- Kasus baru hepatitis B di Irak tercatat 8,3 per 100.000 penduduk pada 2015 dan 3,5 pada 2022.
- Cakupan dosis ketiga vaksin hepatitis B pada anak mencapai 91 persen pada 2022, di atas target nasional 90 persen.
- Vaksin dosis lahir dalam 24 jam baru mencapai 69 persen pada 2022, di bawah target nasional 75 persen.
- Cakupan diagnosis hepatitis B hanya 40 persen pada 2022, sedangkan data pengobatan nasional tidak tersedia.
- Dari 24 pusat layanan kesehatan primer di Wasit, 21 masuk kategori dapat diterima dan dua masuk kategori buruk.
Daftar Isi
Kasus baru hepatitis B di Irak turun antara 2015 dan 2022. Pada 2015 tercatat 8,3 kasus terkonfirmasi per 100.000 penduduk, sedangkan pada 2022 angkanya 3,5. Tetapi beberapa bagian program pengendaliannya belum mencapai target.
Temuan itu ditulis Mohammed A. Jalal, Manoochehr Karami, Mahshid Namdari, Faris Lami, Taqi Mohammed Jwad Taher, dan Koorosh Etemad. Artikel mereka berjudul Evaluation of Iraq’s national plan for hepatitis B control: identifying gaps and strategies for improvement. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026.
Jalal bekerja di Shahid Beheshti University of Medical Sciences, Teheran, Iran, dan di Direktorat Kesehatan Wasit, Kementerian Kesehatan Irak. Rekan-rekannya berasal dari universitas yang sama di Teheran, dari University of Baghdad, dan dari Wasit University. Mereka memeriksa data surveilans nasional hepatitis B dari 2015 sampai 2022 dan pelaksanaan rencana nasional di 24 pusat layanan kesehatan primer di Kegubernuran Wasit.
Hepatitis B adalah infeksi hati yang serius akibat virus hepatitis B. Para penulis mencatat infeksi kronisnya merupakan penyebab utama sirosis hati dan kanker hati. Irak memulai program nasional pengendaliannya pada 2002, dan menurut mereka program itu belum pernah dievaluasi secara menyeluruh.
Angka yang turun
Angka kasus baru nasional bergerak turun dari 8,3 per 100.000 penduduk pada 2015 menjadi 5,2 pada 2016, lalu bertahan di situ pada 2017 dan 2018. Angkanya 4,2 pada 2019, 2,6 pada 2020, dan 2,4 pada 2021. Sesudah itu angkanya naik lagi menjadi 3,5 pada 2022, dan para penulis menyebutnya kenaikan kecil.
Angka 2022 tetap jauh di bawah angka 2015, dan para penulis membacanya sebagai kemajuan yang terukur dalam mengurangi beban hepatitis B di Irak. Sasaran yang ditetapkan lebih jauh dari itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan infeksi baru hepatitis B turun 95 persen pada 2030 dibanding tahun dasar, yaitu 2015 dalam evaluasi ini.
Siapa paling terdampak
Kasus tidak tersebar rata. Sekitar 60 persen kasus yang dilaporkan terjadi pada laki-laki, dan angka mereka selalu lebih tinggi daripada perempuan sepanjang masa yang diperiksa. Pada 2015 angka laki-laki 9,7 per 100.000 penduduk, sedangkan angka perempuan 6,9.
Pada 2022 angka laki-laki 3,9 dan angka perempuan 2,6. Para penulis tidak memastikan sebab perbedaan itu. Mereka menulis perbedaan tersebut mungkin mencerminkan paparan di tempat kerja yang lebih besar, faktor perilaku, dan pola mencari layanan kesehatan.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Umur juga membedakan. Angka tertinggi ada pada kelompok di atas 45 tahun, yaitu 16,5 per 100.000 penduduk pada 2015 dan 9,7 pada 2022. Kelompok 15 sampai 45 tahun mencatat 12,0 pada 2015 dan 2,8 pada 2022.
