Omega-3 di Arab Saudi Paling Banyak Dicoba yang Rajin Olahraga

A A

Ilustrasi tumpukan kapsul gelatin lunak minyak ikan berwarna kuning keemasan [Foto: Oddman47/Wikimedia Commons, CC0]

  • Dari 321 orang dewasa Arab Saudi yang disurvei, 126 orang atau 39,3 persen pernah memakai suplemen omega-3.
  • Di kelompok yang berolahraga intensif, 80,8 persen pernah memakainya, sedangkan di kelompok beraktivitas rendah hanya 16,5 persen.
  • Lebih dari separuh pemakai, 53,2 persen, meminumnya kurang dari tiga bulan.
  • Sebanyak 58 dari 126 pemakai, atau 46,0 persen, tidak memberi tahu dokter atau ahli gizi bahwa mereka meminum suplemen itu.
  • Dari 195 orang yang belum pernah memakai, 50,8 persen menyatakan mau memulai bila dianjurkan tenaga kesehatan.
Daftar Isi
  1. Banyak yang mencoba, sedikit yang bertahan
  2. Tangga olahraga dan sebuah paradoks
  3. Yang lajang, yang menikah, yang ditinggalkan
  4. Jenis kelamin dan isi dompet tidak membedakan
  5. Alasan meminum, alasan menolak, dan suara dokter
  6. Yakin berkhasiat, ragu soal takaran

Suplemen omega-3 di Arab Saudi paling banyak pernah dipakai oleh orang dewasa yang sudah berolahraga keras, dan paling jarang disentuh oleh mereka yang paling sedikit bergerak. Survei atas 321 orang dewasa di negeri itu menyebut keadaan tersebut sebuah paradoks, sebab orang yang kurang gerak adalah kelompok yang menanggung beban penyakit jantung dan metabolik terbesar.

Gambaran itu disusun Nawaf W. Alruwaili, Bader Aljarallah, Aljazi Bin Zarah, dan Nora Alafif dalam artikel Omega-3 fatty acid supplement use among saudi adults: prevalence, independent associations, and knowledge assessment — a cross-sectional survey, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis, dengan Alruwaili dari Department of Community Health Sciences, College of Applied Medical Sciences, King Saud University, menghimpun jawaban 321 orang dewasa berumur 20 tahun ke atas dari kelima wilayah Arab Saudi lewat kuesioner daring pada Januari sampai Maret 2025.

Asam lemak omega-3, tulis mereka, mempunyai tiga anggota yang paling penting bagi tubuh: ALA yang berasal dari tumbuhan, serta EPA dan DHA yang bersumber dari laut dan membawa sebagian besar manfaat klinis yang teramati. Karena kemampuan tubuh mengubah ALA menjadi EPA dan DHA terbatas, ikan berminyak atau suplemen menjadi jalan utama untuk mencukupinya, dan di sinilah, menurut para penulis, Arab Saudi punya kekhasan.

Pola makan negeri itu, catat Alruwaili dan rekan-rekannya, sejak lama bertumpu pada daging, nasi, dan produk susu, dengan asupan ikan laut yang relatif sedikit, padahal ikan laut adalah sumber EPA dan DHA yang paling kaya. Di atas latar itulah pasar suplemen omega-3 Arab Saudi, menurut perkiraan yang mereka kutip, diproyeksikan tumbuh dari 27,8 juta dolar Amerika Serikat pada 2023 menjadi 44,3 juta dolar pada 2030.

Banyak yang mencoba, sedikit yang bertahan

Dari 321 orang dewasa Arab Saudi yang disurvei, 126 orang atau 39,3 persen pernah memakai suplemen omega-3. Yang dihitung adalah siapa saja yang pernah meminumnya, baik yang masih melanjutkan maupun yang sudah berhenti, sebab kuesioner tidak memisahkan keduanya. Selama memakai, mereka terbilang rajin: 33,3 persen meminumnya setiap hari dan 36,5 persen dua kali atau lebih dalam sepekan, sehingga pemakaian berfrekuensi tinggi mencapai 69,8 persen.

Namun kerajinan itu tidak berumur panjang. Lebih dari separuh pemakai, 53,2 persen, meminumnya kurang dari tiga bulan. Sebanyak 29,4 persen bertahan tiga sampai enam bulan, 16,7 persen enam sampai dua belas bulan, dan hanya satu orang yang melewati dua belas bulan. Bagi Alruwaili dan rekan-rekannya, pola itu menandakan bahwa suplemen omega-3 bagi sebagian besar pemakainya masih merupakan tahap coba-coba, belum menjadi kebiasaan jangka panjang yang mengakar.

