- Para penulis menemukan 83 kasus label pintar pada 41 merek alkohol yang berbeda di Irlandia.
- Sembilan dari sepuluh perusahaan alkohol terbesar pernah memakai label pintar untuk mempromosikan merek mereka.
- Dari 83 kasus, 59 persen atau 49 kasus memfasilitasi permainan atau judi.
- Sebanyak 17 persen label pintar menyajikan label gizi atau peringatan versi lain.
- Pelabelan pintar tidak diatur karena definisi label dalam regulasi biasanya terbatas pada wadah fisik.
Daftar Isi
- Secarik label yang bekerja sebagai gerbang ke layar ponsel
- Aturan mengikat wadah, sedangkan label pintar hidup di luar wadah
- Delapan puluh tiga kasus pada empat puluh satu merek
- Empat alasan baik yang paling sering disodorkan industri
- Cara label pintar membuat minum menjadi kebiasaan
- Peringatan kesehatan bersaing dengan resep koktail dan undian
- Norma baru terbentuk, dan sejauh mana penjelasan ini berlaku
Label botol adalah benda yang diam. Isinya sama untuk semua orang, dan karena itulah pengawas bisa memeriksa setiap klaim yang tercetak di sana. Tetapi arahkan kamera ponsel ke label sebotol Corona, dan kertas itu berubah menjadi pantai virtual lengkap dengan resep eksklusif, fungsi belanja daring, dan konten yang siap dibagikan ke media sosial. Labelnya masih sama. Yang terlihat oleh peminumnya sudah lain sama sekali.
Perubahan itu ditelusuri Anna Coghlan, Norah Campbell, dan Amber van Den Akker dalam artikel Digital vectors of disease: how alcohol ‘smart’ labels leapfrog health policy. Tulisan mereka terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Coghlan dan Campbell bekerja di Trinity Business School, Trinity College Dublin, Irlandia, sedangkan van Den Akker di Department for Health, University of Bath, Inggris.
Yang mereka periksa adalah merek-merek milik sepuluh perusahaan alkohol terbesar yang beroperasi di Irlandia sejak 2010. Tiga hal ingin dijawab: apa saja kemampuan label pintar, alasan apa yang dipakai industri untuk membuatnya tampak wajar, dan bagaimana teknologi itu menyentuh kesehatan masyarakat. Simpulan mereka: lewat inovasi cepat atas praktik pelabelan lama, industri alkohol memakai label pintar untuk melompati regulasi.
Secarik label yang bekerja sebagai gerbang ke layar ponsel
Label pintar, dalam uraian para penulis, adalah bagian fisik produk yang berfungsi sebagai gerbang menuju konten digital. Gerbang itu punya empat bentuk utama: kode QR, tag NFC yang cukup ditempeli ponsel, realitas tertambah atau AR, dan layar e-paper. Dengan ponsel atau kacamata pintar, konsumen memindai atau mengetuk label, lalu label lama diperluas atau ditimpa dengan ruang tampilan baru.
Dari situ lahir tiga kemampuan. Pertama, label pintar melampaui batas fisik label dan lebih mirip saluran hiburan milik merek. Tanpa batas ruang, label yang sudah patuh aturan bisa diubah dengan informasi lain atau tambahan tentang gizi, asal bahan, dan kampanye pemasaran. Karena itu label digital, tulis para penulis, berbeda dari pemasaran tetapi bisa memuatnya.
Kedua, label pintar bukan hanya memberi informasi, melainkan juga mengumpulkannya. Ia bisa memuat sensor yang menangkap pemakaian, kondisi, dan lokasi produk secara langsung. Data itu dikirim kembali ke perusahaan, yang lalu dapat memperbarui tampilan label dari jauh, dinamis, dan otomatis. Diageo, misalnya, memakai label pintar pada botol wiski Johnnie Walker untuk mengirim pesan pemasaran yang dipersonalisasi kepada tiap pengguna.
Ketiga, tampilannya sementara dan terus berganti. Label pintar berbicara kepada konsumen di titik pembelian seperti label biasa, tetapi juga bisa menyampaikan pesan baru sesudah produk dibeli. Di sinilah bedanya dengan label cetak. Isi label pintar, menurut naskah itu, bersifat sesaat, dinamis, dan personal, sehingga lolos dari jangkauan pengawas.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Aturan mengikat wadah, sedangkan label pintar hidup di luar wadah
Persoalannya terletak pada definisi. Dalam Public Health (Alcohol) Act 2018 di Irlandia, label dirumuskan dalam kaitan dengan pelabelan produk alkohol pada wadahnya. Aturan informasi pangan Uni Eropa 2014 juga merumuskan label sebagai sesuatu yang berada pada atau melekat pada kemasan atau wadah. Label pintar tidak berada di sana. Ia ada secara digital, bukan fisik.
“Pelabelan pintar saat ini tidak diatur karena definisi regulasi tentang ‘label’ atau ‘pelabelan’ biasanya terbatas pada wadah fisik,” tulis Anna Coghlan dan Norah Campbell dari Trinity Business School bersama Amber van Den Akker dari University of Bath, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kebijakan, menurut mereka, menganggap label pintar ancaman kecil bagi kesehatan masyarakat. Industri justru memandangnya sebagai batu loncatan.
