Makin Lama Duduk, Makin Rendah Kepadatan Tulang Panggul

A A

Ilustrasi seorang pekerja duduk menghadap monitor komputer di meja putih, tampak dari belakang [Foto: Mizunokozuki/Pexels]

  • Kelompok yang duduk delapan jam atau lebih sehari punya kepadatan tulang panggul paling rendah.
  • Setiap tambahan satu jam duduk berkaitan dengan kepadatan tulang panggul lebih rendah 0,0024 gram per sentimeter persegi.
  • Kaitan paling tajam muncul pada usia 50 sampai 59 tahun.
  • Para penulis menyatakan rancangan riset itu tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Delapan Jam Duduk
  2. Peta Para Peserta
  3. Jenis Kelamin dan Usia
  4. Berat Badan dan Obat
  5. Mengapa Tulang Panggul
  6. Seberapa Besar Artinya
  7. Batas Temuan Ini
  8. Yang Perlu Dicek

Makin lama orang duduk, makin rendah kepadatan tulang panggulnya. Kaitan itu muncul pada 15.328 orang dewasa Amerika Serikat berusia 18 sampai 59 tahun. Selisihnya kecil, tetapi arahnya terus menurun seiring bertambahnya jam duduk.

Temuan itu ditulis Chaoquan Yang, Zhiling Huang, Yue Qiu, Wenjun Hao, Rongyuan Liang, Xiajie Huang, dan Yan Chen. Judul naskahnya Longer sedentary time is associated with increased risk of low pelvic bone density. Naskah berbahasa Inggris itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Ketujuh penulis bekerja di Department of Bone and Joint Surgery, The First Affiliated Hospital of Guangxi Medical University, Nanning, China. Mereka memakai data survei kesehatan dan gizi nasional Amerika Serikat, NHANES, tahun 2011 sampai 2018. Duduk yang dihitung mencakup duduk di meja, di perjalanan, saat membaca, menonton televisi, dan memakai komputer, tanpa waktu tidur.

Delapan Jam Duduk

Kelompok yang duduk delapan jam atau lebih sehari punya kepadatan tulang panggul paling rendah. Dibanding kelompok yang duduk kurang dari empat jam, selisih rata-ratanya 0,018 gram per sentimeter persegi. Selisih itu bertahan setelah usia, jenis kelamin, ras, berat badan, pendapatan, pendidikan, rokok, alkohol, dan aktivitas fisik ikut diperhitungkan.

Kelompok di tengah tidak sejelas itu. Orang yang duduk empat sampai enam jam dan enam sampai delapan jam juga punya angka lebih rendah, yakni 0,012 dan 0,008. Namun kedua selisih itu tidak bermakna secara statistik pada perhitungan terlengkap.

Dihitung per jam, polanya lurus. Setiap tambahan satu jam duduk dalam sehari berkaitan dengan kepadatan tulang panggul yang lebih rendah 0,0024 gram per sentimeter persegi. Para penulis tidak menemukan titik belok pada garis itu.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Peta Para Peserta

Rata-rata usia peserta 35,90 tahun. Laki-laki mengisi 52,2 persen dan perempuan 47,8 persen dari peserta, yang tersaring dari 39.156 orang yang disurvei. Rata-rata kepadatan tulang panggul mereka 1,240 gram per sentimeter persegi.

Para penulis membagi peserta menjadi empat kelompok menurut kepadatan tulangnya. Di kelompok terendah, 47,3 persen duduk delapan jam atau lebih sehari. Di kelompok tertinggi, angkanya 40,9 persen.

Dua kelompok di tengah berada di antaranya, yakni 44,1 persen dan 43,7 persen. Artinya, di kelompok berkepadatan terendah, hampir satu dari dua orang duduk selama itu. Di kelompok tertinggi, kira-kira dua dari lima orang.