Para penulis menyebut beberapa kemungkinan penjelasan atas pendeknya masa pakai itu, yakni harapan akan perbaikan kesehatan yang cepat tetapi tidak terpenuhi, kelelahan menanggung biaya, efek samping pada pencernaan seperti rasa amis yang tertinggal dan mual, serta ketidakpastian apakah suplemen itu memang perlu diminum dalam jangka panjang. Karena itu mereka menganjurkan agar tenaga kesehatan sejak awal menyampaikan harapan yang realistis, mengingat efek metabolik omega-3 berjalan bertahap.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Tangga olahraga dan sebuah paradoks

Di antara semua ciri yang ditanyakan, aktivitas fisik memperlihatkan hubungan paling kuat dengan pemakaian suplemen, dan bentuknya menyerupai anak tangga. Di kelompok yang berolahraga intensif, 80,8 persen pernah memakainya, sedangkan di kelompok beraktivitas rendah hanya 16,5 persen. Di antara keduanya, kelompok yang menilai aktivitasnya cukup mencatat 38,2 persen dan kelompok beraktivitas sedang 45,8 persen, sebuah jarak yang oleh para penulis disebut lima kali lipat dari ujung ke ujung.

Makin giat bergerak, makin banyak yang pernah memakaiAktivitas rendah: Pernah memakai suplemen omega-3 +16,5; Cukup: Pernah memakai suplemen omega-3 +38,2; Sedang: Pernah memakai suplemen omega-3 +45,8; Intensif: Pernah memakai suplemen omega-3 +80,8.Makin giat bergerak, makin banyak yang pernahmemakaiPersen per tingkat aktivitas fisik, 321 orang dewasa Saudi2550751000Aktivitas rendah16,5Cukup38,2Sedang45,8Intensif80,8Tingkat aktivitas dinilai sendiri oleh responden.
Sumber: Nawaf W. Alruwaili, Bader Aljarallah, Aljazi Bin Zarah, dan Nora Alafif, Omega-3 fatty acid supplement use among saudi adults: prevalence, independent associations, and knowledge assessment — a cross-sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hubungan itu tetap berdiri ketika umur, pendidikan, pendapatan, jenis kelamin, kualitas hidup, tempat tinggal, dan status pernikahan diperhitungkan bersamaan: setiap kenaikan satu jenjang aktivitas berkaitan dengan peluang pernah memakai yang 89 persen lebih tinggi. Alruwaili dan rekan-rekannya membacanya sebagai cerminan gugus perilaku sadar kesehatan, tempat olahraga teratur berjalan beriringan dengan kebiasaan menambah asupan gizi, dan mereka menyebut pola serupa terlihat pada berbagai populasi lain.

Di situlah persoalannya. “Orang dewasa yang kurang gerak, yang menanggung beban kardiovaskular dan metabolik terbesar dan boleh dibilang paling banyak memperoleh manfaat dari suplementasi asam lemak omega-3, adalah yang paling kecil kemungkinannya memakainya,” tulis Alruwaili dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Sebaliknya, menurut mereka, orang yang berolahraga intensif dan sering meminum suplemen mungkin melakukannya terutama demi performa, bukan untuk menurunkan risiko klinis.

Paradoks itu, menurut para penulis, semestinya langsung menentukan sasaran strategi kesehatan masyarakat. Alih-alih menyapa konsumen yang sudah aktif dan sudah meminum suplemen, mereka menyarankan agar upaya diarahkan kepada orang dewasa yang kurang gerak dan beraktivitas rendah, melalui layanan kesehatan primer, kesehatan kerja, dan saluran berbasis komunitas. Mereka juga mengingatkan bahwa hubungan ini dipotret pada satu waktu sehingga tidak menetapkan mana yang lebih dulu.

Yang lajang, yang menikah, yang ditinggalkan

Ciri kedua yang bertahan dalam perhitungan bersama itu adalah status pernikahan, dan para penulis menyebutnya sumbangan baru karena belum menonjol dalam kepustakaan suplemen di Arab Saudi maupun kawasan sekitarnya. Responden lajang mencatat angka pernah memakai tertinggi, 60,8 persen, disusul yang menikah 42,1 persen, sedangkan yang ditinggal mati pasangan hanya 18,9 persen dan yang bercerai 15,8 persen.

