- Sebanyak 82,9 persen dokter mengaku pernah merujuk pasien tanpa perlu.
- Takut gugatan medis disebut 234 dokter atau 68,8 persen.
- Sebanyak 80,0 persen, delapan dari sepuluh, pernah menghindari pasien berisiko tinggi.
- Dokter yang mengalami kekerasan di tempat kerja berpeluang 3,28 kali lebih besar berpraktik defensif.
- Sebanyak 89 persen dokter bedah punya rekan yang pernah terlibat gugatan.
Daftar Isi
- November 2024: kuesioner beredar di dua belas departemen
- Sepanjang karier: enam kebiasaan yang diakui
- Dua belas bulan terakhir: tiga dari empat dokter mengalami kekerasan
- Di ruang bedah: lebih sering menghindar
- Sesudah gugatan: keinginan bekerja di luar negeri
- Undang-undang 2024 dan batas catatan ini
Pada 1 November 2024 sebuah kuesioner daring mulai beredar di Zagazig University Hospitals, Mesir. Isinya menanyakan hal yang jarang diakui dokter secara terbuka. Pernahkah mereka meminta pemeriksaan yang sebenarnya tidak perlu? Pernahkah mereka menghindari pasien yang berisiko tinggi? Pengisian ditutup pada 30 April 2025.
Jawaban para dokter itu dilaporkan Aya M. Abdelhamid, Amal E Gohary, Aya M. Fathi, Reham Zakaria, Sara Mohamed Salem, Al Shymaa Mohamed Abd El Hadi, Mohamed Gomaa Abdeen, dan Amany I. A. Soliman dalam artikel Defensive medicine practices and workplace violence among physicians in tertiary healthcare settings in Zagazig, Egypt: a cross-sectional study. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Kedelapan penulis berasal dari Fakultas Kedokteran Zagazig University.
Yang mereka telusuri disebut kedokteran defensif. Istilah itu menunjuk tindakan klinis yang diambil terutama untuk menghindari tanggung jawab hukum, bukan demi kepentingan klinis pasien. Dari 340 dokter yang menjawab, 323 orang atau 95 persen mengaku pernah melakukan sedikitnya satu tindakan semacam itu sepanjang kariernya.
November 2024: kuesioner beredar di dua belas departemen
Rumah sakit universitas itu mempekerjakan 3.347 dokter. Kuesioner disebar di dua belas departemen, enam bedah dan enam nonbedah. Kelompok bedah mencakup bedah umum, urologi, ortopedi, THT, anestesi, serta kebidanan dan kandungan. Kelompok nonbedah terdiri atas penyakit dalam, jantung, kulit, kedokteran keluarga, anak, dan jiwa.
Sebanyak 163 penjawab adalah dokter bedah dan 177 dokter nonbedah. Usia tengah mereka 31 tahun. Laki-laki sedikit lebih banyak, yakni 56,8 persen. Masa kerja tengahnya enam tahun. Jam kerja mereka panjang: separuh lebih, tepatnya 50,9 persen, bekerja sepuluh jam atau lebih dalam sehari.
Naskah membagi kedokteran defensif menjadi dua bentuk. Bentuk positif berarti berlebihan: meminta tes, memberi obat, merujuk, atau melakukan tindakan tanpa alasan medis yang jelas. Bentuk negatif berarti menghindar: menolak menangani pasien atau tindakan berisiko tinggi yang sebenarnya layak dikerjakan. Enam pertanyaan dalam kuesioner mengikuti pembagian itu.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Sepanjang karier: enam kebiasaan yang diakui
Pertanyaan tentang enam kebiasaan itu berlaku untuk seluruh masa karier. Jawaban terbanyak jatuh pada rujukan. Sebanyak 82,9 persen dokter mengaku pernah merujuk pasien tanpa perlu. Urutan berikutnya pemeriksaan tanpa perlu, yang diakui 79,7 persen dokter, kira-kira empat dari lima orang.
Dua kebiasaan berlebihan lainnya lebih jarang. Meresepkan obat yang tidak perlu diakui 52,6 persen dokter. Melakukan tindakan atau intervensi tanpa perlu diakui 51,8 persen, angka terendah di antara keempat bentuk positif. Keduanya tetap berarti lebih dari separuh penjawab.
