- Luka tertusuk jarum dilaporkan 910 kali di satu rumah sakit India sepanjang 2010 sampai 2023.
- Perawat menanggung bagian terbesar, yakni 395 kejadian atau 43,4 persen dari seluruh laporan.
- Jumlah laporan tahunan menyusut rata-rata sekitar 3,6 persen per tahun.
- Pemakaian lanset berpengaman berkaitan dengan penurunan luka akibat lanset sebesar 88,9 persen.
- Tidak satu pun serokonversi tercatat selama masa tindak lanjut.
Daftar Isi
- Needle stick injury, luka tertusuk jarum saat bekerja
- Surveilans, mencatat dan meninjau terus-menerus
- Safety-engineered device, alat yang dirancang berpengaman
- Serokonversi, tertular sesudah terpapar
- Quality improvement, perbaikan mutu dari akar masalah
- Edukasi, pelatihan yang perlu tetapi punya batas
Dalam naskah kedokteran, needle stick injury terdengar rumit, padahal artinya sederhana: kulit seorang petugas rumah sakit tertusuk jarum atau benda tajam lain saat bekerja. Di satu rumah sakit pendidikan berkapasitas 400 tempat tidur di India, kejadian semacam itu dilaporkan 910 kali sepanjang Januari 2010 sampai Desember 2023.
Catatan itu disusun Rachna Brahma, Juliah Chelliah, Shaoli Basu, Anisha Jinu, Aparna Naik, Purva Mathur, Anjali Shetty, dan Camilla Rodrigues dalam artikel Reducing Needle Stick Injury in an Indian Tertiary Care Hospital over a Decade: Lessons Learned Using a Quality Improvement Approach. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Enam dari delapan penulisnya bekerja di P.D. Hinduja National Hospital and Medical Research Centre, Mumbai.
Yang dihitung bukan hanya tusukan jarum bekas pakai. Semua luka tembus kulit akibat jarum dan alat tajam lain masuk hitungan, baik yang alatnya sudah tercemar maupun yang belum. Mereka yang terluka adalah dokter, perawat, teknisi, dan petugas kebersihan.
Mengapa luka sekecil itu dicatat begitu teliti, naskah menjawabnya di bagian awal. Tusukan jarum membuka jalan bagi penularan kuman yang dibawa darah, antara lain virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan HIV. Di luar risiko infeksi, para penulis menyebut tekanan batin, biaya kesehatan yang membengkak, pekerjaan yang terganggu, dan pemantauan panjang sesudah kejadian.
Needle stick injury, luka tertusuk jarum saat bekerja
Dari 910 laporan itu, perawat menanggung bagian terbesar. Jumlahnya 395 kejadian atau 43,4 persen. Dokter menyusul dengan 239 kejadian atau 26,3 persen. Petugas kebersihan mencatat 159 kejadian atau 17,5 persen, sedangkan teknisi 117 kejadian atau 12,9 persen.
Perbedaan antarprofesi itu, menurut para penulis, bermakna secara statistik. Mereka menautkannya dengan pekerjaan perawat sehari-hari, yang disebut pula dalam penelitian lain di India dan negara lain. Perawat memberikan obat, menusuk pembuluh darah, memasang terapi infus, mengambil spesimen, lalu membuang benda tajam yang selesai dipakai.
Tiga keadaan paling sering mengantar pada luka. Pertama, jarum dan pisau bedah di tengah tindakan operasi. Kedua, kegiatan membuang benda tajam. Ketiga, pengambilan darah. Luka saat pembuangan, tulis para penulis, mengambil porsi yang besar dari seluruh laporan dan menunjukkan perlunya kepatuhan pada cara membuang yang aman.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Surveilans, mencatat dan meninjau terus-menerus
Kata surveilans dalam naskah ini berarti pencatatan kejadian yang ditinjau berkala. Aturannya begini: petugas yang tertusuk wajib segera melapor ke unit gawat darurat untuk diperiksa. Pasien sumbernya ikut dinilai, pemeriksaan laboratorium dilakukan, dan perawat pencegahan infeksi diberi tahu pada saat yang sama.
