Banyak Ibu Hamil Vietnam Periksa di Luar Jadwal Vaksin RSV

A A

Gedung pos kesehatan Komune Son Trung berlantai dua berlatar perbukitan di Vietnam [Foto: Dinh Ngoc Binh/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Catatan 7.349 perempuan dari 15 fasilitas kesehatan di Provinsi Phu Yen dan Khanh Hoa menjadi bahannya.
  • Dengan rentang 24 sampai 36 minggu, 46,7 persen perempuan di pusat kesehatan komune datang saat memenuhi syarat.
  • Dengan anjuran WHO mulai minggu ke-28, angka di pusat kesehatan komune naik menjadi 87,7 persen.
  • Dua rumah sakit tersier menerima 14 sampai 17 ibu yang memenuhi syarat sehari dengan rentang WHO.
  • Buku register tidak memuat nomor identitas unik sehingga seorang perempuan tidak bisa dilacak antarfasilitas.
Daftar Isi
  1. Virus yang paling mengancam pada enam bulan pertama hidup bayi
  2. Di pusat kesehatan komune, ibu hamil datang lebih awal dan lebih sering
  3. Dua rentang waktu, satu buku register, dan hasil yang berjauhan
  4. Empat belas sampai tujuh belas ibu sehari di ruang periksa rumah sakit
  5. Buku register yang tidak saling terhubung dan batas yang diakui para penulis

September 2025, sebuah vaksin baru mulai disuntikkan kepada ibu hamil di Vietnam. Tujuannya melindungi bayi dari RSV, virus penyebab infeksi saluran napas berat. Baru segelintir tempat yang memberikannya: pusat vaksin swasta VNVC dan jaringan Tam Anh General Hospital di Hanoi dan Ho Chi Minh City. Syarat waktunya ketat. Suntikan hanya diberikan pada usia kandungan 24 sampai 36 minggu.

Sebelum vaksin itu tiba, tujuh peneliti sudah membuka buku register periksa kehamilan di dua provinsi. Mereka adalah Sophia Knudson, Dung Tham Chi, Hoang Thien Thanh, Huong Nguyen, Trung Pham, Do Thai Hung, dan Jessica A. Fleming. Hasilnya terbit sebagai Timing is everything: optimizing maternal RSV immunization through ANC attendance patterns and timing in Viet Nam di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1310, tahun 2026. Para penulis bekerja di PATH, di Seattle dan Hanoi, serta di Pasteur Institute Nha Trang.

Yang mereka cari sederhana. Pada minggu keberapa ibu hamil benar-benar datang memeriksakan kandungan, dan apakah minggu itu jatuh di dalam rentang yang dibolehkan untuk vaksin? Catatan 7.349 perempuan dari 15 fasilitas kesehatan di Provinsi Phu Yen dan Khanh Hoa, semuanya pernah periksa kehamilan sepanjang 2023, menjadi bahannya.

Jawabannya bergantung pada rentang yang dipakai. Dengan rentang 24 sampai 36 minggu, kira-kira hanya sepertiga perempuan yang tercatat datang setidaknya sekali pada usia kandungan yang memenuhi syarat. Angka itu berubah jauh ketika para peneliti memakai rentang lain, yaitu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Virus yang paling mengancam pada enam bulan pertama hidup bayi

RSV, singkatan dari respiratory syncytial virus, disebut para penulis sebagai penyebab utama infeksi saluran napas berat dan rawat inap pada bayi dan anak kecil di seluruh dunia. Setiap tahun virus ini bertanggung jawab atas 33 juta infeksi berat dan 101.000 kematian pada anak di bawah lima tahun. Risiko terbesar ada pada enam bulan pertama setelah lahir. Beban yang tidak sebanding jatuh di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Vietnam punya angkanya sendiri. Di wilayah selatan, pada 2019 sampai 2021, RSV ditemukan pada 19,6 persen anak di bawah dua tahun yang berobat ke sebuah rumah sakit rujukan anak besar karena infeksi saluran napas. Di utara, penelitian lain untuk 2017 sampai 2020 mencatat 28 persen pada anak balita yang dirawat karena infeksi saluran napas akut berat. Beban tertinggi ada pada bayi di bawah satu tahun: 43,8 persen.

