Gizi Buruk Akut Balita di Sana'a Berkaitan dengan Tangan Pengasuh

A A

Ilustrasi petugas melingkarkan pita ukur lingkar lengan atas pada anak kecil di Nigeria [Foto: Lagos Food Bank Initiative/Pexels]

  • Sebanyak 65 anak gizi buruk akut dibandingkan dengan 129 anak pembanding di Rumah Sakit Al-Sabeen, Sana'a, Yaman.
  • Peluang gizi buruk akut pada anak desa 4,62 kali lebih tinggi daripada anak kota.
  • Hilang nafsu makan membawa angka tertinggi dari seluruh daftar, 8,71 kali.
  • Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif punya peluang gizi buruk akut 2,47 kali lebih tinggi.
  • Para peneliti menegaskan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan dari rancangan penelitian ini.
Daftar Isi
  1. Empat dari sepuluh anak gizi buruk akut di rumah sakit itu datang dari desa
  2. Diare berulang, muntah, dan hilang nafsu makan muncul jauh lebih sering
  3. Di meja makan, yang membedakan dua kelompok adalah ASI, susu, dan sayur
  4. Tangan pengasuh dan catatan vaksin anak ikut membawa cerita
  5. Yang belum bisa dijawab dari satu rumah sakit di Sana’a

Sehabis membersihkan kotoran anak, ada pengasuh yang mencuci tangan dan ada yang tidak. Di Rumah Sakit Al-Sabeen, Kota Sana’a, Yaman, kebiasaan sekecil itu ikut ditanyakan kepada pengasuh 194 anak berusia 6 sampai 59 bulan. Sebanyak 65 anak di antaranya baru saja masuk program penanganan gizi buruk akut. Sisanya, 129 anak, datang untuk layanan rutin dan tidak kekurangan gizi.

Pertanyaan itu diajukan Ghaida’a Ibrahim Ahmed Hafedh, Nabil Ahmed Ahmed Al-Rabeei, Aisha Faisal Ahmed Al-Wadhaf, Lina Saeed Saif Al-Sofiani, Elham Haider Yusef Al-Jadi, Wail Ahmed Naji, dan Abdulsalam Saif Qasim dalam Risk factors for severe acute malnutrition among children aged 6–59 months enrolled in the CMAM program at Al-Sabeen Hospital, Sana’a City, Yemen, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang masih dalam proses cetak. Ketujuhnya bekerja di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Al-Razi University, Sana’a.

Jawabannya timpang. Di kelompok anak gizi buruk akut, 13,8 persen pengasuh tidak mencuci tangan sehabis menangani kotoran anak. Di kelompok pembanding hanya 2,3 persen. Setelah hal-hal lain ikut diperhitungkan, peluang gizi buruk akut pada anak yang pengasuhnya tidak mencuci tangan tercatat 5,86 kali lebih tinggi. Angka itu satu dari sederet kaitan yang bertahan sampai hitungan akhir.

Gizi buruk akut, yang dalam naskah disebut severe acute malnutrition, adalah bentuk paling parah dari tubuh anak yang menyusut. Organisasi Kesehatan Dunia menandainya dengan lingkar lengan atas di bawah 115 milimeter, berat badan yang sangat rendah untuk tinggi badannya, atau bengkak di kedua sisi tubuh. Anak dalam keadaan ini, tulis para peneliti, sangat rentan terhadap infeksi dan menghadapi risiko kematian yang jauh lebih besar daripada anak bergizi baik.

Empat dari sepuluh anak gizi buruk akut di rumah sakit itu datang dari desa

Yaman, menurut naskah itu, termasuk negara dengan beban gizi kurang akut tertinggi di dunia. Konflik berkepanjangan, ekonomi yang goyah, kemiskinan, rawan pangan, pengungsian, dan layanan kesehatan yang terganggu disebut sebagai latarnya. Lebih dari 2,3 juta anak di bawah lima tahun di negara itu terkena gizi kurang akut. Sepanjang 2024 saja, 2.180 anak gizi buruk akut masuk program penanganan di distrik Al-Sabeen.

