Perundungan Siber Menumpulkan Daya Pikir, Olahraga Bukan Perisai

A A

Ilustrasi dua tangan memegang ponsel di dalam ruangan yang gelap [Foto: lina-jan/Pexels]

  • Mahasiswa yang lebih sering dirundung secara daring pada awal tahun melaporkan kemampuan mengatur pikiran yang lebih lemah enam bulan kemudian.
  • Sebanyak 69,1 persen menjawab tidak pernah, sedangkan sisanya pernah mengalaminya dalam kadar berbeda.
  • Dari seluruh kaitan perundungan dengan fungsi eksekutif, 61,84 persen berjalan lewat kecemasan dan 38,16 persen berlangsung langsung.
  • Pada mereka yang paling rajin berolahraga, penurunan fungsi eksekutif itu paling curam.
  • Para peneliti tidak dapat menyingkirkan kemungkinan arah sebaliknya dalam hubungan tersebut.
Daftar Isi
  1. Sejak Diamond 2013: kemampuan yang menopang hidup sehari-hari
  2. Sebelum Jia dan rekan: luka perasaan sudah dipetakan, daya pikir belum
  3. Januari 2025: hampir sepertiga mahasiswa pernah dirundung di internet
  4. Juli 2025: daya pikir korban lebih lemah, sebagian besar lewat cemas
  5. Yang diyakini sebelum 2025: olahraga menyangga daya pikir
  6. Temuan Jia dan rekan: keunggulan yang rapuh
  7. Sesudah Juli 2025: yang belum bisa dipastikan

Perundungan di bangku kuliah jarang lagi berbentuk dorongan di lorong atau ejekan di depan kelas. Kampus yang longgar, mahasiswa yang makin mandiri dan matang, serta risiko direkam lalu dipermalukan di internet membuat perundungan fisik dan lisan surut di perguruan tinggi. Niat buruknya tidak ikut surut, hanya berpindah ke layar: lebih tersembunyi, berlangsung 24 jam sehari, dan menghapus rumah sebagai tempat berlindung yang dulu masih dimiliki korban.

Pergeseran itulah yang menjadi titik berangkat Hongxiang Jia, Rui Suo, Jiale Wang, Luxing Zhou, dan Yinchen Liu, peneliti dari Tianjin University of Commerce, Hebei University of Engineering, Xinjiang Normal University, dan Tianjin University of Sport di Tiongkok. Artikel mereka, Cyber-victimized and cognitively fogged? Cyberbullying victimization and executive function, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1751 tahun 2026. Pertanyaannya sederhana: apakah dirundung di dunia maya, selain melukai perasaan, juga membuat pikiran berkabut.

Jawaban mereka datang dari 1.928 mahasiswa Tiongkok, rata-rata berusia hampir 19 tahun, yang ditanyai pada Januari 2025 dan sekali lagi pada Juli 2025. Mahasiswa yang lebih sering dirundung secara daring pada awal tahun melaporkan kemampuan mengatur pikiran yang lebih lemah enam bulan kemudian. Sebagian besar kaitan itu berjalan lewat rasa cemas, dan olahraga, yang semula diduga menjadi penyangga, ternyata tidak sanggup menahan kemerosotan tersebut.

Sejak Diamond 2013: kemampuan yang menopang hidup sehari-hari

Kemampuan yang diukur itu dikenal sebagai fungsi eksekutif atau kendali kognitif. Merujuk Diamond pada 2013, para peneliti mendefinisikannya sebagai sekumpulan proses berpikir yang menopang perilaku bertujuan: mengendalikan perhatian, menahan dorongan, menyimpan informasi di memori kerja, dan berpindah luwes dari satu aturan ke aturan lain. Dari sanalah seseorang menetapkan sasaran dan memecahkan masalah.

Naskah itu menyebut fungsi eksekutif sebagai peramal penting kecerdasan dan prestasi akademik yang sekaligus memengaruhi penyesuaian sosial dan pengaturan emosi. Gangguannya, menurut para peneliti, lazim ditemui pada orang dewasa muda yang menghadapi tuntutan kuliah dan kerap muncul bersama kesulitan belajar, masalah perilaku, kecemasan, dan depresi. Masa muda juga disebut sebagai periode ketika kemampuan ini masih matang dengan cepat, sehingga apa pun yang mengganggunya layak diperiksa.