Bentuk menghindar justru hampir menyamai angka tertinggi. Sebanyak 82,1 persen dokter mengaku pernah menghindari tindakan berisiko tinggi. Sebanyak 80,0 persen, delapan dari sepuluh, pernah menghindari pasien berisiko tinggi. Para penulis mencatat angka menghindar ini lebih tinggi daripada yang dilaporkan beberapa studi Mesir dan kawasan sebelumnya.
Kuesioner lalu menanyakan alasannya, dan penjawab boleh memilih lebih dari satu. Takut gugatan medis disebut 234 dokter atau 68,8 persen. Takut sanksi disiplin disebut 169 dokter atau 49,7 persen. Sebanyak 148 dokter, 43,6 persen, menunjuk pengalaman rekan yang pernah digugat.
Tiga alasan lain menyusul di bawahnya. Takut pemberitaan buruk dan rusaknya citra dipilih 126 dokter atau 37,1 persen. Takut tuntutan ganti rugi dipilih 118 dokter atau 34,7 persen. Pengalaman pribadi digugat paling jarang disebut, yakni oleh 87 dokter atau 25,6 persen.
Kebiasaan itu punya ongkos, dan naskah merincinya. Pemeriksaan dan rujukan yang tidak perlu menambah biaya layanan, memperpanjang perjalanan pasien, dan membawa risiko yang bisa dihindari, misalnya paparan radiasi dan komplikasi tindakan. Menghindari tindakan berisiko yang sebenarnya tepat dapat menunda diagnosis atau penanganan.
Para penulis tidak membaca angka itu sebagai kelalaian. “Perilaku semacam itu tidak semestinya ditafsirkan sebagai kelalaian atau kurangnya profesionalisme; perilaku itu mencerminkan upaya dokter memperkecil risiko medikolegal di dalam sistem yang dirasakan menghukum, tidak pasti, dan kurang melindungi,” tulis Aya M. Abdelhamid, dokter Departemen Kedokteran Keluarga Zagazig University, bersama tujuh rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Dua belas bulan terakhir: tiga dari empat dokter mengalami kekerasan
Satu pertanyaan memakai rentang waktu yang lebih pendek. Dokter ditanya apakah dalam dua belas bulan terakhir mereka mengalami kekerasan fisik atau verbal di tempat kerja. Sebanyak 261 dari 340 dokter menjawab ya. Itu 76,8 persen, kira-kira tiga dari empat orang.
Jawaban itu kemudian disandingkan dengan kebiasaan defensif. Di antara 323 dokter yang pernah berpraktik defensif, 254 orang atau 78,6 persen mengalami kekerasan. Di antara 17 dokter yang tidak pernah, hanya tujuh orang atau 41,2 persen yang mengalaminya. Naskah menyebut hubungan itu bermakna secara statistik.
Kelompok kecil berisi 17 dokter itu punya ciri yang seragam. Lima belas di antaranya berusia 31 tahun atau lebih. Lima belas sudah bekerja enam tahun atau lebih. Lima belas bekerja kurang dari sepuluh jam sehari. Menurut naskah, dokter yang lebih tua dan lebih berpengalaman lebih jarang berpraktik defensif.
Ketika semua faktor itu diperhitungkan bersama, hanya satu yang bertahan. Dokter yang mengalami kekerasan di tempat kerja berpeluang 3,28 kali lebih besar berpraktik defensif. Usia, jenis kelamin, masa kerja, dan jam kerja tidak lagi bermakna. Para penulis sendiri mengingatkan rentang ketidakpastian angka itu lebar, dari 1,01 sampai 10,66, sehingga ketepatannya terbatas.
Naskah menempatkan angka Zagazig di samping angka lain yang dirujuknya. Di rumah sakit umum Arab Saudi, 67,4 persen responden sebuah studi menjadi korban kekerasan dalam dua belas bulan. Tinjauan sistematis memperkirakan 20 persen hingga lebih dari 60 persen tenaga kesehatan di dunia mengalami kekerasan tiap tahun.
Di ruang bedah: lebih sering menghindar
Jawaban kemudian dipilah menurut kelompok dokter. Hasilnya berbeda pada empat dari enam kebiasaan. Dokter bedah lebih cenderung melakukan tindakan tanpa perlu, menghindari pasien berisiko tinggi, dan menghindari tindakan berisiko tinggi. Dokter nonbedah lebih cenderung meminta pemeriksaan tanpa perlu.
