- Program E le Saua le Alofa disusun bersama 30 peneliti komunitas dari sepuluh desa di Samoa.
- Kata intervensi diterjemahkan menjadi uluulumatafolau, yang merujuk pada memperbaiki atap jerami rumah yang bocor.
- Di lima dari sepuluh desa, kehadiran laki-laki turun pada sesi kedua dan ketiga.
- Survei menunjukkan penurunan kekerasan oleh pasangan yang dilaporkan, tetapi perubahan itu tidak bermakna secara statistik.
- Ini uji coba dengan sampel yang relatif kecil dan tanpa kelompok pembanding.
Daftar Isi
Papali’i Ene Isaako Hosea dan Fa’afetai Alisi-Fesili menghabiskan berjam-jam untuk mencari satu kata. Keduanya memandu pertemuan warga di sepuluh desa di Samoa, dan bahasa Samoa tidak punya padanan untuk kata intervensi. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada uluulumatafolau, kata dari bahasa pidato adat yang salah satu artinya memperbaiki atap jerami rumah yang bocor.
Pencarian kata itu dicatat Jenevieve Mannell, Papali’i Ene Isaako Hosea, Fa’afetai Alisi-Fesili, Siliniu Lina Chang, Helen Tanielu, Hattie Lowe, Faith Miller, dan Andrew Copas dalam artikel E le Saua le Alofa (Love shouldn’t hurt): exploring the acceptability, feasibility and potential impact of a co-developed intervention to prevent violence against women in Samoa. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 1432, tahun 2026.
Mannell, Lowe, Miller, dan Copas bekerja di UCL Institute for Global Health, London, sedangkan Hosea dan Chang berasal dari Samoa Victim Support Group di Apia. Yang mereka uji bernama E le Saua le Alofa, yang berarti cinta tidak semestinya menyakiti. Program pencegahan kekerasan terhadap perempuan itu disusun Mannell dan rekan-rekannya bersama 30 peneliti komunitas, lalu dicobakan pada 2023 kepada kelompok berisi 15 laki-laki dan 15 perempuan di tiap desa. Hasilnya, tulis mereka, memberi petunjuk awal bahwa program itu dapat diterima warga dan dapat dijalankan.
Tiga Tahun Menyusun Bersama Warga Desa
Mannell dan rekan-rekannya berangkat dari angka resmi pemerintah Samoa tahun 2019-2020. Sebanyak 39,6 persen perempuan melaporkan pernah mengalami kekerasan oleh pasangan sepanjang hidupnya, dan 31,4 persen mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Mereka menyebutnya persoalan struktural yang sebagian didorong warisan kolonialisme di kawasan Pasifik, yang membentuk ulang norma gender menurut cita-cita para misionaris abad ke-18.
Samoa, catat Mannell, adalah negara kepulauan Pasifik yang merdeka di dekat Fiji dan Tonga, dengan penduduk yang diperkirakan 198.414 jiwa. Sebagian besar tinggal di permukiman kecil di perdesaan, dan kira-kira seperempatnya di ibu kota, Apia. Kehidupan desa masih memegang sistem Matai, yakni kepala adat bergelar, serta jaringan kerabat luas yang disebut aiga potopoto.
Dari 2020 sampai 2023, tim Proyek EVE yang berisi staf Samoa Victim Support Group, National University of Samoa, dan UCL menyusun program itu bersama warga. Lembaga tempat Hosea dan Chang bekerja memilih sepuluh desa, lalu mengambil tiga orang dari tiap desa: seorang laki-laki, seorang perempuan, dan seorang tetua. Mereka itulah yang disebut peneliti komunitas.
Para peneliti komunitas itu mewawancarai sesama warga dan menggelar survei desa, dengan bimbingan lembaga Hosea dan kampus Mannell. Dari sana tim menemukan empat pendorong kekerasan yang mungkin ditangani. Keempatnya adalah penyalahgunaan kuasa oleh laki-laki, norma sosial berbasis gender, komunikasi yang buruk antara pasangan, serta konflik keluarga yang timbul dari penyalahgunaan alkohol, tekanan keuangan, dan pengalaman kekerasan semasa kanak-kanak.
Empat pendorong itu dijawab dengan enam komponen. Isinya menata relasi kuasa berbasis gender, melatih keterampilan untuk hubungan yang sehat, melatih komunikasi, pengasuhan positif, dukungan penghidupan, dan dukungan bagi penyintas. Kegiatannya dipilih tim Mannell dari program yang sudah dinilai di Republik Demokratik Kongo, Rwanda, Afrika Selatan, Tajikistan, Uganda, dan Tanzania.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Enam Hari Pertemuan di Sepuluh Desa
Enam komponen itu dibawakan dalam tiga lokakarya yang masing-masing berlangsung dua hari. Rata-rata tiap komponen memakan enam jam, sehingga peserta bertatap muka 36 jam selama enam hari. Hosea dan Alisi-Fesili, dua penulis yang menurut naskah memandu program ini, menjalankannya di desa antara Maret dan September 2023 dengan dukungan para peneliti komunitas.