Sebelum Jia dan rekan: luka perasaan sudah dipetakan, daya pikir belum

Riset terdahulu lebih banyak mencatat luka emosional. Peled pada 2019 menempatkan perundungan siber sebagai faktor risiko bagi perkembangan akademik, sosial, dan emosional mahasiswa, sedangkan Ortega dan rekan pada 2012 menunjukkan bahwa sifat internet yang terbuka, berpenonton tanpa batas, dan anonim membuat perundungan jenis ini lebih awet, tersembunyi, dan sulit dihindari. Giumetti dan Kowalski pada 2022 merumuskannya sebagai tindakan menyakiti, melecehkan, atau merendahkan yang disengaja dan berulang lewat perangkat elektronik.

Yang masih langka, menurut tim Tianjin, adalah bukti langsung bahwa pengalaman itu menyentuh fungsi eksekutif mahasiswa. Na, Dancy, dan Park pada 2015 baru sampai pada temuan bahwa korban terganggu dalam cara menilai keadaan dan menyesuaikan diri secara psikologis. Sebagian besar penelitian juga memotret satu waktu saja, sehingga tidak bisa menunjukkan mana yang datang lebih dulu. Itu sebabnya perundungan ditanyakan lebih dahulu dan daya pikir setengah tahun sesudahnya.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Januari 2025: hampir sepertiga mahasiswa pernah dirundung di internet

Pada pengukuran pertama, mahasiswa diminta mengingat enam bulan terakhir: apakah mereka pernah dihina, diejek, diancam, atau digosipkan di internet, dikirimi rekaman suara yang tidak menyenangkan, sengaja dikucilkan di ruang daring, atau mendapati informasi pribadinya disebarkan tanpa izin. Candaan akrab dan pertengkaran biasa antarteman tidak dihitung. Sebanyak 69,1 persen menjawab tidak pernah.

Sisanya, hampir sepertiga, pernah mengalaminya dalam kadar berbeda. Seperempat mahasiswa, 25,1 persen atau 483 orang, berada satu tingkat di atas tidak pernah, 5,2 persen atau 100 orang di tingkat kedua, dan 0,7 persen atau 13 orang menjawab sering. Para peneliti menilai sebaran yang menumpuk di angka nol itu wajar, sebab perundungan siber yang berat adalah peristiwa traumatis yang relatif jarang di kalangan mahasiswa pada umumnya.

Tiga dari sepuluh pernah dirundungTidak pernah (0): Mahasiswa +69,1%; Skor 1: Mahasiswa +25,1%; Skor 2: Mahasiswa +5,2%; Sering (3): Mahasiswa +0,7%.Tiga dari sepuluh pernah dirundungPerundungan siber enam bulan terakhir, persen mahasiswa20%40%60%80%0Tidak pernah (0)69,1%Skor 125,1%Skor 25,2%Sering (3)0,7%Skala 0 (tidak pernah) sampai 3 (sering); 1.928 mahasiswa.
Sumber: Hongxiang Jia, Rui Suo, Jiale Wang, Luxing Zhou, dan Yinchen Liu, Cyber-victimized and cognitively fogged? Cyberbullying victimization and executive function, BMC Public Health, 26(1751), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mahasiswa laki-laki melaporkan perundungan lebih sering daripada perempuan, dengan rata-rata skor 0,47 berbanding 0,30 pada rentang nol sampai tiga. Mereka juga mencatat skor fungsi eksekutif sedikit lebih tinggi, 22,63 berbanding 22,10, dan lebih banyak hari berolahraga dalam sepekan, 3,51 berbanding 3,00. Tingkat kecemasan kedua kelompok nyaris sama. Status anak tunggal, yang disandang 19,2 persen peserta, tidak membedakan apa pun.

Mahasiswa laki-laki dan perempuanMahasiswa laki-laki dan perempuanMahasiswa laki-laki dan perempuanRata-rata tiap kelompokLaki-lakiPerempuan0,470,30Skor perundungansiber22,6322,10Skor fungsieksekutif3,343,35Skor kecemasan3,513,00Hari olahragasepekanKecemasan kedua kelompok tidak berbeda bermakna.
Sumber: Hongxiang Jia, Rui Suo, Jiale Wang, Luxing Zhou, dan Yinchen Liu, Cyber-victimized and cognitively fogged? Cyberbullying victimization and executive function, BMC Public Health, 26(1751), 2026. Grafik: Cekricek.id

Juli 2025: daya pikir korban lebih lemah, sebagian besar lewat cemas

Enam bulan berselang, pola yang diduga muncul. Makin sering seorang mahasiswa dirundung pada paruh pertama, makin rendah skor fungsi eksekutifnya pada Juli, dan kaitan itu bertahan sesudah usia, jenis kelamin, tingkat kuliah, status anak tunggal, serta pendidikan orang tua diperhitungkan. Hubungannya tidak besar tetapi konsisten. Temuan ini, tulis para peneliti, sejalan dengan Real-Fernández dan rekan yang pada 2025 mengaitkan perundungan siber, kecemasan, dan fungsi eksekutif pada remaja.

