Orang Tua Tepi Barat Paham Gizi, Hanya Separuh Tahu soal Jus Buah

A A

Ilustrasi cangkir berisi jus jeruk di samping jeruk utuh, irisan jeruk, dan alat peras [Foto: Mateusz Feliksik/Pexels]

  • Rata-rata nilai para orang tua 5,09 dari 6.
  • Sebanyak 32 orang tua, 9,1 persen, melaporkan anaknya tidak pernah sarapan.
  • Minuman manis setiap hari dilaporkan pada 40 anak, atau 11,4 persen.
  • Makanan sebagai hadiah terkait dengan minuman manis yang lebih sering, 1,522 kali.
  • Semuanya laporan orang tua, yang bisa terpengaruh ingatan dan keinginan memberi jawaban yang dianggap pantas.
Daftar Isi
  1. Hampir semua orang tua tahu sarapan penting, separuhnya terpeleset di segelas jus
  2. Di meja makan, 32 anak dilaporkan tidak pernah sarapan sebelum memulai hari
  3. Setiap naik satu jenjang waktu layar, sarapan menjauh dan minuman manis mendekat
  4. Memaksa, mengiming-imingi, dan menyediakan: tiga cara yang berujung di piring berbeda
  5. Yang tidak bisa dijawab oleh 350 lembar jawaban dari Tepi Barat utara

Satu pernyataan pendek membelah para orang tua di Tepi Barat utara menjadi dua. Bunyinya: jus alami adalah pengganti sehat bagi buah utuh. Jawaban yang benar adalah salah. Dari 350 orang tua dan pengasuh anak prasekolah yang ditanya, hanya 174 orang yang menjawab begitu, atau 49,7 persen.

Soal jus itu satu dari enam pertanyaan gizi dalam artikel Parental nutrition knowledge, feeding practices, and dietary behaviors among preschool children in the West Bank, Palestine: a cross-sectional study yang ditulis Lilyan Jarrar, Shahenaz Abualrob, Natal Abbasi, Lina Sawalha, Nada Alhawah, Malak Zughayer, dan Lana Malhis. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026. Ketujuh penulisnya berasal dari An-Najah National University di Nablus, Palestina.

Lima soal lainnya nyaris tanpa perlawanan. Rata-rata nilai para orang tua 5,09 dari 6. Namun ketika para penulis menengok apa yang benar-benar dimakan anak, pengetahuan setinggi itu tidak banyak berbicara. Yang paling ajek muncul justru hal lain di dalam rumah: berapa lama si anak menatap layar setiap hari.

Hampir semua orang tua tahu sarapan penting, separuhnya terpeleset di segelas jus

Mereka yang menjawab adalah orang tua dan pengasuh utama anak berusia dua sampai lima tahun di Nablus, Jenin, Tulkarem, dan Tubas, yang ditanyai antara Maret dan Mei 2026. Sebanyak 274 orang, atau 78,3 persen, adalah perempuan. Lebih dari separuh bergelar sarjana, dan hampir separuh adalah ibu rumah tangga.

Pada soal sarapan, 346 orang menjawab benar bahwa makan pagi penting bagi tumbuh kembang anak. Itu 98,9 persen. Soal buah dan sayur setiap hari dijawab benar oleh 336 orang, atau 96,0 persen. Bahwa makanan cepat saji berdampak buruk bagi pertumbuhan anak diketahui 318 orang, setara 90,9 persen.

Dua soal berikutnya masih tinggi. Sebanyak 314 orang, atau 89,7 persen, tahu garam dan gula tambahan dalam makanan anak perlu dikurangi. Kebutuhan susu dan olahannya setiap hari untuk kalsium dijawab benar oleh 292 orang, 83,4 persen. Lalu datang soal jus. Angkanya jatuh ke 49,7 persen, yang terendah dari keenamnya.

Para penulis kembali ke angka itu ketika menimbang hasilnya. Hampir semua responden mengenali pentingnya sarapan serta buah dan sayur harian, tulis mereka, tetapi hanya kira-kira separuh yang tahu jus alami bukan pengganti sehat buah utuh. Sementara itu camilan tak sehat dan minuman manis tetap lazim pada sebagian anak.

Enam soal gizi, satu yang membelah orang tuaSarapan penting: Persen menjawab benar +98,9%; Buah dan sayur harian: Persen menjawab benar +96,0%; Dampak makanan cepat saji: Persen menjawab benar +90,9%; Kurangi garam dan gula: Persen menjawab benar +89,7%; Susu untuk kalsium: Persen menjawab benar +83,4%; Jus bukan pengganti buah: Persen menjawab benar +49,7%.Enam soal gizi, satu yang membelah orang tuaPersen dari 350 orang tua dan pengasuh yang menjawab benar25%50%75%100%0Sarapan penting98,9%Buah dan sayur harian96,0%Dampak makanan cepat saji90,9%Kurangi garam dan gula89,7%Susu untuk kalsium83,4%Jus bukan pengganti buah49,7%
Sumber: Lilyan Jarrar, Shahenaz Abualrob, Natal Abbasi, Lina Sawalha, Nada Alhawah, Malak Zughayer, dan Lana Malhis, Parental nutrition knowledge, feeding practices, and dietary behaviors among preschool children in the West Bank, Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Di meja makan, 32 anak dilaporkan tidak pernah sarapan sebelum memulai hari

Dari soal ujian, naskah itu berpindah ke meja makan. Sebanyak 153 orang tua, atau 43,7 persen, melaporkan anaknya selalu sarapan sebelum berangkat sekolah atau memulai hari. Ada 113 orang yang menjawab kadang-kadang dan 52 orang menjawab jarang. Sebanyak 32 orang tua, 9,1 persen, melaporkan anaknya tidak pernah sarapan.

