- Tiga SD negeri di Cavite, Filipina, merombak kebun, kantin, dan pelatihan juru masak selama April 2024 sampai Februari 2025
- Item hijau Sekolah A naik dari 2 ke 11 per minggu, tetapi 55 persen di antaranya camilan kemasan seperti corn nuts dan wafer keju
- Sekolah B memangkas item kuning dari 30 ke 9 dan merah dari 10 ke 2; Sekolah C menurunkan merah dari 13 ke 4
- Skor kesiapan perluasan dari 21 penilai: fidelitas dan jangkauan 2,3 dari 3, infrastruktur dan keberlanjutan 1,7
Daftar Isi
- Kebun yang Sudah Ada, dan Tanaman yang Datang Pergi Mengikuti Musim
- Lampu Lalu Lintas di Meja Kantin dan Angka yang Melonjak di Sekolah A
- Sebelas Item Hijau yang Ternyata Separuhnya Corn Nuts dan Wafer Keju
- Panci, Pisau, dan Pedagang di Luar Pagar yang Tidak Ikut Aturan
- Tiga Sekolah, Satu Provinsi, dan Beberapa Angka yang Tidak Saling Bertemu
Anak-anak di Sekolah C mengira sayuran di kebun sekolah mereka hanyalah rumput liar. Petugas kantin yang menyaksikannya bercerita dalam diskusi kelompok bahwa murid-murid itu tidak tahu daun-daun tersebut bisa dimasak dan dimakan. Sebelas bulan kemudian, sayur dari kebun yang sama sudah masuk ke hidangan panas kantin, dan sebagian murid mulai membelinya. Momen itu menjadi titik yang dicatat para peneliti sebagai perubahan cara pandang murid terhadap makanan.
Cerita itu terekam dalam naskah Mai A. Hoang dan sebelas rekannya berjudul Fueling Bright Futures: a mixed-methods case study on integrating gardens, canteens, and nutrition training in Philippine public schools, yang diterima untuk terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Para penulisnya bekerja di Helen Keller Intl, International Institute of Rural Reconstruction di Cavite, dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.
Latarnya tiga sekolah dasar negeri di Provinsi Cavite, Filipina. Sekolah A berukuran kecil, Sekolah B sedang, Sekolah C besar. Ketiganya sudah punya kebun dan kantin sebelum program dimulai. Antara April 2024 dan Februari 2025, kebun diperkaya dengan tanaman lokal, menu kantin dirombak mengikuti aturan Departemen Pendidikan, juru masak dilatih, dan kepala sekolah diajak berkomitmen. Empat pekerjaan sekaligus, dalam satu tahun ajaran.
Kebun yang Sudah Ada, dan Tanaman yang Datang Pergi Mengikuti Musim
Kebun ketiga sekolah tidak berubah drastis. Skor fungsi kebun, dari maksimal 18, bergerak dari 14 ke 16 di Sekolah A, dari 15 ke 16 di Sekolah B, dan tetap 14 di Sekolah C. Semua kebun menanam sedikitnya tiga jenis sayur atau kacang-kacangan ditambah satu pohon buah, biasanya pisang atau pepaya. Kompos, pupuk kandang, dan mulsa menjaga tanah, sementara pagar menahan erosi dan hama.
Yang bergeser adalah isi kebunnya. Sekolah A kehilangan stroberi dan buah naga, tetapi menambah labu siam, daun jute, wijen, dan kacang beras, sehingga keragaman buahnya turun dari tujuh menjadi lima. Sekolah B menambah murbei, kecapi, dan mangga, lalu kecipir serta kacang tunggak. Sekolah C juga kehilangan buah naga, tetapi memperoleh pechay, labu, gambas, dan kacang lima. Tanaman yang tidak cocok diganti yang bisa dipanen sepanjang tahun.