Kecemasan menjadi jembatan utamanya. Korban perundungan siber lebih cemas, dan mahasiswa yang lebih cemas memiliki fungsi eksekutif yang lebih lemah; kaitan cemas dengan daya pikir itu yang paling kuat di antara semua hubungan yang diperiksa. Bila seluruh kaitan perundungan dengan fungsi eksekutif dianggap seratus bagian, 61,84 persen berjalan lewat kecemasan dan 38,16 persen sisanya berlangsung langsung. Dengan kata lain, lebih dari tiga perlima jalannya melewati rasa cemas.

Penjelasan yang dipakai berasal dari teori kendali perhatian yang dirumuskan Eysenck, Derakshan, Santos, dan Calvo pada 2007. Menurut teori itu, kecemasan menurunkan efisiensi berpikir karena kekhawatiran yang menyusup berebut tempat dengan tugas yang sedang dikerjakan, padahal kapasitas pengendali pikiran terbatas. Orang yang cemas menjadi lebih sulit menyaring informasi yang tidak relevan dan mempertahankan fokus. Tim Jia memilih kecemasan, bukan depresi atau rendahnya harga diri, justru karena cara kerjanya paling dekat dengan fungsi eksekutif.

Arah hubungan itu tidak tunggal, dan di sinilah para peneliti mencatat pandangan yang berbeda. Han dan rekan pada 2016 menunjukkan bahwa gangguan fungsi eksekutif juga dapat meramalkan gejala cemas, sehingga kaitan keduanya mungkin berjalan dua arah. “Meski demikian, jalur mediasi ini sebaiknya ditafsirkan sebagai salah satu penjelasan yang berlandaskan teori, bukan sebagai satu-satunya arah hubungan yang mungkin,” tulis Hongxiang Jia, peneliti Department of Physical Education Teaching Tianjin University of Commerce, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Yang diyakini sebelum 2025: olahraga menyangga daya pikir

Olahraga masuk ke penelitian ini dengan reputasi baik. Naskah itu merangkum bukti bahwa aktivitas fisik berkaitan erat dengan perkembangan fungsi eksekutif pada awal masa dewasa, meningkatkan aliran darah dan keaktifan bagian depan otak, serta menumbuhkan rasa mampu dan rasa memegang kendali. Sebaliknya, kurang gerak dikaitkan dengan risiko gangguan fungsi eksekutif yang lebih tinggi. Literatur terdahulu, tulis para peneliti, juga luas mencatat aktivitas fisik sebagai penyangga terhadap tekanan psikologis, termasuk perundungan tradisional.

Mahasiswa dalam penelitian ini cukup aktif. Hanya 5,8 persen yang sama sekali tidak berolahraga dalam tujuh hari terakhir, 31,5 persen bergerak satu sampai dua hari, 40,5 persen tiga sampai empat hari, dan 22,3 persen lima sampai tujuh hari. Sesuai dugaan lama, mereka yang lebih sering berolahraga memang memiliki fungsi eksekutif yang lebih baik. Pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah keunggulan itu bertahan ketika perundungan siber datang.

Temuan Jia dan rekan: keunggulan yang rapuh

Jawabannya berlawanan dengan harapan. Pada mahasiswa yang jarang berolahraga, perundungan siber hampir tidak mengubah fungsi eksekutif, yang memang sudah rendah sejak awal; para peneliti menyebutnya efek lantai. Pada mahasiswa dengan tingkat olahraga sedang, penurunannya nyata. Pada mereka yang paling rajin berolahraga, penurunan itu paling curam: angka kemiringannya 0,146, berbanding 0,010 pada kelompok yang jarang bergerak.

Itu tidak berarti olahraga merugikan. Mahasiswa yang rajin bergerak berangkat dari titik yang jauh lebih tinggi, sehingga pada tingkat perundungan tertinggi pun skor mutlak mereka tetap di atas rekan yang tidak aktif. Yang terkikis adalah selisihnya. “Alih-alih berfungsi sebagai penyangga yang tak tertembus, temuan ini menunjukkan bahwa manfaat kognitif aktivitas fisik merupakan ‘keunggulan kognitif yang rapuh’,” tulis Jia dan rekan-rekannya.