Rumah Sakit Al-Sabeen adalah rumah sakit rujukan besar di kota berpenduduk kira-kira tiga juta jiwa. Di sanalah perbedaan pertama terlihat. Dari 65 anak gizi buruk akut, 40 persen tinggal di perdesaan. Di kelompok pembanding, anak desa hanya 11,6 persen. Dalam hitungan akhir, peluang gizi buruk akut pada anak desa 4,62 kali lebih tinggi daripada anak kota.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Para peneliti tidak berhenti pada angka. Tempat tinggal di desa, menurut mereka, mungkin mencerminkan ketimpangan yang lebih luas dalam menjangkau layanan dasar. Anak desa kerap terhalang menuju layanan kesehatan dan gizi, air bersih, sarana sanitasi, dan pasar dengan bahan pangan beragam. Keterpencilan, sulitnya angkutan, dan kemiskinan mempersempit jalan itu. Di tengah krisis kemanusiaan Yaman, jurang tersebut mungkin lebih lebar lagi.

Perbedaan kedua sudah ada sejak hari lahir. Sebanyak 44,6 persen anak gizi buruk akut lahir dengan berat di bawah 2.500 gram, sedangkan di kelompok pembanding 17,8 persen. Peluangnya tercatat 3,48 kali lebih tinggi. Berat lahir rendah, tulis para peneliti, bisa mencerminkan pertumbuhan janin yang terhambat, ibu yang kurang gizi, atau pemeriksaan kehamilan yang tidak memadai. Karena itu mereka menyebut pentingnya gizi ibu dan layanan kehamilan.

Anak gizi buruk akut dan anak pembandingTinggal di desa 11,6% ke 40,0%; Berat lahir rendah 17,8% ke 44,6%; Diare berulang 16,3% ke 43,1%; Muntah tiap makan 8,5% ke 36,9%; Tanpa ASI eksklusif 30,2% ke 50,8%; Tanpa produk susu 23,3% ke 49,2%; Pentavalen kurang 10,9% ke 32,3%.Anak gizi buruk akut dan anak pembandingPersen anak di tiap kelompok, RS Al-Sabeen, Sana'aPembanding (129 anak)Gizi buruk akut (65 anak)0%20%40%60%Tinggal di desa11,6%40,0%Berat lahir rendah17,8%44,6%Diare berulang16,3%43,1%Muntah tiap makan8,5%36,9%Tanpa ASI eksklusif30,2%50,8%Tanpa produk susu23,3%49,2%Pentavalen kurang10,9%32,3%Pentavalen kurang: vaksin pentavalen belum diterima.
Sumber: Ghaida’a Ibrahim Ahmed Hafedh, Nabil Ahmed Ahmed Al-Rabeei, Aisha Faisal Ahmed Al-Wadhaf, Lina Saeed Saif Al-Sofiani, Elham Haider Yusef Al-Jadi, Wail Ahmed Naji, dan Abdulsalam Saif Qasim, Risk factors for severe acute malnutrition among children aged 6–59 months enrolled in the CMAM program at Al-Sabeen Hospital, Sana’a City, Yemen, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Diare berulang, muntah, dan hilang nafsu makan muncul jauh lebih sering

Lalu catatan penyakit. Diare berulang dialami 28 dari 65 anak gizi buruk akut, atau 43,1 persen, sementara di kelompok pembanding 16,3 persen. Muntah setiap kali makan atau minum dilaporkan pada 36,9 persen berbanding 8,5 persen. Hilang nafsu makan tercatat pada 22 anak gizi buruk akut dan hanya pada 6 dari 129 anak pembanding.

Daftarnya belum habis. Radang lambung dan usus ditemukan pada 26,2 persen anak gizi buruk akut berbanding 9,3 persen. Infeksi saluran napas akut pada 23,1 persen berbanding 6,2 persen. Anemia pada 18,5 persen berbanding 3,9 persen. Semua keluhan itu lebih sering muncul pada kelompok yang masuk program penanganan.

Tiga di antaranya bertahan sampai hitungan akhir. Hilang nafsu makan membawa angka tertinggi dari seluruh daftar, 8,71 kali. Muntah setiap kali makan 4,92 kali. Diare berulang 3,11 kali. Diare berulang, menurut para peneliti, dapat mengganggu penyerapan zat gizi, menguras zat gizi, memicu peradangan usus, dan menaikkan kebutuhan tubuh. Namun arah sebaliknya juga mungkin: anak kurang gizi punya daya tahan yang lemah dan lebih mudah terkena infeksi berulang.