Anggapan kecil itu bertumpu pada tiga hal: minat orang membuka label digital rendah, terutama di kalangan usia lebih tua, konsumen tidak punya perangkat yang mampu, dan informasi di label pintar hanya nomor dua setelah label biasa. Para penulis menyebut dasar statistik anggapan itu cepat usang. Pemindai QR, yang dulu perlu perangkat lunak tersendiri, kini menjadi fungsi bawaan di sebagian besar ponsel.
Jarak antara teknologi dan aturan itu punya catatan waktu. Rokok elektrik masuk arus utama pada 2010, dan baru 11 tahun kemudian undang-undang tembakau Irlandia diperbarui untuk mencakupnya. Public Health (Alcohol) Act diajukan ke parlemen Irlandia pada 2015 dan baru berlaku penuh paling cepat 2028, rentang 13 tahun. Penundaan seperti itu, tulis mereka, menjadi jendela untuk menanamkan inovasi yang melompati undang-undang.
Aturan yang berpandangan jauh pun bisa tertinggal. Ketentuan kemasan polos tembakau di Irlandia memperluas pengertian kode batang hingga mencakup tanda pengenal serupa yang tercetak di kemasan luar, sehingga kode QR ikut terjangkau. Lalu teknologinya berubah, dan kode cetak tidak lagi diperlukan. Bungkus Dunhill milik British American Tobacco memuat tag NFC kecil: kemasan polos itu diketuk dengan ponsel, dan konsumen dibawa ke konten serta hadiah eksklusif.
Delapan puluh tiga kasus pada empat puluh satu merek
Seberapa luas praktik itu di Irlandia? Para penulis menemukan 83 kasus label pintar pada 41 merek alkohol yang berbeda. Sembilan dari sepuluh perusahaan terbesar pernah memakainya untuk mempromosikan merek mereka. Separuh kasus memakai kode QR, 38 persen memakai AR, dan 12 persen memakai NFC.
Bobot sepuluh perusahaan itu besar. Merek-merek di bawah mereka mewakili lebih dari 70 persen penjualan alkohol di Irlandia, dengan lebih dari 380 juta liter terjual pada 2023. Alcohol Action Ireland, yang dikutip naskah, memperkirakan jumlah itu setara 284 kaleng bir, 12 botol minuman keras sulingan, 43 botol anggur, dan 35 kaleng sider untuk tiap peminum alkohol.
Pemakaiannya tidak langsung ramai. Pada awal 2010-an frekuensinya rendah. Kenaikan yang nyata baru terlihat setelah 2018, seiring kemajuan ponsel yang menjadikan pemindaian QR kemampuan standar kamera. Pandemi, menurut naskah ini dan penelitian lain yang dirujuknya, mempercepat kebiasaan memindai dan mengetuk tanpa sentuhan lewat pembayaran NFC, pelacakan kontak berbasis kode QR, dan pemesanan jarak jauh.
Baca juga Kantin SD di Cavite Tambah Menu Hijau, Separuhnya Camilan Kemasan
Empat alasan baik yang paling sering disodorkan industri
Bagaimana teknologi itu dibuat tampak wajar? Para penulis menemukan lima bingkai yang dipakai industri, dan merangkumnya dengan singkatan MORAL. Dalam kelimanya label pintar digambarkan menguntungkan masyarakat, memberdayakan konsumen, bahkan menjadi tindakan kesehatan. Tidak semua perusahaan memakai bingkai itu. Sebagian hanya berbicara tentang bagaimana teknologi ini bisa membesarkan industri.
Bingkai yang paling sering muncul adalah jaminan keaslian, dengan 38 contoh pada lima perusahaan. Label pintar disebut melindungi produk dari pemalsuan dan perusakan segel. Bingkai konsumen yang lebih terinformasi muncul dalam 25 contoh pada lima perusahaan. Pelaku industri berargumen label biasa terlalu sempit, sedangkan label pintar dapat memberi konsumen “informasi tanpa batas”, frasa yang dikutip naskah dari bahan industri.
Tanggung jawab sosial perusahaan menyusul dengan 23 contoh pada empat perusahaan. Anheuser-Busch InBev memakai label pintar Budweiser agar konsumen memilih negara bagian Amerika Serikat yang akan menerima beasiswa pendidikan bagi keluarga militer. Label Heineken membawa pemindainya ke laporan keberlanjutan merek itu tahun 2014. Dengan cara itu, tulis para penulis, industri tampil sebagai pemecah masalah sosial dan iklim, bukan pencipta masalah kesehatan.
Bingkai konsumsi yang bertanggung jawab tercatat dalam 21 contoh pada lima perusahaan. Adapun bingkai kepatuhan pada regulasi hanya muncul dalam sejumlah kecil kasus. Salah satunya Diageo, yang saat merilis label pintar pada Bulleit Bourbon menggambarkannya sebagai cara menghormati aturan label depan kemasan, sambil tetap menyampaikan pesan merek kepada konsumen.
