Tertular Covid dan Jaga Zona Merah, Nakes Kazakhstan Masih Cemas

A A

Ilustrasi tangan bersarung karet biru memegang kacamata pelindung bening di depan baju hazmat [Foto: Ron Lach/Pexels]

  • Kelelahan kerja bertambah secara lurus, sedangkan kecemasan dan depresi melampaui perkiraan penjumlahan.
  • Sebanyak 535 dari 2.715 tenaga kesehatan pernah tertular sekaligus bertugas di zona merah.
  • Skor cemas kelompok dua paparan 5,08, sedangkan perkiraan penjumlahannya 4,10.
  • Kelompok yang hanya bertugas di zona merah tidak berbeda bermakna dari kelompok kontrol.
Daftar Isi
  1. Dari masa pandemi ke pertanyaan Ospanova dan Tobzhanova
  2. Empat kelompok pada pertengahan 2025
  3. Lelah kerja yang bertambah lurus
  4. Cemas dan depresi yang melampaui hitungan
  5. Tafsir para penulis atas dua pola
  6. Disandingkan dengan kohort Belanda Lavell dan kajian Schaufeli
  7. Batas yang ditulis Ospanova dan kolega

Zona merah adalah sebutan bagi unit perawatan pasien Covid-19, ruang yang menuntut alat pelindung diri lebih ketat daripada biasanya. Di ruang itu, selama pandemi, tenaga kesehatan memikul risiko tertular yang tinggi, beban kerja yang membengkak, kekurangan staf, dan tekanan batin karena menyaksikan pasien menderita lalu meninggal. Sebagian dari mereka kemudian ikut jatuh sakit oleh penyakit yang sama, dengan gejala fisik, masa pemulihan, dan bekas kejiwaan yang menyertainya.

Dua pengalaman itu, bertugas di zona merah dan tertular sendiri, ditelusuri bekasnya oleh Dinara Ospanova, Kundyzay Tobzhanova, Lyazzat Alibekova, Ainur Seitmanova, Galiya Bilibayeva, Zhanar Ibraimzhanova, Raushan Kurmankhanova, Ulbossyn Shokay, Roza Alekesheva, dan Meruyert Suleimenova. Artikel mereka, Long-term mental health outcomes among healthcare workers following COVID-19 infection and frontline work: evidence of additive and non-additive patterns in Kazakhstan, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Sembilan penulis bekerja di Al-Farabi Kazakh National University, Almaty, sedangkan Alibekova di Higher Medical College di kota yang sama.

Yang mereka temukan bukan satu jawaban, melainkan dua pola. Kelelahan kerja, yang dalam naskah disebut burnout, bertambah secara lurus: dua pengalaman menghasilkan kira-kira jumlah dari masing-masing. Kecemasan dan depresi berperilaku lain. Pada tenaga kesehatan yang mengalami keduanya, skor dua gejala itu lebih tinggi daripada yang diperkirakan bila pengaruh masing-masing sekadar dijumlahkan, dan itu masih terlihat tiga sampai lima tahun setelah pandemi.

Dari masa pandemi ke pertanyaan Ospanova dan Tobzhanova

Selama pandemi berlangsung, gambaran umumnya sudah cukup terang. Bukti meta-analisis yang dirujuk naskah itu menunjukkan kelelahan kerja, kecemasan, dan depresi menimpa lebih dari sepertiga tenaga kesehatan, sehingga muncul kekhawatiran tentang keberlangsungan tenaga kerja dan keselamatan pasien. Kelelahan kerja pun diketahui erat berkaitan dengan gejala perasaan: mereka yang mengalaminya cenderung mencatat skor cemas dan depresi yang jauh lebih tinggi daripada rekan yang tidak.

Yang belum banyak diketahui, menurut para penulis, adalah bagaimana jenis paparan yang berbeda bekerja sendiri-sendiri dan bersama-sama. Kebanyakan penelitian memeriksa paparan itu secara terpisah, atau sekadar membandingkan petugas garis depan dengan yang bukan. Pertanyaan apakah paparan ganda, tertular sekaligus bertugas di zona merah, menimbulkan tekanan yang melampaui paparan tunggal belum pernah diuji secara sistematis.

