Anemia Anak Sekolah Tanzania Turun, Masih Empat dari Sepuluh

A A

Pintu lengkung bangunan kelas lama di SD Mwisenge, Musoma, Region Mara, Tanzania, tanpa murid [Foto: Mnazini/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Anemia anak sekolah Tanzania tercatat 48,04 persen pada 2019 dan 40,94 persen pada 2023.
  • Pada usia 15 sampai 16 tahun, peluang anemia anak laki-laki hampir tiga kali peluang anak perempuan.
  • Hasil tes malaria yang positif berkaitan dengan rasio peluang anemia 1,88.
  • Di zona Lake, anemia tercatat 60,57 persen pada 2019 dan 50,16 persen pada 2023.
  • Peluang anemia anak di perdesaan 37 persen lebih tinggi daripada anak di perkotaan.
Daftar Isi
  1. Tiga survei, satu arah
  2. Makin besar, makin rentan
  3. Remaja laki-laki paling berat
  4. Malaria ikut berperan
  5. Danau dan Barat tertinggi
  6. Desa di atas kota
  7. Tubuh pendek, darah kurang
  8. Batas dan saran penulis

Anemia pada anak sekolah Tanzania turun dalam empat tahun. Pada 2019, sebanyak 48,04 persen anak yang diperiksa kekurangan darah. Pada 2023, angkanya 40,94 persen, kira-kira empat dari sepuluh anak.

Angka itu dilaporkan Frank Chacky, Susan F. Rumisha, Bruno P. Mmbando, dan rekan-rekan mereka dalam artikel Trends in prevalence and predictors of anemia among school-aged children in Tanzania: analysis of 2019–2023 cross-sectional surveys using a multilevel logistic regression model. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Chacky bekerja di Ministry of Health dan National Malaria Control Programme di Dodoma, Tanzania.

Bahannya besar. Sebanyak 47.366 anak berusia 5 sampai 16 tahun diukur kadar hemoglobinnya. Mereka murid sekolah dasar negeri di 810 sekolah, yang tersebar di 184 dewan daerah dan 26 wilayah di daratan Tanzania.

Tiga survei, satu arah

Pengukuran dilakukan lewat Tanzania School Malaria Parasitological Survey pada 2019, 2021, dan 2023. Setetes darah diambil dari ujung jari tiap anak. Pada 2019 ada 22.104 anak, pada 2021 ada 18.398 anak, dan pada 2023 ada 6.864 anak.

Hasilnya bergerak ke satu arah, dari 48,04 persen pada 2019 ke 44,04 persen pada 2021, lalu 40,94 persen pada 2023. Dari seluruh anak di tiga survei itu, 45,5 persen mengalami anemia. Penurunan itu bertahan setelah faktor lain ikut diperhitungkan, dengan rasio peluang 0,91 pada 2021 dan 0,75 pada 2023 dibanding 2019.

Anemia anak sekolah Tanzania, sekilasAnemia anak sekolah Tanzania, sekilasAnemia anak sekolah Tanzania, sekilasSchool Malaria Parasitological Survey 2019, 2021, 202347.366anak diperiksausia 5-16 tahun45,5%anemiatiga survei13,05%positifmalaria2,96rasio peluanglaki-laki 15-16Jalan risetnya2019: 22.104 anak2021: 18.398 anak2023: 6.864 anak
Sumber: Frank Chacky, Susan F. Rumisha, Bruno P. Mmbando, dkk., Trends in prevalence and predictors of anemia among school-aged children in Tanzania: analysis of 2019–2023 cross-sectional surveys using a multilevel logistic regression model, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka terakhir tetap tinggi. WHO menyebut anemia sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berat bila prevalensinya 40 persen atau lebih. Survei 2023 masih berada di atas garis itu.

Naskah itu mengingatkan akibatnya bagi anak. Anemia pada anak sekolah dilaporkan mengganggu perkembangan psikomotor dan menurunkan prestasi belajar. Risiko infeksi juga naik, dan produktivitas di usia dewasa bisa berkurang.

Makin besar, makin rentan

Usia memberi pola yang jelas. Pada anak 5 sampai 11 tahun, anemia tercatat 43,15 persen pada 2019 dan 37,64 persen pada 2023. Pada kelompok 12 sampai 14 tahun, angkanya 52,69 persen dan 46,93 persen.

Kelompok tertua paling berat. Pada anak 15 sampai 16 tahun, anemia tercatat 68,83 persen pada 2019, lalu 68,22 persen pada 2021, dan 60,29 persen pada 2023. Jumlah mereka sedikit, hanya 4,21 persen dari anak yang diperiksa, sedangkan 65,42 persen berusia 5 sampai 11 tahun.

