Rawan Pangan di Turki Tak Tertahan oleh Ijazah Sekolah Menengah

A A

Ilustrasi tumpukan buncis, cabai, terung, dan wortel di pasar rakyat Göztepe, Istanbul [Foto: E4024/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hasilnya, 66,4 persen peserta aman pangan, sedangkan 33,6 persen mengalami rawan pangan ringan, sedang, atau berat.
  • Rawan pangan berat dialami 9,3 persen laki-laki, sedangkan pada perempuan 8,2 persen.
  • Di antara orang yang mengaku tidak mampu menutup pengeluaran bulanan, hanya 29,2 persen aman pangan.
  • Dibandingkan dengan lulusan pendidikan tinggi, semua jenjang lain menanggung risiko 1,4 sampai 5,7 kali lebih tinggi.
Daftar Isi
  1. Perempuan di tingkat ringan dan sedang
  2. Laki-laki di tingkat berat
  3. Dompet yang lapang dan ijazah sarjana
  4. Dompet yang sempit dan ijazah menengah
  5. Yang ditunjukkan peta dan usia
  6. Yang tidak ditunjukkan naskah

Selembar ijazah sekolah menengah atas dan sepiring makanan yang cukup tampak seperti dua urusan yang tidak saling menyapa, tetapi di Turki keduanya terikat erat. Di antara 12.986 orang berusia 15 tahun ke atas yang jawabannya tercatat dalam survei gizi dan kesehatan negara itu pada 2017, kira-kira satu dari tiga pernah merasakan rawan pangan, dari sekadar cemas soal makanan sampai benar-benar kelaparan. Lulusan sekolah menengah atas tidak terlindung dari kelompok itu.

Gambaran itu disusun Simay Kundakçı, Güleren Sabuncular, Elif Akbaş, Sümeyye Gezer, dan Şule Aktaç dari Jurusan Gizi dan Dietetika Fakultas Ilmu Kesehatan Marmara University, Istanbul, dalam artikel Food insecurity and sociodemographic determinants: a cross-sectional analysis from Türkiye nutrition and health survey (TNHS) – 2017 yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka membaca ulang data survei milik Kementerian Kesehatan Turki. Hasilnya, 66,4 persen peserta aman pangan, sedangkan 33,6 persen mengalami rawan pangan ringan, sedang, atau berat.

Tiga tingkat itu punya arti yang berbeda. Rawan pangan ringan berarti orang mulai khawatir soal akses terhadap makanan, dan pada tingkat sedang mutu serta jumlah makanan sudah terganggu. Pada tingkat berat, orang mengalami lapar dan tidak makan. Dari seluruh peserta, 1.354 orang berada di tingkat ringan, 1.885 orang di tingkat sedang, dan 1.129 orang di tingkat berat. Para penulis menemukan bahwa faktor yang sama dapat bekerja ke arah berbeda pada tiap tingkat.

Perempuan di tingkat ringan dan sedang

Perempuan mengisi 55,1 persen peserta. Di antara mereka, 11,5 persen mengalami rawan pangan ringan dan 16,5 persen rawan pangan sedang. Pada laki-laki, angkanya 9,1 persen dan 12,0 persen. Setelah usia, pendidikan, status perkawinan, keuangan, dan wilayah ikut diperhitungkan, risiko perempuan untuk rawan pangan ringan dan sedang kira-kira 1,2 kali risiko laki-laki.

Para penulis menjelaskan kerentanan itu dengan dua hal, yakni tingkat kerja perempuan yang lebih rendah dan tanggung jawab mereka membeli bahan makanan serta menyiapkan hidangan. Mereka mengutip laporan Turkish Statistical Institute tahun 2017 yang mencatat tingkat kerja perempuan kurang dari separuh tingkat kerja laki-laki. Menurut naskah, kaitan antara jenis kelamin dan rawan pangan tetap ada terlepas dari perbedaan pendidikan.