Dua kerangka teori dipakai untuk menimbang kemungkinannya. Model tuntutan dan sumber daya kerja menyatakan kelelahan kerja tumbuh ketika tuntutan pekerjaan terus-menerus melampaui sumber daya yang tersedia. Teori konservasi sumber daya dari Hobfoll melangkah lebih jauh. Kehilangan, menurut teori itu, tidak sekadar menumpuk tetapi berlipat, sebab kehilangan awal mengurangi kemampuan seseorang melindungi yang tersisa. Hobfoll menamainya spiral kehilangan.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Empat kelompok pada pertengahan 2025

Jawaban dicari antara Juni dan Agustus 2025 lewat survei daring yang tautannya diedarkan melalui jaringan profesi. Sebanyak 3.162 tenaga kesehatan membukanya, kira-kira 1,2 persen dari sekitar 272.000 dokter dan perawat yang menurut buku statistik Kementerian Kesehatan bekerja di Kazakhstan pada 2023. Setelah 447 orang dikeluarkan karena data paparannya tidak lengkap, tersisa 2.715 orang dengan usia rata-rata 40,3 tahun dan masa kerja rata-rata 15,6 tahun.

Hampir semuanya perawat. Dari 2.715 orang itu, 2.491 atau 91,7 persen adalah perawat dan 224 atau 8,3 persen dokter, sementara perempuan mencapai 93,9 persen. Para penulis menyebut susunan itu mencerminkan tenaga kesehatan Kazakhstan, tempat perawat merupakan mayoritas staf klinis. Karena itu pula temuannya, tulis mereka, harus dibaca terutama dalam konteks perawat, dan penerapannya pada dokter perlu kehati-hatian.

Riwayat yang dilaporkan sendiri oleh para peserta membagi mereka ke dalam empat kelompok. Sebanyak 1.237 orang tidak pernah tertular dan tidak pernah bertugas di zona merah, dan merekalah kelompok kontrol. Lalu 515 orang hanya bertugas di zona merah, 428 orang hanya tertular, dan 535 orang mengalami keduanya. Kelompok kontrol adalah yang termuda, rata-rata 36,4 tahun, sedangkan kelompok dengan dua paparan rata-rata berusia 44,2 tahun.

Tanpa paparan dan dengan dua paparanTanpa paparan dan dengan dua paparanTanpa paparan dan dengan dua paparanRata-rata skor 1.237 dan 535 tenaga kesehatan KazakhstanKontrolDua paparan1,671,96Lelah kerja (1-5)2,915,08Cemas (0-21)3,726,05Depresi (0-27)76,1471,50Nilai kesehatan(0-100)
Sumber: Dinara Ospanova, Kundyzay Tobzhanova, Lyazzat Alibekova, Ainur Seitmanova, Galiya Bilibayeva, Zhanar Ibraimzhanova, Raushan Kurmankhanova, Ulbossyn Shokay, Roza Alekesheva, dan Meruyert Suleimenova, Long-term mental health outcomes among healthcare workers following COVID-19 infection and frontline work: evidence of additive and non-additive patterns in Kazakhstan, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lelah kerja yang bertambah lurus

Kelelahan kerja diukur dengan 33 butir pertanyaan yang dijawab pada skala satu sampai lima, dan angka yang lebih tinggi berarti kelelahan yang lebih berat. Skor rata-ratanya paling rendah pada kelompok kontrol, yakni 1,67. Kelompok yang hanya bertugas di zona merah mencatat 1,72, yang hanya tertular 1,85, dan yang mengalami keduanya 1,96. Urutannya naik setapak demi setapak.

Kenaikan itu sesuai dengan perkiraan penjumlahan. Bila pengaruh tertular dan pengaruh zona merah ditambahkan begitu saja, skor yang diharapkan pada kelompok dua paparan adalah 1,90, dekat dengan 1,96 yang benar-benar teramati. Uji statistik atas gabungan kedua paparan pun tidak bermakna. Naskah itu menyebutnya pola aditif, yakni pengaruh gabungan yang mendekati jumlah pengaruh masing-masing paparan.