Laporan yang terkumpul ditinjau tiap bulan oleh tim pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit. Luka yang berulang, risiko pada tindakan tertentu, dan pola baru yang muncul memicu perbaikan. Bentuknya edukasi, perubahan alur kerja, audit, sampai penilaian alat pengaman.
Dari tumpukan laporan itulah angka tahunan muncul. Tahun 2010 mencatat 71 laporan, lalu 70 dan 64 pada dua tahun berikutnya. Angka tertinggi jatuh pada 2014 dengan 98 laporan, sesudah 95 laporan pada 2013. Angka terendah tercatat pada 2020, yakni 40 laporan. Pada 2023, tahun terakhir pengamatan, jumlahnya 55.
Naik turun itu dirangkum para penulis dalam satu ukuran. Jumlah laporan tahunan menyusut rata-rata sekitar 3,6 persen per tahun, dan penurunan itu bermakna secara statistik. Hitungan itu memakai regresi quasi-Poisson atas jumlah laporan tahunan. Pada 2013 dan 2014, laporan lebih banyak daripada pada 2010.
Safety-engineered device, alat yang dirancang berpengaman
Istilah safety-engineered device merujuk pada alat medis tajam yang sejak dirancang sudah diberi pengaman. Dua alat semacam itu diperkenalkan rumah sakit ini pada 1999 dan 2006, sedangkan catatan yang dianalisis dibatasi pada Januari 2010 sampai Desember 2023.
Alat pertama adalah kanula intravena berpengaman, selang kecil berjarum untuk tindakan akses pembuluh darah, yang diperkenalkan pada 1999 menggantikan kanula biasa. Sesudah alat itu dipakai, rata-rata luka yang terkait dengannya turun 54,3 persen. Penurunan itu bermakna secara statistik.
Alat kedua adalah lanset berpengaman, penusuk kecil untuk memeriksa gula darah kapiler, yang dipakai bertahap sejak 2006. Pemakaiannya berkaitan dengan penurunan luka akibat lanset sebesar 88,9 persen. Sebelum kedua alat itu dipakai, petugas lebih dulu dilatih cara menggunakan dan membuangnya.
Langkah ketiga tidak berupa alat tajam, melainkan kantong sampah. Sejak 2013, kantong limbah medis diberi label lokasi supaya ruangan yang keliru membuang benda tajam bisa dikenali dan dibenahi. Bersama pemilahan benda tajam yang diperketat, langkah itu diikuti penurunan luka saat pembuangan sebesar 71,8 persen.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Serokonversi, tertular sesudah terpapar
Dari 910 kejadian, 759 atau 83,4 persen berasal dari pasien yang diketahui identitasnya. Sisanya, 151 kejadian atau 16,6 persen, tidak diketahui sumbernya.
Di antara kejadian yang sumbernya diketahui, 86 melibatkan pasien dengan infeksi virus yang ditularkan lewat darah. Sebanyak 32 pasien positif antigen permukaan hepatitis B, 27 pasien terinfeksi virus hepatitis C, dan 27 pasien terinfeksi HIV. Semua petugas yang terpapar menjalani pemeriksaan laboratorium awal dan ditangani menurut protokol pascapajanan rumah sakit.
Hasilnya ditulis dengan satu istilah, serokonversi, yang dalam naskah ini dipakai untuk penularan kepada petugas sesudah terpapar. Tidak satu pun serokonversi tercatat selama masa tindak lanjut. Para penulis menyebut hal itu mungkin mencerminkan pelaporan yang cepat, penilaian pasien sumber yang segera, kepatuhan pada protokol, dan tindak lanjut yang semestinya.
Quality improvement, perbaikan mutu dari akar masalah
Pada 2023, catatan menunjukkan satu masalah yang terus berulang pada perawat, yaitu tertusuk ketika membuang benda tajam. Rumah sakit lalu menjalankan prakarsa quality improvement atau perbaikan mutu, bekerja sama dengan AIIMS Trauma Centre di New Delhi dan Centre for Disease Control Amerika Serikat. Sebanyak 34 perawat yang pernah tertusuk didata, dan 15 di antaranya diwawancarai mendalam.
