Peminum Alkohol di Iran Bertambah, Pemakai Opium Berkurang

A A

Pemandangan kawasan barat laut Teheran, Iran, dilihat dari puncak Menara Milad [Foto: Simisa/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Pada 2013 pemakai alkohol tercatat 2.310 per 100.000 penduduk, lalu menjadi 2.797 pada 2016 dan 4.470 pada 2019.
  • Di keluarga yang sama, opium menempati urutan kedua dengan 2.220 per 100.000 penduduk.
  • Alkohol dipakai lebih banyak orang daripada semua jenis narkoba, kecuali obat berkodein.
  • Data itu kini berumur enam tahun, dan pandemi COVID-19 telah mengubah pola pemakaian narkoba di dunia.
Daftar Isi
  1. Alkohol terus menanjak
  2. Kodein di puncak
  3. Opium mulai surut
  4. Stimulan dan penenang
  5. Satu dari sepuluh
  6. Negeri jalur transit
  7. Saran para penulis
  8. Lima batas penelitian

Peminum alkohol di Iran terus bertambah sepanjang satu dekade. Pada 2019, orang yang minum alkohol sedikitnya sekali dalam setahun terakhir mencapai 4.470 per 100.000 penduduk, naik dari 2.310 pada 2013. Antara 2016 dan 2019, pemakai opium, heroin, dan narkoba suntik justru berkurang.

Angka itu dimuat dalam A decade of change: trends in drug and alcohol use in Iran (2010–2019). Penulisnya Saiedeh Haji-Maghsoudi, Azam Rastegari, Ali Akbar Haghdoost, Ahmad Hajebi, Seyed Ebrahim Ghoddousi, Toktam Khojasteh Bojnourdi, Hamid Sharifi, dan Mohammad Reza Baneshi. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Sebagian besar penulis bekerja di Kerman University of Medical Sciences di Kerman, Iran. Yang lain berasal dari Iran University of Medical Sciences dan Ministry of Health and Medical Education di Tehran. Baneshi, penulis korespondensi, juga tercatat di The University of Queensland, Australia.

Bahannya survei nasional 2019 atas 16.733 orang dewasa di 31 provinsi Iran. Mereka tidak ditanya tentang diri sendiri, tetapi diminta menyebut berapa kenalan yang memakai narkoba atau alkohol. Hasilnya lalu dibandingkan dengan dua survei serupa yang dikerjakan tim yang sama pada 2013 dan 2016.

Alkohol terus menanjak

Alkohol dipakai lebih banyak orang daripada semua jenis narkoba, kecuali obat berkodein. Jumlah peminumnya dalam setahun terakhir diperkirakan sekitar 3,6 juta orang. Rentang perkiraan para penulis berada di antara 4.370 dan 4.570 per 100.000 penduduk.

Sebagian peminum itu bukan peminum sesekali. Sebanyak 41,7 persen di antaranya dilaporkan minum sering, sekitar 1,5 juta orang. Ukuran sering dalam naskah ini adalah dua kali atau lebih dalam sepekan.

Kenaikannya terlihat jelas dari tiga survei berturut-turut. Pada 2013 pemakai alkohol tercatat 2.310 per 100.000 penduduk, lalu menjadi 2.797 pada 2016 dan 4.470 pada 2019. Para penulis mencatat kenaikan 6,6 persen antara 2013 dan 2016, disusul kenaikan 16,9 persen lagi antara 2016 dan 2019.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Meski naik, angka alkohol Iran disebut sedikit lebih rendah daripada perkiraan global, misalnya yang dimuat laporan narkoba Eropa. Para penulis menduga pembatasan agama dan budaya ikut berperan. Pembatasan itu, menurut mereka, membatasi ketersediaan alkohol dan penerimaan sosialnya.

Kodein di puncak

Satu-satunya yang melampaui alkohol adalah obat berkodein. Pemakainya 4.840 per 100.000 penduduk, atau sekitar 3,9 juta orang dalam setahun. Dari pemakaian kodein itu, 38,5 persen tergolong sering.

Kodein termasuk keluarga opioid, keluarga yang paling banyak dipakai di Iran menurut naskah ini. Di keluarga yang sama, opium menempati urutan kedua dengan 2.220 per 100.000 penduduk. Naskah menghitungnya bersama dua produk opium yang disebut Soukhteh dan Shireh.

Tramadol berada di urutan ketiga dengan 1.830 per 100.000 penduduk, sekitar 1,5 juta orang. Rentang perkiraan para penulis untuk zat ini berada di antara 1.760 dan 1.910. Sebanyak 58,0 persen pemakaian tramadol tergolong sering, dua kali atau lebih dalam sepekan.