Buah dan sayur lebih baik nasibnya. Sebanyak 205 orang tua, atau 58,6 persen, menyebut anaknya selalu memakannya setiap hari. Yang menjawab jarang 21 orang dan tidak pernah 11 orang. Camilan tak sehat lebih dari lima kali sepekan dilaporkan pada 65 anak, yakni 18,6 persen. Empat sampai lima kali sepekan pada 94 anak.

Minuman manis setiap hari dilaporkan pada 40 anak, atau 11,4 persen. Sebanyak 83 anak meminumnya tiga sampai lima kali sepekan. Ada pula soal lidah yang enggan mencoba. Sebanyak 112 orang tua, 32,0 persen, setuju atau sangat setuju bahwa anaknya menolak makanan baru.

Di titik inilah pengetahuan gizi diuji. Mula-mula nilai yang lebih tinggi tampak berjalan bersama sarapan yang lebih sering dan minuman manis yang lebih jarang. Setelah para penulis mengetatkan hitungan untuk banyaknya perbandingan yang diuji sekaligus, kedua hubungan itu tidak lagi bertahan. Mereka meminta hasil tersebut dibaca dengan hati-hati.

“Pengetahuan gizi orang tua hanya menunjukkan bukti terbatas tentang hubungan yang mandiri dengan perilaku makan yang dinilai,” tulis Jarrar dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, pengetahuan saja mungkin tidak cukup bila ketersediaan makanan, rutinitas rumah tangga, selera anak, dan tanggapan pengasuh ikut membentuk perilaku itu.

Setiap naik satu jenjang waktu layar, sarapan menjauh dan minuman manis mendekat

Layar masuk ke dalam cerita lewat satu pertanyaan sederhana tentang lamanya anak menonton setiap hari. Jawaban terbanyak satu sampai dua jam, pada 122 anak atau 34,9 persen. Sebanyak 98 anak menonton dua sampai tiga jam, dan 64 anak lebih dari tiga jam. Hanya 66 anak, 18,9 persen, yang kurang dari satu jam.

Ketika jenjang waktu layar itu disandingkan dengan lima kebiasaan makan, polanya muncul di empat tempat sekaligus. Setiap naik satu jenjang, peluang anak berada di kelompok yang lebih sering sarapan tercatat 0,654 kali. Untuk buah dan sayur 0,643 kali. Dua angka itu di bawah satu, artinya peluangnya lebih rendah.

Arah sebaliknya terlihat pada makanan yang hendak dihindari. Peluang berada di kelompok yang lebih sering makan camilan tak sehat tercatat 1,967 kali untuk setiap kenaikan jenjang layar. Pada minuman manis angkanya 2,206 kali. Keempat hubungan itu bertahan setelah hitungan diketatkan, dan polanya tidak berubah saat waktu layar dihitung dengan cara lain.

“Waktu layar anak adalah korelat perilaku makan yang paling konsisten dalam model-model utama yang telah disesuaikan,” tulis para penulis. Mereka menyebut paparan layar mungkin berbarengan dengan makan sambil teralih, kesempatan mengemil yang lebih banyak, dan terganggunya jam makan yang teratur. Namun mekanisme itu, menurut mereka, tidak diukur langsung.

Ada satu temuan lagi yang menyangkut layar. Dari semua ciri keluarga dan anak yang ditimbang, hanya waktu layar yang terkait secara mandiri dengan nilai pengetahuan gizi orang tua. Makin tinggi jenjang layar si anak, makin rendah rata-rata nilai orang tuanya. Hubungan ini konsisten di beberapa cara hitung, tetapi arahnya tidak dapat ditetapkan.