Peneliti komunitas di tiap desa mengundang 30 warga. Dari 300 orang yang diundang, 289 mengisi survei awal, dan Mannell mencatat komposisi usianya berimbang, terutama di kalangan laki-laki. Hal itu ia anggap patut dicatat karena anak muda berusia 18 sampai 24 tahun umumnya kurang dilibatkan dalam kegiatan masyarakat di Samoa.
Sebagian besar peserta tamat pendidikan menengah, yakni 71,3 persen, dan 69,9 persen tinggal bersama pasangan. Sebanyak 42,2 persen menyandang gelar Matai. Program dijalankan penuh sesuai jadwal di kesepuluh desa, tulis Mannell dan rekan-rekannya, dan peserta menerima 20 tala untuk tiap sesi sehari sebagai pengganti waktu yang semestinya dipakai mencari nafkah, misalnya berjualan sayur.
Warga menyambutnya. Seorang peserta yang dicatat Mannell sebagai perempuan 52 tahun dari desa 08 mengatakan program itu sangat bermanfaat karena mempertemukan semua golongan usia di desa untuk membicarakan masalah dan mencari jalan keluarnya. Hal semacam itu, katanya, tidak sering terjadi. Struktur sosial desa Samoa memang mengutamakan diskusi terpisah bagi kelompok pemuda.
Peserta lain, perempuan 35 tahun dari desa 01, bercerita bahwa program itu berguna bagi keluarganya, terutama bagi dirinya dan suaminya. Dalam catatan Mannell, ia mengaku kini tahu apa yang perlu dilakukan di dalam keluarganya agar mereka dapat hidup rukun dan kekerasan yang sering terjadi tidak terulang.
Kata dari Atap yang Bocor
Banyak peserta menyebut penyesuaian dengan konteks Samoa dan keyakinan Kristen sebagai kekuatan program. Latar para pemandu ikut menopangnya: menurut Mannell, satu pemandu adalah putri dewasa seorang pendeta, sedangkan yang lain menyandang gelar kepala adat tinggi di desanya. Keduanya mampu menjaga dua pilar masyarakat Samoa, yakni fa’a Samoa atau cara Samoa dan keyakinan Kristen.
Di sinilah kata yang dicari Hosea dan Alisi-Fesili bekerja. Program kerap dipahami sebagai cara menyampaikan informasi, sedangkan intervensi dimaksudkan membawa perubahan. Uluulumatafolau merujuk pada memperbaiki atap jerami rumah yang bocor, dan peserta merasa kata itu pas karena orang turun tangan ketika ada yang tidak beres.
Kata itu juga membawa gema lain. Mannell dan rekan-rekannya mencatat bahwa maknanya mengena bagi peserta karena kerja para misionaris pada awal 1800-an, yang masuk ke rumah-rumah untuk menyebarkan Injil. Uluulumatafolau dipakai pula untuk menyebut proses Roh Kudus masuk dan tinggal dalam diri seseorang, makna yang sangat positif di Samoa.
Seorang pemandu, dalam catatan tertulis yang dikutip Mannell, menyebut laki-laki maupun perempuan membicarakan bagaimana program itu membentuk ulang pikiran dan perilaku mereka. Menerjemahkan intervensi ke dalam kata yang rohani dan beradat, menurut pemandu itu, memberi bobot. Maknanya begitu dalam sehingga peserta merasakan ikatan yang kuat dengan kata tersebut.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Ketika Laki-laki Berhenti Datang
Tidak semua berjalan mulus. Lebih banyak perempuan yang hadir daripada laki-laki, dan Mannell mencatat alasan yang dilaporkan kepada tim. Sebagian laki-laki pergi ke Selandia Baru untuk bekerja atau berobat, sebagian lain mengambil pekerjaan tidak tetap di perkebunan pada hari yang sama dengan jadwal pertemuan.
Di lima dari sepuluh desa, kehadiran laki-laki turun pada sesi kedua dan ketiga, lalu naik lagi pada sesi kelima dan keenam. Para pemandu, tulis Mannell, menjelaskannya sebagai reaksi negatif laki-laki di beberapa desa terhadap pesan tentang ketimpangan gender pada dua sesi pertama. Sebagian peserta laki-laki dari desa 4 merasa sesi itu menyalahkan mereka atas kekerasan, lalu berhenti datang.
Pemandu dan peneliti komunitas berupaya meyakinkan mereka untuk kembali. Namun ada soal lain yang dicatat Mannell dan rekan-rekannya: selama program berjalan, 26 laki-laki atau 17,3 persen dan 31 perempuan atau 20,7 persen digantikan anggota lain dari keluarga yang sama. Di desa 2 dan 4, yang masing-masing mencatat 15 penggantian, peserta yang mengikuti keenam sesi hanya 24 persen dan 23 persen.
