Remaja Tibet yang Sering Makan Cepat Saji Lebih Rentan Murung

A A

Ilustrasi jalan dan bangunan bergaya Tibet dengan tiang doa di kota lama Lhasa [Foto: Andrew and Annemarie/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Hanya 897 anak atau 11,25 persen yang makan cepat saji lebih dari sekali dalam seminggu.
  • Di antara mereka, 29,23 persen terjaring mengalami tekanan batin pada tingkat yang bermakna secara klinis.
  • Makan cepat saji sekali seminggu tidak berkaitan dengan gejala apa pun pada siswa laki-laki maupun perempuan.
  • Siswa yang dirundung sedikitnya sekali seminggu paling sering makan cepat saji, yakni 17,14 persen.
  • Para siswa dipotret pada satu waktu, sehingga sebab dan akibat tidak bisa ditetapkan.
Daftar Isi
  1. Garis itu jatuh di antara sekali dan lebih dari sekali seminggu
  2. Satu dari sembilan siswa, dan penulis menolak menganggapnya kecil
  3. Anak yang tinggal di rumah, anak sulung, dan anak yang dirundung
  4. Tsampa, daging yak, dan dua arah yang tidak bisa dipisahkan
  5. Tiga hal kecil dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca

Guru diminta keluar dari kelas. Di tujuh sekolah menengah negeri di Lhasa, para siswa Tibet lalu mengisi sendiri lembar pertanyaan tanpa ada yang mengawasi dari meja depan. Salah satu pertanyaannya terdengar ringan: dalam sebulan terakhir, berapa kali seminggu kamu biasanya makan makanan cepat saji seperti KFC, McDonald’s, Wallace, atau Dicos?

Jawaban 7.973 siswa itulah yang diolah Yuhang Fang, Simin Xu, dan Qiguo Lian dari Shanghai Institute for Biomedical and Pharmaceutical Technologies bersama enam rekan mereka, antara lain Liping Deng dari Lhasa Center for Disease Control and Prevention. Laporannya, Fast food consumption and its association with mental distress among Tibetan adolescents: a cross-sectional study, dimuat jurnal BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah siap terbit yang belum bernomor volume.

Di lembar yang sama, para siswa kelas 7 sampai 12 itu juga ditanya tentang dua pekan terakhir mereka. Seberapa sering kehilangan minat. Seberapa sering merasa murung atau putus asa. Seberapa sering gelisah, dan seberapa sering tak sanggup menghentikan rasa khawatir. Dua jawaban itu kemudian dipertemukan, dan hasilnya membelah para siswa pada satu garis yang tegas.

Garis itu jatuh di antara sekali dan lebih dari sekali seminggu

Sebagian besar siswa ternyata jarang menyentuh makanan cepat saji. Sebanyak 5.056 anak, atau 63,41 persen, memakannya kurang dari sekali seminggu. Sebanyak 2.020 anak, kira-kira satu dari empat, memakannya sekali seminggu. Hanya 897 anak, 11,25 persen atau kira-kira satu dari sembilan siswa, yang memakannya lebih dari sekali dalam seminggu.

Kelompok kecil itulah yang berbeda. Di antara mereka, 29,23 persen terjaring mengalami tekanan batin pada tingkat yang bermakna secara klinis. Pada siswa yang makan cepat saji kurang dari sekali seminggu, angkanya 20,76 persen. Pada yang makan sekali seminggu, 20,43 persen. Dua kelompok terakhir nyaris tak bisa dibedakan.

Pola yang sama berulang pada dua gejala yang diukur terpisah. Gejala depresi terjaring pada 30,35 persen siswa yang paling sering makan cepat saji, dibandingkan 23,10 persen dan 23,08 persen pada dua kelompok lain. Gejala cemas terjaring pada 31,46 persen, dibandingkan 24,57 persen dan 23,95 persen. Hampir satu dari tiga, berhadapan dengan kurang dari satu dari empat.