Dibandingkan dengan gabungan responden yang bercerai dan ditinggal mati pasangan, peluang pernah memakai pada yang lajang tiga kali lebih besar dan pada yang menikah sekitar dua kali. Namun untuk kelompok menikah, Alruwaili dan rekan-rekannya sendiri meminta kehati-hatian karena hasilnya berada tepat di ambang batas kemaknaan statistik, sementara untuk kelompok lajang mereka menilainya lebih kokoh.

Mengapa demikian, para penulis hanya berani menduga. Mereka berspekulasi bahwa guncangan psikososial yang menyertai perceraian dan kehilangan pasangan dapat mengurangi perilaku merawat diri, sejalan dengan kepustakaan yang mereka rujuk tentang terganggunya rutinitas sehat setelah duka dan bubarnya pernikahan. Akan tetapi survei ini tidak mengukur depresi, dukungan sosial, atau kapan kehilangan itu terjadi, sehingga dugaan tersebut, menurut pengakuan mereka, tidak dapat diuji secara langsung.

Umur pun memperlihatkan lereng yang menurun, dari 60,8 persen pada kelompok 20 sampai 29 tahun menjadi 15,0 persen pada mereka yang berumur 60 tahun ke atas. Hanya saja, berbeda dari aktivitas fisik dan status pernikahan, hubungan umur tidak bertahan sebagai kaitan yang berdiri sendiri setelah ciri-ciri lain diperhitungkan, begitu pula pendidikan, kualitas hidup, dan tinggal di perkotaan.

Jenis kelamin dan isi dompet tidak membedakan

Dua ciri lain, yaitu jenis kelamin dan pendapatan, tidak memperlihatkan perbedaan. Laki-laki dan perempuan mencatat angka yang nyaris sama, 39,2 persen berbanding 39,3 persen, dan pendapatan bulanan tidak berhubungan dengan pemakaian di kelompok penghasilan mana pun. Para penulis menyebut hal ini mengisyaratkan akses yang relatif merata, walaupun harga suplemen omega-3 impor terbilang tinggi.

Alruwaili dan rekan-rekannya mengaitkan kemerataan itu dengan kemungkinan menjamurnya platform belanja daring, produk minyak ikan generik yang bersaing, dan luasnya informasi kesehatan di media sosial. Mereka segera menambahkan bahwa temuan nihil ini perlu dibaca hati-hati, karena cara responden dijaring membuka kemungkinan bahwa ketimpangan menurut jenis kelamin dan pendapatan sebenarnya ada tetapi tidak tertangkap.

Tidak semua garis pemisah menghilang. Di perkotaan 45,4 persen responden pernah memakai, di pinggiran kota 35,5 persen, dan di perdesaan 25,9 persen, selisih yang oleh para penulis disebut persoalan keadilan kesehatan meskipun tidak bertahan dalam perhitungan bersama. Perokok rutin juga jauh lebih jarang memakainya, 20,0 persen, dibandingkan 41,1 persen pada mereka yang tidak pernah merokok.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Alasan meminum, alasan menolak, dan suara dokter

Kesehatan jantung dan pembuluh darah menjadi alasan yang paling sering disebut para pemakai, yaitu oleh 35,7 persen, diikuti daya tahan tubuh 31,7 persen serta fungsi otak dan daya pikir 31,0 persen. Kesehatan mata disebut 23,0 persen, kesehatan kulit, rambut, dan kuku 22,2 persen, serta kesehatan sendi 19,0 persen. Responden boleh memilih lebih dari satu alasan.

Di sisi mereka yang belum pernah memakai, penghalangnya ternyata jarang berupa uang. Sebanyak 23,6 persen enggan meminum obat atau suplemen kecuali memang perlu secara medis, 22,6 persen tidak berminat, dan 22,1 persen merasa kurang informasi, sedangkan harga yang terlalu tinggi hanya disebut 10,8 persen dan alasan agama 1,0 persen. Bagi para penulis, susunan itu menunjukkan kekurangan keterlibatan dan informasi, bukan terutama kekurangan ekonomi.

