Orang Tua Mesir yang Melek Pangan Justru Lebih Sering Gemuk

A A

Ilustrasi lemari pendingin berisi kemasan pangan beku di sebuah hipermarket di Kairo, Mesir [Foto: juliegomoll/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Sebanyak 58,6 persen orang tua mencapai skor yang digolongkan memadai, sedangkan 41,4 persen sisanya tergolong buruk.
  • Sebanyak 68,8 persen orang tua mengaku tidak memahami keterangan gizi yang sampai kepada mereka.
  • Di antara orang tua yang gemuk atau obesitas, 64,5 persen tergolong melek pangan.
  • Skor total ibu 36,2, sedangkan skor total ayah 32,1, tetapi keunggulan itu hilang setelah pendidikan ikut dihitung.
  • Semua orang tua ditanyai pada satu waktu saja, sehingga tidak ada kaitan yang boleh dibaca sebagai sebab dan akibat.
Daftar Isi
  1. Enam dari sepuluh orang tua lulus, tetapi hanya seperempat yang benar-benar sadar
  2. Label di kemasan dan pertanyaan seorang kerabat, dua hal yang paling sering membuat mereka menyerah
  3. Ibu unggul di semua bagian sampai ijazah ikut dihitung, dan keunggulan itu menguap
  4. Titik balik di kolom berat badan: tahu lebih banyak, timbangan tidak ikut turun
  5. Yang tidak bisa dijawab seribu kuesioner, dan beberapa angka yang tidak seragam di dalam naskah

Kejutan itu terselip di kolom berat badan. Seribu ayah dan ibu di Mesir ditanyai seberapa paham mereka soal makanan, dan kelompok yang pengetahuannya paling sering memadai ternyata bukan mereka yang berat badannya normal. Di antara orang tua yang gemuk atau obesitas, 64,5 persen tergolong melek pangan. Di antara yang berbadan normal, angkanya 47,2 persen. Kurang dari separuh.

Angka itu dicatat Iman H. Kamel, Ammal M. Metwally, Raefa Refaat Alam, Amani E. Ali, Ghada A. Elshaarawy, Safaa I. Abd El Hady, dan Abdelrahman K. Hassanein, peneliti dari National Research Centre di Kairo, Mansoura National University, Technical Institute of Nursing di Sherbin, dan Mansoura General Hospital. Artikel mereka, Status and predictors of parental food literacy: an Egyptian insight to highlight gaps and challenges, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 729 tahun 2026.

Yang mereka temui adalah 718 ibu dan 282 ayah dari remaja berusia 10 sampai 19 tahun di Kairo, Fayoum, Al Dakahleya, dan Marsa Matrouh sepanjang 2022. Melek pangan, dalam naskah itu, berarti pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dibutuhkan untuk memilih makanan dengan sadar, merencanakan dan mengatur hidangan, serta makan sesuai kebutuhan tubuh. Ada tiga bagiannya: kecakapan praktis, kemampuan membicarakan dan memutuskan pilihan makanan keluarga, dan daya menimbang secara kritis.

Enam dari sepuluh orang tua lulus, tetapi hanya seperempat yang benar-benar sadar

Sekilas hasilnya menenangkan. Sebanyak 58,6 persen orang tua mencapai skor yang digolongkan memadai, sedangkan 41,4 persen sisanya tergolong buruk. Ibu sedikit di depan, 60 persen berbanding 55 persen pada ayah, tetapi selisih itu terlalu tipis untuk disebut bermakna. Hampir enam dari sepuluh orang tua, dengan kata lain, melewati garis batas.

Lalu lapisan kedua dibuka. Ketika para peneliti menghitung siapa yang kesadarannya benar-benar cukup, hanya 24,5 persen orang tua yang sampai ke sana, kira-kira satu dari empat. Per bagian, angkanya lebih rendah lagi: 20,4 persen untuk kecakapan praktis, 20,3 persen untuk daya kritis, dan 18,6 persen untuk kemampuan membicarakan makanan dengan orang lain. Bagian terakhir itu yang paling lemah.