Cara label pintar membuat minum menjadi kebiasaan
Ketika 83 kasus yang sama dibaca ulang dari sisi kesehatan, polanya lain. Para penulis menyusunnya dalam kerangka yang mereka sebut HARM, dan pola pertama adalah pembiasaan. Kesembilan perusahaan pemakai label pintar menggunakannya untuk membiasakan konsumsi, mendorong penjualan umum sekaligus pembelian ulang.
Mekanismenya adalah menghapus hambatan. Regulasi sering menaruh hambatan akses, seperti jam izin penjualan, yang memutus kebiasaan minum. Label pintar berpotensi mengakalinya. Tujuh dari sepuluh perusahaan secara terang menggambarkan label pintar sebagai pengurang hambatan akses. Merek tequila OTACA, misalnya, menyediakan pemesanan ulang seketika lewat label di botolnya.
Kaum muda menjadi sasaran yang disebut terang. Lima dari sepuluh perusahaan memakai label pintar untuk menaikkan konsumsi rutin di kalangan lebih muda, dan enam perusahaan menyebut kelompok yang muda, gemar bergaul, dan melek teknologi. Pernod Ricard membuat lingkungan AR interaktif yang mirip Pokemon Go. Bedanya, yang disimulasikan adalah memesan koktail Absolut di bar virtual.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Peringatan kesehatan bersaing dengan resep koktail dan undian
Pola kedua menyangkut isi. Sebanyak 17 persen label pintar menyajikan label gizi atau peringatan versi lain. Label pintar Diageo, Anheuser-Busch InBev, dan Pernod Ricard menampilkan informasi gizi dan pedoman konsumsi bertanggung jawab berdampingan dengan resep koktail dan catatan cita rasa. Perpaduan itu, menurut para penulis, mengurangi keterlihatan dan kejelasan peringatan kesehatan yang diwajibkan.
Pola ketiga adalah penyasaran yang responsif. Lima perusahaan memberi konsumen label yang dipersonalisasi, dan tiga menguraikan teknik pengumpulan datanya: bagaimana produk dibeli, dipakai, dikonsumsi, dibeli ulang, juga waktu dan lokasinya. Pernod Ricard memakai label NFC untuk memantau pola pembelian dan lokasi, lalu menampilkan bar terdekat yang menjual rum Malibu.
Yang paling luas adalah permainan. Dari 83 kasus, 59 persen atau 49 kasus memfasilitasi permainan atau judi, strategi yang dipakai sembilan dari sepuluh perusahaan. Dari 44 kasus yang mengaitkan produk dengan minat konsumen seperti olahraga, musik, dan seni, 24 juga menawarkan peluang berjudi atau bermain. Budweiser, misalnya, meluncurkan kode QR bagi penggemar untuk memenangi tiket Piala Dunia dan persediaan bir setahun.
Norma baru terbentuk, dan sejauh mana penjelasan ini berlaku
Pola keempat bekerja pada kebiasaan industri sendiri. Enam dari sembilan perusahaan berupaya menjadikan label pintar praktik yang diharapkan dan diterima, dan itu terlihat dalam 29 kasus. Seperlima kasus memfasilitasi berbagi konten label ke media sosial, dari swafoto eksklusif sampai skor permainan. Begitu menjadi praktik yang lazim dan merata, tulis para penulis, label pintar makin sulit diatur oleh pembuat kebijakan.
Arahnya, menurut naskah, menuju pemakaian massal. Kemampuan label pintar bertambah, sedangkan ukuran, kekakuan bahan, dan biayanya menurun. Pasarnya diperkirakan bernilai 17,33 miliar dolar AS pada 2029. Teknologinya akan berganti, kata para penulis, tetapi logika utamanya tetap: membiasakan konsumsi, menyajikan informasi lain yang menghibur dan mengalihkan, menanggapi konsumen saat itu juga, dan mendahului regulasi dengan membentuk norma.
Para penulis juga menandai batas temuannya. Data dihimpun dari siaran pers perusahaan lalu melebar ke majalah dagang dan agensi, dan produk tidak diperiksa langsung di toko. Mungkin ada produk berlabel pintar yang tidak pernah diumumkan. Karena hanya memakai sumber terbuka, temuan ini bisa meremehkan cakupan yang sebenarnya. Seberapa sadar konsumen atas pengumpulan data itu pun belum diketahui, dan naskah ini tidak mengusulkan solusi kebijakan tertentu.
Para penulis menyimpulkan label pintar membiasakan konsumsi, menyajikan informasi lain, menyasar konsumen secara responsif, dan membentuk norma industri. “Dengan demikian, label pintar dapat dipahami sebagai vektor penyakit digital dan penentu komersial kesehatan yang baru muncul,” tulis ketiganya. Mereka menutup dengan seruan agar kebijakan cepat berkembang, atau selamanya tertinggal satu langkah di belakang.















