Wisata Olahraga ke Luar Negeri Terkait Jiwa Sehat dan Yakin Diri

A A

Ilustrasi dua pendaki beransel memandang gunung berselimut awan di Indonesia, tampak dari belakang [Foto: Erychist/Pexels]

  • Keduanya menanyai 585 pelancong China sebanyak tiga kali.
  • Makin tinggi skor pengalaman wisata olahraga seseorang, makin tinggi skor kesehatan mentalnya.
  • Perbaikan citra tubuh tidak langsung menjadi kesehatan mental.
  • Pengalaman budaya berhubungan langsung dengan kesejahteraan subjektif, dengan koefisien 0,23.
  • Arah sebab-akibat yang terbalik tidak bisa disingkirkan sepenuhnya.
Daftar Isi
  1. Olahraga, santai, budaya
  2. Siapa para pelancong
  3. Kaitan yang langsung
  4. Jalur yakin diri
  5. Jalur citra tubuh
  6. Budaya sebagai penguat
  7. Batas temuan
  8. Yang bisa diperiksa

Berolahraga sambil melancong ke luar negeri berkaitan dengan jiwa yang lebih sehat. Kaitan itu tidak berjalan lurus. Sebagian lewat rasa yakin pada kemampuan diri, sebagian lagi lewat cara orang memandang tubuhnya sendiri. Jalan yang pertama ternyata sedikit lebih kuat.

Temuan itu dilaporkan Huiying Zhang dan Xing Lu dalam artikel Mechanisms linking international leisure sport tourism to mental health and subjective well-being: evidence from a three-wave mixed-effects model. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 588 tahun 2026. Zhang berasal dari Kangwon National University di Samcheok, Korea, sedangkan Lu dari Shenyang Sport University di Shenyang, China.

Keduanya menanyai 585 pelancong China sebanyak tiga kali. Survei berlangsung pada Maret, Juni, dan September 2025. Semua peserta sudah dewasa dan pernah berwisata olahraga santai ke luar negeri. Dari 612 orang pada survei pertama, 585 bertahan sampai survei ketiga.

Olahraga, santai, budaya

Wisata jenis ini punya tiga unsur, yaitu gerak badan, rekreasi, dan pengalaman lintas budaya. Menurut penulis, bentuk wisata tersebut tumbuh cepat seiring pertumbuhan ekonomi negara. Bedanya dengan olahraga biasa di dalam negeri terletak pada tempatnya. Orang berolahraga di lingkungan asing, mengenal budaya lain, dan bergaul dengan orang dari latar yang berbeda.

Kegiatan para peserta beragam. Sebanyak 188 orang, atau 32,1 persen, terutama berwisata olahraga santai. Sebanyak 167 orang menonton pertandingan, 116 orang ikut kompetisi, dan 114 orang menjadi relawan olahraga.

Siapa para pelancong

Laki-laki sedikit lebih banyak, yaitu 305 orang atau 52,1 persen, sedangkan perempuan 280 orang. Usia rata-rata mereka 34,67 tahun. Kebanyakan pergi lama. Sebanyak 341 orang, atau 58,3 persen, bepergian lebih dari 15 hari, dan 244 orang sisanya pergi paling lama 15 hari.

Soal kekerapan, peserta terbelah hampir sama. Sebanyak 315 orang pergi satu sampai dua kali setahun atau kurang. Sebanyak 270 orang pergi tiga kali setahun atau lebih. Lebih dari separuh peserta, 339 orang atau 57,9 persen, berpendidikan sarjana ke atas.

Siapa pelancong yang disurveiSebanyak 585 pelancong China disurvei; 58,3% bepergian lebih dari 15 hari dan 67,4% berencana terus ikut.Siapa pelancong yang disurveiPeserta survei wisata olahraga santai lintas negara585pelancongasal China,disurvei tiga kali58,3%pergi lamalebih dari 15 hari32,1%wisata santaijenis kegiatanterbanyak67,4%mau pergi lagiberencana terusikutJalan risetnyaWisata olahragaKesehatan mentalRasa sejahtera
Sumber: Huiying Zhang dan Xing Lu, Mechanisms linking international leisure sport tourism to mental health and subjective well-being: evidence from a three-wave mixed-effects model, BMC Public Health, 26(588), 2026. Grafik: Cekricek.id

Wiraswasta menjadi kelompok pekerjaan terbesar, 207 orang atau 35,4 persen. Pelajar dan mahasiswa menyusul dengan 178 orang, lalu karyawan perusahaan 123 orang. Sebagian besar tidak tergolong kaya. Sebanyak 447 orang, atau 76,4 persen, menyebut ekonomi rumah tangganya setingkat rata-rata.