Mengapa orang tua yang ditanyai? Naskah itu menyebut Mesir menanggung beban ganda: 7,8 persen anak berusia 6 sampai 12 tahun bertubuh pendek akibat kurang gizi dan 8,0 persen kelebihan berat badan, dengan pendidikan ibu sebagai penentu paling berpengaruh bagi keduanya. Orang tua membentuk cara makan anak. Peran ayah, menurut para peneliti, selama ini jarang diperiksa, padahal ayah makin sering ikut berbelanja, mengatur anggaran, dan menjadi contoh di meja makan.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Label di kemasan dan pertanyaan seorang kerabat, dua hal yang paling sering membuat mereka menyerah

Titik terlemah pertama ada pada informasi gizi itu sendiri. Sebanyak 68,8 persen orang tua mengaku tidak memahami keterangan gizi yang sampai kepada mereka, entah lewat label kemasan dan brosur, acara televisi dan radio, anjuran ahli gizi, atau nasihat keluarga dan teman. Hampir tujuh dari sepuluh. Lalu 61,2 persen tidak tahu harus mencari ke mana bila punya pertanyaan soal gizi, dan 56,1 persen tidak mengenal baik piramida makanan.

Titik terlemah kedua muncul begitu pengetahuan itu harus dibagikan. Sebanyak 68,3 persen orang tua merasa tidak mampu membantu anggota keluarga atau teman yang bertanya tentang gizi. Sebanyak 62,4 persen tidak sanggup memilih mana informasi gizi yang benar dan relevan. Para peneliti membaca kedua angka itu sebagai tanda lemahnya keterampilan berkomunikasi dan berbagi informasi di dalam rumah.

Lima hal yang paling sulit bagi orang tuaPaham info gizi: Orang tua +68,8%; Bantu kerabat: Orang tua +68,3%; Pilih info tepat: Orang tua +62,4%; Tahu sumber info: Orang tua +61,2%; Piramida makanan: Orang tua +56,1%.Lima hal yang paling sulit bagi orang tuaPersen orang tua yang tidak paham atau tidak mampu20%40%60%80%0Paham info gizi68,8%Bantu kerabat68,3%Pilih info tepat62,4%Tahu sumber info61,2%Piramida makanan56,1%1.000 orang tua di empat provinsi Mesir.
Sumber: Iman H. Kamel, Ammal M. Metwally, Raefa Refaat Alam, Amani E. Ali, Ghada A. Elshaarawy, Safaa I. Abd El Hady, dan Abdelrahman K. Hassanein, Status and predictors of parental food literacy: an Egyptian insight to highlight gaps and challenges, BMC Public Health, 26(729), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di luar lima hal itu, keadaannya lebih baik. Sekitar sepertiga orang tua tidak mengetahui anjuran resmi makan buah dan sayur, 34,5 persen, serta anjuran resmi soal garam, 35,7 persen. Sepertiga lainnya, 33,0 persen, mengaku sulit menyiapkan hidangan lengkap yang memuat protein, karbohidrat, lemak sehat, dan sayuran. Angka-angka ini digolongkan netral, tidak baik dan tidak pula genting.

Justru daya kritis yang paling kuat. Hanya 31,0 persen orang tua kesulitan menilai apakah informasi gizi di situs web, media sosial, televisi, dan radio dapat dipercaya, dan 27,5 persen kesulitan menimbang iklan yang mengaitkan suatu produk dengan kesehatan. Sebanyak 28,5 persen sulit memutuskan apakah suatu makanan cocok dengan pola makan sehat. Hanya 24,5 persen yang sulit menilai dampak kebiasaan makannya bagi kesehatan jangka panjang, satu-satunya butir yang masuk golongan cukup.

Orang tua Mesir, simpul para peneliti, lebih mampu menimbang daripada mempraktikkan atau menjelaskan. Naskah itu menduga terbatasnya bahan penyuluhan yang sesuai budaya setempat dan langkanya program gizi berbasis keluarga ikut membuka celah tersebut. Penelitian lain di kawasan yang sama, menurut mereka, menemukan pola serupa: orang punya pengetahuan gizi dasar tetapi tidak sanggup menerapkannya atau menyampaikannya dengan baik.

Ibu unggul di semua bagian sampai ijazah ikut dihitung, dan keunggulan itu menguap

Di atas kertas, ibu menang telak. Rata-rata skor kecakapan praktis mereka 17,6 berbanding 15,9 pada ayah, kemampuan membicarakan makanan 6,6 berbanding 5,8, dan daya kritis 12,0 berbanding 10,4. Skor total ibu 36,2, tepat di atas garis memadai. Skor total ayah 32,1, di bawahnya. Semua selisih itu bermakna secara statistik.