Garis per usia memperlihatkan hal yang sama. Pada anak perempuan, anemia naik dari 40,41 persen di usia 5 tahun menjadi 60,43 persen di usia 16 tahun. Angka terendah ada pada anak perempuan usia 10 sampai 11 tahun.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Remaja laki-laki paling berat

Anak laki-laki mencatat angka tertinggi. Di usia 5 tahun, 41,18 persen dari mereka anemia. Angka itu memuncak 77,38 persen di usia 15 tahun, lalu 71,37 persen di usia 16 tahun.

Sampai usia 14 tahun, anak laki-laki dan perempuan hampir setara. Rasio peluang anak laki-laki terhadap anak perempuan tercatat 1,04 pada kelompok 5 sampai 11 tahun dan 0,96 pada kelompok 12 sampai 14 tahun. Pada usia 15 sampai 16 tahun, rasio itu 2,96, sehingga peluang anemia anak laki-laki hampir tiga kali peluang anak perempuan.

Batas anemia yang dipakai mengikuti ambang WHO 2024. Anak 5 sampai 11 tahun disebut anemia bila hemoglobinnya di bawah 11,5 gram per desiliter. Untuk anak perempuan 15 sampai 16 tahun batasnya 12,0, dan untuk anak laki-laki seusia itu 13,0.

Para penulis mencatat temuan ini berbeda dari sejumlah studi lain. Studi-studi itu menemukan risiko lebih tinggi pada anak perempuan. Mereka menyebut pubertas menaikkan kebutuhan zat besi, dan asupan zat besi yang kurang pada masa tumbuh cepat mungkin ikut berperan.

Malaria ikut berperan

Malaria berjalan seiring dengan anemia. Sebanyak 13,05 persen anak positif malaria saat diperiksa dengan tes cepat. Anak yang positif diobati dengan artemether-lumefantrine, sesuai pedoman nasional Tanzania.

Di antara anak yang positif malaria, anemia tercatat 70,21 persen pada 2019. Di antara yang negatif, angkanya 44,14 persen. Pada 2023, kedua angka itu menjadi 58,43 persen dan 38,67 persen.

Hitungan akhir menguatkan kaitan itu. Hasil tes malaria yang positif berkaitan dengan rasio peluang anemia 1,88. Anak di wilayah berisiko malaria sedang mencatat rasio 1,49 dibanding anak di wilayah berisiko sangat rendah.

Sumbangan malaria terhadap seluruh anemia ternyata kecil. Para penulis menaksirnya 8,1 persen pada 2019, lalu 6,0 persen pada 2021, lalu 5,5 persen pada 2023. Artinya, tulis mereka, lebih dari 90 persen kasus anemia berasal dari sebab selain malaria.

Dari situ mereka menarik satu kesimpulan. Pengendalian malaria saja tidak cukup untuk mengatasi anemia pada anak usia sekolah. Penurunan anemia, menurut mereka, kemungkinan mencerminkan gabungan perbaikan gizi, pemberian obat cacing, program kesehatan sekolah, dan perubahan sosial ekonomi.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Danau dan Barat tertinggi

Peta anemia Tanzania tidak rata. Di zona Lake, anemia tercatat 60,57 persen pada 2019 dan 50,16 persen pada 2023. Di zona Western, angkanya 59,78 persen dan 48,32 persen.

Di zona Southern, anemia tercatat 53,46 persen pada 2019 dan 38,01 persen pada 2023. Ketiga zona itu, tulis para penulis, termasuk yang beban malarianya tertinggi di Tanzania. Ketiganya juga menunjukkan penurunan yang paling konsisten.

Anemia anak sekolah per zonaLake 60,57% ke 50,16%; Western 59,78% ke 48,32%; Southern 53,46% ke 38,01%; SW Highlands 43,13% ke 41,94%; Eastern 39,35% ke 35,33%; Northern 38,71% ke 35,73%; Central 37,97% ke 32,41%; Southern Highlands 37,00% ke 31,02%.Anemia anak sekolah per zonaPersen anak yang anemia, survei 2019 dan 20232019202320%30%40%50%60%70%Lake50,16%60,57%Western48,32%59,78%Southern38,01%53,46%SW Highlands41,94%43,13%Eastern35,33%39,35%Northern35,73%38,71%Central32,41%37,97%Southern Highlands31,02%37,00%SW Highlands = Southwest Highlands
Sumber: Frank Chacky, Susan F. Rumisha, Bruno P. Mmbando, dkk., Trends in prevalence and predictors of anemia among school-aged children in Tanzania: analysis of 2019–2023 cross-sectional surveys using a multilevel logistic regression model, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Zona Central menjadi pembanding dalam hitungan akhir. Terhadap zona itu, rasio peluang anemia di zona Western 1,78, di zona Lake 1,77, di zona Southern 1,65, dan di zona Eastern 1,56. Di dalam satu wilayah pun angka antardewan daerah sangat beragam, dan keragaman itu lebih tajam lagi bila dilihat sekolah demi sekolah.