Dari kebun-kebun itu, bayam, pisang, singkong, cabai, terung, pepaya, kacang panjang, dan tomat paling sering sampai ke dapur kantin. Pengelola kantin menyesuaikan jadwal tanam dengan rencana menu. Orang tua, petugas pertanian setempat, dan petani menyumbang bibit dan tenaga. Kegiatan berkebun juga dimasukkan ke pelajaran wajib Edukasyong Pantahanan at Pangkabuhayan, pelajaran ekonomi rumah tangga dan keterampilan hidup di sekolah dasar Filipina.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Lampu Lalu Lintas di Meja Kantin dan Angka yang Melonjak di Sekolah A
Aturan yang dipakai adalah DepEd Order Nomor 13 tahun 2017. Makanan dibagi tiga warna menurut kandungan lemak jenuh, gula, dan natrium per saji. Hijau boleh dijual setiap hari, kuning satu sampai dua kali seminggu, merah dilarang sama sekali. Sebelum program, Sekolah A hanya menjual dua item hijau per minggu. Sesudahnya, sebelas.
Sekolah B menempuh jalan lain. Item kuningnya turun dari 30 ke sembilan, item merah dari sepuluh ke dua. Sekolah C menurunkan item merah dari 13 ke empat, sementara item hijaunya tetap 12. Resep populer dirombak: daging ultra-olahan diganti protein nabati, telur dan sayur kebun ditambahkan, garam, minyak, dan gula dikurangi pada pancit, champorado, dan arroz caldo.
Tidak satu pun dari tiga sekolah mencapai kepatuhan penuh. “Tidak satu pun dari ketiga sekolah mencapai kepatuhan penuh terhadap DO13 tentang pilihan makanan dan minuman sehat, tetapi analisis kuantitatif atas menu terencana menunjukkan kemajuan yang nyata antara awal dan akhir,” tulis Mai A. Hoang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Sekolah A bahkan mencatat item merahnya bertambah satu, dari dua menjadi tiga.
Sebelas Item Hijau yang Ternyata Separuhnya Corn Nuts dan Wafer Keju
Angka sebelas itu punya sisi lain. Ketika para peneliti membongkar isi daftar hijau Sekolah A, 55 persen di antaranya ternyata camilan kemasan: corn nuts, keripik pisang, wafer keju. Semuanya lolos ambang lemak, gula, dan natrium, jadi sah disebut hijau. Camilan kemasan yang semula dijual dua kali seminggu naik menjadi empat kali. Sekolah A juga menambah hidangan panas dan telur rebus, tetapi kemasanlah yang mendongkrak angka.
Sekolah B dan C bergerak ke arah sebaliknya. Porsi camilan kemasan di daftar hijau Sekolah B turun dari 20 persen ke sembilan persen, digantikan produk segar dan sayur setiap hari. Sekolah C turun tipis dari 62 persen ke 58 persen, sebagian kemasan diganti hidangan panas. Para peneliti menulis bahwa klasifikasi warna saja sering menyembunyikan perbedaan antara makanan kemasan dan makanan segar.
Mereka tidak menyebut Sekolah A curang. “Ketergantungan pada item hijau kemasan merupakan adaptasi yang patuh kebijakan dalam kondisi serba terbatas, bukan pertentangan dengan temuan efektivitas,” begitu kalimat mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Sekolah kecil itu menghadapi dapur sempit, waktu persiapan pendek, dan panen kebun yang tidak teratur. Kemasan adalah jalan tercepat untuk patuh.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Panci, Pisau, dan Pedagang di Luar Pagar yang Tidak Ikut Aturan
Keluhan yang muncul di ketiga sekolah hampir seragam. Pengelola kantin Sekolah C meminta panci, wajan, dan pisau, karena alat masak yang ada tidak cukup. Harga bahan naik, biaya operasional ikut naik. Seorang guru di sekolah yang sama mengaku semula tidak tahu cara menghitung dan menulis label hijau, lalu belajar tentang label, keamanan pangan, dan perencanaan menu dari pelatihan.