Waktu layar dan empat kebiasaan makan anakSarapan: Rasio peluang +0,654; Buah dan sayur: Rasio peluang +0,643; Camilan tak sehat: Rasio peluang +1,967; Minuman manis: Rasio peluang +2,206.Waktu layar dan empat kebiasaan makan anakRasio peluang lebih sering, tiap naik satu kategori waktu layar0,51,01,52,02,50Sarapan0,654Buah dan sayur0,643Camilan tak sehat1,967Minuman manis2,206Di bawah 1 berarti lebih jarang, di atas 1 berarti lebih sering.
Sumber: Lilyan Jarrar, Shahenaz Abualrob, Natal Abbasi, Lina Sawalha, Nada Alhawah, Malak Zughayer, dan Lana Malhis, Parental nutrition knowledge, feeding practices, and dietary behaviors among preschool children in the West Bank, Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Memaksa, mengiming-imingi, dan menyediakan: tiga cara yang berujung di piring berbeda

Cara orang tua memberi makan dinilai dalam sembilan sisi, masing-masing berskala satu sampai lima. Yang paling sering mereka laporkan adalah memuji anak, dengan rata-rata 4,37. Menyediakan makanan sehat di rumah menyusul dengan 4,34, lalu mendorong anak mencoba ragam makanan 4,23. Paling rendah adalah menekan anak untuk makan, 3,09, dan memakai makanan sebagai hadiah, 3,52.

Rumah yang lebih banyak menyediakan makanan sehat berjalan bersama anak yang lebih sering makan buah dan sayur. Peluangnya tercatat 2,492 kali. Pujian mengarah ke tempat yang sama, dengan angka 1,496 kali. Tekanan untuk makan justru berlawanan arah. Makin kuat tekanan, peluang anak lebih sering makan buah dan sayur tercatat 0,616 kali.

Makanan sebagai hadiah terkait dengan minuman manis yang lebih sering, 1,522 kali. Membatasi terkait dengan camilan tak sehat yang lebih jarang, 0,561 kali. Dorongan mencoba ragam makanan memberi hasil bermuka dua. Ia terkait dengan penolakan makanan baru yang lebih rendah, 0,521 kali, tetapi juga dengan camilan tak sehat yang lebih sering, 1,773 kali.

Karena itu para penulis menolak membagi cara memberi makan menjadi sehat dan tidak sehat. Maknanya, tulis mereka, bergantung pada sisi yang dilihat dan kebiasaan makan yang dinilai. Mereka juga mengingatkan bahwa arah hubungan itu bisa terbalik. “Orang tua mungkin memakai strategi tekanan atau hadiah karena anak sudah menunjukkan sikap pilih-pilih makanan, asupan terbatas atas makanan tertentu, atau kesukaan kuat pada makanan yang kurang bergizi,” tulis mereka.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Yang tidak bisa dijawab oleh 350 lembar jawaban dari Tepi Barat utara

Naskah itu mencatat dua hal lain yang dibaca dengan hati-hati. Anak yang dititipkan di penitipan pemerintah atau swasta punya peluang lebih rendah untuk lebih sering sarapan dibanding anak yang diasuh di rumah. Para penulis tidak menanyakan apakah sarapan dimakan sebelum berangkat atau disediakan di tempat penitipan. Responden laki-laki melaporkan tekanan, hadiah, dan rutinitas makan yang lebih tinggi.

Batas pertama yang mereka sebut adalah waktu. Semua jawaban diambil pada satu kurun, sehingga sebab-akibat, urutan kejadian, dan arah hubungan tidak dapat disimpulkan. Para responden juga tidak dipilih untuk mewakili seluruh keluarga Palestina. Sebagian besar perempuan, sehingga kesimpulan tentang pengasuh laki-laki terbatas. Tempat tinggal di kota, desa, atau kamp pengungsi tidak dicatat.

Batas berikutnya menyangkut jawaban itu sendiri. Semuanya laporan orang tua, yang bisa terpengaruh ingatan dan keinginan memberi jawaban yang dianggap pantas. Lebih dari satu pengasuh dari rumah yang sama mungkin ikut mengisi. Enam soal gizi itu pun hanya indeks singkat, dan nilainya menumpuk di ujung atas, sehingga hasil yang menyangkut nilai itu tetap perlu dibaca dengan batas tersebut.

Dari sana para penulis menarik saran yang terukur. Pendidikan gizi, tulis mereka, mungkin lebih berguna bila memadukan informasi yang benar dengan strategi praktis: meluruskan salah paham yang umum, menyediakan makanan sehat di rumah, jam makan yang teratur, cara menghadapi anak yang menolak makanan, dan kebiasaan makan di depan layar. Ayah, kakek-nenek, dan pengasuh lain yang ikut memberi makan perlu dilibatkan.

Salah paham yang umum itu sudah punya contoh sejak halaman hasil. Sarapan dibenarkan 346 orang tua, sementara segelas jus hanya dijawab tepat oleh 174 orang. Di antara keduanya, tulis Jarrar dan rekan-rekannya, pengetahuan gizi orang tua umumnya tinggi, tetapi cara memberi makan dan kebiasaan makan anak yang dilaporkan tetap beragam.

Bagikan

Baca Juga

Parasit Usus Paling Banyak Ditemukan pada Anak Prasekolah di Iran
Penyandang Disabilitas Korea yang Rajin Jalan Lebih Jarang Stres
Israel Bebaskan 9 Tersangka Serangan Pemukim di Tepi Barat
Tertular Covid dan Jaga Zona Merah, Nakes Kazakhstan Masih Cemas
Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Penyakit Parasit di Xinjiang Menurun, Belum Terlihat pada Anak