- Sebanyak 57,4 persen peserta melaporkan larangan merokok total di rumah.
- Dari 876 peserta yang memiliki mobil, 63,2 persen tidak mengizinkan rokok di dalamnya.
- Di rumah tanpa perokok, 87,7 persen peserta menerapkan larangan total.
- Hanya 33,6 persen perokok aktif yang melarang rokok sepenuhnya di rumahnya.
- Rumah yang dihuni anak di bawah 18 tahun tidak lebih sering melarang rokok.
Daftar Isi
Keyakinan soal sisa asap rokok berjalan seiring larangan merokok. Itulah yang terbaca dari jawaban 1.172 orang dewasa di Ankara, Türkiye. Makin kuat mereka percaya sisa asap itu berbahaya, makin besar peluang rumah dan mobil mereka bebas rokok sepenuhnya.
Temuan itu ditulis Cansu Özbaş, Esra Gültekin Koç, Hakan Tüzün, dan Asiye Uğraş Dikmen. Artikel mereka, Beliefs about thirdhand smoke and voluntary smoking bans in homes and cars: a cross-sectional study in Türkiye, 2023, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 2478 tahun 2026. Keempatnya bekerja di Department of Public Health, Faculty of Medicine, Gazi University, Ankara.
Para peserta adalah pengunjung poliklinik rawat jalan rumah sakit fakultas kedokteran universitas itu pada Juni 2023. Usia mereka rata-rata 43,24 tahun. Sebanyak 34,8 persen masih merokok, dan 61,1 persen tinggal bersama sedikitnya satu perokok.
Asap yang tertinggal
Naskah ini memakai istilah thirdhand smoke, disingkat THS. Artinya residu yang terbentuk karena asap tembakau terus menumpuk pada permukaan dalam ruangan, debu, dan tekstil. Dampak buruk asap tembakau, tulis para penulis, tetap ada sesudah asapnya tak lagi terlihat.
Residu itu tidak diam. Para penulis mencatat ia dapat berubah menjadi zat penyebab kanker seperti nitrosamin, lalu menguap seiring waktu dan terhirup lagi. Residu itu juga bisa berpindah lewat sentuhan tangan.
Partikelnya dapat bertahan lama di permukaan. Menurut naskah, ventilasi atau cara lain tidak mampu menghilangkannya sepenuhnya. Karena itu, satu-satunya cara efektif mengurangi paparan adalah lingkungan yang sepenuhnya bebas asap rokok.
Di sinilah rumah dan mobil menjadi penting. Türkiye melarang penggunaan tembakau di tempat umum tertutup sejak 2009. Rumah dan kendaraan pribadi berada di luar aturan itu, sehingga larangannya bergantung pada kemauan penghuni sendiri.
Lebih dari separuh
Sebanyak 57,4 persen peserta melaporkan larangan merokok total di rumah. Total berarti rokok tidak boleh dinyalakan kapan pun dan di bagian mana pun. Rumah yang hanya membatasi tempat atau waktu merokok tidak dihitung.
Angka mobil sedikit lebih tinggi. Dari 876 peserta yang memiliki mobil, 63,2 persen tidak mengizinkan rokok di dalamnya. Para penulis menduga hal itu terkait ruang kendaraan yang kecil dan tertutup, tempat paparan asap terasa lebih langsung dan terlihat.
Sisi sebaliknya juga dicatat. Sebanyak 61,1 persen peserta melaporkan ada yang merokok di rumah mereka. Sebanyak 76,4 persen peserta melaporkan terpapar asap rokok orang lain dalam sebulan terakhir.
Para penulis menyandingkan angka itu dengan data lama. Survei tembakau orang dewasa tahun 2016 di Türkiye mencatat 26,7 persen orang dewasa terpapar asap tembakau di rumah. Di kendaraan pribadi angkanya 17,4 persen.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Perokok di rumah
Penentu paling kuat ternyata sederhana: ada atau tidaknya perokok di rumah. Di rumah tanpa perokok, 87,7 persen peserta menerapkan larangan total. Di rumah yang punya perokok, angkanya hanya 38,1 persen.
