- Sebanyak 51,8 persen peserta menyebut jam tunggu yang panjang sebagai penghalang untuk memperoleh layanan HIV.
- Kehilangan upah disebut 47,5 persen peserta dan menjadi rintangan sosial ekonomi yang paling sering dilaporkan.
- Sebanyak 19,6 persen peserta takut dikenali sebagai orang dengan HIV dan 18,7 persen takut dikucilkan.
- Keyakinan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan disebut 20,9 persen peserta.
- Semua peserta diambil dari mereka yang terdaftar di pusat ART di beberapa distrik Jharkhand.
Daftar Isi
- Hambatan sistem layanan: antre lama, jam buka tak cocok
- Hambatan sosial ekonomi: datang berobat, upah hilang
- Hambatan komunitas: takut dikenali, takut dikucilkan
- Hambatan pribadi: yakin penyakit ini tak bisa sembuh
- Hubungan bermakna: perempuan dan peserta perdesaan
- Target 95-95-95: tiga angka yang dikejar sampai 2030
Hambatan akses, istilah yang dipakai para peneliti kesehatan, artinya sederhana: obatnya ada dan gratis, tetapi orang tetap sulit sampai ke loketnya. Di sebuah pusat layanan HIV di Jharkhand, India, kesulitan itu punya rupa yang sangat sehari-hari. Lebih dari separuh pasien menyebut jam tunggu yang panjang. Hampir separuh menyebut upah yang hilang.
Gambaran itu dicatat Swati Shikha, Abhishek Kumar, Jarina Begum, Syed Irfan Ali, Badal Chandra Bhakat, Sami Akhter, dan Prithvish Sarkar. Artikel mereka, Breaking barriers: access to services among people living with HIV/AIDS (PLHIV) in Jharkhand – a convergent mixed methods study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1417 tahun 2026. Lima penulis bekerja di Manipal Tata Medical College, Manipal Academy of Higher Education. Dua lainnya di Jharkhand State AIDS Control Society.
Mereka bertanya kepada 139 orang dengan HIV, yang dalam naskah disingkat PLHIV atau people living with HIV, di satu pusat ART sepanjang Februari sampai Desember 2023. ART adalah antiretroviral therapy, terapi antiretroviral, pengobatan bagi orang dengan HIV. Sebanyak 30 di antara mereka lalu diwawancarai lebih dalam, bersama lima petugas pusat itu: dokter, konselor, pengelola data, perawat, dan apoteker.
Di India, tulis para penulis, ART disediakan gratis lewat National AIDS Control Programme. Meski begitu, banyak orang dengan HIV tetap menghadapi rintangan untuk berobat. Naskah ini memilah rintangan itu ke dalam empat kelompok: yang datang dari masyarakat, dari sistem layanan, dari keadaan sosial ekonomi, dan dari diri pasien sendiri.
Hambatan sistem layanan: antre lama, jam buka tak cocok
Maksudnya begini. Hambatan sistem layanan adalah hal-hal di pusat pengobatan itu sendiri yang menyulitkan pasien. Yang paling sering disebut adalah lamanya menunggu. Sebanyak 51,8 persen peserta, lebih dari separuh, menyebut jam tunggu yang panjang sebagai penghalang untuk memperoleh layanan HIV.
Berikutnya jam buka. Sebanyak 41,7 persen peserta menilai waktu operasional pusat layanan tidak sesuai bagi mereka. Sebagian kecil, 6,5 persen, menyebut stock-out, yaitu kehabisan persediaan obat. Para penulis membaca ketiga angka itu sebagai tanda bahwa kendala penyelenggaraan layanan berperan penting dalam menghambat perawatan HIV.
Wawancara mendalam memberi nama-nama lain untuk hal yang sama. Dalam tabel tema yang disusun para penulis, tantangan dari sisi layanan mencakup antrean panjang, obat yang kosong, prasarana yang buruk, jam buka pusat ART, dan keengganan untuk sering berkunjung. Kesimpulan naskah menambahkan dua hal lagi: waktu konseling yang tidak memadai dan kendala bahasa.