Yang berbeda hanya kelompok paling seringTekanan batin bermakna klinis: Jarang +20,76%, Sekali seminggu +20,43%, Lebih dari sekali +29,23%; Gejala depresi: Jarang +23,10%, Sekali seminggu +23,08%, Lebih dari sekali +30,35%; Gejala cemas: Jarang +24,57%, Sekali seminggu +23,95%, Lebih dari sekali +31,46%.Yang berbeda hanya kelompok paling seringPersen siswa yang terjaring, menurut frekuensi cepat sajiJarangSekali semingguLebih dari sekali10%20%30%40%0Tekanan batin bermakna klinis20,76%20,43%29,23%Gejala depresi23,10%23,08%30,35%Gejala cemas24,57%23,95%31,46%Jarang = kurang dari sekali seminggu. Dari 7.973 siswa di Lhasa.
Sumber: Yuhang Fang, Liping Deng, Jun Xu, Gu Zuo, Jialin Kou, Yongchun Luo, Tashi Tashi, Simin Xu, dan Qiguo Lian, Fast food consumption and its association with mental distress among Tibetan adolescents: a cross-sectional study, BMC Public Health, naskah siap terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Selisih itu tidak hilang ketika Fang dan rekan-rekannya memperhitungkan usia, status asrama, urutan lahir, keadaan keluarga, pendidikan orang tua, ekonomi rumah tangga, tidur, gerak badan, perundungan, dan minuman manis. Peluang siswa yang makan cepat saji lebih dari sekali seminggu untuk terjaring tekanan batin bermakna klinis tercatat 1,51 kali peluang siswa yang jarang memakannya. Untuk gejala depresi angkanya 1,40 kali, untuk gejala cemas 1,35 kali.

Sekali seminggu tidak mengubah apa-apa. Angka banding untuk kelompok itu berhenti di 0,97, 1,01, dan 0,96, semuanya berimpit dengan angka siswa yang jarang makan cepat saji. “Makan makanan cepat saji sekali seminggu tidak berhubungan secara bermakna dengan hasil mana pun,” tulis Fang, Deng, dan rekan-rekan dalam ringkasan naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Ketika siswa laki-laki dan perempuan dihitung terpisah, garisnya tetap jatuh di tempat yang sama. Pada siswa laki-laki yang makan cepat saji lebih dari sekali seminggu, angka banding untuk tekanan batin bermakna klinis 1,69, untuk gejala depresi 1,33, dan untuk gejala cemas 1,59. Ketiganya bermakna secara statistik.

Pada siswa perempuan, dua dari tiga bertahan. Angka banding untuk tekanan batin bermakna klinis 1,41 dan untuk gejala depresi 1,48. Untuk gejala cemas angkanya 1,19, dan rentangnya melintasi angka satu sehingga tidak bisa dipastikan. Sekali seminggu, pada laki-laki maupun perempuan, kembali tidak berkaitan dengan gejala apa pun.

Fang dan rekan-rekannya tidak membaca selisih itu sebagai bukti bahwa makanan cepat saji bekerja berbeda pada anak perempuan. Menurut mereka, pengujian resmi atas perbedaan antarjenis kelamin tidak menunjukkan hasil yang bermakna. Studi lintas negara yang menemukan perbedaan semacam itu memiliki sampel kira-kira 28 kali lebih besar daripada sampel di Lhasa.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Satu dari sembilan siswa, dan penulis menolak menganggapnya kecil

Sebelas persen bukan angka besar. Fang dan rekan-rekannya sendiri mencatat bahwa bagian siswa Lhasa yang sering makan cepat saji jauh lebih rendah daripada yang dilaporkan dari negara-negara lain. Justru di situ mereka berhenti. Kebiasaan yang belum meluas itu sudah meninggalkan jejak yang terbaca pada jawaban tentang murung dan khawatir.

“Bahkan pada tingkat paparan yang relatif rendah, risiko kesehatan jiwa dari konsumsi makanan cepat saji di kalangan remaja Tibet tidak dapat diabaikan,” tulis Yuhang Fang, Qiguo Lian, dan tujuh penulis lain pada bagian pembahasan, dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menyebut laporan ini, sepanjang pengetahuan mereka, sebagai yang pertama menelaah kaitan tersebut pada remaja di Xizang.

Latar di sekeliling angka itu juga tidak ringan. Dari seluruh siswa, 21,6 persen terjaring mengalami tekanan batin bermakna klinis, 23,9 persen bergejala depresi, dan 25,2 persen bergejala cemas. Hampir separuh, 49,37 persen, kurang tidur. Sebanyak 45,61 persen kurang bergerak, dan 26,23 persen pernah menjadi korban perundungan di sekolah.