Anak-anak mencatat angka yang jauh lebih rendah. Pada kelompok 0 sampai 4 tahun, angkanya 0,8 pada 2015 dan 0,1 pada 2022. Pada kelompok 5 sampai 14 tahun, angkanya 1,6 lalu 1,0.
Dari pola itu para penulis menarik satu saran. Menurut mereka, pencegahan perlu difokuskan pada penduduk dewasa yang risikonya lebih tinggi. Bentuknya vaksinasi dan penapisan yang terarah.
Beda antarwilayah
Perbedaan antarkegubernuran juga besar. Pada 2015 Duhok mencatat 42,4 kasus per 100.000 penduduk, Sulaymaniyah 37,8, dan Kirkuk 17,0. Pada tahun yang sama Al-Anbar mencatat 0,3, Al-Muthanna 0,5, dan Karbala 0,7.
Gambaran itu berubah dari tahun ke tahun. Salah Al-Din mencatat 21,4 pada 2017, sedangkan Babylon mencatat 19,3 pada 2019. Pada 2022 Al-Anbar mencatat 12,1 dan Karbala 0,2.
Wasit, tempat para penulis menilai pusat layanan, mencatat 12,1 pada 2015 dan 2,9 pada 2022. Para penulis menulis perbedaan antarwilayah mungkin dipengaruhi kondisi sosial ekonomi, akses layanan kesehatan, dan kinerja surveilans. Karena itu mereka meminta strategi pencegahan disesuaikan dengan keadaan tiap wilayah.
Vaksin lampaui target
Vaksinasi anak menjadi capaian terkuat program, dan para penulis menyebut vaksinasi sebagai landasan pencegahan hepatitis B. Cakupan dosis ketiga vaksin hepatitis B mencapai 91 persen pada 2022, sedangkan target nasionalnya 90 persen. Jalannya tidak lurus, sebab cakupan itu 80 persen pada 2015, 87 persen pada 2019, lalu 77 persen pada 2020 dan 79 persen pada 2021.
Penapisan darah donor mencatat hasil yang tetap, yaitu 100 persen di setiap tahun yang diperiksa. Para penulis menyebutnya kekuatan besar program nasional. Menurut mereka, capaian itu menunjukkan sistem keamanan darah Irak efektif menekan penularan lewat transfusi.
Celah pada bayi
Pencegahan penularan dari ibu ke anak tidak mencapai target. Ukurannya adalah vaksin dosis lahir yang diberikan dalam 24 jam, dengan cakupan 64 persen pada 2015, titik terendah 52 persen pada 2018, dan 69 persen pada 2022. Target nasionalnya 75 persen dan target 2030 adalah 90 persen, dan sepanjang masa yang diperiksa cakupan itu tidak pernah menyentuhnya.
Para penulis menyebut tiga hal yang perlu diperkuat. Yang pertama pemeriksaan hepatitis B pada ibu hamil. Yang kedua pemberian dosis lahir tepat waktu, dan yang ketiga pemantauan bayi yang terpapar.
Pada anak berumur lima tahun ke bawah, surveilans mencatat angka kasus baru 8,0 pada 2015 dan 6,5 pada 2022. Target program adalah 1 atau kurang. Para penulis memberi catatan bahwa angka ini dipakai untuk memantau program dan bukan angka prevalensi.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Diagnosis masih rendah
Celah kedua ada pada diagnosis. Cakupan diagnosis hepatitis B hanya 40 persen pada 2022. Angka itu didapat dari jumlah kasus yang terdiagnosis dibagi perkiraan seluruh infeksi.
Sasarannya jauh lebih tinggi, yaitu 60 persen untuk target nasional dan 90 persen untuk 2030. Selama masa yang diperiksa, cakupannya paling rendah 26 persen pada 2017. Cakupan tertingginya 42 persen pada 2018.