Di titik inilah para peneliti menginjak rem. Hilang nafsu makan dan muntah memang bisa mengurangi asupan dan memperburuk gizi, tetapi keduanya juga bisa merupakan gejala gizi buruk akut itu sendiri. “Karena itu, hubungan-hubungan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati, dan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan dari rancangan penelitian ini,” tulis Ghaida’a Ibrahim Ahmed Hafedh, dosen kesehatan masyarakat dan gizi klinis Al-Razi University, bersama enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Di meja makan, yang membedakan dua kelompok adalah ASI, susu, dan sayur

Pindah ke soal makan. Hanya 49,2 persen anak gizi buruk akut yang mendapat ASI eksklusif setelah lahir, sedangkan di kelompok pembanding 69,8 persen. Yang bertahan menyusu eksklusif sampai paling tidak enam bulan lebih sedikit lagi: 12,3 persen berbanding 28,7 persen. Dalam hitungan akhir, anak yang tidak mendapat ASI eksklusif punya peluang gizi buruk akut 2,47 kali lebih tinggi.

ASI eksklusif, tulis para peneliti, memberi gizi terbaik, melindungi dari penyakit infeksi, dan mengurangi paparan makanan serta air yang tercemar. Sesudah masa menyusu, isi piring ikut berbicara. Produk susu dikonsumsi 50,8 persen anak gizi buruk akut dan 76,7 persen anak pembanding. Kacang-kacangan dimakan 23,1 persen berbanding 39,5 persen.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Dua bahan pangan bertahan dalam hitungan akhir. Anak yang tidak mengonsumsi produk susu punya peluang gizi buruk akut 2,95 kali lebih tinggi, dan anak yang tidak makan sayur 2,44 kali. Menurut para peneliti, keragaman makanan yang kurang dapat membatasi zat gizi penting untuk tumbuh dan untuk daya tahan tubuh. Keadaan itu juga bisa mencerminkan terbatasnya akses pangan dan sumber daya rumah tangga.

Tidak semua kebiasaan makan menunjukkan kaitan. Jenis pemberian makan, waktu mulai makanan pendamping, usia disapih, dan frekuensi makan tidak berhubungan secara bermakna dengan gizi buruk akut. Begitu pula konsumsi biji-bijian dan pangan hewani. Sementara itu, persediaan pangan rumah tangga yang tidak memadai dilaporkan pada 12,3 persen keluarga anak gizi buruk akut, berbanding 3,1 persen pada keluarga pembanding.

Tangan pengasuh dan catatan vaksin anak ikut membawa cerita

Kembali ke tangan. Pengasuh yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan tercatat 16,9 persen di kelompok gizi buruk akut dan 4,7 persen di kelompok pembanding. Sebelum makan, 13,8 persen berbanding 3,1 persen. Sehabis menangani kotoran anak, 13,8 persen berbanding 2,3 persen. Dari tiga saat itu, hanya yang terakhir yang bertahan dalam hitungan akhir, dengan angka 5,86 kali.

Penjelasan para peneliti mengikuti jalur kuman. Kebersihan tangan yang buruk menambah paparan terhadap kuman penyakit usus, lalu ikut memicu infeksi berulang dan gangguan fungsi usus. Jalur itu dapat mengganggu penyerapan dan pemanfaatan zat gizi. Sebaliknya, ketersediaan jamban, sumber air minum, jumlah anggota keluarga, dan jumlah anak balita di rumah tidak menunjukkan kaitan yang bermakna.

Seberapa kuat tiap hal terkait gizi buruk akutHilang nafsu makan: Rasio odds tersesuaikan +8,71; Pengasuh tak cuci tangan sehabis kotoran anak: Rasio odds tersesuaikan +5,86; Muntah tiap kali makan: Rasio odds tersesuaikan +4,92; Tinggal di desa: Rasio odds tersesuaikan +4,62; Berat lahir di bawah 2.500 gram: Rasio odds tersesuaikan +3,48; Vaksin pentavalen tak lengkap: Rasio odds tersesuaikan +3,21; Diare berulang: Rasio odds tersesuaikan +3,11; Tidak mengonsumsi produk susu: Rasio odds tersesuaikan +2,95; Tanpa ASI eksklusif: Rasio odds tersesuaikan +2,47; Tidak makan sayur: Rasio odds tersesuaikan +2,44.Seberapa kuat tiap hal terkait gizi buruk akutRasio odds tersesuaikan, dibanding anak tanpa keadaan itu2468100Hilang nafsu makan8,71Pengasuh tak cuci tangan sehabis kotoran anak5,86Muntah tiap kali makan4,92Tinggal di desa4,62Berat lahir di bawah 2.500 gram3,48Vaksin pentavalen tak lengkap3,21Diare berulang3,11Tidak mengonsumsi produk susu2,95Tanpa ASI eksklusif2,47Tidak makan sayur2,44Makin besar angkanya, makin kuat kaitannya. Bukan bukti sebab-akibat.
Sumber: Ghaida’a Ibrahim Ahmed Hafedh, Nabil Ahmed Ahmed Al-Rabeei, Aisha Faisal Ahmed Al-Wadhaf, Lina Saeed Saif Al-Sofiani, Elham Haider Yusef Al-Jadi, Wail Ahmed Naji, dan Abdulsalam Saif Qasim, Risk factors for severe acute malnutrition among children aged 6–59 months enrolled in the CMAM program at Al-Sabeen Hospital, Sana’a City, Yemen, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Catatan vaksin memperlihatkan pola serupa. Sebanyak 32,3 persen anak gizi buruk akut belum menerima vaksin pentavalen, sedangkan di kelompok pembanding 10,9 persen. Peluangnya 3,21 kali lebih tinggi dalam hitungan akhir. Pada hitungan awal, anak yang belum menerima vaksin BCG, polio, pneumokokus, rotavirus, dan campak juga lebih sering berada di kelompok gizi buruk akut.