Dua penjelasan ditawarkan untuk kejatuhan yang curam itu. Pertama, dengan merujuk Liu, Feng, Tong, dan Guo pada 2023, mahasiswa yang aktif berolahraga biasanya memiliki modal sosial lebih besar dan lebih menyatu dengan jaringan pertemanan, sehingga dikucilkan dan dirusak nama baiknya di internet terasa sebagai penyimpangan tajam dari pengalaman sosial mereka sehari-hari. Kedua, karena kapasitas berpikirnya lebih besar, mereka mungkin lebih dalam merenungkan ancaman itu, dan perenungan tersebut menyedot cadangan pikiran yang semestinya dipakai untuk tugas.

Satu hasil lain ikut menyimpang dari riset sebelumnya. Qin dan rekan serta Sun, Zhu, dan Bao, keduanya pada 2024, melaporkan bahwa mahasiswa yang lebih banyak bergerak cenderung kurang cemas, tetapi dalam data ini olahraga dan kecemasan tidak berkaitan. Para peneliti menduga penyebabnya ada pada pertanyaan yang hanya menghitung hari tanpa menimbang intensitas dan jenis olahraga, pada tekanan akademik yang tetap membuat cemas mahasiswa yang aktif, atau pada kebiasaan mahasiswa Tiongkok berolahraga untuk bergaul dan bersenang-senang, bukan untuk meredakan stres.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Sesudah Juli 2025: yang belum bisa dipastikan

Atas dasar temuan itu, para peneliti meminta pendidik dan tenaga kesehatan jiwa kampus tidak bertumpu pada anjuran berolahraga saja. Aktivitas fisik tetap mereka sebut penting bagi kesehatan berpikir, tetapi program kampus, menurut mereka, harus lebih dulu mengutamakan pencegahan perundungan siber yang ketat dan penanganan kecemasan yang terarah.

Para penulis mengakui sejumlah batas. Karena fungsi eksekutif dan kecemasan tidak diukur pada titik awal yang sama, mereka tidak dapat menyingkirkan kemungkinan arah sebaliknya: mahasiswa yang sejak semula lemah mengatur pikiran dan emosi mungkin lebih mudah menjadi sasaran perundungan. Perundungan dan olahraga masing-masing ditanyakan dengan satu pertanyaan saja, semua jawaban berasal dari pengakuan sendiri, depresi tidak ikut diperhitungkan, dan seluruh peserta adalah mahasiswa Tiongkok. Untuk memastikan urutan waktunya, mereka menganjurkan pengukuran tiga gelombang atau lebih.

Beberapa hal di dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Abstrak dan simpulan memakai bahasa sebab-akibat, bahwa perundungan siber merusak fungsi eksekutif, padahal bagian keterbatasan menyatakan arah sebaliknya belum dapat disingkirkan. Tingkat keikutsertaan lanjutan ditulis 82,50 persen, sedangkan 1.928 dari 2.331 kuesioner menghasilkan 82,7 persen. Bagian pendanaan berbunyi tidak ada, tetapi tiga penulis tercatat berperan dalam perolehan dana, dan nomor persetujuan etik diberi label nomor hibah.

Dalam rantai riset perundungan siber, penelitian ini menambahkan satu mata rantai sesudah Peled, Ortega, dan Na memetakan luka emosionalnya: kaitan dengan daya pikir, dengan kecemasan di tengahnya dan olahraga yang ternyata bukan perisai. Mata rantai berikutnya, menurut penulisnya sendiri, harus menunjukkan mana yang datang lebih dulu. Sampai saat itu, yang tercatat adalah mahasiswa yang dirundung di layar pada awal 2025 dan pikirannya lebih berkabut pada pertengahan tahun, sementara keunggulan yang dibangun lewat olahraga ikut terkikis.

Bagikan

Baca Juga

Rawan Pangan di Turki Tak Tertahan oleh Ijazah Sekolah Menengah
Makin Lama Duduk, Makin Rendah Kepadatan Tulang Panggul
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Asuransi Kesehatan Disatukan, Pendapatan Warga Desa China Naik
Pengawas Makanan Kota Inggris Tinggal Sembilan untuk 4.000 Usaha
Anak Autis di Tiongkok Diajak Berbaur, Kesepiannya Belum Terjawab