Di luar pagar, pedagang menjual makanan yang tidak sesuai DO13. Para peneliti menyebutnya kebocoran pedagang, dan menilai hal itu menggerus dampak perombakan menu di dalam sekolah. Staf kantin Sekolah B mengamati murid yang dulu membeli di luar berangsur pindah ke kantin, sesudah penasaran dan mencoba jus sayur. Staf Sekolah A melaporkan pendapatan kantin berlipat dua karena masakan menjadi lebih enak.
Kepala sekolah menjadi kunci yang berulang disebut. Staf kantin Sekolah A mengatakan semuanya masih bergantung pada kepala sekolah. Staf proyek di Sekolah C mempertanyakan apa yang bisa bertahan jika pengelola kantin berganti dan dukungan tidak lagi sama. Pergantian pimpinan dan ketidakpastian anggaran disebut sebagai ancaman terbesar bagi kelanjutan program.
Dua lokakarya di luar sekolah mengumpulkan sekitar 50 orang dari Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, lembaga riset pangan DOST-FNRI, UNICEF, WFP, FAO, dan asosiasi gizi. Dua puluh satu wakil menyerahkan skor kesiapan perluasan pada skala nol sampai tiga. Fidelitas, jangkauan, dan tenaga kerja masing-masing mendapat 2,3. Infrastruktur dan keberlanjutan hanya 1,7.
Kesimpulan lokakarya: program menjanjikan dan layak diperluas bertahap, dengan syarat celah infrastruktur dan keberlanjutan ditangani lebih dulu. Seorang pejabat regional Departemen Pendidikan mengatakan kebun dan kantin sekolah tidak didanai dengan baik, dan sesi pelatihan daring tidak seefektif tatap muka. Wakil DOST-FNRI menilai langkah kecil seperti kebun sekolah tetap bisa berdampak.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Tiga Sekolah, Satu Provinsi, dan Beberapa Angka yang Tidak Saling Bertemu
Para peneliti sendiri membatasi klaimnya. Studi ini hanya mencakup tiga sekolah di satu provinsi dengan masa intervensi pendek, sehingga hasilnya sulit digeneralisasi dan dampak jangka panjangnya belum bisa dinilai. Data dari diskusi kelompok berupa laporan diri yang berpotensi bias, dan perbedaan sumber daya serta keterlibatan antarsekolah ikut memengaruhi hasil. Skor kebun dan audit menu hanya dihitung secara deskriptif.
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Kepala naskah menulis dua nama penulis sebagai Susan Rio dan Tom Mourik, sedangkan halaman judul menulis Susan del Rio dan Tom van Mourik. Subbab 2.2 dan 2.3 masing-masing muncul dua kali dengan isi berbeda. Abstrak menyebut item merah menurun tajam, padahal Tabel 2 mencatat item merah Sekolah A naik dari dua ke tiga.
Bagian triangulasi menyebut data dari wawancara informan kunci, tetapi bagian metode hanya menjelaskan diskusi kelompok dan lokakarya. Naskah juga menyebut kenaikan penjualan item hijau, sementara yang diaudit adalah menu terencana, bukan penjualan. Alat ISAT punya sepuluh domain, tetapi skor yang dilaporkan hanya lima. Camilan Sekolah A ditulis corn nuts di bagian hasil dan corn peanuts di bagian pembahasan.
Kembali ke Sekolah C. Di akhir program, kantinnya menjual 12 item hijau, sama seperti sebelumnya, dengan item merah yang tinggal empat. Lebih dari separuh item hijaunya masih camilan kemasan. Kebunnya tetap berskor 14, kehilangan buah naga, mendapat pechay dan gambas. Anak-anak yang dulu mengira sayur itu rumput liar kini melihatnya dimasak di kantin. Dapurnya masih kekurangan panci.















