Survei Gigi Jepang Lebih Diminati bila Digelar di Klinik Terdekat

A A

Ilustrasi deretan alat bor dan semprot pada unit perawatan gigi di ruang praktik [Foto: Pavel Danilyuk/Pexels]

  • Lokasi menjadi syarat paling berpengaruh dengan bobot 43,4 persen di kota besar dan 47,6 persen di kota menengah.
  • Klinik gigi terdekat selalu paling disukai, sedangkan kunjungan petugas ke rumah bernilai negatif di semua wilayah.
  • Penjelasan dokter gigi sesudah pemeriksaan dan hadiah kecil seperti sikat gigi sama-sama bernilai positif.
  • Sebanyak 21,6 persen responden kota besar tidak sekali pun menyatakan kesediaan yang jelas untuk keenam belas rancangan.
  • Orang berusia 70 tahun ke atas tidak tercakup karena survei dilakukan secara daring.
Daftar Isi
  1. Survei Gigi Nasional yang Kian Sepi, Titik Berangkat Oshima
  2. Tujuh Syarat yang Ditimbang Oshima dan Rekan
  3. Lokasi Menyumbang Hampir Separuh Pertimbangan
  4. Klinik Gigi Terdekat Disukai, Kunjungan ke Rumah Dihindari
  5. Mereka yang Tetap Enggan dalam Catatan Oshima
  6. Batas yang Ditulis Oshima dan Lima Rekannya

Katsuo Oshima menyodorkan enam belas rancangan pemeriksaan gigi kepada orang dewasa di Jepang, lalu meminta mereka menilai seberapa bersedia mereka datang. Tempatnya berganti-ganti, harinya juga. Ada yang menjanjikan sikat gigi, ada yang tidak. Dari nilai-nilai itu Oshima mendapati satu syarat yang mengalahkan semua syarat lain: survei digelar di klinik gigi terdekat.

Oshima bekerja di Department of Oral Health, School of Life Dentistry at Tokyo, The Nippon Dental University. Hasil itu ia tulis bersama Hideki Fukuda, Yukie Murata, Yusuke Ida, Yoichi Ishizuka, dan Hiroko Miura dalam artikel Preferred conditions for promoting participation in on-site oral health surveys among Japanese adults: insights from a conjoint analysis. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Yang dinilai Oshima adalah jawaban 955 orang berusia 20 sampai 69 tahun, anggota panel sebuah perusahaan riset daring di Jepang, yang dihimpun pada Januari 2024. Sebanyak 324 orang tinggal di kota besar, 333 orang di kota menengah, dan 298 orang di kota kecil, kota kecamatan, dan desa. Setiap rancangan mereka beri nilai nol sampai sepuluh.

Survei Gigi Nasional yang Kian Sepi, Titik Berangkat Oshima

Oshima berangkat dari sebuah kekhawatiran. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menggelar Survey of Dental Diseases sejak 1957, dan putaran ketiga belas selesai pada 2024. Warga yang terpilih diundang ke tempat yang ditentukan. Di sana dokter gigi memeriksa gigi berlubang dan penyakit jaringan penyangga gigi mereka.

Masalahnya, tulis Oshima dan rekan-rekannya, jumlah peserta menurun pada setiap putaran. Bila kecenderungan itu berlanjut, hasil survei bisa tidak lagi mewakili penduduk Jepang. Kegunaannya untuk merancang kebijakan kesehatan gigi ikut terbatas. Karena itu Oshima mencari cara agar warga mau datang.

Penelitian terdahulu yang dikutip Oshima sudah memberi petunjuk. Orang yang tidak ikut survei semacam itu umumnya sulit meluangkan waktu karena jam kerja yang panjang, atau tempat surveinya jauh dari rumah. Penelitian lain mendukung pemberian uang untuk menaikkan jumlah peserta, dan uang tunai disebut lebih ampuh daripada voucer atau undian.

Namun, uang bukan pilihan bagi Oshima. Survei gigi nasional Jepang dijalankan lembaga pemerintah dan dibiayai pajak, sehingga imbalan uang untuk peserta dinilai tidak mungkin diberikan. Oshima dan Fukuda karena itu sengaja tidak memasukkan uang ke dalam rancangan mereka. Yang mereka cari adalah syarat yang benar-benar bisa dijalankan.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Tujuh Syarat yang Ditimbang Oshima dan Rekan

Oshima menyusun tujuh syarat. Pertama lokasi: gedung publik seperti balai warga dan pusat kesehatan, klinik gigi terdekat, tempat belanja seperti pasar swalayan dan mal, atau petugas yang datang ke rumah. Kedua hari: Senin sampai Rabu, Kamis dan Jumat, Sabtu, atau Minggu. Ketiga lama survei, sesingkat mungkin atau boleh agak lama.