Hambatan sosial ekonomi: datang berobat, upah hilang
Hambatan sosial ekonomi adalah ongkos yang tetap harus ditanggung pasien walaupun obatnya gratis. Kehilangan upah menjadi rintangan yang paling sering dilaporkan dalam kelompok ini. Sebanyak 47,5 persen peserta menyebutnya, hampir separuh dari mereka. Dalam pembahasan, para penulis menyebutnya kerugian keuangan karena pekerjaan yang ditinggalkan.
Tiga rintangan lain muncul dengan angka yang berdekatan. Ketergantungan pada orang lain disebut 18,7 persen peserta. Tidak punya ongkos perjalanan disebut 18,0 persen, dan masalah transportasi 17,3 persen. Menurut para penulis, temuan itu menunjukkan keterbatasan uang dan sulitnya angkutan berpengaruh besar pada pemakaian layanan.
Naskah juga mencatat pekerjaan para peserta. Sebanyak 14,3 persen adalah pekerja harian dan 12,5 persen tidak bekerja. Hampir separuh, 46,4 persen, masuk golongan pekerjaan “lainnya”, yang menurut naskah mencakup buruh informal dan wiraswasta. Sebanyak 23,2 persen adalah ibu rumah tangga, dan hanya 3,5 persen pegawai.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Dalam wawancara, tema yang sama muncul sebagai kehilangan upah, biaya perjalanan, kesulitan uang, dan jarak tempuh yang jauh. Kesimpulan naskah juga menyebut keterlambatan memperoleh skema kesejahteraan sosial. Tabel tema mencatat beberapa skema itu, seperti kartu jatah pangan, kartu Ayushman, dan pensiun dari pemerintah, berdampingan dengan kode “tidak tahu”.
Hambatan komunitas: takut dikenali, takut dikucilkan
Hambatan komunitas, atau hambatan dari masyarakat sekitar, berpusat pada stigma, yakni cap buruk yang dilekatkan pada orang dengan HIV. Sebanyak 19,6 persen peserta menyebut takut dikenali sebagai orang dengan HIV. Sebanyak 18,7 persen menyebut takut dikucilkan.
Para penulis menyebut stigma dan ketakutan akan penolakan sosial sebagai kekhawatiran besar yang memengaruhi pemanfaatan layanan. Kata-kata yang paling sering muncul dalam wawancara ikut memperlihatkannya. Di antara kata “keluarga”, “layanan”, “konseling”, dan “kesadaran”, juga singkatan ART, muncul pula “diskriminasi” dan “terkucil”.
Tabel tema wawancara merinci bentuk pengucilan itu: tidak diterima, dikucilkan keluarga, tidak diikutkan dalam acara keluarga, turunnya gengsi keluarga, sampai tidak mendapat pasokan air. Namun tabel yang sama mencatat sisi lain. Ada keluarga yang mendukung, suami yang mendukung, dukungan lembaga swadaya masyarakat, dan penerimaan di kelompok suku.
Dalam pembahasan, para penulis mengutip penelitian lain yang menemukan stigma yang dirasakan sering kali lebih besar daripada stigma yang benar-benar dialami. Artinya, menurut mereka, menghindar karena takut bisa sama pentingnya dengan diskriminasi yang sungguh terjadi. Stigma, tulis mereka, adalah penghalang besar bagi pengobatan HIV yang patuh.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Hambatan pribadi: yakin penyakit ini tak bisa sembuh
Hambatan pribadi adalah rintangan yang berasal dari keyakinan pasien sendiri. Yang paling umum adalah keyakinan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, disebut 20,9 persen peserta. Berkurangnya kepercayaan pada obat disebut 8,6 persen. Takut efek samping hanya disebut 1,4 persen, dan tidak mau dipaksa minum obat 0,7 persen.
Para penulis menulis bahwa menurunnya kepatuhan pada obat seumur hidup mungkin berkaitan dengan keyakinan bahwa HIV tidak bisa sembuh. Temuan itu, menurut mereka, menegaskan bagaimana persepsi dan salah paham pribadi dapat menghambat kepatuhan pada perawatan HIV.
Wawancara mendalam ikut menyinggung sisi pengetahuan pasien. Dalam pembahasan, para penulis menyebut sekitar 21 persen peserta meyakini HIV tidak dapat disembuhkan dan 8,6 persen meragukan khasiat ART. Tabel tema wawancara mencatat sisi pengetahuan itu lewat kode “tidak tahu” pada pendaftaran ART dan pada ART lini kedua, juga kode tentang kegagalan ART dan kepatuhan yang kurang.