Kodein dan alkohol paling banyak dipakaiObat berkodein: Pemakai per 100.000 penduduk +4.840; Alkohol: Pemakai per 100.000 penduduk +4.470; Obat penenang dan obat tidur: Pemakai per 100.000 penduduk +2.580; Opium: Pemakai per 100.000 penduduk +2.220; Tramadol: Pemakai per 100.000 penduduk +1.830; Hasis: Pemakai per 100.000 penduduk +1.350; Metamfetamin: Pemakai per 100.000 penduduk +450.Kodein dan alkohol paling banyak dipakaiPemakai setahun terakhir per 100.000 penduduk Iran, 20192.0004.0006.0000Obat berkodein4.840Alkohol4.470Obat penenang dan obat tidur2.580Opium2.220Tramadol1.830Hasis1.350Metamfetamin450Dihitung sebagai pemakaian sedikitnya sekali dalam 12 bulan terakhir.
Sumber: Saiedeh Haji-Maghsoudi, Azam Rastegari, Ali Akbar Haghdoost, Ahmad Hajebi, Seyed Ebrahim Ghoddousi, Toktam Khojasteh Bojnourdi, Hamid Sharifi, dan Mohammad Reza Baneshi, A decade of change: trends in drug and alcohol use in Iran (2010–2019), BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jenis opioid lain jauh lebih sedikit pemakainya. Heroin tercatat 520 per 100.000 penduduk dan difenoksilat 460, sedangkan metadon tanpa resep 560. Pemakaian narkoba dengan cara suntik tercatat 290 per 100.000 penduduk, sekitar 230.000 orang.

Opium mulai surut

Tidak semua angka bergerak naik. Pemakai opium turun dari 2.534 menjadi 2.220 per 100.000 penduduk, dan para penulis mencatat penurunan itu sebesar 4,3 persen. Zat ini tetap opioid kedua yang paling banyak dipakai sesudah kodein.

Heroin mengikuti pola yang berbeda. Pemakaiannya naik dari 2013 ke 2016, lalu turun dari 2016 ke 2019. Pola naik lalu turun yang sama terlihat pada pemakaian narkoba suntik.

Opium juga kehilangan jarak dari halusinogen. Pada 2016, perbandingan pemakai opium terhadap pemakai halusinogen adalah 11,5. Pada 2019 perbandingan itu tinggal 5,8, kira-kira separuh dari angka tiga tahun sebelumnya.

Para penulis menduga halusinogen makin populer di lingkungan rekreasi. Opium, menurut mereka, tetap lebih banyak dipakai orang yang lebih tua atau yang sudah bergantung pada opioid. Dugaan itu mereka sandingkan dengan pola serupa di Eropa dan Amerika Serikat, tempat pemakaian halusinogen naik ketika opioid mendatar atau turun pada sebagian kelompok.

Alkohol naik, opium turunAlkohol naik, opium turunAlkohol naik, opium turunPemakai setahun terakhir per 100.000 penduduk IranSurvei 2016Survei 20192.7974.470Alkohol2.5342.220Opium495560Metadon tanparesepSurvei 2013 mencatat pemakai alkohol 2.310 per 100.000.
Sumber: Saiedeh Haji-Maghsoudi, Azam Rastegari, Ali Akbar Haghdoost, Ahmad Hajebi, Seyed Ebrahim Ghoddousi, Toktam Khojasteh Bojnourdi, Hamid Sharifi, dan Mohammad Reza Baneshi, A decade of change: trends in drug and alcohol use in Iran (2010–2019), BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada satu opioid yang justru bertambah. Metadon tanpa resep dipakai 495 orang per 100.000 penduduk pada 2016 dan 560 pada 2019. Para penulis menghitung pertumbuhannya 4,2 persen per tahun, dan angka 2013 untuk zat ini tidak tersedia.

Stimulan dan penenang

Di keluarga stimulan, metamfetamin paling banyak dipakai dengan 450 per 100.000 penduduk. Ritalin atau metilfenidat menyusul dengan 390, sedangkan kokain 160. Kokain termasuk zat yang paling sedikit pemakainya di seluruh daftar.

Arah perubahannya belum bisa dibaca. Stimulan baru diperkirakan pada survei 2019 dan tidak ada angka pembanding dari dua survei sebelumnya. Karena itu para penulis menyatakan trennya tidak dapat dinilai.

Yang terlihat adalah kelekatannya. Di antara pemakai opium, heroin, atau metamfetamin, hampir 75,0 persen memakainya sering. Naskah juga mencatat orang yang memakai metadon bersama metamfetamin, yaitu 230 per 100.000 penduduk dengan resep dan 150 tanpa resep.

Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba

Obat penenang dan obat tidur berada di papan atas, tepat di bawah kodein dan alkohol. Pemakainya 2.580 per 100.000 penduduk, sekitar 2,1 juta orang. Contoh yang disebut naskah antara lain diazepam, alprazolam, klonazepam, dan fenobarbital.

Lebih dari 55 persen pemakai obat penenang itu memakainya sering. Hasis, yang berasal dari getah ganja, tercatat 1.350 per 100.000 penduduk. Enam dari sepuluh pemakai hasis, tepatnya 60,0 persen, juga tergolong sering.

Halusinogen dan zat hirup lebih kecil angkanya. Halusinogen seperti LSD, ketamin, dan jamur tercatat 380 per 100.000 penduduk, sedangkan ekstasi 250. Zat hirup seperti lem, tiner, dan bensin tercatat 300, dan separuh pemakai kedua kelompok itu memakainya sering.