Vaksin RSV untuk ibu hamil pertama kali disetujui pada 2023. Cara kerjanya, tulis Knudson dan rekan-rekannya, lewat tubuh ibu. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi yang kemudian berpindah melalui plasenta dan air susu ibu. Dengan begitu bayi baru lahir mendapat kekebalan pasif sejak awal, pada bulan-bulan pertama hidupnya.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Vietnam bukan pemula dalam urusan vaksin ibu hamil. Program tetanus ibu dan bayi baru lahir diperkenalkan pada 1993 dan ikut mengantar negeri itu menghapus tetanus neonatal pada 2005. Tetapi vaksin tetanus boleh diberikan kapan saja selama kehamilan. Vaksin RSV tidak. Ia dianjurkan pada usia kandungan tertentu, dan di situlah persoalan waktunya bermula.

Aturannya pun tidak tunggal. Fasilitas VNVC dan Tam Anh memberikannya pada usia kandungan 24 sampai 36 minggu. Kelompok penasihat ahli imunisasi WHO menganjurkan vaksinasi pada trimester ketiga kehamilan, yang umumnya berarti mulai minggu ke-28. Kedua rentang itulah yang dicocokkan para peneliti dengan isi buku register.

Di pusat kesehatan komune, ibu hamil datang lebih awal dan lebih sering

Sepuluh dari 15 fasilitas itu adalah pusat kesehatan komune, layanan tingkat primer. Di sana kunjungan pertama yang tercatat jatuh pada usia kandungan 13 minggu, nilai tengahnya, dan nilai tengah jumlah kunjungan yang tercatat empat kali. Sebanyak 52,4 persen sudah periksa pada trimester pertama. Pada trimester kedua angkanya 89,0 persen, pada trimester ketiga 87,7 persen.

Gambarnya lain di tingkat yang lebih tinggi. Di fasilitas sekunder, yakni pusat kesehatan distrik dan pusat kesehatan ibu, kunjungan pertama yang tercatat baru terjadi pada minggu ke-38 dan nilai tengah kunjungannya satu kali. Di rumah sakit tingkat tersier, kunjungan pertama jatuh pada minggu ke-32, juga dengan satu kunjungan. Hanya 7,7 persen perempuan di fasilitas sekunder dan 25,9 persen di rumah sakit yang datang pada trimester pertama.

Trimester kedua pun sepi di dua tingkat itu: 11,8 persen di fasilitas sekunder dan 26,0 persen di rumah sakit. Barulah pada trimester ketiga ruang periksa terisi. Sebanyak 84,8 persen perempuan di fasilitas sekunder dan 69,2 persen di rumah sakit tercatat datang setidaknya sekali pada tiga bulan terakhir kehamilan.

Dua pola periksa kehamilanDua pola periksa kehamilanDua pola periksa kehamilanNilai tengah dan persentase menurut tingkat layananPrimerTersier13 minggu32 mingguKunjungan pertama4 kali1 kaliJumlah kunjungan52,4%25,9%Datang trimester 162,4%19,5%Minimal 4kunjunganHanya kunjungan yang tercatat di fasilitas penelitian.
Sumber: Sophia Knudson, Dung Tham Chi, Hoang Thien Thanh, Huong Nguyen, Trung Pham, Do Thai Hung, dan Jessica A. Fleming, Timing is everything: optimizing maternal RSV immunization through ANC attendance patterns and timing in Viet Nam, BMC Public Health, 26(1310), 2026. Grafik: Cekricek.id

Jumlah kunjungan memperlihatkan jarak yang sama. Anjuran lama WHO meminta sedikitnya empat kunjungan selama kehamilan. Di pusat kesehatan komune, 62,4 persen perempuan memenuhinya. Di rumah sakit hanya 19,5 persen, dan di fasilitas sekunder 1,1 persen. Anjuran WHO yang lebih baru, delapan kunjungan, jarang tercapai: 4,1 persen di tingkat primer dan 5,5 persen di tingkat tersier.

Pola itu, menurut para penulis, sejalan dengan pedoman nasional Vietnam yang mendorong ibu hamil mendaftar sejak awal di pos kesehatan komune, sementara kehamilan berisiko lebih tinggi dirujuk ke atas. Fasilitas primer karena itu menjadi titik temu yang berulang sepanjang kehamilan. Fasilitas di atasnya lebih sering mencatat kunjungan pertama pada usia kandungan yang sudah lanjut.

Dua rentang waktu, satu buku register, dan hasil yang berjauhan

Lalu rentang 24 sampai 36 minggu ditaruh di atas catatan itu. Di pusat kesehatan komune, 46,7 persen perempuan punya setidaknya satu kunjungan pada usia kandungan yang memenuhi syarat. Di rumah sakit tingkat tersier angkanya 35,6 persen. Di fasilitas sekunder hanya 25,6 persen, kira-kira satu dari empat.