Empat syarat lain yang dipasang Oshima berbentuk ada atau tidak ada. Waktu pemeriksaan bisa dipesan lebih dulu atau tidak. Dokter gigi menjelaskan keadaan gigi dan mulut peserta sesudah pemeriksaan atau tidak. Peserta mendapat hadiah kecil seperti sikat gigi atau tidak. Ada sesi pengarahan sebelum survei atau tidak.

Daftar itu tidak disusun Oshima sendirian. Keenam penulis merundingkannya dengan berpegang pada penelitian terdahulu. Mereka juga meminta pendapat dua pejabat pemerintah prefektur, sebab pelaksanaan survei gigi nasional diserahkan kepada pemerintah prefektur. Dalam ucapan terima kasih, Oshima menyebut Hiroshi Horie dari Prefektur Nara dan Kazue Honda dari Prefektur Hokkaido yang memberi saran untuk kuesioner.

Lokasi Menyumbang Hampir Separuh Pertimbangan

Hasil pertama yang dicatat Oshima adalah bobot tiap syarat. Lokasi berada jauh di depan. Di kota besar bobotnya 43,4 persen, di kota menengah 47,6 persen, dan di kota kecil serta desa 46,5 persen. Kira-kira 45 persen di ketiga wilayah, tulis Oshima dan rekan-rekannya, dan lokasi menjadi faktor paling berpengaruh.

Urutan sesudah lokasi sedikit berbeda antarwilayah. Di kota besar, Oshima mencatat hari pelaksanaan di tempat kedua dengan 16,7 persen, disusul hadiah kecil 13,5 persen dan penjelasan dokter gigi 9,8 persen. Di kota menengah, penjelasan dokter gigi naik ke tempat kedua dengan 15,6 persen, lalu hari pelaksanaan 14,7 persen dan hadiah kecil 9,5 persen.

Di kota kecil dan desa, menurut hitungan Oshima, penjelasan dokter gigi juga di tempat kedua dengan 15,4 persen. Hadiah kecil menyusul dengan 14,2 persen dan hari pelaksanaan 12,2 persen. Lama survei berbobot serupa di semua wilayah, yakni 8,9 persen, 8,6 persen, dan 8,3 persen.

Lokasi paling menentukan niat ikut survei gigiLokasi: Kota besar +43,4%, Kota menengah +47,6%, Kota kecil dan desa +46,5%; Hari pelaksanaan: Kota besar +16,7%, Kota menengah +14,7%, Kota kecil dan desa +12,2%; Penjelasan dokter gigi: Kota besar +9,8%, Kota menengah +15,6%, Kota kecil dan desa +15,4%; Hadiah kecil: Kota besar +13,5%, Kota menengah +9,5%, Kota kecil dan desa +14,2%; Lama survei: Kota besar +8,9%, Kota menengah +8,6%, Kota kecil dan desa +8,3%; Sesi pengarahan: Kota besar +4,8%, Kota menengah +0,6%, Kota kecil dan desa +2,8%; Pemesanan waktu: Kota besar +2,9%, Kota menengah +3,4%, Kota kecil dan desa +0,6%.Lokasi paling menentukan niat ikut survei gigiBobot tiap syarat dalam penilaian responden, persenKota besarKota menengahKota kecil dan desa10%20%30%40%50%0Lokasi43,4%47,6%46,5%Hari pelaksanaan16,7%14,7%12,2%Penjelasan dokter gigi9,8%15,6%15,4%Hadiah kecil13,5%9,5%14,2%Lama survei8,9%8,6%8,3%Sesi pengarahan4,8%0,6%2,8%Pemesanan waktu2,9%3,4%0,6%
Sumber: Katsuo Oshima, Hideki Fukuda, Yukie Murata, Yusuke Ida, Yoichi Ishizuka, dan Hiroko Miura, Preferred conditions for promoting participation in on-site oral health surveys among Japanese adults: insights from a conjoint analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua syarat nyaris tidak diperhitungkan. Oshima mencatat bobot pemesanan waktu hanya 2,9 persen di kota besar, 3,4 persen di kota menengah, dan 0,6 persen di kota kecil serta desa. Sesi pengarahan berbobot 4,8 persen, 0,6 persen, dan 2,8 persen. Menurut Oshima dan rekan-rekannya, urusan persiapan semacam itu mungkin dipandang berprioritas rendah dalam keseharian peserta.