Kaitan terkuat muncul pada ukuran gabungan, yang menangkap murung dan cemas sekaligus. Angka 1,51 itu lebih tinggi daripada angka untuk depresi saja atau cemas saja. Para penulis menduga makanan cepat saji bertalian dengan jalur yang sama-sama mendasari kedua keadaan itu, seperti peradangan saraf dan terganggunya hubungan usus dengan otak.

Mereka menyandingkan angka itu dengan laporan dari tempat lain. Sebuah studi lintas negara terhadap 222.401 remaja sekolah mencatat angka banding 1,12 untuk makan cepat saji mingguan. Pada mahasiswa di Mesir yang makan makanan sampah setiap hari, angkanya 4,5 sampai 11,1. Sebuah studi di Brasil tidak menemukan kaitan apa pun. Lhasa berada di antara ketiganya.

Anak yang tinggal di rumah, anak sulung, dan anak yang dirundung

Siapa 897 siswa itu? Lebih banyak laki-laki. Sebanyak 13,18 persen siswa laki-laki makan cepat saji lebih dari sekali seminggu, sedangkan siswa perempuan 9,71 persen. Mereka juga sedikit lebih muda. Rata-rata usia kelompok ini 15,79 tahun, sementara siswa yang jarang makan cepat saji rata-rata berusia 16,17 tahun.

Tempat tinggal ikut menentukan. Delapan dari sepuluh siswa dalam laporan ini tinggal di asrama, dan di antara mereka hanya 10,23 persen yang sering makan cepat saji. Pada siswa yang pulang ke rumah, angkanya 16,18 persen. Anak sulung lebih sering memakannya, 12,45 persen, dibandingkan anak ketiga atau sesudahnya, 8,04 persen.

Uang dan sekolah orang tua bergerak searah. Di keluarga yang ekonominya baik, 14,62 persen anak sering makan cepat saji. Di keluarga yang ekonominya kurang, 8,46 persen. Anak dari ayah berpendidikan perguruan tinggi mencatat 16,04 persen, anak dari ayah berpendidikan sekolah dasar ke bawah 9,20 persen. Pola pada pendidikan ibu serupa, 15,58 berbanding 9,61 persen.

Siapa yang paling sering makan cepat sajiSiswa laki-laki: Lebih dari sekali seminggu +13,18%; Siswa perempuan: Lebih dari sekali seminggu +9,71%; Tinggal di asrama: Lebih dari sekali seminggu +10,23%; Tidak tinggal di asrama: Lebih dari sekali seminggu +16,18%; Ekonomi keluarga baik: Lebih dari sekali seminggu +14,62%; Ekonomi keluarga kurang: Lebih dari sekali seminggu +8,46%; Tidak pernah dirundung: Lebih dari sekali seminggu +10,35%; Dirundung tiap minggu: Lebih dari sekali seminggu +17,14%.Siapa yang paling sering makan cepat sajiPersen yang makan cepat saji lebih dari sekali seminggu5%10%15%20%0Siswa laki-laki13,18%Siswa perempuan9,71%Tinggal di asrama10,23%Tidak tinggal di asrama16,18%Ekonomi keluarga baik14,62%Ekonomi keluarga kurang8,46%Tidak pernah dirundung10,35%Dirundung tiap minggu17,14%Rata-rata seluruh siswa 11,25 persen.
Sumber: Yuhang Fang, Liping Deng, Jun Xu, Gu Zuo, Jialin Kou, Yongchun Luo, Tashi Tashi, Simin Xu, dan Qiguo Lian, Fast food consumption and its association with mental distress among Tibetan adolescents: a cross-sectional study, BMC Public Health, naskah siap terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu ada perundungan. Di antara siswa yang tidak pernah dirundung, 10,35 persen sering makan cepat saji. Angka itu naik menjadi 12,75 persen pada yang pernah dirundung satu atau dua kali, 14,06 persen pada yang dirundung dua sampai tiga kali sebulan, dan 17,14 persen pada yang dirundung sedikitnya sekali seminggu. Anak tangganya rapi, naik setapak demi setapak.