Perempuan dan laki-laki di tiap tingkatPerempuan lebih banyak di tingkat rawan pangan ringan dan sedang, laki-laki sedikit lebih banyak di tingkat berat.Perempuan dan laki-laki di tiap tingkatPersen peserta menurut jenis kelamin dan tingkat rawan panganPerempuanLaki-laki63,7%69,6%Aman pangan11,5%9,1%Rawan ringan16,5%12,0%Rawan sedang8,2%9,3%Rawan beratUrutan berbalik pada tingkat berat.
Sumber: Simay Kundakçı, Güleren Sabuncular, Elif Akbaş, Sümeyye Gezer, dan Şule Aktaç, Food insecurity and sociodemographic determinants: a cross-sectional analysis from Türkiye nutrition and health survey (TNHS) – 2017, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Laki-laki di tingkat berat

Di sisi lain, pada tingkat berat urutannya berbalik. Rawan pangan berat dialami 9,3 persen laki-laki, sedangkan pada perempuan 8,2 persen. Dalam hitungan yang sudah menimbang faktor lain, risiko perempuan untuk tingkat berat lebih rendah, dengan angka 0,9 terhadap laki-laki. Selisihnya tidak lebar, tetapi arahnya berlawanan dengan dua tingkat sebelumnya.

Penjelasan yang ditawarkan untuk sisi ini berhati-hati. Risiko berat pada laki-laki, tulis para penulis, mungkin berkaitan dengan peran mereka sebagai pencari nafkah utama rumah tangga, sehingga mereka lebih keras terpukul oleh pengangguran dan pendapatan yang tidak tetap. Pada perempuan, penjelasannya menyangkut pekerjaan dan urusan menyediakan makanan; pada laki-laki, penjelasannya menyangkut nafkah yang terputus.

Status perkawinan memperlihatkan pola serupa, yakni diam pada dua tingkat pertama dan bersuara pada tingkat berat. Tidak ada kaitan yang bermakna antara status perkawinan dan rawan pangan ringan atau sedang. Pada tingkat berat, risiko orang yang belum pernah menikah kira-kira 1,5 kali, dan risiko orang yang menjanda, menduda, bercerai, atau berpisah 1,25 kali risiko orang yang menikah. Rumah tangga satu orang, tulis para penulis, tidak dapat berbagi pendapatan dan menanggung biaya tetap sendirian.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Dompet yang lapang dan ijazah sarjana

Dari semua faktor yang ditimbang, penilaian orang atas keuangan rumah tangganya sendiri muncul sebagai penentu terkuat pada ketiga tingkat. Di antara mereka yang mengaku hidup nyaman, 93,4 persen aman pangan dan hanya 1,4 persen mengalami rawan pangan berat. Secara keseluruhan, rawan pangan di kelompok ini 6,6 persen.

Ijazah perguruan tinggi bekerja hampir sama kuatnya. Di antara lulusan pendidikan tinggi, 85,0 persen aman pangan, dan rawan pangan berat hanya 3,2 persen. Para penulis mencatat bahwa perlindungan pendidikan paling nyata justru di jenjang tertinggi ini. Mereka menyandingkannya dengan data kemiskinan Turkish Statistical Institute tahun 2017, yang mencatat angka kemiskinan lulusan pendidikan tinggi 1,5 persen.

Rumah tangga berpendapatan tinggi, menurut naskah, punya penyangga. Kesulitan sementara dalam memperoleh makanan dapat mereka atasi dengan tabungan, kredit, atau jaringan dukungan sosial. Data belanja rumah tangga 2017 yang dikutip para penulis menunjukkan bahwa kelompok pendapatan tertinggi hanya menyisihkan 14,6 persen anggarannya untuk makanan dan minuman nonalkohol.

Makin sempit dompet, makin sering laparHidup nyaman: Rawan pangan berat +1,4%; Tanpa kesulitan keuangan serius: Rawan pangan berat +3,1%; Pas-pasan menutup pengeluaran bulanan: Rawan pangan berat +9,6%; Tidak mampu menutup pengeluaran bulanan: Rawan pangan berat +25,6%.Makin sempit dompet, makin sering laparPersen rawan pangan berat menurut keuangan rumah tangga10%20%30%0Hidup nyaman1,4%Tanpa kesulitan keuangan serius3,1%Pas-pasan menutup pengeluaran bulanan9,6%Tidak mampu menutup pengeluaran bulanan25,6%Dari 12.986 peserta survei gizi dan kesehatan Turki 2017.
Sumber: Simay Kundakçı, Güleren Sabuncular, Elif Akbaş, Sümeyye Gezer, dan Şule Aktaç, Food insecurity and sociodemographic determinants: a cross-sectional analysis from Türkiye nutrition and health survey (TNHS) – 2017, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dompet yang sempit dan ijazah menengah