Selisihnya tampak pada jawaban tidak pernah. Hanya 13,5 persen dokter bedah yang tidak pernah menghindari pasien berisiko tinggi, sedangkan di kelompok nonbedah 26,0 persen. Untuk menghindari tindakan berisiko tinggi, angkanya 14,1 persen berbanding 21,5 persen. Untuk tindakan tanpa perlu, 40,5 persen berbanding 55,4 persen.
Pada pemeriksaan tanpa perlu, arahnya berbalik. Sebanyak 23,9 persen dokter bedah tidak pernah melakukannya, sedangkan di kelompok nonbedah hanya 14,7 persen. Untuk rujukan dan resep obat yang tidak perlu, kedua kelompok tidak berbeda bermakna.
Para penulis mengaitkan pola itu dengan sifat pekerjaan masing-masing. Hasil tindakan bedah langsung terlihat, sehingga risiko medikolegalnya lebih tinggi dan dokter bedah memilih menjauhi kasus berisiko. Dokter nonbedah, tulis mereka, bisa beralih ke pemeriksaan berlebih agar tidak melewatkan diagnosis.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Sesudah gugatan: keinginan bekerja di luar negeri
Bagian terakhir kuesioner menyentuh gugatan itu sendiri. Pengalaman pribadi ternyata sama di kedua kelompok. Sebanyak 15,3 persen dokter bedah pernah terlibat gugatan medis, dan 15,3 persen dokter nonbedah juga. Perbedaan muncul ketika pertanyaannya bergeser ke rekan kerja.
Sebanyak 89 persen dokter bedah punya rekan yang pernah terlibat gugatan. Di kelompok nonbedah angkanya 68,4 persen. Kesediaan menerima pasien yang pernah berperkara pun berbeda: 31,1 persen dokter nonbedah bersedia, sedangkan dokter bedah hanya 17,8 persen.
Gugatan juga memengaruhi rencana karier. Sebanyak 59,5 persen dokter bedah menyatakan gugatan medis menambah keinginan mereka bekerja di luar negeri. Di kelompok nonbedah, 44,6 persen menyatakan hal yang sama. Selisih itu dicatat bermakna secara statistik.
Naskah memberi latar atas kecemasan itu. Komite Etik Medis pada Egyptian Medical Syndicate menerima ratusan pengaduan malapraktik setiap tahun. Tanpa perlindungan hukum kelembagaan yang menyeluruh, tulis para penulis, dokter bisa menghadapi gugatan seorang diri, dengan akibat seperti pembekuan izin praktik atau pertanggungjawaban pidana.
Undang-undang 2024 dan batas catatan ini
Angka 95 persen itu berada di batas atas rentang dunia yang dikutip naskah, yakni sekitar 60 sampai 98 persen. Para penulis sendiri memberi peringatan. Seorang dokter sudah terhitung defensif bila pernah sekali saja melakukan salah satu dari enam kebiasaan itu sepanjang kariernya. Definisi selonggar itu, tulis mereka, dapat melebihkan angka.
Batas lain mereka akui satu per satu. “Rancangan potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat,” tulis mereka. Hubungan antara kekerasan dan praktik defensif harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebab. Arah sebaliknya dan faktor lain yang tidak diukur tidak bisa disingkirkan.
Rentang waktunya pun tidak sama. Kebiasaan defensif ditanyakan untuk seluruh karier, sedangkan kekerasan hanya untuk dua belas bulan terakhir. Semua jawaban adalah pengakuan sendiri dan berasal dari satu rumah sakit. Dokter yang pernah mengalami kekerasan atau mencemaskan gugatan mungkin lebih terdorong ikut mengisi. Jenis dan berat kekerasannya tidak diukur.
Sebagian besar bukti sebelumnya, catat naskah, lahir sebelum Mesir memperkenalkan Undang-Undang Tanggung Jawab Medis. Para penulis menyebut undang-undang 2024 itu semestinya tidak memidanakan kesalahan medis dan membentuk komite pemutus khusus. Untuk rumah sakit, mereka menyarankan kebijakan tanpa toleransi terhadap kekerasan dan pelatihan meredakan ketegangan.
Catatan ini berhenti pada 30 April 2025, hari terakhir pengisian kuesioner. Para penulis menyebutnya data dasar dari masa peralihan, untuk menilai kelak pengaruh perubahan undang-undang terhadap perilaku dokter. Pada titik itu, 323 dari 340 dokter di Zagazig mengaku pernah berpraktik defensif.















