- Siagai laggek berarti orang yang mengerti atau paham obat.
- Paling banyak untuk sakit perut, yaitu 25 jenis.
- Anak seorang penyembuh menyerap pengetahuan orang tuanya sedikit demi sedikit.
- Penyembuh pantang mencari tumbuhan obat bila tidak ada orang sakit.
Daftar Isi
Penyembuh Mentawai tidak hanya sikerei. Di pesisir timur Siberut bagian selatan ada siagai laggek, orang biasa yang mengobati tanpa ritual. Bekal mereka 46 jenis tumbuhan, dan 25 di antaranya dipakai untuk sakit perut.
Catatan itu ditulis Andreas Rino Sitanggang dalam Siagai Laggek: Pengetahuan Tumbuhan Obat Oleh Penyembuh Sebagai Obat Tradisional di Kepulauan Mentawai. Artikelnya terbit di Balale’: Jurnal Antropologi volume 3 nomor 2 tahun 2022. Sitanggang berasal dari Jurusan Antropologi Sosial Universitas Andalas, Padang.
Ia mendatangi para penyembuh di Desa Mailleppet dan Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan. Di dua desa itu puskesmas sudah ada, dan hutan di sekitarnya masih dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari dan obat-obatan. Pengobatan para penyembuh tetap sering dimanfaatkan warga sekitarnya.
Orang yang paham obat
Siagai laggek berarti orang yang mengerti atau paham obat. Yang dimaksud adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat. Seseorang disebut siagai laggek bila mampu meracik tumbuhan menjadi obat dan menyembuhkan orang sakit.
Mereka berasal dari simatak, sebutan bagi orang biasa yang bukan sikerei, dengan satu syarat: kemampuan menyembuhkan itu harus diketahui orang banyak atau orang satu kampung. Bila hanya keluarga inti yang tahu, seseorang belum disebut siagai laggek. Hidup sehari-harinya sama dengan orang Mentawai pada umumnya, dan pantangan baru berlaku saat ia dipanggil mengobati, salah satunya tidak makan atau berpuasa.
Siagai laggek juga mampu mendiagnosis penyakit. Hal pertama yang dilakukan adalah memijit bagian tubuh orang yang datang berobat. Pijatan itu dipakai untuk mengetahui penyebab penyakit dan cara menyembuhkannya.
Orang biasa lainnya juga punya pengetahuan dasar. Tangan yang terluka pisau, misalnya, segera diberi daun pucuk ubi atau buluk bairatti. Pengetahuan semacam itu penting dimiliki perempuan yang sudah menikah sebagai pertolongan pertama bagi anaknya.
Dua jalan penyembuhan
Sikerei adalah dukun penyembuh sekaligus pemimpin upacara yang dipercaya mampu menghubungkan dunia manusia dengan dunia roh. Bagi sikerei, penyakit muncul karena jiwa terganggu oleh roh jahat. Karena itu ia mengobati dengan upacara dan melantunkan nyanyian yang disebut uray, yang berfungsi memanggil jiwa orang sakit agar kembali masuk ke tubuhnya.
Siagai laggek memandang penyakit dengan cara lain. Penyakit terjadi karena keseimbangan di dalam tubuh terganggu. Orang bisa sakit bila memaksa bekerja saat panas terik, terlambat makan, kehujanan, atau mengangkat beban terlalu berat.
Obatnya adalah ramuan tumbuhan dan pijatan pada tubuh yang sakit. Tidak ada upacara. Sitanggang mencatat siagai laggek secara khusus menyembuhkan dengan satu cara, yaitu memberi ramuan tumbuhan kepada orang sakit.
Batas keduanya tidak kaku, sebab sikerei pun mengobati penyakit ringan cukup dengan ramuan tanpa ritual, dan saat itu, tulis Sitanggang, ia bisa dikatakan sebagai siagai laggek. Perbedaan lain ada pada pantangan. Hidup sikerei dikelilingi banyak pantangan, antara lain memakan belut dan pakis, sedangkan siagai laggek menjalani hidup yang lebih luwes.
Penyakit akibat gangguan makhluk halus disebut kisei. Para penyembuh membagi tumbuhan menurut aromanya, yaitu harum, amis, pesing, dan busuk. Untuk kisei umumnya dipakai tumbuhan beraroma busuk atau simabutek, dan yang mengobati biasanya sikerei.
Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai
Empat puluh enam tumbuhan
Sitanggang mengidentifikasi 46 jenis tumbuhan obat yang dipakai siagai laggek. Paling banyak untuk sakit perut, yaitu 25 jenis. Sakit perut atau mabesik baga memang penyakit yang umum diderita masyarakat Mentawai.
Sebanyak 11 jenis dipakai untuk penyakit luar, yang mencakup luka, cacar, bisul, campak, dan kutu air. Lima jenis dipakai untuk sakit kepala, empat jenis untuk langok atau penyakit khusus perempuan, dan tiga jenis untuk rematik. Sakit mata dan batuk masing-masing tercatat punya dua jenis tumbuhan dalam tabel Sitanggang.
Beberapa tumbuhan berkhasiat untuk lebih dari satu penyakit. Bagli-bagli atau Costus speciosus tercatat sebagai obat sakit perut, penyakit luar, dan sakit kepala. Kunyit, yang disebut kiniu, tercatat untuk sakit perut dan penyakit luar.