Ganti rentangnya dengan anjuran WHO, mulai minggu ke-28. Angka di pusat kesehatan komune naik menjadi 87,7 persen. Di fasilitas sekunder menjadi 84,8 persen. Di rumah sakit menjadi 69,2 persen. Kenaikan terjadi di semua tingkat layanan tanpa kecuali.

Jendela WHO menjangkau lebih banyakPrimer 46,7 ke 87,7; Sekunder 25,6 ke 84,8; Tersier 35,6 ke 69,2.Jendela WHO menjangkau lebih banyakIbu yang datang saat memenuhi syarat vaksin, persenVietnam, 24-36 mingguWHO, mulai 28 minggu0255075100Primer46,787,7Sekunder25,684,8Tersier35,669,2Minimal satu kunjungan periksa; catatan 7.349 perempuan.
Sumber: Sophia Knudson, Dung Tham Chi, Hoang Thien Thanh, Huong Nguyen, Trung Pham, Do Thai Hung, dan Jessica A. Fleming, Timing is everything: optimizing maternal RSV immunization through ANC attendance patterns and timing in Viet Nam, BMC Public Health, 26(1310), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di titik inilah Knudson dan rekan-rekannya menulis kalimat yang menjadi poros naskah mereka. “Besaran dan konsistensi perbedaan ini menunjukkan bahwa kriteria kelayakan berfungsi sebagai tuas kebijakan,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Pilihan rentang usia kandungan, lanjut mereka, langsung membentuk seberapa jauh vaksinasi RSV ibu hamil dapat menjangkau lewat layanan rutin.

Susunan kunjungan menjelaskan bedanya. Di pusat kesehatan komune, kunjungan pertama dan kedua jatuh pada minggu ke-13 dan ke-22, sebelum kedua rentang dimulai. Meski begitu, dari nilai tengah empat kunjungan di sana, dua masih masuk rentang vaksin. Di tingkat sekunder dan tersier, satu-satunya kunjungan yang tercatat umumnya jatuh pada trimester ketiga. Kunjungan itu masuk rentang WHO, tetapi tidak masuk rentang Vietnam.

Ada pula ibu yang datang terlalu dini. Dengan rentang Vietnam, antara 15,5 dan 40,8 persen perempuan tercatat periksa sebelum usia kandungannya memenuhi syarat, tertinggi di tingkat primer. Dengan rentang WHO, yang mulainya lebih lambat, angka itu membesar: 91,5 persen di tingkat primer, 43,7 persen di tingkat tersier, dan 18,6 persen di tingkat sekunder.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Para penulis menyandingkan temuan itu dengan hitungan sebelumnya. Baral dan kawan-kawan pernah memperkirakan cakupan sekitar 70 persen di Vietnam dengan rentang 24 sampai 36 minggu. Proyeksi itu, catat Knudson, lebih dekat dengan kehadiran yang mereka amati pada rentang 28 minggu ke atas. Di Kenya, Nyiro dan kawan-kawan melaporkan 63 persen perempuan periksa pada minggu ke-28 sampai ke-32 dan 59 persen pada minggu ke-24 sampai ke-36.

Empat belas sampai tujuh belas ibu sehari di ruang periksa rumah sakit

Berapa banyak ibu yang memenuhi syarat datang setiap hari? Pertanyaan itu dijawab di lima fasilitas. Dua pusat kesehatan distrik menerima satu sampai dua ibu sehari, bergantung pada rentang yang dipakai. Pusat kesehatan ibu mencatat delapan ibu sehari dengan rentang Vietnam dan tujuh dengan rentang WHO. Dua rumah sakit tersier paling ramai: lima sampai 12 ibu sehari dengan rentang Vietnam, 14 sampai 17 dengan rentang WHO.

Rentang yang lebih lebar, dengan kata lain, menambah beban kerja. Para penulis mencatat tambahan satu kunjungan sehari di fasilitas sekunder dan lima sampai sembilan kunjungan sehari di rumah sakit tersier. Karena itu pasokan vaksin, jumlah petugas, dan alur kerja perlu disesuaikan. Fasilitas yang sepi memerlukan perencanaan lain, yang disusun untuk jumlah ibu yang kecil tetapi bisa diperkirakan.