Minuman manis berjalan beriringan. Hanya 5,57 persen siswa yang jarang minum minuman berpemanis sering makan cepat saji. Pada siswa yang meminumnya lebih dari sekali seminggu, angkanya 17,47 persen, tiga kali lipat lebih. Sebaliknya, status pernikahan orang tua, bentuk keluarga, mutu hubungan orang tua, dan kurang tidur tidak membedakan siapa yang sering makan cepat saji.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Tsampa, daging yak, dan dua arah yang tidak bisa dipisahkan

Mengapa garis itu ada? Para penulis menoleh ke meja makan Xizang. Pola makan tradisional di sana bertumpu pada tsampa, yaitu tepung jelai sangrai, teh mentega yak, dan daging yak. Menurut mereka, pembangunan ekonomi dan urbanisasi membuat pola makan itu kian sering ditambahi atau digantikan makanan cepat saji bergaya Barat.

Makanan cepat saji, tulis mereka, tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium, yang menurut riset lain dapat mengganggu sinyal otak remaja dan memicu peradangan. Di dataran tinggi, dugaan itu mereka tajamkan. Udara tipis menaikkan stres oksidatif, dan peralihan dari pangan tradisional yang padat gizi ke pangan padat energi tetapi miskin zat gizi mikro bisa menjadi guncangan yang lebih keras bagi tubuh.

Namun mereka sendiri menyodorkan cerita sebaliknya. Bisa jadi remaja yang sedang tertekan justru mencari makanan cepat saji sebagai pelarian. “Kedua jalur itu masuk akal; namun, studi ini tidak mampu mengurai sifat dua arah dari hubungan ini, dan studi longitudinal diperlukan untuk memastikannya,” tulis Fang, Lian, dan rekan-rekan dalam pembahasan.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Itu batas pertama yang mereka akui. Para siswa dipotret pada satu waktu, sehingga sebab dan akibat tidak bisa ditetapkan. Kebiasaan makan cepat saji juga hanya ditanyakan lewat satu butir yang dijawab siswa sendiri, tanpa keterangan porsi, jenis makanan, atau asupan keseluruhan. Semua sekolahnya berada di kota Lhasa, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di perdesaan atau wilayah Tibet lain.

Ada pula hal yang tidak ditanyakan sama sekali. Berat badan, waktu di depan layar, dan riwayat gangguan jiwa dalam keluarga tidak tercatat, padahal ketiganya, menurut para penulis, mungkin ikut memengaruhi kaitan yang mereka temukan. Mereka meminta studi yang mengikuti remaja dari waktu ke waktu sebelum kesimpulan yang lebih jauh ditarik.

Tiga hal kecil dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca

Pembahasan menyebut uji perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan tidak bermakna, tetapi bagian hasil tidak memuat angka uji itu. Dua rujukan yang dipakai untuk menopang pernyataan tentang pergeseran pola makan di Xizang ternyata berjudul tentang lintasan asupan lemak dan karbohidrat selama dua puluh tahun serta tentang beban penyakit asam urat pada orang muda di dunia.

Nama lembaga penulis utama juga tertulis dua rupa. Pada daftar afiliasi ia disebut Shanghai Institute for Biomedical and Pharmaceutical Technologies, sedangkan pada keterangan persetujuan etik disebut Shanghai Institute of Biological and Pharmaceutical Technologies. Naskah ini masih versi siap terbit yang belum melewati penyuntingan akhir.

Lembar-lembar yang diisi tanpa guru di ruang kelas Lhasa itu akhirnya menyisakan satu garis tipis. Di satu sisi, 7.076 siswa yang makan cepat saji paling banyak sekali seminggu. Di sisi lain, 897 siswa yang memakannya lebih sering, dengan murung dan khawatir yang lebih kerap tercatat. Mana yang datang lebih dulu, lembar itu tidak menjawab.

Bagikan

Baca Juga

Perundungan Siber Menumpulkan Daya Pikir, Olahraga Bukan Perisai
Rawan Pangan di Turki Tak Tertahan oleh Ijazah Sekolah Menengah
Makin Lama Duduk, Makin Rendah Kepadatan Tulang Panggul
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Asuransi Kesehatan Disatukan, Pendapatan Warga Desa China Naik
Gletser Thwaites di Antartika Mencair Lebih Cepat dari Perkiraan