Alat bantunya punya nama yang asing di telinga awam. Ada teknik Five Whys atau lima kali bertanya mengapa, ada diagram Fishbone atau tulang ikan yang juga disebut Ishikawa, dan ada Driver Diagram. Ketiganya dipakai untuk menelusuri sebab di balik sebuah luka. Telusur itu berujung pada satu alat: perangkat tusuk vena yang dalam naskah disebut scalp vein.
Diagram tulang ikan dalam naskah memuat sebab-sebab yang sangat sehari-hari. Jarum dibuang ke baki yang sama, bukan ke wadah khusus. Luka terjadi larut malam atau dini hari. Ada pegawai baru yang belum mengenal ruangannya, situasi darurat, tempat yang ramai, pasien yang tidak kooperatif, dan alat baru yang datang tanpa penjelasan cara pakai.
Jawabannya tidak tunggal. Edukasi terfokus diadakan, cara membuang benda tajam ditegaskan ulang, letak wadah benda tajam diatur kembali, dan scalp vein berpengaman diperkenalkan. Tim pencegahan infeksi dan bagian keperawatan menimbang dua jenis alat dari sisi pengaman, kemudahan pakai, dan biaya. Pilihan jatuh pada alat yang jarumnya ditarik dan dikunci secara manual sesudah dipakai.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Lalu ada satu kejadian lagi. Pada Juli 2023, satu perawat lagi tertusuk scalp vein di unit gawat darurat. Penyebabnya, menurut naskah, alat berpengaman tadi baru dipakai di bagian rawat inap. Sesudah itu alat tersebut diperkenalkan di seluruh rumah sakit. Data sebelum dan sesudahnya menunjukkan luka saat pembuangan pada perawat berkurang.
Edukasi, pelatihan yang perlu tetapi punya batas
Pelatihan petugas di rumah sakit ini sudah berjalan sejak 1998. Isinya orientasi pegawai, kuliah, peragaan, dan penyegaran tiap triwulan tentang cara memegang dan membuang benda tajam, cara melapor, dan penanganan sesudah terpapar. Pelatihan itu diteruskan sepanjang masa pengamatan.
Para penulis memberi catatan atas peran edukasi. “Meskipun edukasi tetap merupakan komponen penting program pencegahan luka tertusuk jarum, bukti menunjukkan bahwa intervensi edukasi saja mungkin tidak cukup untuk mempertahankan perubahan perilaku kecuali didukung oleh sistem organisasi, mekanisme audit, dan pengendalian rekayasa,” tulis Rachna Brahma dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Pengendalian rekayasa yang dimaksud adalah alat berpengaman tadi. Menurut para penulis, pengalaman dengan scalp vein menunjukkan bahwa alat pun tidak cukup berdiri sendiri. Keberhasilan memakainya menuntut kerja sama lintas bidang, keterlibatan petugas yang memakai alat itu, dukungan organisasi, dan surveilans yang terus berjalan.
Kata turun di sini punya batas yang ditulis para penulis sendiri. Penelitian berlangsung di satu rumah sakit saja, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di tempat lain. Hitungannya pun bersandar pada luka yang dilaporkan, sehingga beban yang sebenarnya bisa lebih besar karena tidak semua kejadian dilaporkan.
Ada dua batas lain. Data tentang seberapa banyak tiap alat dipakai tidak tersedia secara konsisten, sehingga angka luka per pemakaian tidak dapat dihitung. Selain itu, karena berbagai langkah berjalan bersamaan, penurunan tidak dapat dipastikan sebagai hasil satu langkah tertentu. Perbandingan biaya dan manfaat alat yang dipilih juga belum dievaluasi dengan layak.
Ke depan, para penulis menyebut surveilans digital yang sedang dikerjakan, perluasan alat berpengaman, penilaian terstruktur atas edukasi, dan indikator baku untuk memantau paparan kerja. Mereka juga menganjurkan penelitian di banyak rumah sakit. Luka tertusuk jarum, tulis mereka, tetap merupakan bahaya kerja yang penting bagi tenaga kesehatan, dan penurunan laporan dalam jangka panjang dapat dicapai lewat program pencegahan yang menyeluruh.