Hubungan bermakna: perempuan dan peserta perdesaan
Hubungan bermakna secara statistik adalah cara peneliti mengatakan bahwa perbedaan antarkelompok tidak dianggap kebetulan. Naskah ini menemukannya pada dua ciri peserta. Jenis kelamin berhubungan dengan hambatan sistem layanan dan hambatan sosial ekonomi. Tempat tinggal berhubungan dengan hambatan sosial ekonomi.
Hambatan sistem layanan dilaporkan 73,1 persen peserta perempuan, sedangkan pada peserta laki-laki 44,0 persen. Kesimpulan naskah menyatakan lebih banyak peserta perempuan mengalami hambatan sistem layanan maupun hambatan sosial ekonomi. Untuk peserta transgender, para penulis mencatat 58,3 persen menghadapi hambatan sistem layanan dan 66 persen hambatan sosial ekonomi.
Perbedaan desa dan kota muncul pada tiga hal. Ketergantungan pada orang lain disebut 32,7 persen peserta perdesaan, sedangkan di perkotaan 10,3 persen. Ketiadaan ongkos perjalanan disebut 28,8 persen peserta perdesaan dan 9,2 persen peserta perkotaan. Masalah jarak dan transportasi disebut 28,8 persen berbanding 6,9 persen.
Tidak semua ciri peserta menunjukkan hubungan. Para penulis tidak menemukan hubungan bermakna antara kelompok umur atau kelas sosial dengan hambatan komunitas maupun hambatan sistem layanan. Peserta perdesaan, tulis mereka, menghadapi lebih banyak kesulitan yang berkaitan dengan biaya dan keterjangkauan.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Target 95-95-95: tiga angka yang dikejar sampai 2030
Target 95-95-95 adalah sasaran UNAIDS, program gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS, pada 2030. Isinya, sebagaimana dijelaskan naskah: 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 95 persen dari yang terdiagnosis menjalani ART, dan 95 persen dari yang menjalani ART mencapai penekanan virus.
Jharkhand sendiri digambarkan para penulis sebagai negara bagian yang didominasi penduduk suku dengan beban HIV rendah. Jumlah orang dengan HIV di sana sekitar 23.794. Prevalensinya, yakni ukuran seberapa banyak orang dewasa yang hidup dengan HIV, tercatat 0,07, di bawah rata-rata nasional India yang 0,20. Data tentang hambatan layanan dari negara bagian ini, tulis mereka, masih jarang.
Para penulis merangkum temuan mereka dalam satu kalimat. “Bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa meskipun layanan tersedia, berbagai hambatan, baik yang dirasakan maupun yang nyata, mengurangi keterjangkauan dan efektivitasnya,” tulis Swati Shikha dari Department of Community Medicine, Manipal Tata Medical College, bersama enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Empat langkah mereka sebut penting untuk memperbaiki pemanfaatan layanan: memperkuat kepercayaan pada sistem kesehatan, memangkas waktu tunggu, menangani kerentanan sosial ekonomi, dan mengatasi stigma yang menetap. Mereka juga mencatat bahwa sebagian besar pasien di pusat ART itu memperoleh manfaat dari layanan yang ada dan rutin datang untuk kontrol.
Batasnya ditulis para penulis sendiri. Peserta berasal dari beberapa distrik di Jharkhand, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di wilayah lain India. Semua peserta diambil dari mereka yang terdaftar di pusat ART, sehingga orang dengan HIV yang tidak terhubung dengan layanan kesehatan resmi bisa tidak terwakili.
Karena status HIV adalah hal yang peka, sebagian peserta mungkin tidak melaporkan seluruh hambatan yang mereka hadapi. Kelompok berisiko tinggi tertentu, termasuk transgender, juga mungkin kurang terwakili dalam penelitian ini.
Kesimpulan naskah mencatat hambatan berlapis itu tetap ada walaupun petugas pusat ART dan pelaksana program sudah berupaya. Para penulis menyebut penanganannya tetap penting untuk mencapai target 95-95-95 dan mengakhiri HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.















