- Arat Sabulungan mengajarkan bahwa alam adalah tubuh mereka sendiri, sehingga merusaknya sama artinya dengan merusak dan menyakiti diri, menurut penelitian Silfia Hanani dan Nelmaya dari IAIN Bukittinggi.
Daftar Isi
- Arti Nama Arat Sabulungan dan Lokasi Penelitian
- Tiga Kelas Roh yang Menjaga Setiap Sudut Alam
- Mekanisme Ritual Sebelum Pohon Ditebang
- Cara Sikerei Memulihkan Kesehatan lewat Ramuan dan Tarian
- Tiga Ritual Panen yang Mengatur Hubungan dengan Alam
- Uma sebagai Ruang Musyawarah Sekaligus Simbol Keseimbangan
- Etika Ekologis yang Relevan di Tengah Krisis Lingkungan
Bagi masyarakat Mentawai di Pulau Siberut, merusak hutan sama artinya dengan melukai tubuh sendiri. Keyakinan itu bukan sekadar ungkapan, melainkan mekanisme kerja nyata dari sistem kepercayaan Arat Sabulungan yang mengatur hampir setiap tindakan warga terhadap alam sekitarnya.
Cara kerja sistem ini diuraikan Silfia Hanani dan Nelmaya dari Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi dalam artikel Arat Sabulungan: The Ecological Ethics of the Mentawai Community di jurnal Kasetsart Journal of Social Sciences Volume 43 tahun 2022.
Arti Nama Arat Sabulungan dan Lokasi Penelitian
Arat Sabulungan tersusun dari tiga kata: arat berarti adat, sa berarti seikat, dan bulungan berarti daun. Secara harfiah, namanya berarti adat seikat daun, merujuk pada daun sagu yang kerap dipakai dalam berbagai ritual adat Mentawai.
Penelitian ini dilakukan di Pulau Siberut, salah satu dari empat pulau utama Kepulauan Mentawai selain Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Lima sikerei, tokoh adat yang berperan sebagai perantara antara manusia dan dunia roh, dilibatkan sebagai sumber informasi utama, dengan sebagian di antaranya masih memakai bahasa Mentawai sehari–hari.
Data penelitian dihimpun lewat wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, dengan sikerei yang dilibatkan dipilih berdasarkan tingkat senioritas mereka dalam struktur adat setempat.
Suku Mentawai menganut sistem keturunan patrilineal, dengan beberapa keluarga inti hidup bersama dalam satu uma. Bagian bawah rumah panjang ini turut difungsikan sebagai kandang babi, menegaskan eratnya hubungan warga dengan ternak yang mereka pelihara sehari–hari.
Tiga Kelas Roh yang Menjaga Setiap Sudut Alam
Mekanisme kepercayaan ini bekerja lewat pembagian roh ke dalam tiga kelas wilayah. Tai Kabagat–Koat menguasai laut, Tai Kaileleu menguasai hutan dan gunung, sedangkan Tai Ka–Manua menguasai langit.
Setiap pohon, aliran air, tanah, dan hewan diyakini dihuni oleh salah satu roh ini. Karena itu, setiap tindakan manusia terhadap unsur alam tersebut dianggap langsung berhubungan dengan roh penjaganya, bukan sekadar mengambil sumber daya yang tidak bertuan.
Prinsip ini pula yang menjelaskan mengapa pengelolaan tanah adat di Mentawai berbeda dengan wilayah lain yang sistem tanah ulayatnya bergeser ke kepemilikan pribadi: bagi warga Siberut, tanah bukan aset yang bisa dilepas dari hubungan spiritualnya dengan roh penjaga.
Mekanisme Ritual Sebelum Pohon Ditebang
Sebelum menebang pohon di hutan, warga Mentawai wajib menjalankan ritual panaki, yakni permohonan izin kepada roh penjaga hutan. Tanpa ritual ini, penebangan dianggap melanggar wilayah roh dan berisiko mendatangkan bencana bagi pelaku maupun kampungnya.
Kawasan tertentu di hutan disebut lakokaina, yaitu wilayah sakral yang diyakini menjadi tempat tinggal roh dan tidak boleh diganggu sama sekali, apa pun kebutuhannya. Batas ini bekerja sebagai mekanisme pembatas alami yang menahan warga dari eksploitasi hutan secara berlebihan.
Setelah pohon berhasil ditebang untuk kebutuhan mendirikan uma, rumah adat komunal Mentawai berpilar kayu dan beratap daun sagu, digelar ritual Punen Pasibuluakek sebagai pesta syukur sekaligus penutup rangkaian izin kepada roh. Jumlah dan ukuran kayu yang ditebang ditentukan lewat musyawarah warga, disesuaikan dengan kebutuhan nyata, bukan kehendak perorangan.
Mekanisme serupa juga berlaku saat warga hendak membuka ladang baru. Lahan yang dipilih tidak boleh berada di hutan lebat atau tebing curam, dan pembukaannya tetap harus didahului ritual permohonan izin kepada roh penjaga tempat tersebut.
Cara Sikerei Memulihkan Kesehatan lewat Ramuan dan Tarian
Dalam pandangan ini, setiap bencana, penyakit, atau penderitaan dianggap sebagai bentuk hukuman dari roh selaku penguasa alam, sehingga tindakan manusia yang bertentangan dengan kehendak roh diyakini menjadi penyebab utama penyakit.
Ketika warga jatuh sakit, penyebabnya dalam pandangan Arat Sabulungan sering dikaitkan dengan terganggunya hubungan antara manusia dan roh. Sikerei kemudian bertindak sebagai perantara yang memulihkan hubungan tersebut lewat dua mekanisme sekaligus: pengobatan fisik dan ritual spiritual.