Ketinggian tempat ikut membedakan. Di sekolah yang terletak di atas 1.750 meter, anemia tercatat 30,59 persen pada 2019 dan 30,11 persen pada 2023. Di sekolah pada ketinggian 750 sampai 1.250 meter, angkanya 55,24 persen dan 46,01 persen.

Desa di atas kota

Lebih dari separuh anak yang diperiksa, 58,78 persen, bersekolah di perdesaan. Di sana anemia tercatat 53,83 persen pada 2019 dan 42,61 persen pada 2023. Di perkotaan, angkanya 37,92 persen dan 35,02 persen.

Selisih itu bertahan dalam hitungan akhir. Peluang anemia anak di perdesaan 37 persen lebih tinggi daripada anak di perkotaan, dengan rasio peluang 1,37. Anak di wilayah semi-perdesaan tidak berbeda bermakna dari anak kota.

Para penulis merujuk pustaka untuk menjelaskannya. Faktor yang disebut antara lain akses terbatas ke makanan kaya zat besi, pendapatan rumah tangga yang lebih rendah, dan hubungan ke pasar yang buruk. Layanan kesehatan di perdesaan juga kerap terhambat oleh sedikitnya fasilitas dan tenaga.

Satu faktor tidak terbukti. Ukuran rumah tangga tidak menunjukkan kaitan dengan anemia dalam hitungan akhir. Rasio peluang untuk rumah tangga berisi lima orang atau lebih tercatat 0,97.

Tubuh pendek, darah kurang

Tinggi dan berat badan diukur pada 2019 dan 2023. Dari anak yang diukur, 23,71 persen tergolong stunting, yakni pendek untuk usianya. Pada 2021, kedua ukuran itu tidak dikumpulkan.

Anak stunting lebih banyak yang anemia. Pada 2019, angkanya 53,63 persen, sedangkan pada anak yang tidak stunting 46,45 persen. Pada 2023, angkanya 43,37 persen dan 39,45 persen.

Analisis tambahan tanpa survei 2021 memberi rasio peluang 1,13 untuk anak stunting. Para penulis membacanya sebagai isyarat bahwa kekurangan gizi jangka panjang mungkin memengaruhi risiko anemia. Kaitan anemia dengan indeks massa tubuh hilang setelah faktor lain diperhitungkan.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Batas dan saran penulis

“Anemia pada anak usia sekolah tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berat di Tanzania, menurut klasifikasi WHO,” tulis Frank Chacky, peneliti Ministry of Health Tanzania, bersama rekan-rekannya. Naskah mereka aslinya berbahasa Inggris.

Mereka mencatat sejumlah keterbatasan. Survei berbasis sekolah tidak menjangkau anak yang tidak bersekolah, sehingga angka anemia mungkin terlalu rendah. Data juga dikumpulkan pada musim kering, saat penularan malaria lebih rendah di banyak wilayah.

Ada pula yang tidak terukur. Data asupan makanan dan zat gizi mikro tidak tersedia secara konsisten di tiap putaran survei. Status pubertas anak juga tidak dicatat, padahal menurut para penulis hal itu bisa ikut menjelaskan perbedaan menurut usia dan jenis kelamin.

Saran mereka menyasar sekolah. Pemeriksaan anemia rutin di sekolah diminta diperkuat. Penanganan diminta disesuaikan dengan faktor risiko tiap wilayah, dewan daerah, dan sekolah, terutama bagi anak laki-laki yang lebih tua.

Upaya itu diminta dipadukan dengan program malaria dan gizi yang sudah berjalan. Riset lanjutan disarankan mencari sebab perbedaan antarwilayah dan menilai dampak jangka panjang anemia terhadap capaian pendidikan. Anemia anak usia sekolah, tulis para penulis, membutuhkan penanganan terpadu yang mencakup pengendalian malaria, perbaikan gizi, dan pencegahan cacingan.

Bagikan

Baca Juga

Lansia India Berpenyakit Kronis Lebih Sering Terpukul Bencana
Delapan dari Sepuluh Dokter di Zagazig Hindari Pasien Berisiko
Cemas Mahasiswa Lebanon saat Perang Terkait Bom, Bukan Pola Makan
Hampir Separuh Atlet Muda Damaskus Pernah Cedera Gigi dan Wajah
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal
Survei: Sepertiga Pekerja Tiongkok di Afrika Kena Penyakit Tropis