Dari situ Oshima menarik satu makna. Pilihan tempat lebih berpengaruh mendorong orang ikut daripada imbalan sesudah survei, baik penjelasan kesehatan maupun hadiah kecil. Imbalan lazim ditekankan sebagai cara menaikkan jumlah peserta. Akan tetapi, tulis Oshima dan Miura, pemilihan lokasi patut diperhatikan, terutama ketika imbalan uang tidak mungkin diberikan.

Klinik Gigi Terdekat Disukai, Kunjungan ke Rumah Dihindari

Oshima lalu melihat pilihan mana di dalam tiap syarat yang menaikkan atau menurunkan kesediaan. Klinik gigi terdekat selalu paling disukai, dengan nilai 0,48 di kota besar, 0,56 di kota menengah, dan 0,53 di kota kecil serta desa. Hari Sabtu mendapat nilai 0,23 di kota besar dan 0,22 di kota menengah.

Kebalikannya adalah kunjungan ke rumah. Nilainya negatif di semua wilayah: -0,66 di kota besar, -0,61 di kota menengah, dan -0,55 di kota kecil serta desa. “Penelitian ini mengungkap bahwa pilihan petugas mendatangi rumah peserta untuk melakukan survei adalah yang paling kuat dihindari,” tulis Oshima, dari The Nippon Dental University, bersama lima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Menurut Oshima dan rekan-rekannya, keengganan itu mungkin mencerminkan rendahnya prioritas survei gigi, terlebih bila survei memasuki ruang pribadi seperti rumah. Hari kerja juga dinilai kurang baik. Di kota besar, Senin sampai Rabu bernilai -0,19 dan Kamis serta Jumat -0,21. Di kota menengah keduanya -0,14.

Survei gigi di kota besar Jepang, sekilasSurvei gigi di kota besar Jepang, sekilasSurvei gigi di kota besar Jepang, sekilasNilai kegunaan tiap pilihan menurut 324 responden kota besar0,48klinik gigiterdekat, palingdisukai-0,66kunjunganpetugas ke rumah0,23hari Sabtulebih disukai0,18hadiah kecilmisalnya sikatgigiJalan risetnya955 orang dewasaUsia 20-69 tahun16 skenario surveiNilai positif berarti menaikkan kesediaan ikut, nilai negatifmenurunkannya.
Sumber: Katsuo Oshima, Hideki Fukuda, Yukie Murata, Yusuke Ida, Yoichi Ishizuka, dan Hiroko Miura, Preferred conditions for promoting participation in on-site oral health surveys among Japanese adults: insights from a conjoint analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Penjelasan dokter gigi dan hadiah kecil sama-sama bernilai positif dalam catatan Oshima. Penjelasan dokter gigi mendapat 0,19 di kota menengah dan 0,18 di kota kecil serta desa. Hadiah kecil bernilai 0,18 di kota besar dan 0,17 di kota kecil serta desa. Karena uang sengaja tidak ditawarkan, tulis Oshima, kesukaan itu mungkin mencerminkan bentuk imbalan lain yang dianggap berarti oleh peserta.

Mengapa klinik gigi? Oshima menunjuk keadaan di Jepang. Negara itu punya jaminan kesehatan semesta untuk perawatan gigi, dan warga bebas memilih klinik di seluruh negeri. Antara 40 dan 50 persen orang punya dokter gigi keluarga. Bagi Oshima dan Fukuda, angka semacam itu menunjukkan klinik gigi akrab dan mudah dijangkau warga, sehingga memakainya sebagai tempat survei bisa menjadi cara yang praktis.

Kesukaan pada akhir pekan dan pada survei yang singkat dibaca Oshima dengan cara serupa. Para peserta berusia 20 sampai 69 tahun, dan banyak di antara mereka kemungkinan terdesak waktu oleh pekerjaan dan urusan rumah tangga. Mereka, tulis Oshima dan rekan-rekannya, ingin beban waktu untuk ikut survei sekecil mungkin.

Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen

Mereka yang Tetap Enggan dalam Catatan Oshima

Tidak semua orang tergerak. Oshima memisahkan peserta yang memberi nilai nol sampai lima untuk keenam belas rancangan, artinya tidak sekali pun menyatakan kesediaan yang jelas. Jumlahnya 21,6 persen di kota besar, 20,7 persen di kota menengah, dan 19,8 persen di kota kecil serta desa.

Usia menjadi ciri yang paling tampak bagi Oshima. Di kota besar, kelompok enggan itu 2,52 kali lebih banyak dijumpai pada orang berusia 60 sampai 69 tahun dibanding usia 20 sampai 29 tahun. Di kota menengah angkanya 2,18 kali pada usia 50 sampai 59 tahun dan 2,19 kali pada usia 60 sampai 69 tahun.

Di kota menengah, Oshima juga menemukan kelompok yang lebih jarang enggan. Mereka adalah orang dengan pendapatan rumah tangga 4 sampai 6 juta yen dan 8 juta yen ke atas, orang yang mengurus rumah tangga, dan orang yang rutin memeriksakan gigi, dengan angka 0,64 kali. Rendahnya kedekatan dengan kunjungan ke dokter gigi, tulis Oshima, mungkin berkaitan dengan tiadanya kesediaan ikut survei.

Di kota kecil dan desa polanya lain lagi. Oshima mencatat kelompok enggan lebih banyak dijumpai pada orang yang menyikat gigi dua kali sehari, 2,21 kali, dan pada orang yang hanya kadang-kadang atau tidak menyikat gigi, 2,90 kali. Pembandingnya orang yang menyikat gigi sekali sehari. Usia tidak berkaitan secara bermakna di wilayah ini.

Oshima berhati-hati soal sebabnya. Belum jelas, tulisnya, apakah jawaban orang-orang berusia lanjut itu disebabkan penyakit fisik. “Meski demikian, langkah yang menyasar orang lanjut usia mutlak diperlukan untuk mendorong keikutsertaan dalam survei kesehatan gigi dan mulut,” tulis Oshima dan lima rekannya dalam bagian pembahasan naskah itu.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Batas yang Ditulis Oshima dan Lima Rekannya

Oshima menuliskan enam batas penelitiannya. Data dihimpun pada satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan. Peserta berasal dari panel perusahaan riset daring, dan mereka tidak mewakili seluruh penduduk Jepang. Sebagian besar juga belum pernah mengikuti survei gigi nasional, sehingga mereka menilai sesuatu yang hanya mereka kenal lewat penjelasan di layar.

Batas lain menyangkut cara menilai. Sekitar 300 orang dikeluarkan Oshima dari hitungan karena memberi nilai yang sama untuk keenam belas rancangan. Rancangan itu sendiri hanya pengandaian. “Temuan ini mungkin tidak sepenuhnya terwujud dalam perilaku keikutsertaan yang sebenarnya dan harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Oshima dan rekan-rekannya.

Batas keenam adalah usia. Orang berusia 70 tahun ke atas tidak tercakup karena survei dilakukan secara daring, padahal usia lanjut sudah dikenal sebagai penghalang ikut survei kesehatan. Oshima dan Miura menulis, mengingat penduduk Jepang menua dengan cepat, perlu dicari cara agar lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang dan penyandang disabilitas bisa ikut.

Enam belas rancangan yang disodorkan Oshima pada akhirnya mengerucut ke satu susunan. Survei digelar di klinik gigi terdekat pada akhir pekan, dokter gigi menjelaskan hasilnya, dan peserta pulang membawa hadiah kecil seperti sikat gigi. Susunan itu, tulis Oshima dan rekan-rekannya, berguna bagi penduduk usia kerja yang terhubung ke internet, dan mungkin tidak berlaku bagi orang berusia 70 tahun ke atas.

Bagikan

Baca Juga

Warga Dekat Kawasan Industri Korea Lebih Sering Sakit Pernapasan
Suami Merantau, Istri Remaja Bangladesh Jarang Memakai KB Modern
Aturan Antibiotik Bangladesh dan Sri Lanka Dinilai Buta Gender
Kekerasan Negara Tak Terbukti Hambat Industri Afrika Sub-Sahara
Kasus Hepatitis B di Irak Turun, Diagnosis Baru Capai 40 Persen
Dosen UGM: 40 Persen Kasus Demensia Bisa Dicegah Sejak Dini