Kira-kira dua dari tiga peserta ingin mengulang. Sebanyak 394 orang, atau 67,4 persen, berencana terus ikut wisata semacam ini. Sebanyak 191 orang menyatakan tidak akan melanjutkan.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Kaitan yang langsung

Makin tinggi skor pengalaman wisata olahraga seseorang, makin tinggi skor kesehatan mentalnya. Koefisien jalur langsung itu 0,23. Penulis menyebutnya bermakna secara statistik, dengan rentang kepercayaan yang tidak menyentuh nol.

Kesehatan mental di sini bukan sekadar tidak adanya gangguan jiwa. Naskah memaknainya sebagai keadaan positif dalam emosi, pikiran, dan penyesuaian sosial. Di dalamnya ada perasaan positif, rasa bermakna, dan peran sosial yang berjalan baik.

Menurut penulis, hasil ini sejalan dengan riset terdahulu. Olahraga teratur dikaitkan dengan berkurangnya depresi dan kecemasan. Wisata membawa kebaruan, pergaulan, dan pertukaran budaya. Gabungan keduanya, tulis mereka, memberi manfaat jiwa yang lebih nyata.

Jalur yakin diri

Jalan tidak langsung yang pertama dimulai dari keyakinan diri. Naskah memakai istilah efikasi diri, yaitu keyakinan seseorang bahwa ia mampu menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan. Koefisien dari wisata olahraga ke keyakinan ini 0,50, yang terbesar di antara semua jalur yang berangkat dari wisata.

Penjelasan penulis sederhana. Pelancong harus berolahraga di tempat asing dan berurusan dengan budaya lain. Pengalaman itu menambah keyakinan bahwa mereka sanggup menyesuaikan diri dan mengatasi kesulitan.

Keyakinan itu lalu berhubungan dengan cara mengatur emosi, dengan koefisien 0,52. Orang yang lebih yakin pada dirinya lebih mungkin memakai cara yang positif dan luwes saat tertekan. Dari pengaturan emosi, jalur berlanjut ke kesehatan mental dengan koefisien 0,29.

Efek tidak langsung seluruh rantai ini 0,071. Rentang kepercayaannya 0,048 sampai 0,105, tidak menyentuh nol. Penulis menyebut rantai ini sebagai jalur psikologis. Di dalamnya, keyakinan diri menggerakkan pengaturan emosi, lalu pengaturan emosi menopang kesehatan mental.

Jalur citra tubuh

Jalan kedua dimulai dari citra tubuh. Maksudnya penilaian seseorang atas penampilan, bentuk badan, dan kemampuan fisiknya sendiri. Koefisien dari wisata olahraga ke citra tubuh 0,49. Menurut naskah, pelancong kerap mendapat umpan balik positif tentang kemampuan badannya selama berolahraga.

Citra tubuh yang baik berhubungan dengan penerimaan diri, dengan koefisien 0,47. Penerimaan diri berarti memandang kelebihan dan kekurangan sendiri dengan sikap menerima. Dari sana jalur menuju kesehatan mental berkoefisien 0,31.

Dua jalan menuju jiwa sehatJalur keyakinan diri dan pengaturan emosi berefek tak langsung 0,071; jalur citra tubuh dan penerimaan diri 0,067.Dua jalan menuju jiwa sehatKoefisien jalur dari wisata olahraga ke kesehatan mentalLewat yakin diriLewat citra tubuh0,500,49Wisata ke langkahpertama0,520,47Langkah pertamake kedua0,290,31Langkah kedua kekesehatan mental0,0710,067Efek tak langsungKiri: yakin diri lalu atur emosi. Kanan: citra tubuh lalu terima diri.
Sumber: Huiying Zhang dan Xing Lu, Mechanisms linking international leisure sport tourism to mental health and subjective well-being: evidence from a three-wave mixed-effects model, BMC Public Health, 26(588), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada satu catatan penting dari penulis. Perbaikan citra tubuh tidak langsung menjadi kesehatan mental. Pengaruhnya berjalan lewat penerimaan diri lebih dulu. Efek tidak langsung rantai ini 0,067, sedikit di bawah jalur keyakinan diri, dan tetap bermakna.

Skor rata-rata peserta memberi gambaran tambahan. Pada skala satu sampai tujuh, citra tubuh mendapat skor tertinggi di antara delapan hal yang diukur, yaitu 5,009. Penerimaan diri justru terendah, 3,853.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Selisih dua jalur itu dibaca penulis sebagai petunjuk. Wisata olahraga lintas negara lebih banyak menguatkan rasa mampu, percaya diri, dan penyesuaian emosi. Ia tidak sampai mengubah secara mendasar cara orang memandang tubuhnya.

“Karena itu, wisata olahraga santai internasional sebaiknya dipandang bukan semata sebagai pengalaman estetis atau pelesir, melainkan sebagai proses yang memberdayakan secara psikologis,” tulis Zhang dan Lu. Kalimat itu diterjemahkan dari naskah berbahasa Inggris. Proses tersebut, lanjut mereka, membantu orang menghadapi tantangan, membangun percaya diri, dan mengelola emosi.

