- Indeks kesehatan kualitas udara Bangkok diuji terhadap kunjungan rawat jalan di 23 rumah sakit selama 1.461 hari.
- Kemampuan indeks memilah hari paling ramai rendah di semua kelompok penyakit, dengan seluruh nilai AUC di bawah 0,60.
- Pada hari berindeks 7, risiko relatif kelompok pernapasan terpilih 1,023 dan tetap bermakna sesudah koreksi paling ketat.
- Kenaikan pada hari yang sama tidak berlanjut sepanjang pekan, dan hubungan kumulatifnya mendekati nol untuk semua kelompok.
- Para penulis menempatkan indeks Bangkok sebagai alat komunikasi kehati-hatian yang bertingkat, bukan peramal jumlah kunjungan harian.
Daftar Isi
- Tahun 2016 sampai 2020: indeks disusun dari empat polutan
- Januari 2021 sampai Desember 2024: 1.461 hari dicatat
- November sampai Maret: indeks memuncak, pasien napas tidak
- Hari yang sama dan sepekan sesudahnya: sinyal kecil di angka tujuh
- Tahun 2023 dan 2024: sesudah gangguan layanan masa pandemi
- Tahun 2026: indeks ditempatkan sebagai peringatan bertingkat
Tanggal 1 Januari 2021 menjadi hari pertama pencatatan. Sejak hari itu, indeks kesehatan kualitas udara Bangkok diuji terhadap kunjungan rawat jalan di 23 rumah sakit. Pencatatan berjalan sampai 31 Desember 2024. Jumlahnya 1.461 hari berturut-turut tanpa satu hari pun terlewat.
Suwimon Kanchanasuta, Bing-Fang Hwang, dan tujuh rekan mereka melaporkan hasilnya. Artikel mereka, Citywide re-evaluation of the Bangkok air quality health index: classification performance, nonlinear same-day respiratory associations, and implications for precautionary health communication, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Kanchanasuta bekerja di Department of Environmental Health Sciences, Faculty of Public Health, Mahidol University, Bangkok. Hwang bekerja di College of Public Health, China Medical University, Taichung, Taiwan.
Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana. Apakah angka indeks pada suatu hari bisa menandai hari ketika pasien jantung dan pernapasan datang paling banyak? Jawabannya, sesudah empat tahun pencatatan, adalah tidak. Indeks itu tetap berguna, tetapi untuk keperluan lain.
Tahun 2016 sampai 2020: indeks disusun dari empat polutan
Indeks kesehatan kualitas udara Bangkok lebih dulu ada sebelum pengujian ini. Indeks tersebut disusun memakai data epidemiologi setempat dari 2016 sampai 2020. Isinya gabungan empat polutan: partikel halus PM2.5, partikel PM10, ozon, dan sulfur dioksida.
Satu polutan lain, nitrogen dioksida, sempat dipertimbangkan pada masa penyusunan. Polutan itu akhirnya tidak dimasukkan. Menurut para penulis, nitrogen dioksida tidak menunjukkan hubungan positif yang berdiri sendiri dengan angka kesakitan dalam data 2016 sampai 2020.
Tujuan indeks semacam ini dijelaskan di bagian awal naskah. Indeks dikembangkan sebagai alat komunikasi berbasis risiko yang mencakup banyak polutan sekaligus. Alat itu dirancang untuk menghubungkan mutu udara harian yang bertingkat dengan anjuran kehati-hatian bagi masyarakat.
Kanchanasuta dan rekan-rekannya tidak mengubah rumus indeks itu. Koefisien dari model asli dipakai apa adanya, tanpa kalibrasi ulang, pada masa yang tidak beririsan dengan masa penyusunan. Titik batas komunikasi yang sudah berlaku, yaitu angka 4, 7, dan 10, juga dipakai tanpa diubah.