Pola yang sama muncul di mobil: larangan total dilaporkan 92,2 persen peserta dari rumah tanpa perokok, berbanding 45,4 persen pada peserta yang serumah dengan perokok. Selisih itu bertahan setelah faktor lain ikut diperhitungkan. Peluang larangan total di rumah tanpa perokok tercatat 8,91 kali lebih besar, dan di mobil 8,34 kali.
Para penulis menyebut temuan ini serupa dengan penelitian terdahulu. Mereka mengutip data Amerika Serikat: di rumah tangga tanpa perokok, 91,4 persen punya aturan rumah bebas rokok. Pada rumah tangga dengan sedikitnya satu perokok dewasa, larangan sukarela itu hanya separuhnya.
Status merokok penghuni
Kebiasaan peserta sendiri ikut memisahkan angka. Hanya 33,6 persen perokok aktif yang melarang rokok sepenuhnya di rumahnya. Pada mantan perokok angkanya 68,0 persen, dan pada yang tidak pernah merokok 70,9 persen.
Di mobil, jaraknya lebih lebar. Larangan total dilaporkan 37,8 persen perokok aktif. Angkanya 78,9 persen pada mantan perokok dan 76,0 persen pada yang tidak pernah merokok.
Setelah faktor lain diperhitungkan, peserta yang tidak pernah merokok berpeluang 1,57 kali lebih besar punya rumah bebas rokok dibanding perokok. Untuk mobil, peluangnya 2,02 kali. Mantan perokok berpeluang 2,51 kali lebih besar melarang rokok di mobil.
Para penulis menawarkan satu penjelasan. Hal ini mungkin terkait cara orang yang tidak merokok memandang risiko paparan asap. Perokok, tulis mereka, mungkin punya persepsi yang bias bahwa asap tidak berbahaya bagi orang yang tinggal bersamanya.
Dari situ mereka menarik satu kemungkinan. Upaya mencegah orang mulai merokok tidak hanya menguntungkan orang itu. Upaya tersebut, menurut para penulis, juga berefek berlipat karena melindungi orang lain yang tidak merokok dari asap tembakau.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Skor keyakinan naik
Keyakinan peserta diukur dengan sembilan pernyataan tentang sisa asap rokok. Skornya berkisar 9 sampai 45. Makin tinggi skor, makin kuat keyakinan bahwa sisa asap itu merugikan.
Rata-rata skor peserta 33,99. Peserta yang menerapkan larangan total di rumah dan di mobil punya rata-rata skor yang lebih tinggi daripada peserta tanpa larangan. Perbedaan itu bermakna secara statistik.
Hubungan itu tidak hilang ketika status merokok, perokok di rumah, dan faktor lain diperhitungkan. Tiap kenaikan satu poin skor berkaitan dengan peluang larangan total di rumah yang 1,043 kali lebih besar. Di mobil, angkanya 1,044 kali.
Skor itu punya dua bagian. Bagian pertama menyangkut dampak sisa asap pada kesehatan, bagian kedua menyangkut seberapa lama ia bertahan di lingkungan. Keyakinan tentang dampak kesehatan berkaitan dengan larangan total di kedua tempat.
Keyakinan tentang ketahanan di lingkungan berbeda. Ia tetap berkaitan dengan larangan di rumah, tetapi tidak dengan larangan di mobil. Menurut para penulis, peserta mungkin menganggap residu dan pencemaran jangka panjang lebih relevan bagi lingkungan rumah.
Mobil, pendidikan, usia
Larangan di mobil punya penentu sendiri. Peserta berpendidikan tinggi, yaitu lulusan universitas atau lebih, berpeluang 1,93 kali lebih besar melarang rokok di mobilnya dibanding peserta berpendidikan rendah. Sebanyak 67,8 persen dari mereka menerapkannya, berbanding 56,3 persen.
Pendidikan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan larangan di rumah. Para penulis tetap menarik satu pesan. Kelompok berpendidikan rendah, tulis mereka, penting dijadikan sasaran dalam pengendalian tembakau.