Para penulis membaca angka penenang dan hasis sebagai tanda. Keduanya sama-sama melewati 1.000 per 100.000 penduduk. Menurut mereka, angka yang menonjol itu menunjukkan kedua zat makin mudah dijangkau.

Satu dari sepuluh

Semua jenis narkoba lalu dihimpun dalam satu kategori, tanpa alkohol. Hasilnya 10.110 per 100.000 penduduk, kira-kira satu dari sepuluh orang. Jumlah itu setara sekitar 8,1 juta orang yang memakai narkoba tradisional atau buatan pabrik sedikitnya sekali dalam setahun.

Sebagian besar dari mereka bukan pemakai sesekali, sebab 79,0 persen tergolong sering. Pemakai sering saja mencapai 8.040 per 100.000 penduduk, atau sekitar 6,4 juta orang. Para penulis menyebut temuan itu sejalan dengan penelitian lain atas orang dewasa Iran.

Naskah juga mencatat obat yang dipakai untuk menangani gangguan pemakaian opioid. Metadon dengan resep dipakai 1.100 orang per 100.000 penduduk, sekitar 880.000 orang. Buprenorfin tercatat 290 dan tincture, sediaan obat yang mengandung opioid, tercatat 200.

Negeri jalur transit

Para penulis mengaitkan angka yang tinggi itu dengan letak Iran. Negeri itu berada di antara Afganistan, yang mereka sebut produsen opium terbesar di dunia, dan Eropa. Letak itu menjadikannya jalur utama perdagangan narkoba, yang menurut mereka memengaruhi ketersediaan dan pemakaian di dalam negeri.

Turunnya pemakaian suntik mereka baca secara berbeda. Penurunan itu mungkin berkaitan dengan perubahan sikap masyarakat dan program pengurangan dampak buruk yang dijalankan Iran. Di Eropa Timur dan Asia Tengah, tulis mereka, pemakaian suntik masih bertahan tinggi.

“Meningkatnya prevalensi narkoba dan alkohol itu mengkhawatirkan,” tulis Haji-Maghsoudi dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Mereka menilai pemahaman atas tren ini penting untuk menyusun kebijakan dan tindakan kesehatan masyarakat.

Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen

Saran para penulis

Saran pertama mereka menyangkut pengurangan dampak buruk. Program pertukaran jarum suntik dan tempat menyuntik yang diawasi perlu terus diperluas. Tujuannya menekan pemakaian suntik dan mencegah penularan penyakit seperti HIV dan hepatitis C.

Kampanye kesehatan untuk kaum muda dan kelompok berisiko juga mereka sebut dapat mencegah orang mulai memakai narkoba. Akses ke layanan kesehatan jiwa dan terapi adiksi perlu diperbesar. Sasaran utamanya orang yang bergantung pada opioid, yang mereka sebut kelompok pemakai terbesar.

Kepada pemerintah, mereka menyarankan pengaturan pasar narkoba yang lebih kuat. Sasarannya jaringan produksi dan peredaran narkoba sintetis yang makin populer. Mereka juga meminta kebijakan yang mengurangi stigma agar pemakai mau mencari pengobatan, serta pengumpulan data yang lebih luas.

Lima batas penelitian

Para penulis mencatat lima keterbatasan. Pengelompokan jenis narkoba tidak sama di tiap survei, sehingga tidak semua jenis bisa dibandingkan. Datanya pun hanya berasal dari tiga survei, dan karena penelitian ini sejak awal tidak dirancang untuk membaca tren, mereka meminta tafsir tren dibaca dengan hati-hati.

Faktor koreksi yang dipakai juga berubah antarsurvei. Para penulis mengujinya lewat analisis tambahan dan mendapati tren yang serupa. Wawancara dilakukan di jalan, cara yang mereka akui rentan memilih orang secara tidak merata dan tidak sepenuhnya tertutup oleh koreksi yang dipakai.

Batas kelima menyangkut usia data. Data itu kini berumur enam tahun, dan pandemi COVID-19 telah mengubah pola pemakaian narkoba di dunia. Para penulis mengingatkan bahwa perkiraan mereka mungkin tidak lagi mencerminkan keadaan sekarang.

Simpulan naskah menyebut pemakaian narkoba dan alkohol di Iran secara keseluruhan menanjak, dengan opioid tetap paling banyak dipakai. Turunnya heroin dan pemakaian suntik antara 2016 dan 2019 mereka catat sebagai dampak baik upaya pengurangan dampak buruk, sedangkan naiknya halusinogen dan narkoba sintetis mereka sebut tantangan baru.

Bagikan

Baca Juga

Makin Besar Ekspor Daun Tembakau, Makin Sedikit Larangan Iklannya
Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Kompleksitas Ekonomi Mengangkat Negara Kaya, Menekan yang Miskin
Kematian Naik 5 Persen saat Gelombang Panas, Pakar Soroti Risiko
Label Pintar di Botol Alkohol Melompati Aturan Kesehatan
Ibu Bangladesh Rajin Periksa Hamil Lebih Kerap Bersalin di Faskes