Pada sisi sebaliknya, angka-angkanya menanjak tajam. Di antara orang yang mengaku tidak mampu menutup pengeluaran bulanan, hanya 29,2 persen aman pangan. Rawan pangan di kelompok ini mencapai 70,8 persen, dan kira-kira satu dari empat orang, tepatnya 25,6 persen, berada di tingkat berat. Mereka yang pas-pasan menutup pengeluaran bulanan mencatat 9,6 persen rawan pangan berat.

Dibandingkan dengan orang yang hidup nyaman, risiko kelompok dengan keuangan lebih sulit naik 2,8 sampai 16 kali untuk tingkat ringan, 2,8 sampai 29 kali untuk tingkat sedang, dan 2,4 sampai 48 kali untuk tingkat berat. Kelompok pendapatan terendah, menurut data belanja yang sama, menghabiskan 28,6 persen anggarannya untuk makanan dan minuman nonalkohol. Makin kecil pendapatan, makin berat beban belanja pangan dan makin rentan rumah tangga terhadap gejolak harga.

Rumah tangga seperti itu tidak punya penyangga. Mereka, tulis para penulis, terpaksa memakai siasat jangka pendek, yaitu menyantap makanan bermutu lebih rendah, mengurangi jumlah waktu makan, atau mencari bantuan pangan darurat. Rawan pangan ringan kerap masih dapat diatasi dengan penyesuaian kecil pada makanan, sedangkan tingkat sedang dan berat mencerminkan pendapatan yang memang tidak cukup.

Akibatnya tidak berhenti di meja makan. “Rawan pangan bukan sekadar kekurangan kalori; ia kerap berkaitan dengan kekurangan zat gizi mikro, mutu makanan yang buruk, dan dampak kesehatan yang merugikan sepanjang hayat,” tulis Kundakçı dan empat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Pada orang dewasa, lanjut mereka, rawan pangan dikaitkan dengan naiknya risiko obesitas, depresi, dan penyakit kronis seperti diabetes; pada anak, ia dapat tampak sebagai stunting dan kesulitan belajar.

Ijazah di bawah perguruan tinggi tidak memberi perlindungan setara. Dibandingkan dengan lulusan pendidikan tinggi, semua jenjang lain menanggung risiko 1,4 sampai 5,7 kali lebih tinggi. Rawan pangan berat tercatat 14,1 persen pada orang buta huruf, 10,1 persen pada lulusan pendidikan dasar, dan 6,7 persen pada lulusan sekolah menengah atas. Angka kemiskinan lulusan sekolah menengah atas 5,5 persen, sedangkan pada orang buta huruf 25,4 persen.

Para penulis membaca pola itu sebagai semacam ambang, sebab manfaat pendidikan baru jelas terasa di tingkat universitas. Di antara jenjang-jenjang menengah, mereka tidak menemukan tangga yang rapi. Dalam terjemahan dari bahasa Inggris, mereka menulis bahwa “jenjang pendidikan menengah mungkin tidak memberikan kestabilan ekonomi yang cukup untuk menahan rawan pangan sedang atau berat dalam keadaan ekonomi saat ini.” Mereka menduga pasar kerja Turki memberi imbalan ekonomi yang relatif terbatas bagi lulusan sekolah menengah.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Yang ditunjukkan peta dan usia

Peta Turki memperlihatkan belahan yang serupa. Dengan Istanbul sebagai pembanding, Anatolia Timur Laut menanggung risiko tertinggi pada ketiga tingkat, yaitu 1,74 kali untuk rawan pangan ringan, 2,34 kali untuk sedang, dan 1,87 kali untuk berat. Di wilayah itu hanya 49,6 persen peserta aman pangan, dan 13,5 persen mengalami rawan pangan berat. Anatolia Tenggara tidak jauh berbeda, dengan 50,3 persen aman pangan dan 13,2 persen rawan pangan berat.