Paparan sehari-hari juga berperan. Peserta yang tidak terpapar asap rokok orang lain dalam 30 hari terakhir berpeluang 2,15 kali lebih besar melarang rokok di mobil. Angkanya 77,4 persen, berbanding 59,1 persen pada peserta yang terpapar.
Para penulis menduga orang yang terus terpapar menerima keadaan itu atau menjadi terbiasa. Aturan di kendaraan, menurut mereka, tampaknya lebih dibentuk oleh kekhawatiran akan paparan langsung dan kesadaran sosial ekonomi. Keyakinan tentang residu jangka panjang kurang berperan di sana.
Jenis kelamin tidak membedakan apa pun: larangan total di rumah dilaporkan 56,7 persen peserta laki-laki dan 58,2 persen peserta perempuan. Usia sempat tampak berpengaruh, sebab peserta berumur 18 sampai 24 tahun paling sering melaporkan larangan total di rumah, yakni 63,5 persen. Namun perbedaan antarkelompok usia itu tidak lagi bermakna setelah faktor lain diperhitungkan.
Pendapatan menunjukkan pola serupa pada perbandingan awal. Larangan total di rumah dilaporkan 60,9 persen peserta berpendapatan tinggi dan 51,3 persen peserta berpendapatan rendah. Kepemilikan mobil sendiri lebih tinggi pada laki-laki dan pada peserta berpendapatan tinggi.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Anak tak mengubah angka
Satu temuan disebut para penulis meresahkan. Rumah yang dihuni anak di bawah 18 tahun tidak lebih sering melarang rokok. Larangan total di rumah dilaporkan 56,8 persen peserta yang tinggal dengan anak, dan 57,8 persen peserta tanpa anak.
Di mobil, angkanya 66,0 persen pada peserta yang serumah dengan anak dan 61,3 persen pada yang tidak. Kedua perbedaan itu tidak bermakna secara statistik. Padahal, menurut naskah, penelitian sebelumnya menunjukkan kehadiran anak ikut menentukan larangan merokok.
“Hasil yang mengkhawatirkan dari penelitian ini adalah tidak adanya kaitan antara keberadaan anak di rumah dan kebijakan soal merokok di rumah atau mobil,” tulis Cansu Özbaş dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat tersebut ada di bagian kesimpulan.
Keyakinan peserta tentang asap rokok orang lain juga ditanyakan. Sebanyak 95,0 persen setuju bahwa asap rokok orang lain dapat menyebabkan penyakit pernapasan pada anak. Sebanyak 93,9 persen setuju asap itu menimbulkan penyakit serius pada orang yang tidak merokok.
Para penulis membaca temuan soal anak itu sebagai kemungkinan kurangnya kesadaran orang tua atau penghuni dewasa tentang dampak paparan asap pada anak. Keluarga dengan anak, tulis mereka, perlu diprioritaskan. Türkiye disebut memiliki angka penggunaan tembakau dan proporsi penduduk muda yang sama-sama tinggi.
Batas temuan ini
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Semua peserta adalah pengunjung poliklinik satu rumah sakit universitas di Ankara. Hasilnya, tulis mereka, mungkin tidak mencerminkan penduduk Ankara ataupun penduduk Türkiye secara nasional.
Analisis mobil hanya mencakup pemilik kendaraan, sehingga peserta berstatus sosial ekonomi rendah kurang terwakili. Seluruh data juga berasal dari laporan peserta sendiri. Jawaban soal perilaku merokok bisa condong ke arah yang dianggap pantas.
Arah hubungan pun belum pasti. Keyakinan yang kuat mungkin mendorong larangan, tetapi larangan yang sudah ada mungkin pula memperkuat keyakinan itu. Apakah penyuluhan tentang sisa asap rokok benar-benar mengubah keyakinan atau perilaku, menurut para penulis, masih harus diuji lewat penelitian intervensi.
Kesimpulan naskah menyarankan keyakinan tentang sisa asap rokok dimasukkan ke dalam strategi komunikasi kesehatan. Menumbuhkan kesadaran orang tua akan dampak rokok yang tak terlihat, tulis para penulis, dapat membantu menciptakan lebih banyak lingkungan bebas asap.