Peran masing-masing paparan tidak sama besar. Riwayat tertular Covid-19 berkaitan secara konsisten dengan semua ukuran, dari kelelahan kerja sampai mutu hidup, walaupun ukuran pengaruhnya kecil. Tugas di zona merah jauh lebih terbatas jejaknya. Kelompok yang hanya bertugas di zona merah, tanpa pernah tertular, tidak berbeda bermakna dari kelompok kontrol pada satu ukuran pun.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Cemas dan depresi yang melampaui hitungan

Pada kecemasan dan depresi, penjumlahan tidak lagi cukup. Skor cemas rata-rata kelompok kontrol 2,91 dari rentang nol sampai 21, sedangkan kelompok dua paparan 5,08. Skor depresi kelompok kontrol 3,72 dari rentang nol sampai 27, sedangkan kelompok dua paparan 6,05. Para penulis menyebut angka pada kelompok dua paparan itu kira-kira satu setengah sampai dua kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

Selisih dengan perkiraan penjumlahan tampak jelas. Untuk kecemasan, skor yang diharapkan pada kelompok dua paparan adalah 4,10, tetapi yang teramati 5,08, hampir satu poin lebih tinggi. Untuk depresi, perkiraannya 4,63 dan kenyataannya 6,05, terpaut 1,42 poin. Ukuran masalah kesehatan sehari-hari menunjukkan arah yang sama: 7,95 berbanding perkiraan 6,84. Ketiganya didukung uji statistik yang bermakna.

Kelompok dua paparan: nyata dan perkiraanLelah kerja (BAT-33): Rata-rata yang teramati +1,96, Perkiraan bila tinggal dijumlah +1,90; Cemas (GAD-7): Rata-rata yang teramati +5,08, Perkiraan bila tinggal dijumlah +4,10; Depresi (PHQ-9): Rata-rata yang teramati +6,05, Perkiraan bila tinggal dijumlah +4,63.Kelompok dua paparan: nyata dan perkiraanSkor rata-rata 535 orang dengan dua paparanRata-rata yang teramatiPerkiraan bila tinggal dijumlah12345670Lelah kerja (BAT-33)1,961,90Cemas (GAD-7)5,084,10Depresi (PHQ-9)6,054,63
Sumber: Dinara Ospanova, Kundyzay Tobzhanova, Lyazzat Alibekova, Ainur Seitmanova, Galiya Bilibayeva, Zhanar Ibraimzhanova, Raushan Kurmankhanova, Ulbossyn Shokay, Roza Alekesheva, dan Meruyert Suleimenova, Long-term mental health outcomes among healthcare workers following COVID-19 infection and frontline work: evidence of additive and non-additive patterns in Kazakhstan, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelompok dua paparan juga berbeda dari mereka yang hanya tertular. Skor cemas, depresi, dan masalah kesehatan sehari-hari mereka lebih tinggi secara bermakna, yang menurut naskah menandakan paparan ganda berkaitan dengan keadaan yang lebih buruk daripada tertular saja. Penilaian kesehatan diri pada skala nol sampai 100 pun paling rendah di kelompok ini, yakni 71,50, berbanding 76,14 pada kelompok kontrol.

Dilihat dari ambang klinis, 253 peserta atau 9,7 persen memenuhi kriteria kecemasan yang bermakna secara klinis, dan 291 peserta atau 11,1 persen memenuhi kriteria depresi. Riwayat tertular Covid-19 adalah penanda terkuat bagi keduanya, dengan rasio peluang 2,33 untuk kecemasan dan 1,89 untuk depresi. Perawat mencatat peluang yang lebih rendah daripada dokter, dan usia yang lebih tua berkaitan dengan peluang yang sedikit lebih kecil.

Tafsir para penulis atas dua pola

Mengapa lelah kerja dan gejala perasaan berjalan dengan pola berbeda? Para penulis menawarkan satu penjelasan. Kelelahan kerja dipahami sebagai sindrom menahun yang tumbuh perlahan lewat tumpukan tekanan pekerjaan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Alat ukurnya sudah merangkum paparan dalam rentang waktu yang panjang, sehingga sumbangan dua tekanan dengan mekanisme yang sebagian berbeda terjumlah secara kurang lebih lurus.

Alat ukur cemas dan depresi bekerja lain. Keduanya menanyakan gejala selama dua pekan terakhir, sehingga lebih peka terhadap keadaan cadangan daya tahan seseorang pada saat diukur. Ketika cadangan itu sudah terkuras sebagian oleh satu tekanan, tekanan kedua dapat memunculkan lonjakan gejala yang tidak sebanding. “Kami menegaskan bahwa uraian ini adalah tafsir teoretis yang disusun belakangan, bukan uji konfirmasi,” tulis Ospanova dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Satu temuan lain menyangkut hubungan ketiganya. Setelah kecemasan dan depresi dimasukkan ke dalam hitungan, baik riwayat tertular maupun tugas di zona merah tidak lagi berkaitan langsung dengan kelelahan kerja. Kaitan itu, menurut naskah, dijelaskan oleh kecemasan dan depresi, dan jalur tidak langsung dari riwayat tertular jauh lebih kuat daripada dari zona merah. Kecemasan dan depresi bersama-sama menjelaskan 39,7 persen keragaman skor kelelahan kerja.