Ibu dan ayah, skor melek panganIbu dan ayah, skor melek panganIbu dan ayah, skor melek panganRata-rata tiap kelompok; 718 ibu dan 282 ayahIbuAyah17,615,9Fungsional6,65,8Interaktif12,010,4Kritis36,232,1Skor total60%55%TergolongmemadaiSkor total 36 ke atas tergolong memadai.
Sumber: Iman H. Kamel, Ammal M. Metwally, Raefa Refaat Alam, Amani E. Ali, Ghada A. Elshaarawy, Safaa I. Abd El Hady, dan Abdelrahman K. Hassanein, Status and predictors of parental food literacy: an Egyptian insight to highlight gaps and challenges, BMC Public Health, 26(729), 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu keunggulan itu hilang. Begitu usia, pendidikan, pendapatan, berat badan, dan faktor lain diperhitungkan bersamaan, menjadi ibu atau ayah tidak lagi menentukan memadai tidaknya melek pangan seseorang. Para peneliti menunjuk pendidikan sebagai penjelasnya: 82,9 persen ibu dalam penelitian ini berpendidikan universitas, sedangkan pada ayah 55,3 persen. Mereka juga menyebut peran tradisional, yakni perempuan yang biasanya memikul urusan menyiapkan makanan dan gizi di rumah.

Pendidikan sendiri bertahan. Orang tua lulusan universitas mencatat skor total 36,8, sedangkan yang berpendidikan sekolah 31,5, dan sesudah semua faktor disesuaikan peluang mereka untuk tergolong memadai tetap 2,67 kali lebih besar. Usia 40 tahun ke atas menaikkan peluang itu 1,59 kali. Pendapatan tidak bertahan: keluarga berpenghasilan di atas 5.000 pound Mesir sebulan mencatat skor 36,0 berbanding 31,1, tetapi kaitannya lenyap setelah pendidikan ikut dihitung.

Ada satu lagi pembalikan kecil. Orang tua yang tidak bekerja mencatat skor tertinggi di seluruh tabel, 40,8 berbanding 34,8 pada yang bekerja. Para peneliti menduga waktu luang, keterlibatan dalam merencanakan dan memasak makanan, serta tugas mengasuh memberi lebih banyak kesempatan berlatih. Mereka segera menambahkan bahwa hal itu tidak dengan sendirinya berarti gaya hidup yang lebih sehat, dan bahwa orang tua yang bekerja memerlukan penyuluhan gizi di tempat kerja.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Titik balik di kolom berat badan: tahu lebih banyak, timbangan tidak ikut turun

Kembali ke kejutan di awal. Kegemukan adalah keadaan mayoritas di antara orang tua ini: 69,5 persen ibu dan 64,5 persen ayah tergolong gemuk atau obesitas, berdasarkan tinggi dan berat badan yang mereka laporkan sendiri. Kelompok itu mencatat skor total 35,8, sedangkan yang berbadan normal 33,4. Sesudah semua faktor lain disesuaikan, peluang orang tua gemuk atau obesitas untuk tergolong melek pangan tetap 1,62 kali lebih besar.

Penjelasan yang ditawarkan para peneliti terdengar akrab. Orang yang kelebihan berat badan mungkin lebih waspada pada kesehatannya dan lebih sering memantau diri setelah mendapat nasihat dokter, konseling gizi, atau peringatan soal risiko penyakit kronis. Pengetahuannya bertambah. Berat badannya belum tentu berubah. Naskah itu merujuk sejumlah penelitian yang menemukan penderita penyakit terkait pola makan kerap lebih paham gizi tetapi sulit bertahan pada pola makan yang dianjurkan.

Di titik inilah kesimpulan mereka paling tajam. “Ini menunjukkan bahwa meningkatnya kesadaran gizi tidak otomatis menjelma menjadi berat badan yang lebih sehat,” tulis Iman H. Kamel, peneliti Child Health Department National Research Centre di Kairo, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Memperbaiki melek pangan saja, lanjut mereka, mungkin tidak cukup untuk mencegah obesitas tanpa dukungan perilaku, struktur, dan lingkungan.