Ramuannya bergantung pada penyakit. Untuk mencret biasanya cukup daun jambu biji atau jabbuik. Untuk sakit kepala, seorang siagai laggek berusia 58 tahun menyebut buah oroket dan kakainau yang dihaluskan, ditaruh di kepala, lalu diikat dengan kain.
Daun adalah bagian yang paling sering dipakai. Alasannya, daun sangat mudah didapatkan. Ada ramuan yang memakai batang, akar, atau buah, tetapi hampir semuanya tetap dicampur daun.
Parutan rotan dan bambu
Tumbuhan obat umumnya diolah dengan cara diparut memakai gigiok, parutan dari pelepah pohon labi yang termasuk jenis rotan. Hasil parutan dimasukkan ke wadah bambu atau dibungkus daun karamangga dan mumunen. Air perasannya diminum, sedangkan sebagian lagi menjadi obat luar untuk mengurut bagian tubuh yang sakit.
Tidak ada alat upacara dalam pekerjaan ini. Seorang siagai laggek berusia 57 tahun menuturkan ia tidak perlu memakai lonceng seperti sikerei. Ia cukup mencari obat di samping rumah atau di hutan, bahkan sepulang dari ladang.
Kebun obat di pekarangan
Sebagian tumbuhan hutan, seperti mumunen, kukuet, bagli-bagli, dan kakainauk, ditanam di pekarangan agar penyembuh tidak perlu ke hutan ketika orang sakit datang ke rumah. Karena itu rumah penyembuh mudah dikenali dari tumbuhan obat di sekitarnya. Namun tidak semua tumbuhan bisa dipindahkan: sibakat laggai tumbuh di tepi sungai, sedangkan toro babak atau kiambang memerlukan air kolam dan sungai.
Ada pula pantangan yang mengatur pencarian obat. Penyembuh pantang mencari tumbuhan obat bila tidak ada orang sakit. Mereka percaya roh tumbuhan akan marah dan penyembuh sendiri yang jatuh sakit.
Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak
Dari keluarga sampai mimpi
Sumber pengetahuan terbesar siagai laggek adalah keluarga. Anak seorang penyembuh menyerap pengetahuan orang tuanya sedikit demi sedikit. Interaksi itu terjadi hampir setiap hari, berulang-ulang, dan dalam waktu lama.
Sumber kedua adalah tetangga. Pengetahuan diajarkan secara lisan dengan menyebut nama tumbuhan dan cara membuatnya. Orang juga belajar dengan melihat penyembuh bekerja, kecuali bila ramuan disajikan dalam keadaan sudah jadi.
Sumber ketiga adalah berguru kepada siagai laggek yang lebih senior, dengan proses yang tidak selama calon sikerei dan tanpa pesta sesudahnya. Sebagian siagai laggek juga mendapat petunjuk lewat mimpi. Obat dari mimpi dipercaya sebagai pemberian leluhur dan berkhasiat bagus, meski tidak semua orang mendapatkan mimpi semacam itu.
Resep yang dirahasiakan
Sumber keempat adalah membeli. Orang dari klan atau uma lain membeli ramuan dengan uang, kain, ayam, atau babi. Pembeli yakin ramuan penyembuh itu benar-benar mujarab.
Orang di luar garis keturunan yang sekadar meminta tidak mendapat resep sempurna. Beberapa tumbuhan khusus tidak diberitahukan. Kerahasiaan itu hanya berlaku untuk penyakit keras seperti muntah darah dan untuk obat perempuan sebelum dan sesudah melahirkan.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Roh dalam tumbuhan
Sitanggang mencatat tiga alasan tumbuhan terus dipakai. Pengetahuannya diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Masyarakat Mentawai dekat dengan alam, dan setiap tumbuhan obat dipercaya memiliki roh yang memberi kekuatan positif bagi orang sakit.
Kepercayaan itu bersumber dari Arat Sabulungan, yang arti harfiahnya adat daun-daunan. Dalam upacara, daun dipercaya menjadi perantara antara dunia nyata dan dunia roh. Sitanggang menyebut Arat Sabulungan sebagai sistem pengetahuan lokal yang mendasari semua pengetahuan para penyembuh.
Tumbuhan nyaris menjadi satu-satunya bahan. “Bisa dikatakan jarang penulis menemukan Siagai Laggek menggunakan media lain selain tumbuhan yang digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit,” tulis Andreas Rino Sitanggang dalam naskahnya.
Catatan ini punya batas: cakupannya dua desa di Siberut Selatan, dan para penyembuh menolak memperlihatkan cara meracik obat kepada peneliti selama belum ada orang sakit yang datang berobat. Sirua mata, penyembuh yang dipercaya melihat dunia roh, sudah tidak dijumpai lagi di lokasi itu. Dua tumbuhan dalam tabel, pipidot dan bakbak, tercatat tanpa nama ilmiah.
Sitanggang berharap identifikasi tanaman obat ini dikembangkan pihak-pihak yang berkaitan dengan kesehatan. Pusat kesehatan sudah ada di Mentawai, tetapi masyarakat tetap memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai pengobatan alternatif mereka.