Januari 2021 sampai Desember 2024: 1.461 hari dicatat
Selama empat tahun itu, indeks harian seluruh kota bergerak dari 1,99 sampai 23,21. Rata-ratanya 5,97 dan nilai tengahnya 5,25. Angka harian tersebut dihitung dari 26 wilayah kode pos tempat tinggal pasien, bukan dari lokasi rumah sakit.
Hari berkategori rendah hanya 64 hari, atau 4,4 persen. Kategori sedang tercatat 820 hari, setara 56,1 persen. Kategori tinggi muncul 460 hari dan sangat tinggi 117 hari. Kedua kategori teratas itu bersama-sama mencakup 39,5 persen dari seluruh hari yang diteliti.
Di sisi rumah sakit, catatannya jauh lebih besar. Sepanjang masa penelitian tercatat 5.775.879 kunjungan rawat jalan untuk penyakit jantung, pembuluh darah, dan pernapasan. Rata-ratanya 3.953 kunjungan sehari. Dari jumlah itu, 3.807.077 kunjungan menyangkut jantung dan pembuluh darah, sedangkan 1.968.802 kunjungan menyangkut pernapasan.
Para penulis lalu menyaring kelompok yang lebih sempit. Kelompok ini berisi penyakit yang masuk akal bereaksi cepat terhadap polusi: asma, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia, sindrom koroner akut, stroke, dan gagal jantung. Jumlahnya 499.311 kunjungan, dengan 330.479 di antaranya untuk pernapasan.
Rata-rata harian tiap penyakit ikut dicatat. Asma menyumbang 129,9 kunjungan sehari, terbanyak di antara tujuh penyakit yang diperiksa satu per satu. Gagal jantung 55,5 kunjungan, penyakit paru obstruktif kronis 49,7, dan pneumonia 46,6. Stroke iskemik tercatat 28,5 kunjungan sehari.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
November sampai Maret: indeks memuncak, pasien napas tidak
Ujian pertama menyangkut hari-hari paling ramai. Hari ramai ditetapkan sebagai sepersepuluh hari dengan kunjungan terbanyak untuk tiap kelompok penyakit. Kemampuan indeks memilah hari semacam itu dinyatakan dengan ukuran bernama AUC.
Hasilnya rendah di semua kelompok. Untuk gabungan jantung dan pernapasan, AUC indeks 0,472. Untuk jantung dan pembuluh darah 0,539, sedangkan untuk pernapasan hanya 0,353. Pada tiga kelompok terpilih, angkanya 0,439, 0,477, dan 0,442.
Arahnya bahkan terbalik pada lima dari enam kelompok itu. Hanya kelompok jantung dan pembuluh darah secara umum yang bergerak sesuai dugaan awal, yaitu indeks lebih tinggi berarti pasien lebih banyak. Para penulis menghubungkan arah terbalik itu dengan musim di Bangkok.
Indeks memuncak pada musim sejuk dan kering, dari November sampai Maret. Sebaliknya, kunjungan penyakit pernapasan banyak digerakkan infeksi yang cenderung memuncak pada musim hujan. Pada musim itu influenza dan infeksi virus pernapasan lain paling banyak beredar. Indeks juga berkorelasi terbalik dengan kelembapan udara, sebesar minus 0,720.
PM2.5 diuji sebagai pembanding dengan cara yang sama. Angkanya lebih tinggi daripada indeks di keenam kelompok, misalnya 0,516 untuk gabungan jantung dan pernapasan serta 0,421 untuk pernapasan. Namun seluruh nilai, baik milik indeks maupun PM2.5, tetap di bawah 0,60.
Titik batas 4, 7, dan 10 tidak memberi hasil lebih baik. Para penulis mencatat bahwa titik batas itu menghasilkan imbangan kepekaan dan ketepatan yang tidak menguntungkan. Kesimpulan mereka pada tahap ini tegas: hasil tersebut tidak mendukung indeks sebagai pemilah tunggal hari dengan kunjungan sangat tinggi.