Dari situ muncul saran untuk pengelola tempat tujuan. Kegiatan sebaiknya berorientasi tugas, dengan tantangan sedang dan pencapaian yang bertahap. Lingkungan yang saling mendukung dan pertemuan bermakna dengan warga setempat ikut dianjurkan.

Budaya sebagai penguat

Kesehatan mental kemudian berhubungan dengan kesejahteraan subjektif. Koefisiennya 0,40. Kesejahteraan ini diukur lewat emosi positif, keterlibatan, hubungan, makna, dan pencapaian. Menurut penulis, hubungan ini tetap bermakna sesudah dua jalur tidak langsung tadi ikut diperhitungkan.

Pengalaman budaya ikut bermain. Maksudnya pemahaman pelancong atas budaya, adat, dan nilai di tempat tujuan. Naskah menyebut makanan, bahasa, seni, dan festival sebagai pintunya. Pengalaman yang menyelam seperti itu, menurut penulis, menambah rasa bermakna pada kegiatan.

Perannya ganda. Pengalaman budaya berhubungan langsung dengan kesejahteraan subjektif, dengan koefisien 0,23. Ia juga menguatkan hubungan antara kesehatan mental dan kesejahteraan itu, dengan koefisien 0,11. Rentang kepercayaan penguatan tersebut 0,028 sampai 0,166.

Artinya, pada pelancong yang pengalaman budayanya tinggi, kesehatan mental lebih kuat terhubung dengan rasa sejahtera. Pada yang pengalaman budayanya rendah, hubungan itu lebih landai. Penulis menyarankan penyelenggara memperkuat unsur keterlibatan dan pertukaran budaya dalam program.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Batas temuan

Penulis mengakui beberapa keterbatasan. Ini bukan eksperimen terkendali, dan keadaan jiwa peserta sebelum survei tidak dikendalikan. Arah sebab-akibat yang terbalik tidak bisa disingkirkan sepenuhnya.

Mereka memberi contoh sendiri. Orang yang sejak awal lebih sehat jiwanya mungkin lebih cenderung ikut wisata olahraga. Orang seperti itu mungkin pula melaporkan pengalaman budaya yang lebih tinggi. Karena itu penulis menganjurkan riset berikutnya memakai rancangan eksperimen atau mengukur keadaan awal peserta.

Pesertanya hanya pelancong China, sehingga hasilnya sulit dibawa ke negara lain. Semua jawaban berasal dari penilaian peserta sendiri. Jawaban seperti itu bisa keliru karena ingatan atau keinginan tampak baik. Penulis mengusulkan data yang lebih objektif, seperti catatan belanja wisata, lama gerak badan, dan data perangkat yang dipakai di badan.

Beberapa hal juga tidak dicatat. Besar biaya perjalanan, pergi sendiri atau beramai-ramai, dan tujuan perjalanan tidak masuk hitungan. Jarak tiga bulan antarsurvei pun dinilai penulis belum cukup untuk melihat pengaruh jangka panjang. Jauh dekatnya budaya tempat tujuan dari budaya asal juga belum dipilah.

Yang bisa diperiksa

Ada beberapa ketidakcocokan di dalam naskah. Kuesioner disebut berisi 112 butir. Bila butir delapan alat ukur yang dirinci naskah dijumlahkan, hasilnya 109. Alat ukur kesejahteraan disebut punya lima dimensi, tetapi yang dirinci hanya empat.

Satu ukuran mutu alat ukur ditulis berbeda di dua tabel. Untuk keyakinan diri, nilainya 0,634 di satu tabel dan 0,574 di tabel lain. Untuk pengaturan emosi, 0,619 dan 0,579. Catatan kaki sebuah tabel juga memberi arti yang sama untuk tanda tiga bintang dan dua bintang.

Naskah menyebut rancangannya memperkuat kesimpulan sebab-akibat. Bagian lain mengakui arah terbalik belum tersingkir. Dua pernyataan itu perlu dibaca berdampingan.

Yang tersisa adalah sebuah kaitan, bukan kepastian sebab. Pada 585 pelancong itu, jalan dari wisata olahraga ke jiwa yang sehat paling tebal ketika melewati rasa yakin pada diri sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Orang Tua Mesir yang Melek Pangan Justru Lebih Sering Gemuk
Pejalan Kaki Tabriz Lebih Tertib karena Sekolah, Bukan Harta
Kecelakaan Anak di Rumah Lebih Kerap Terjadi di Desa Burkina Faso
Makin Banyak Ozon Dihirup Ibu Hamil, Makin Sering Diabetes
Makan Jagung Tiap Pekan, Warga Pesisir Kenya Tak Kenal Racunnya
Beban Batin Lelaki Ghana yang Tak Kunjung Punya Anak