Disandingkan dengan kohort Belanda Lavell dan kajian Schaufeli

Untuk menempatkan angka-angka itu, para penulis menyandingkannya dengan kohort tenaga kesehatan Belanda yang dilaporkan Lavell dan kolega pada 2025 dengan alat ukur yang sama. Di sana, skor depresi rata-rata berkisar dari 4,45 pada mereka yang belum pernah terinfeksi sampai 5,54 pada petugas bangsal Covid-19 di puncak pandemi Desember 2021. Skor cemasnya berkisar dari 3,62 sampai 4,52.

Rata-rata seluruh peserta Kazakhstan, 4,36 untuk depresi dan 3,55 untuk cemas, nyaris sama dengan angka petugas Belanda yang belum pernah terinfeksi. Kelompok dua paparan lain ceritanya. Skor mereka, 6,05 dan 5,08, melampaui angka puncak pandemi pada petugas bangsal Covid-19 di Belanda, padahal diukur tiga sampai lima tahun setelah masa genting berlalu.

Untuk kelelahan kerja, hasil perbandingannya berbeda. Rata-rata seluruh peserta, 1,76 per butir, lebih rendah daripada 2,10 yang dilaporkan Schaufeli dan kolega pada 2023 untuk pekerja sehat di Belanda, Belgia, dan Finlandia. Angka itu juga di bawah 2,52 dalam kajian Redelinghuys dan Morgan. Kelompok dua paparan, dengan 1,96, setara dengan 1,98 pada tenaga kesehatan Italia semasa pandemi dalam kajian Mazzetti dan kolega. Perbandingan itu, pesan para penulis, perlu dibaca hati-hati karena versi alat ukurnya berbeda.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Batas yang ditulis Ospanova dan kolega

Para penulis mencatat sendiri sejumlah keterbatasan. Datanya diambil pada satu waktu, sehingga tidak dapat dipastikan apakah cemas dan depresi mendahului kelelahan kerja atau justru muncul sebagai akibatnya. Dukungan di tempat kerja, kebijakan lembaga, kondisi kejiwaan sebelum pandemi, jenis rumah sakit, dan pola sif tidak diukur. Pesertanya pun sukarelawan yang datang lewat jaringan profesi, dan 93,5 persen berasal dari wilayah selatan.

Ingatan juga menjadi soal. Riwayat tertular dan tugas di zona merah dilaporkan sendiri tiga sampai lima tahun setelah kejadian, tanpa pencocokan dengan catatan resmi. Peserta yang kini lebih tertekan, tulis para penulis, mungkin mengingat masa pandemi dengan lebih tajam, sehingga angka-angka dalam naskah itu sebaiknya dibaca sebagai batas atas. Tugas di zona merah pun hanya dicatat ya atau tidak, tanpa lama, kekerapan, dan intensitasnya.

Dalam rantai riset tentang tenaga kesehatan dan pandemi, naskah ini menyebut dirinya salah satu kajian berskala besar pertama di Asia Tengah, dan sumbangan utamanya adalah menunjukkan satu kelompok yang gejalanya menonjol. “Tenaga kesehatan yang melaporkan infeksi Covid-19 sekaligus pengalaman di zona merah mungkin merupakan subkelompok yang perlu terus dipantau dalam penelitian longitudinal mendatang dengan verifikasi paparan yang objektif, sebelum rekomendasi klinis atau kebijakan yang spesifik dapat diajukan,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Bagikan

Baca Juga

Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Penyakit Parasit di Xinjiang Menurun, Belum Terlihat pada Anak
Survei Gigi Jepang Lebih Diminati bila Digelar di Klinik Terdekat
Prancis Larang Demo di Kota Besar, Macron Salahkan Kelompok Kiri
Prancis Tolak Tudingan Trump soal Migran di Balik Kerusuhan
Rusia Gempur Kyiv Usai Witkoff Temui Putin, 22 Orang Terluka