- Panglima Militer Pakistan Asim Munir tiba di Teheran untuk berunding dengan pejabat Iran.
- Kunjungan itu menjadi yang kelima ke Iran sejak gencatan senjata April yang dimediasi Islamabad.
- Jubir militer Pakistan menyebut keamanan dua masjid suci di Mekah dan Madinah tidak bisa ditawar.
Cekricek.id — Panglima Militer Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir tiba di Teheran pada Selasa malam untuk berunding dengan pejabat Iran, di tengah upaya diplomatik yang digenjot untuk mencegah pertempuran baru dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kunjungan itu merupakan yang kelima sejak gencatan senjata April antara Teheran dan Washington yang dimediasi Islamabad, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa (20/10/2026). Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mendampingi Munir, yang dijadwalkan lebih dulu bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menurut kantor berita IRNA.
Kunjungan itu berlangsung sehari setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berunding di Teheran, dan dua pekan setelah Pakistan dan sekutunya sepakat mempercepat pengerahan pasukan ke Arab Saudi yang berulang kali diserang Houthi.
“Waktu kunjungan Munir, setelah kehadiran Lavrov di Teheran, menunjukkan Iran lebih memilih membuka banyak saluran diplomatik daripada hanya mengandalkan satu mediator,” kata analis kebijakan luar negeri di Teheran, Seyed Mojtaba Jalazadeh, kepada Al Jazeera.
Sejumlah pakar memperingatkan tanda-tanda Presiden Donald Trump bersiap kembali berperang dengan Iran. Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri perang pada 26 September, AS mengirim kapal induk tambahan ke Timur Tengah, dan Trump mendukung Netanyahu dalam pemilu Israel 27 Oktober.
“Pakistan menawarkan akses politik, khususnya melalui Marsekal Lapangan Asim Munir, sementara Qatar mengerjakan sebagian besar negosiasi terperinci,” kata profesor madya kajian keamanan King’s College London, Andreas Krieg.
Pada Juni, AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman 14 poin yang memuat pencabutan blokade laut AS dalam 30 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencairan bertahap aset Iran yang dibekukan sekitar 24 miliar dolar AS. Masa berlakunya habis pada pertengahan Agustus tanpa perpanjangan.
Juru bicara militer Pakistan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry menegaskan komitmen negaranya melindungi Mekah dan Madinah. “Keamanan Haramain Syarifain adalah yang utama. Itu tidak bisa ditawar. Dukungan apa pun yang diperlukan untuk itu sedang dan akan diberikan,” katanya kepada Independent Arabia pada 18 Oktober.