Pusat kesehatan komune punya soalnya sendiri. Jumlah harian ibu yang memenuhi syarat di tingkat ini tidak bisa dihitung. Para penulis merujuk bukti lain dari Vietnam tentang rantai dingin yang terbatas, tim kesehatan yang kecil, dan pasokan yang bergantung pada kiriman dari fasilitas di atasnya. Rumah sakit punya lebih banyak sumber daya. “Strategi pemberian yang seragam mungkin tidak tepat,” tulis mereka.

Satu perbandingan tambahan memperlihatkan jarak antara swasta dan negeri. Di rumah sakit tersier swasta, kunjungan pertama yang tercatat jatuh pada minggu ke-25 dan ibu datang dua kali. Di rumah sakit tersier negeri, kunjungan pertama baru pada minggu ke-37 dan hanya sekali. Para penulis mengingatkan bahwa pengamatan ini terbatas pada dua tempat.

Akibatnya mereka uraikan dengan hati-hati. Kedatangan yang lebih awal di rumah sakit swasta dapat memudahkan pemberian vaksin dengan rentang yang sempit. Kedatangan yang lebih lambat di fasilitas negeri dapat membatasi akses bila rentangnya tidak diperlebar atau cara pemberiannya tidak disesuaikan. Penjangkauan dan edukasi yang terarah, tulis mereka, kemungkinan diperlukan bagi perempuan yang berobat di sektor negeri.

Buku register yang tidak saling terhubung dan batas yang diakui para penulis

Semua angka itu berasal dari buku register, dan buku register punya batas. Tidak ada nomor identitas unik di dalamnya, sehingga seorang perempuan tidak bisa dilacak dari satu fasilitas ke fasilitas lain. Padahal sistem berjenjang di Vietnam memungkinkan ibu hamil berpindah tempat periksa dalam satu kehamilan. Catatan itu, menurut para penulis, menggambarkan pola pemakaian layanan di tiap fasilitas, bukan perjalanan periksa tiap ibu.

Keterbatasan lain mereka sebut satu per satu. Data rumah sakit tersier hanya mencakup tahun 2023, sedangkan data tingkat bawah mencakup 2022 sampai 2024. Sebanyak 85 persen catatan berasal dari rumah sakit tersier. “Dengan hanya menyertakan perempuan yang kunjungan periksa kehamilannya terdokumentasi, temuan kami mungkin melebih-lebihkan potensi cakupan vaksin RSV di tingkat populasi,” tulis Knudson dan rekan-rekannya.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Dari batas itu lahir salah satu saran mereka. Catatan kesehatan yang saling terhubung membantu mencegah seorang ibu divaksin ulang tanpa sengaja, sekaligus memastikan tidak ada ibu yang terlewat saat berpindah fasilitas. Rumah sakit, yang sering hanya bertemu ibu sekali, perlu siap memberi vaksin pada hari yang sama. Pusat kesehatan komune menjadi tempat penting untuk penyuluhan sejak awal kehamilan.

Saran utamanya menyangkut rentang waktu itu sendiri. Meninjau ulang rentang 24 sampai 36 minggu menjadi trimester ketiga, tulis para penulis, dapat menaikkan cakupan secara berarti dan melindungi lebih banyak bayi. Mereka juga meminta akses diperluas dari sektor swasta ke fasilitas negeri. Semua langkah itu, menurut mereka, dapat mendukung peluncuran nasional yang efektif, efisien, dan adil.

Vaksin yang mulai disuntikkan pada September 2025 itu baru tersedia lewat sektor swasta. Perluasan ke fasilitas negeri, ke tingkat layanan yang lebih rendah, dan ke wilayah lain di Vietnam belum dilaporkan. Di Phu Yen dan Khanh Hoa, buku register sudah mencatat pada minggu keberapa para ibu datang. Data itu, tulis para penulis, memberi bukti yang tepat waktu bagi keputusan kebijakan.

Bagikan

Baca Juga

Flag Football Bikin Murid SD Shanghai Lebih Cepat Lari 50 Meter
Angka Kelahiran Negara Maju Makin Mirip, Eropa Timur Malah Naik
Sepuluh Desa Samoa Merancang Cara Cegah Kekerasan pada Perempuan
Mahasiswa Farmasi Karachi Sadar Perubahan Iklim, 43% Bertindak
Pengingat Ponsel Bantu Pasien TB di Asia Menuntaskan Pengobatan
Makin Lama Program Kesehatan Karyawan, Makin Besar Imbal Hasilnya