Lalu apa yang dapat mengubah pikiran mereka? Dari 195 orang yang belum pernah memakai, 50,8 persen menyatakan mau memulai bila dianjurkan tenaga kesehatan. Adanya penyakit yang memerlukan omega-3 disebut 30,8 persen dan harga yang lebih murah 20,0 persen. Namun Alruwaili dan rekan-rekannya sendiri memasang rem: “Kesediaan yang dilaporkan sendiri belum tentu memprediksi perubahan perilaku yang sebenarnya,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Suplemen omega-3 di mata orang dewasa SaudiSuplemen omega-3 di mata orang dewasa SaudiSuplemen omega-3 di mata orang dewasa SaudiSurvei Januari-Maret 2025321Orang dewasalima wilayahSaudi39,3%Pernahmemakai126 orang46,0%Tak bilangdokterdari 126 pemakai50,8%Mau biladisarankandari 195 orangJalan risetnyaKuesioner daring321 jawabanPemakai dan bukanPernah memakai mencakup pemakai saat ini dan pemakai lama.
Sumber: Nawaf W. Alruwaili, Bader Aljarallah, Aljazi Bin Zarah, dan Nora Alafif, Omega-3 fatty acid supplement use among saudi adults: prevalence, independent associations, and knowledge assessment — a cross-sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Suara tenaga kesehatan memang sudah terdengar di kalangan pemakai, sebab dokter, ahli gizi, apoteker, atau dokter gigi menjadi sumber anjuran bagi 41,3 persen dari mereka, di atas orang dekat 25,4 persen, keputusan sendiri 24,6 persen, dan iklan 7,1 persen. Apotek menjadi tempat membeli bagi 64,3 persen pemakai dan platform daring bagi 39,7 persen, sementara 45,2 persen mengikuti dosis yang dianjurkan dan 16,7 persen meminumnya tanpa aturan tertentu.

Akan tetapi percakapan itu kerap terputus di tengah jalan. Sebanyak 58 dari 126 pemakai, atau 46,0 persen, tidak memberi tahu dokter atau ahli gizi bahwa mereka meminum suplemen itu. Para penulis menyebut angka tersebut mengkhawatirkan secara klinis, karena pada dosis tinggi omega-3 dapat memperkuat kerja obat antikoagulan dan antiplatelet, sehingga pasien terpapar risiko interaksi obat dan suplemen yang sebenarnya dapat dihindari. Mereka meminta agar pertanyaan tentang suplemen masuk dalam pemeriksaan rutin daftar obat pasien.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Yakin berkhasiat, ragu soal takaran

Kepada para pemakai, Alruwaili dan rekan-rekannya juga menyodorkan sepuluh pernyataan tentang omega-3, dan hasilnya adalah sikap yang cukup positif dengan nilai rata-rata 3,44 dari 5. Sebanyak 81,1 persen setuju bahwa omega-3 bersifat alami dan 78,7 persen setuju bahwa ia berkhasiat, sedangkan 64,8 persen menilainya cocok diberikan kepada orang lanjut usia.

Keyakinan itu goyah begitu pertanyaan menyentuh keamanan dan takaran. Sebanyak 46,3 persen setuju bahwa omega-3 bebas dari efek merugikan, tetapi 22,3 persen sama sekali tidak setuju, suatu keterbelahan yang menurut para penulis kemungkinan mencerminkan kebingungan antara keamanan dosis standar dan risiko yang bergantung pada dosis. Tentang pemakaian bersama obat lain, 46,7 persen menjawab tidak yakin, dan tentang waktu meminumnya 40,2 persen.

Para penulis mencatat sederet keterbatasan. Rancangan yang memotret satu waktu tidak memungkinkan penarikan hubungan sebab-akibat, dan penjaringan responden lewat media sosial membuat kalangan muda, berpendidikan, dan akrab dengan dunia digital terwakili berlebihan, sehingga hasilnya tidak boleh dianggap mewakili seluruh penduduk Arab Saudi. Pengetahuan pun hanya ditanyakan kepada pemakai, dan tidak ada pemeriksaan kadar omega-3 dalam tubuh untuk menguatkan pengakuan responden.

Kesimpulan mereka menempatkan klinisi di pusat setiap strategi untuk mendorong pemakaian omega-3 yang berbasis bukti dan aman, dengan apoteker klinis dan ahli gizi sebagai pemberi edukasi tentang dosis, pemakaian bersama obat, dan kelompok khusus. Yang belum terjawab, dan mereka serahkan kepada penelitian lanjutan, adalah apakah kesediaan separuh bukan pemakai itu benar-benar akan menjadi tindakan, dan apakah perubahan status pernikahan ikut mengubah kebiasaan meminum suplemen dari waktu ke waktu.

Bagikan

Baca Juga

TBC Paling Banyak Dilaporkan di Kota Perbatasan Tiongkok-Rusia
Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Harga Minyak Lebih Peka saat Bunga The Fed Turun di Luar Dugaan
Ibu yang Melahirkan Caesar di Bangladesh Lebih Sering Kegemukan
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019
Banyak Ibu Hamil Vietnam Periksa di Luar Jadwal Vaksin RSV