Yang duduk 8 jam lebih sehariKepadatan terendah: Duduk 8 jam lebih +47,3%; Kelompok kedua: Duduk 8 jam lebih +44,1%; Kelompok ketiga: Duduk 8 jam lebih +43,7%; Kepadatan tertinggi: Duduk 8 jam lebih +40,9%.Yang duduk 8 jam lebih sehariPersen peserta, menurut empat kelompok kepadatan tulang panggul20%40%60%0Kepadatan terendah47,3%Kelompok kedua44,1%Kelompok ketiga43,7%Kepadatan tertinggi40,9%Angka menurut Tabel 1 naskah; 15.328 peserta berusia 18-59 tahun.
Sumber: Chaoquan Yang, Zhiling Huang, Yue Qiu, Wenjun Hao, Rongyuan Liang, Xiajie Huang, dan Yan Chen, Longer sedentary time is associated with increased risk of low pelvic bone density, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelompok terendah juga berbeda dalam hal lain. Perempuan mengisi 56,1 persen kelompok itu, sedangkan di kelompok tertinggi hanya 34,9 persen. Indeks massa tubuh rata-ratanya 26,0, lebih rendah daripada 30,1 di kelompok tertinggi.

Usia ikut membedakan. Rata-rata usia kelompok terendah 36,8 tahun, sedangkan kelompok tertinggi 33,3 tahun. Kebiasaan merokok tidak berbeda di antara keempat kelompok, dengan sekitar 40 persen pernah merokok di tiap kelompok.

Dua ujung kepadatan tulang panggulDua ujung kepadatan tulang panggulDua ujung kepadatan tulang panggulKelompok kepadatan terendah dan tertinggi dari empat kelompokTerendahTertinggi56,1%34,9%Perempuan36,8 tahun33,3 tahunUsia rata-rata26,030,1Indeks massatubuh47,3%40,9%Duduk 8 jam lebih
Sumber: Chaoquan Yang, Zhiling Huang, Yue Qiu, Wenjun Hao, Rongyuan Liang, Xiajie Huang, dan Yan Chen, Longer sedentary time is associated with increased risk of low pelvic bone density, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jenis Kelamin dan Usia

Pada laki-laki, duduk delapan jam atau lebih berkaitan dengan kepadatan lebih rendah 0,021. Kaitan itu bermakna secara statistik. Pada perempuan angkanya 0,017, tetapi tidak bermakna karena rentang ketidakpastiannya melewati nol.

Uji perbedaan antara kedua jenis kelamin juga tidak bermakna. Nilainya 0,650, jauh di atas batas 0,05 yang dipakai para penulis. Jadi naskah ini tidak membuktikan bahwa tulang panggul laki-laki lebih terdampak.

Kaitan paling tajam muncul pada usia 50 sampai 59 tahun. Di kelompok usia itu, selisih antara yang duduk delapan jam lebih dan yang duduk kurang dari empat jam mencapai 0,042. Angka itu paling besar di antara empat kelompok usia.

Pada usia 18 sampai 25, 25 sampai 39, dan 40 sampai 49 tahun, selisihnya kecil dan tidak bermakna. Angkanya berturut-turut 0,005, 0,010, dan 0,003. Para penulis menyebut pembagian usia itu mengikuti fase pertumbuhan rangka dan awal berkurangnya massa tulang.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Berat Badan dan Obat

Berat badan mengubah gambaran. Pada peserta berindeks massa tubuh 25 ke atas, duduk delapan jam lebih berkaitan dengan kepadatan lebih rendah 0,027. Pada peserta di bawah 25, kaitan itu tidak tampak dan angkanya justru sedikit positif, yakni 0,010.

Para penulis menawarkan penjelasan. Tubuh yang lebih berat memang menambah beban diam pada tulang. Namun gangguan adipokin dan peradangan ringan pada obesitas dapat mendorong pengikisan tulang, sehingga manfaat beban tadi berkurang.