Hari yang sama dan sepekan sesudahnya: sinyal kecil di angka tujuh
Ujian kedua memeriksa apakah jumlah pasien naik selangkah demi selangkah mengikuti indeks. Jawabannya juga tidak. Kenaikan indeks sebesar 3,48 satuan tidak berhubungan secara bermakna dengan kelompok penyakit mana pun pada hari yang sama. Jumlah kunjungan harian, tulis para penulis, tidak naik menurut satu garis kenaikan yang stabil.
Hasil berbeda baru muncul ketika hubungan itu tidak dipaksa lurus. Para penulis membandingkan hari berindeks 7, batas bawah kategori tinggi, dengan hari berindeks 5,25, nilai tengah seluruh masa penelitian. Pada tiga kelompok penyakit umum, perbandingan itu tetap tidak bermakna.
Pada kelompok terpilih, ketiganya menunjukkan kenaikan kecil di hari yang sama. Risiko relatif kelompok pernapasan terpilih 1,023, dengan rentang kepercayaan 1,004 sampai 1,042. Kelompok gabungan terpilih 1,020 dan kelompok jantung terpilih 1,015. Hanya kelompok pernapasan yang tetap bermakna sesudah koreksi paling ketat.
Penyakit yang diperiksa satu per satu memberi gambaran serupa. Risiko relatif asma 1,030 dan penyakit paru obstruktif kronis 1,025. Stroke iskemik 1,021, sinyal paling jelas di antara penyakit jantung dan pembuluh darah. Ketiganya bermakna secara nominal, tetapi tidak bertahan sesudah koreksi untuk banyaknya perbandingan.
Empat penyakit lain tidak menunjukkan hubungan yang jelas pada hari yang sama. Keempatnya adalah pneumonia, sindrom koroner akut, stroke hemoragik, dan gagal jantung. Menurut para penulis, pola ini menandakan sinyal pernapasan tidak digerakkan semua diagnosis secara merata. Sinyal itu lebih padu pada penyakit saluran napas obstruktif.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Para penulis kemudian mengikuti hari-hari berikutnya sampai hari ketujuh. Kenaikan yang terlihat pada hari yang sama tidak berlanjut sepanjang pekan. Risiko relatif umumnya turun mendekati atau di bawah angka satu sekitar hari ketiga dan keempat. Pada hari keenam dan ketujuh, angkanya kembali mendekati satu.
Bila seluruh rentang itu dijumlahkan, hubungan kumulatifnya mendekati nol untuk semua kelompok. Risiko relatif kumulatif kelompok pernapasan terpilih tepat 1,000. Asma 1,003, penyakit paru obstruktif kronis 0,993, dan stroke iskemik 0,977. Tidak satu pun bermakna.
Penurunan di tengah pekan itu, tulis para penulis, tidak boleh dibaca sebagai efek melindungi. Penurunan tersebut mungkin mencerminkan pergeseran waktu kunjungan rawat jalan atau ketidakstabilan perkiraan harian. Tidak adanya hubungan kumulatif juga tidak melemahkan temuan hari yang sama. Hal itu hanya memperjelas bahwa sinyal paling padu bekerja pada hari itu juga.
Tahun 2023 dan 2024: sesudah gangguan layanan masa pandemi
Dua tahun terakhir diperiksa terpisah, sebanyak 731 hari. Pada masa ini pola pemakaian layanan kesehatan diperkirakan tidak lagi banyak terganggu pandemi COVID-19. Hubungan garis lurus tetap mendekati nol, sama seperti pada seluruh masa penelitian.
Sinyal hari yang sama muncul lagi. Risiko relatif kelompok pernapasan terpilih 1,027 dan kelompok gabungan terpilih 1,024. Asma tercatat 1,032, penyakit paru obstruktif kronis 1,035, dan stroke iskemik 1,034. Kelompok jantung terpilih 1,020, positif tetapi tidak bermakna.
