat antiinflamasi nonsteroid, dan tambahan itu kerap diperoleh di luar rumah sakit. Dalam penelitian ini, 60 persen peserta mendapatkan obat nyerinya dari toko obat, 55,8 persen dari unit layanan kesehatan primer, dan 27,9 persen dari rumah sakit, sementara 3,7 persen membelinya di toko serba ada dan 3,3 persen memperolehnya dari orang lain.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Tahu obatnya, tidak tahu isinya
Skor pengetahuan tentang parasetamol, obat antiinflamasi nonsteroid, dan opioid tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok, demikian pula tingkat pendidikan dan jumlah obat rutin yang diminum. Menurut para penulis, 90 persen peserta mengetahui efek samping obat antiinflamasi nonsteroid, termasuk kemungkinannya mengiritasi saluran cerna, dan lebih dari 80 persen hanya mengetahui dosis serta lama pemakaian obat, tetapi tidak cara pemakaian yang tepat.
Kelompok yang pemakaiannya tidak tepat, tulis para penulis, mungkin memiliki pengetahuan tertentu tentang pereda nyeri, tetapi tidak menyadari sifat obat yang sedang mereka pakai, terutama Yaa-Chud. “Bentuk obat, sumbernya, dan kemasan yang tidak jelas tampaknya memiliki pengaruh yang lebih besar,” tulis ketiganya dalam naskah berbahasa Inggris, seraya menyatakan bahwa hal itu masih perlu diteliti lebih lanjut.
Satu perbedaan sikap tetap tercatat. Skor sikap keseluruhan sedikit lebih tinggi pada kelompok yang pemakaiannya tepat, nilai tengahnya 74 berbanding 72 dari skor tertinggi 90, dan perbedaan itu terletak pada kesadaran akan beratnya efek samping pemakaian yang keliru, 14 berbanding 12 dari skor tertinggi 15. Para penulis mengaitkan kesadaran itu dengan pentingnya membaca label obat sebelum meminumnya, sementara persepsi tentang risiko, manfaat, dan hambatan tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok.
Parasetamol, piroksikam, dan opioid yang dijaga ketat
Obat yang paling banyak dipakai seluruh peserta adalah parasetamol, 78,6 persen. Di antara obat antiinflamasi nonsteroid, piroksikam menempati urutan teratas dengan 15,8 persen, diikuti naproksen 14,4 persen dan ibuprofen 9,8 persen, sedangkan tramadol dipakai 7 persen peserta dan obat herbal 9,8 persen. Para penulis mencatat bahwa peserta juga membeli obat antiinflamasi nonsteroid di toko obat atau mendapatkannya dari anggota keluarga, teman, dan tetangga.
Sebagian angka di Ban Phru lebih rendah daripada yang dilaporkan penelitian terdahulu. Pemakaian opioid bersama benzodiazepin, gabapentin, dan pregabalin hanya ditemukan pada 3,7 persen dari seluruh pemakai pereda nyeri, lebih rendah daripada 8,2 persen dalam penelitian terdahulu yang dirujuk para penulis. Mereka menghubungkannya dengan pengawasan ketat di Thailand, tempat opioid digolongkan sebagai narkotika yang memerlukan pemeriksaan dan resep dokter, dan apotek hanya boleh menyerahkannya bila memegang izin serta resep yang sah.
Hal serupa tampak pada parasetamol. Hanya 3 persen yang melampaui dosis anjuran 4 gram sehari atau memakainya lebih dari sepuluh hari, lebih rendah daripada 10 sampai 23 persen dalam penelitian terdahulu. Pemakaian aspirin 325 miligram sehari atau lebih, atau obat antiinflamasi nonsteroid nonselektif, pada orang dengan tukak lambung atau usus dua belas jari pun hanya 0,5 persen dari seluruh pemakai pereda nyeri, dibanding 6,5 persen pada penelitian sebelumnya.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Batas sebuah potret dari satu komunitas
Para penulis menuliskan sendiri batas temuannya. Karena data diambil pada satu waktu, kaitan antara Yaa-Chud, gangguan nyeri, dan pemakaian obat yang tidak tepat tidak dapat dibaca sebagai sebab-akibat, dan karena seluruh peserta berasal dari satu komunitas di Thailand selatan, hasilnya belum tentu mewakili semua orang lanjut usia. Ingatan peserta tentang dosis dan lama pemakaian bisa meleset, walaupun hal itu ditekan dengan memeriksa langsung obat, kemasan, dan lembar resep, sementara obat yang diresepkan dokter dan yang diminum atas kemauan sendiri tidak sepenuhnya dapat dibedakan.
Dari potret itu mereka menarik saran. Kesadaran masyarakat tentang risiko memakai pereda nyeri tanpa pengawasan perlu diperkuat, tulis mereka, dan peran tenaga kesehatan dalam menyaring serta menuntun lansia menuju pemakaian obat yang lebih aman perlu ditingkatkan. Mereka juga menyebut penyuluhan, peninjauan obat secara berkala oleh apoteker, dan program pemantauan berbasis komunitas sebagai langkah yang pada populasi serupa telah ditunjukkan memperbaiki keamanan pemakaian pereda nyeri.
Para penulis menyatakan penelitian lanjutan di banyak tempat dan yang mengikuti peserta dalam jangka panjang diperlukan untuk memastikan dan memperluas temuan mereka. Peran bentuk, sumber, serta kemasan obat, tulis mereka, juga masih perlu diteliti. Mereka meminta temuan ini diberlakukan secara hati-hati di luar konteks budaya dan layanan kesehatan tempat penelitian dilakukan, dan menyebutnya paling sesuai bagi lansia di komunitas semi-perkotaan Thailand yang terbiasa mengobati diri sendiri.