Artinya, tulis para penulis, cukup banyak orang yang terinfeksi mungkin belum terdiagnosis. Mereka menyarankan pemeriksaan hepatitis B dimasukkan ke layanan kesehatan primer. Kampanye penyadaran masyarakat juga mereka anjurkan agar kasus ditemukan lebih dini.
Untuk pengobatan, data nasional tidak tersedia sama sekali. Targetnya 50 persen, lalu 80 persen pada 2030. Para penulis mengutip perkiraan WHO bahwa kurang dari 1 persen pasien yang memenuhi syarat menerima obat antivirus.
Jalal dan rekan-rekannya merangkum keadaan itu dalam simpulan. “Meskipun cakupan vaksinasi hepatitis B pada anak telah melampaui target nasional, celah penting dalam pelaksanaan masih ada pada pencegahan penularan dari ibu ke anak, perluasan diagnosis hepatitis B, serta penguatan surveilans dan pemantauan pengobatan,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Pusat layanan Wasit
Di Wasit, 24 pusat layanan kesehatan primer dinilai dengan skor. Sebanyak 22 berada di perkotaan dan dua di perdesaan. Tujuh di antaranya berada di Distrik Second Al-Kut dan lima di Distrik First Al-Kut.
Skor rata-ratanya 61,01, dengan skor terendah 47,76 dan tertinggi 85,07. Skor terendah dicatat Al-Mazak Health Center di Distrik Second Al-Kut. Skor tertinggi diraih Al-Numaniyah Health Center.
Sebanyak 21 pusat layanan, atau 87,5 persen, masuk kategori dapat diterima dengan skor 50 sampai 75. Dua pusat layanan, atau 8,3 persen, masuk kategori buruk dengan skor di bawah 50. Keduanya berada di Distrik Second Al-Kut, dan satu di antaranya di perdesaan.
Skor keseluruhan tidak berbeda bermakna menurut distrik, kelas, atau lokasi. Meski begitu, para penulis mencatat ragam yang nyata antarpusat layanan. Skor rata-rata 61,01, menurut mereka, menunjukkan ruang perbaikan yang masih luas.
Dua unit menunjukkan perbedaan bermakna. Skor unit penyakit menular rata-rata 41,4 di perkotaan dan 30,8 di perdesaan. Skor unit laboratorium berbeda antardistrik, dari 35,2 di Second Al-Kut sampai 63,3 di Al-Numaniya.
Para penulis menduga ragam itu berasal dari beberapa hal. Mereka menyebut prasarana, tenaga terlatih, kemampuan laboratorium, kepatuhan pada pedoman nasional, dan pengelolaan program setempat. Untuk pusat layanan yang tertinggal, mereka menyarankan supervisi yang mendukung dan pembagian sumber daya yang lebih adil.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Batas dan saran
Evaluasi ini punya batas, dan para penulis menyebutnya sendiri. Kegubernuran di Wilayah Kurdistan tidak rutin mengirim laporan bulanan selama empat tahun terakhir. Angka nasional pada tahun-tahun itu dihitung hanya dari kegubernuran yang melapor.
Menurut para penulis, hal itu mungkin memengaruhi angka nasional dan mengurangi kelengkapan perbandingan antarwilayah. Tidak adanya data pengobatan juga membuat kemajuan di bidang itu tidak bisa dinilai. Penilaian pusat layanan pun hanya dilakukan di Wasit, sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya berlaku di wilayah lain Irak.
Saran mereka menyasar beberapa titik. Kegubernuran dengan angka kasus yang terus tinggi perlu didahulukan, layanan diagnosis di pusat layanan primer perlu diperluas, dan tenaga kesehatannya perlu dilatih. Mereka juga meminta evaluasi dijadikan kegiatan berkala, dengan pemantauan rutin untuk menemukan celah pelaksanaan dan sistem surveilans yang diperkuat.
Kasus baru hepatitis B di Irak memang turun. Celah yang dicatat para penulis ada pada pencegahan penularan dari ibu ke anak, diagnosis, serta pemantauan pengobatan.