“Meskipun vaksinasi tidak secara langsung mencegah kekurangan gizi, vaksinasi mengurangi beban penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, yang bisa berdampak buruk pada status gizi,” tulis Hafedh dan rekan-rekannya. Mereka menambahkan satu bacaan lain. Status vaksin bisa menjadi penanda seberapa jauh sebuah keluarga menjangkau layanan kesehatan pencegahan dan seberapa terlibat pengasuh dalam program kesehatan anak.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Keadaan orang tua tidak banyak berbeda di antara dua kelompok. Sebagian besar ibu adalah ibu rumah tangga, 93,8 persen pada kelompok gizi buruk akut dan 92,2 persen pada kelompok pembanding. Yang berbeda adalah pekerjaan ayah. Ayah yang menganggur tercatat 43,1 persen berbanding 20,2 persen. Pendidikan ibu, pendidikan ayah, jenis kelamin anak, dan usia ibu saat melahirkan tidak berhubungan secara bermakna dengan gizi buruk akut.

Yang belum bisa dijawab dari satu rumah sakit di Sana’a

Para peneliti mencatat sendiri batas pekerjaan mereka. Anak-anak itu ditemui di rumah sakit, dan anak yang datang ke fasilitas kesehatan bisa berbeda dari anak di masyarakat luas. Karena itu temuan ini mungkin tidak sepenuhnya berlaku bagi semua anak di Sana’a atau wilayah lain di Yaman. Sebagian keterangan bergantung pada ingatan pengasuh. Jumlah anak yang tidak besar juga bisa memengaruhi ketepatan sebagian angka.

Batas yang paling penting menyangkut urutan waktu. Rancangan yang membandingkan anak sakit dengan anak sehat tidak dapat memastikan mana yang datang lebih dulu. Infeksi saluran napas, hilang nafsu makan, diare berulang, anemia, dan muntah, tulis para peneliti, bisa saja merupakan akibat atau gejala gizi buruk akut, bukan pendahulunya.

Dari daftar itu mereka menarik saran yang berlapis. Layanan penanganan gizi buruk akut perlu diperkuat, tetapi harus disertai dorongan ASI eksklusif, makanan yang lebih beragam, dukungan ketahanan pangan rumah tangga, cakupan imunisasi yang lebih luas, dan penanganan penyakit anak yang lebih baik. Program gizi juga disarankan menyatu dengan program air, sanitasi, dan kebersihan. Perluasan layanan ke perdesaan mereka sebut sebagai prioritas.

Maka tangan yang dicuci sehabis membersihkan kotoran anak berdiri sejajar dengan ASI, vaksin, sayur di piring, dan layanan kesehatan di desa. Para peneliti menyebut gizi buruk akut sebagai perkara dengan banyak sebab yang saling bertaut. Pencegahannya, menurut simpulan mereka, perlu menggabungkan intervensi gizi langsung dengan intervensi yang menyentuh lingkungan tempat anak tumbuh.

Bagikan

Baca Juga

Kena Kudis, Mahasiswa Belanda Tetap Mau Mengabari Teman Serumah
Anak Tunawisma Paris Penerima Paket Makanan Kurang Makan Sayur
Daun Gatal Jadi Andalan Suku Nuaulu Meredakan Nyeri Sendi
Wisata Olahraga ke Luar Negeri Terkait Jiwa Sehat dan Yakin Diri
Orang Tua Mesir yang Melek Pangan Justru Lebih Sering Gemuk
Pejalan Kaki Tabriz Lebih Tertib karena Sekolah, Bukan Harta