Kehadiran tokoh desa membawa dua akibat. Para peneliti komunitas mengundang penyandang gelar Matai, pejabat pemerintah, dan tetua yang dihormati karena merekalah yang dianggap berkuasa membawa perubahan bagi desa. Tim Mannell juga mengamati sisi lainnya: perempuan, pemuda, dan laki-laki tak bergelar jauh lebih jarang berbicara dalam sesi yang dihadiri Matai.
Peserta juga menyampaikan satu keberatan. Tim hanya mengizinkan satu orang dari tiap keluarga agar tidak timbul kesan tidak adil di antara keluarga di desa. Peserta, menurut catatan Mannell, berpendapat laki-laki dan perempuan dari keluarga yang sama perlu ikut, supaya kedua pihak dalam satu pasangan dapat membuat perubahan yang sama di rumah.
Angka yang Turun tetapi Belum Pasti
Survei akhir diisi 229 orang, 44 sampai 48 minggu setelah survei awal. Mannell dan rekan-rekannya menulis bahwa survei menunjukkan penurunan pengalaman kekerasan oleh pasangan yang dilaporkan, tetapi perubahan itu tidak bermakna secara statistik. Di kalangan perempuan, kekerasan fisik dalam enam bulan terakhir tercatat 18,9 persen pada survei awal dan 12,5 persen pada survei akhir.
Kekerasan ekonomi yang dialami perempuan tercatat 33,6 persen lalu 26,7 persen, dan kekerasan emosional 12,9 persen lalu 10,9 persen. Kekerasan seksual bergerak ke arah sebaliknya, dari 6,6 persen menjadi 8,3 persen. Satu perubahan yang oleh Mannell disebut kecil tetapi bermakna secara statistik adalah turunnya keyakinan perempuan pada norma yang tidak setara.
Di kalangan laki-laki, tulis Mannell, penurunan tindak kekerasan fisik dan seksual yang mereka laporkan besar dan searah dengan yang diharapkan, tetapi tidak mencapai kemaknaan statistik. Kekerasan fisik tercatat 8,1 persen pada survei awal dan 1,5 persen pada survei akhir, sedangkan kekerasan seksual 10,0 persen dan 4,5 persen.
Mannell dan rekan-rekannya sendiri membatasi arti angka itu. Ini uji coba dengan sampel yang relatif kecil dan tanpa kelompok pembanding, sehingga sulit ditentukan apakah perubahan berasal dari program atau dari faktor lain. Sebanyak 60 peserta tidak lagi mengisi survei akhir, dan catatan rinci tentang peserta pengganti tidak disimpan secara sistematis.
“Karena itu, temuan ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati dan dipandang sebagai penjajakan, bukan sesuatu yang pasti,” tulis Mannell, peneliti UCL Institute for Global Health, bersama tujuh rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut perlunya uji coba yang lebih besar, dengan catatan rinci tentang ciri setiap peserta pengganti.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Yang Ingin Diperbaiki Mannell dan Rekan
Bagi Mannell, uji coba ini menunjuk beberapa hal yang dapat diubah. Peserta menekankan pentingnya bekerja dengan pasangan, sambil mengakui bahwa pasangan kerap hidup di dalam dan dipengaruhi keluarga besar. Pendekatan lintas generasi yang berpusat pada keluarga, tulis naskah itu, akan selaras dengan pemahaman Pasifik tentang keterhubungan dan tanggung jawab bersama.
Sesi tentang kesetaraan gender juga perlu ditakar dengan cermat. Mannell menulis bahwa cara gender dibingkai harus selaras dengan nilai dan norma budaya Samoa. Itu menuntut kerja lanjutan dengan para pemangku kepentingan setempat untuk memahami titik ungkit di lembaga keagamaan Samoa, dengan bertumpu pada karya Ah Siu-Maliko.
Cara mengukurnya pun ikut dipersoalkan. Survei baku, tulis Mannell dan rekan-rekannya, dapat terasa mengasingkan, dan mereka menduga itu salah satu sebab sebagian peserta tidak mengisi survei akhir, meski datanya terbatas. Mereka menyebut usulan para sarjana adat untuk menyisipkan butir survei singkat ke dalam percakapan alami seperti talanoa.
Simpulan Mannell dan tujuh rekannya dirumuskan dalam satu kalimat. “Secara keseluruhan, temuan kami menunjukkan bahwa intervensi di konteks Pasifik paling menjanjikan ketika memadukan strategi berbasis bukti dengan penyesuaian yang berakar pada budaya, pelibatan lintas generasi, serta pemanduan dan evaluasi yang tertanam di tingkat lokal,” tulis mereka.
Hosea dan Alisi-Fesili memulai dari satu kata tentang atap yang bocor. Naskah yang mereka tulis bersama Mannell berakhir dengan pekerjaan yang masih tersisa: penelitian berikutnya perlu terus menyempurnakan pendekatan ini, terutama pada diskusi norma gender dan cara survei, agar E le Saua le Alofa tetap setia pada rancangannya dan tetap bergema dalam budaya Samoa.