Para penulis berhati-hati membaca hasil dua tahun itu. Masa 2023 sampai 2024 adalah bagian dari data yang sama, sehingga hasilnya dianggap bukti konsistensi waktu, bukan pembuktian yang berdiri sendiri. Pemeriksaan lain, yang memakai satu kode diagnosis penyakit paru obstruktif kronis saja, menghasilkan risiko relatif 1,026 dan lolos koreksi.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Ketika tiap tahun diuji bergiliran dengan patokan dari tahun-tahun lain, hasilnya sangat tidak stabil. Nilai AUC, titik batas indeks, dan ambang hari ramai berubah-ubah dari tahun ke tahun. Pada musim polusi tinggi pun, AUC terbesar hanya 0,564. Temuan itu, tulis para penulis, menegaskan tidak adanya ambang indeks yang stabil.
Tahun 2026: indeks ditempatkan sebagai peringatan bertingkat
Dari seluruh catatan itu para penulis menarik satu kedudukan bagi indeks Bangkok. Indeks paling tepat ditempatkan sebagai alat komunikasi kehati-hatian yang bertingkat. Indeks bukan pemilah hari sakit yang berlaku umum, dan bukan peramal jumlah kunjungan rawat jalan harian seluruh kota.
Kedudukan itu mereka nyatakan dalam satu kalimat yang aslinya berbahasa Inggris. “Sebuah indeks komunikasi tidak perlu meramal hari kesakitan tinggi dengan ketepatan tinggi agar berguna; indeks itu perlu memberi sinyal yang dapat dipahami, tepat waktu, dan bersifat kehati-hatian, yang dapat memandu tindakan perlindungan ketika tingkat paparan naik,” tulis Suwimon Kanchanasuta dan rekan-rekannya.
Anjuran praktisnya menyusul. Ketika indeks mencapai kategori tinggi, pesan kepada warga sebaiknya memuat anjuran khusus menurut kondisi kesehatan. Bukti paling langsung mendukung pesan bagi pengidap asma, penyakit paru obstruktif kronis, dan kerentanan pernapasan lain. Isinya dapat berupa mengurangi kegiatan berat di luar ruangan, memantau gejala, dan mengikuti rencana tindakan dari dokter.
Kelompok yang rentan penyakit jantung dan pembuluh darah tetap perlu dicantumkan dalam pesan itu. Alasannya adalah sinyal stroke iskemik yang searah dan kemasukakalan biologis. Namun pesan tersebut, menurut para penulis, harus dibingkai sebagai kehati-hatian berdasarkan kerentanan, bukan sebagai ramalan kesakitan seluruh kota.
Naskah itu mencatat sejumlah keterbatasan. Data rawat jalan tidak sepenuhnya memisahkan kunjungan akut akibat polusi dari kunjungan kontrol rutin atau pengelolaan penyakit kronis. Diagnosis hanya tersedia dalam kode tiga karakter, sehingga kekambuhan akut dan tingkat keparahan tidak bisa dikenali.
Keterbatasan lain menyangkut cara menghitung paparan. Paparan ditetapkan per kode pos lalu dirata-ratakan untuk seluruh kota, sehingga bisa meleset di kota besar yang tidak seragam. Data gabungan juga tidak dapat menunjukkan kerentanan perorangan menurut umur, penyakit penyerta, pekerjaan, atau keadaan sosial ekonomi. Hubungan yang tertunda lebih dari tujuh hari tidak diperiksa.
Karena itu, hubungan yang lemah pada penyakit jantung tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa jantung kebal terhadap polusi udara. Kejadian jantung akut, tulis para penulis, lebih mungkin datang lewat unit gawat darurat atau rawat inap daripada lewat rawat jalan rutin.
Langkah berikutnya sudah mereka sebutkan. Penelitian mendatang perlu menguji indeks dengan data unit gawat darurat dan rawat inap. Nitrogen dioksida juga perlu ditimbang kembali bila data pemantauannya sudah cukup lengkap. Sampai di situ catatan empat tahun itu berhenti.