Penanda terkuat ternyata sebutir suplemen. Di antara orang tua yang rutin meminum suplemen mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium, atau seng, 80,8 persen tergolong melek pangan, sedangkan di antara yang tidak meminumnya 52,6 persen. Peluangnya 3,97 kali lebih besar sesudah penyesuaian, angka tertinggi di seluruh model. Suplemen vitamin tidak bertahan: pemakainya 71,5 persen memadai berbanding 51,0 persen, tetapi kaitan itu hilang ketika faktor lain dihitung bersama.

Ayah menyimpan kejanggalan tersendiri. Separuh dari mereka, 50,7 persen, rutin meminum suplemen vitamin, jauh di atas ibu yang 31,9 persen, padahal skor melek pangan ayah lebih rendah di semua bagian. Para peneliti membacanya sebagai jarak antara perilaku dan pengetahuan. Mereka mengusulkan penyuluhan dan konseling yang khusus menyasar laki-laki agar tanggung jawab atas gizi keluarga dipikul bersama.

Rumah yang padat memberi pembalikan terakhir. Keluarga yang tinggal berdesakan, lebih dari satu orang per kamar, mencatat skor lebih rendah, 33,6 berbanding 36,1. Setelah penyesuaian, arahnya berbalik: peluang melek pangan mereka 1,52 kali lebih besar. Para peneliti menduga rumah yang lapang dalam sampel ini juga rumah yang lebih makmur dan lebih terdidik, dan bahwa hidup bersama banyak orang bisa menumbuhkan belajar bersama serta pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Yang tidak bisa dijawab seribu kuesioner, dan beberapa angka yang tidak seragam di dalam naskah

Para penulis mengakui batasnya. Semua orang tua ditanyai pada satu waktu saja, sehingga tidak ada kaitan di atas yang boleh dibaca sebagai sebab dan akibat; berat badan dan suplemen diperlakukan sebagai hal yang berjalan beriringan dengan melek pangan, bukan penyebab atau hasilnya. Semua jawaban berasal dari pengakuan sendiri. Suplemen hanya ditanyakan dengan jawaban ya atau tidak, sedangkan aktivitas fisik dan pola makan rinci tidak diukur sama sekali.

Satu batas lain menyangkut siapa yang membukakan pintu. Petugas mewawancarai orang tua yang kebetulan ada di rumah saat kunjungan, biasanya pada siang hari, sehingga ayah yang bekerja mungkin kurang terwakili. Di luar itu, para peneliti menganjurkan agar melek pangan dimasukkan ke kurikulum sekolah dan layanan kesehatan dasar, dengan program yang menyasar ayah dan orang tua muda. Yang mereka minta diperkuat adalah keterampilan membaca label, mengolah makanan, dan membicarakannya.

Beberapa angka di dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Tabel karakteristik mencatat suplemen mineral lebih banyak diminum ibu, 23,3 persen berbanding 16,3 persen, tetapi bagian pembahasan menyebutnya sedikit lebih tinggi pada ayah. Bagian hasil menulis empat faktor yang bermakna lalu merinci lima. Pendidikan disebut penentu mandiri terkuat, padahal angka suplemen mineral lebih besar. Porsi ibu satu kali tertulis 61,8 persen, bukan 71,8 persen.

Maka kolom berat badan itu tetap seperti semula, dengan arti yang kini lebih jelas. Orang tua yang gemuk di empat provinsi Mesir itu bukan orang yang tidak tahu; banyak di antara mereka justru yang paling tahu. Yang masih gelap bagi hampir tujuh dari sepuluh orang tua adalah keterangan gizi yang sampai ke tangan mereka, dan cara menjawab ketika seorang kerabat bertanya apa yang sebaiknya dimakan.

Bagikan

Baca Juga

Pejalan Kaki Tabriz Lebih Tertib karena Sekolah, Bukan Harta
Kecelakaan Anak di Rumah Lebih Kerap Terjadi di Desa Burkina Faso
Makin Banyak Ozon Dihirup Ibu Hamil, Makin Sering Diabetes
Makan Jagung Tiap Pekan, Warga Pesisir Kenya Tak Kenal Racunnya
Beban Batin Lelaki Ghana yang Tak Kunjung Punya Anak
Remaja Tibet yang Sering Makan Cepat Saji Lebih Rentan Murung