Secara fisik, sikerei meracik ramuan dari tumbuh–tumbuhan hutan yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan. Secara spiritual, ia melantunkan mantra sembari menari, gerakan yang diyakini memanggil kembali keseimbangan antara pasien dan roh yang terganggu.
Salah satu sikerei senior yang terlibat penelitian ini menuturkan kepada peneliti bahwa tarian dan mantra tidak bisa dipisahkan dari ramuan, sebab penyembuhan hanya berjalan penuh jika tubuh dan hubungan dengan roh sama–sama dipulihkan.
Tiga Ritual Panen yang Mengatur Hubungan dengan Alam
Mekanisme serupa berlaku pada aktivitas berburu dan bertani lewat rangkaian ritual punen. Punen Puotuat digelar terkait kepiting, yang dalam kepercayaan warga Mentawai menjadi simbol daya tahan karena kemampuannya bertahan hidup di darat maupun air.
Punen Sanabu dijalankan setelah menangkap ikan menggunakan racun tuba. Karena metode ini dianggap merenggut banyak nyawa sekaligus, ritual ini berfungsi sebagai bentuk penebusan kepada roh penjaga perairan atas kematian massal ikan tersebut.
Sementara itu, Punen Masiaro Sikatai berperan sebagai ritual perlindungan yang memakai daun slot lagai sebagai perangkat utamanya. Ketiga ritual ini bekerja sebagai mekanisme penyeimbang, memastikan setiap kali warga mengambil sesuatu dari alam, ada bentuk penghormatan yang dikembalikan kepada roh penjaganya. Lewat ritual ini, warga memanjatkan doa untuk keselamatan dan perlindungan dari hal buruk, sekaligus memperlakukan daun dan bunga yang dipakai layaknya bahan berharga, bukan sekadar pelengkap upacara.
Uma sebagai Ruang Musyawarah Sekaligus Simbol Keseimbangan
Uma tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal komunal, tetapi juga ruang tempat keputusan bersama diambil, termasuk soal berapa banyak kayu yang boleh ditebang dari hutan. Mekanisme musyawarah ini menjadi penyeimbang praktis atas larangan–larangan spiritual yang telah disebutkan sebelumnya.
Seorang sikerei yang lebih muda dalam penelitian ini menjelaskan kepada peneliti bahwa keputusan di uma selalu mempertimbangkan kebutuhan bersama, bukan kepentingan satu keluarga saja, sehingga tekanan terhadap hutan tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Pola pengambilan keputusan kolektif semacam ini turut membentuk relasi warga dengan hewan yang dipelihara di sekitar uma, sebagaimana terlihat pada kedudukan babi dalam kehidupan adat Mentawai yang juga diatur lewat musyawarah dan aturan adat serupa.
Sebagai wujud penghormatan kepada roh, warga turut menyimpan tengkorak hewan hasil buruan di dalam uma. Kebiasaan ini bekerja lewat mekanisme yang sama dengan ritual–ritual sebelumnya: setiap hasil yang diambil dari alam harus diperlakukan dengan hormat, bukan sekadar dibuang setelah dimanfaatkan.
Etika Ekologis yang Relevan di Tengah Krisis Lingkungan
Hanani dan Nelmaya menyimpulkan bahwa seluruh mekanisme ritual ini bekerja sebagai satu sistem etika ekologis berbasis teologi, bukan sekadar tradisi tanpa alasan. Dengan menempatkan alam sebagai bagian dari tubuh manusia sendiri, sistem ini secara otomatis membatasi eksploitasi berlebihan tanpa perlu aturan hukum formal dari luar.
Ibadah dan ritual dalam Arat Sabulungan, menurut peneliti, dimaknai sebagai upaya mencapai kehidupan harmonis lewat hubungan baik dengan alam, baik bagi warga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Prinsip inilah yang membuat seluruh mekanisme ritual sebelumnya terus dijalankan dari generasi ke generasi tanpa terputus.
Hanani dan Nelmaya turut menyoroti bahwa krisis lingkungan global saat ini banyak dipicu oleh hilangnya etika ekologis akibat eksploitasi alam demi kepentingan materi semata. Berbeda dengan pola pikir tersebut, warga Mentawai memperlakukan alam layaknya memperlakukan diri sendiri demi menjaga keharmonisan, karena alam diyakini sebagai tempat tinggal roh.
Teologi semacam ini, menurut peneliti, mengikat ruang tindakan dan pikiran seluruh penganut Arat Sabulungan. Bagi mereka, ikatan dengan roh yang melekat pada ruang dan tempat tertentu selalu berimplikasi langsung pada bagaimana mereka menjaga tindakan tetap selaras dengan alam.
Menurut peneliti, meski dunia modern kerap memandang keyakinan semacam ini tidak rasional, era modern sendiri masih menghadapi krisis pangan, ekonomi, dan lingkungan, sehingga pendekatan teologis terhadap alam seperti ini dinilai kembali relevan untuk dipelajari.
Cekricek.id sebelumnya juga menulis artikel lain soal masyarakat adat Mentawai, termasuk soal kedudukan ibu adat dalam struktur sosial mereka.
Para peneliti menilai, teologi alam semacam ini layak diapresiasi dan dijaga karena mampu meminimalkan krisis lingkungan global lewat cara pandang yang menyatukan kelangsungan alam dengan keberlangsungan hidup manusia, bukan memisahkan keduanya sebagai dua hal yang terpisah.