Di sisi lain, Marmara Timur mencatat peserta aman pangan terbanyak, 72,2 persen, disusul Aegean dengan 70,4 persen. Risiko rawan pangan berat di Marmara Timur turun menjadi 0,60 kali risiko Istanbul. Para penulis mengaitkannya dengan peran Istanbul, Aegean, dan Marmara sebagai pusat industri dan jasa, yang memperkuat akses pasar. Di timur dan tenggara, ketergantungan pada pertanian membuat penghidupan rentan terhadap keadaan produksi dan gejolak pasar.

Usia menambah satu pasangan lagi. Rawan pangan berat paling sering ditemukan pada kelompok 19 sampai 49 tahun, yakni 9,2 persen, sedangkan pada kelompok 65 tahun ke atas 7,3 persen. Dibandingkan dengan kelompok 19 sampai 49 tahun, risiko rawan pangan berat pada usia 50 sampai 64 tahun tinggal 0,60 kali, dan pada usia 65 tahun ke atas 0,38 kali.

Para penulis menyebut pensiun, bantuan sosial, program pangan bagi lansia, dan dukungan anak atau keluarga sebagai penjelasan yang tersedia dalam kepustakaan. Sebagian lansia di perdesaan juga hidup dari hasil produksinya sendiri. Namun, mereka mengingatkan bahwa kajian lain di Turki mengaitkan rawan pangan pada lansia dengan kerapuhan dan malnutrisi. Usia lanjut melindungi dalam hitungan ini, tetapi tidak membuat persoalannya hilang.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Yang tidak ditunjukkan naskah

Naskah ini punya batas yang diakui para penulisnya sendiri. Data dipotret pada satu waktu, sehingga kaitan antarfaktor tidak dapat dibaca sebagai sebab dan akibat. Jawaban peserta bersandar pada ingatan dan laporan diri, yang dapat membuat rawan pangan tercatat lebih rendah atau lebih tinggi daripada kenyataan. Susunan rumah tangga, asupan gizi, dan keadaan kesehatan juga tidak masuk hitungan karena tidak tersedia dalam data.

Ada pula beberapa hal yang dapat diperiksa pembaca. Bagian hasil menulis bahwa risiko rawan pangan sedang 3,6 kali dan berat 5,7 kali lebih tinggi pada lulusan sekolah menengah atas, padahal tabelnya menunjukkan persentase rawan pangan berat tertinggi ada pada orang buta huruf, dan bagian pembahasan menyebut angka hingga lima kali. Untuk rawan pangan ringan, wilayah berisiko terendah disebut Mediterranean dengan 1,36 kali, angka yang masih di atas pembandingnya.

Para penulis juga menyatakan tidak memakai bobot sampel karena tujuannya menelaah kaitan, bukan menaksir angka nasional, tetapi pembahasan tetap menyimpulkan sepertiga penduduk Turki berusia 15 tahun ke atas mengalami rawan pangan. Bila dijumlahkan, kolom aman pangan pada baris pendidikan, status perkawinan, dan keuangan menghasilkan 8.617 orang, sedangkan judul kolomnya 8.618. Selisih satu orang itu kecil, tetapi tidak dijelaskan.

Ijazah dan sepiring makanan, perempuan dan laki-laki, timur dan barat: naskah ini tidak memenangkan salah satu sisi dari pasangan-pasangan itu. Perempuan lebih sering berada di tingkat ringan dan sedang, laki-laki sedikit lebih sering di tingkat berat, dan keduanya sama-sama bergantung pada isi dompet rumah tangga. Yang tersisa adalah gambar sebuah negeri tempat rawan pangan berubah wajah menurut siapa yang ditanya dan di mana ia tinggal.

Bagikan

Baca Juga

Makin Lama Duduk, Makin Rendah Kepadatan Tulang Panggul
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Asuransi Kesehatan Disatukan, Pendapatan Warga Desa China Naik
Gletser Thwaites di Antartika Mencair Lebih Cepat dari Perkiraan
Putusan Rabi Dov Lior soal Zaitun Palestina Picu Kecaman
Ribuan Warga Tunisia Gelar Protes Terbesar dalam Bertahun-tahun