Obat glukokortikoid juga membedakan hasil. Kaitan duduk lama dengan tulang panggul lebih kuat pada peserta yang tidak memakai obat itu. Pada pemakai, jumlah orangnya sedikit dan angkanya goyah.

Pemakai glukokortikoid memang sangat sedikit, yakni 62 orang atau 1,6 persen di kelompok kepadatan terendah. Di kelompok tertinggi jumlahnya 38 orang atau 1,0 persen. Para penulis sendiri meminta hasil pada kelompok ini dibaca dengan hati-hati.

Mengapa Tulang Panggul

Panggul menghubungkan batang tubuh dengan tungkai. Para penulis menyebutnya penopang kestabilan postur, kemampuan atletik, serta fungsi reproduksi dan dasar panggul perempuan. Riset terdahulu lebih banyak mengukur tulang belakang dan tulang paha.

Duduk lama hampir tidak mengaktifkan otot paha depan dan paha belakang. Padahal kontraksi otot dan gerak sendi memberi rangsangan mekanis yang penting bagi pembentukan tulang. Duduk juga mengurangi beban tumpuan harian pada tulang panggul dan tungkai.

Riset lain yang dikutip para penulis tidak seragam. Chastin dan rekan tidak menemukan kaitan berarti antara lama duduk dan kepadatan tulang panggul. Zhao dan rekan menemukan kaitan terbalik pada tulang belakang bagian pinggang.

Weiss dan rekan mencatat hal serupa dari sisi pekerjaan. Pekerjaan yang banyak berdiri atau berjalan berkaitan dengan kepadatan tulang lebih tinggi daripada pekerjaan yang banyak duduk. Kopiczko dan rekan menemukan kaitan terbalik pada tulang lengan bawah 115 remaja laki-laki.

Seberapa Besar Artinya

Selisih 0,018 itu kecil. Para penulis menghitungnya setara kira-kira 10,8 persen dari satu simpangan baku kepadatan tulang panggul, yakni 0,167. Mereka sendiri menggolongkannya sebagai efek kecil dan meminta makna klinisnya ditafsirkan dengan hati-hati.

Sebagai pembanding, para penulis mengutip kajian Johnell dan rekan. Di sana, setiap penurunan satu simpangan baku kepadatan tulang pinggul berkaitan dengan risiko patah tulang pinggul 2,6 kali lipat. Selisih pada riset ini hanya sekitar sepersepuluh dari ukuran itu.

“Meski efek per jam ini kecil, ia dapat menumpuk seiring waktu dan ikut menyumbang pada berkurangnya massa tulang jangka panjang,” tulis Chaoquan Yang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Menurut mereka, selisih itu bisa berarti pada tingkat populasi. Bagi orang dengan faktor risiko lain, penurunan itu dapat menambah beban risikonya.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Batas Temuan Ini

Data ini potret satu waktu. Para penulis menyatakan rancangan itu tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Kepadatan tulang pun hanya diukur sekali, sehingga perubahan jangka panjangnya tidak terekam.

Lama duduk berasal dari jawaban peserta atas pertanyaan kuesioner. Peserta berusia 60 tahun ke atas tidak ada, sebab pemindaian tulang seluruh tubuh hanya dilakukan sampai usia 59 tahun. Temuan ini, tulis para penulis, berlaku untuk orang muda dan paruh baya.

Datanya juga berasal dari 2011 sampai 2018. Para penulis mengakui data itu mungkin tidak menggambarkan keadaan sekarang. Mereka juga tidak bisa menyingkirkan sepenuhnya pengaruh obat lain dan penyakit penyerta.

Orang dengan penyakit ginjal kronis, riwayat kanker, penyakit tiroid, dan artritis reumatoid tidak disertakan. Begitu pula orang yang tidak sanggup berjalan seperempat mil atau menaiki sepuluh anak tangga tanpa berhenti. Hasilnya tidak berbicara tentang kelompok-kelompok itu.

Yang Perlu Dicek

Beberapa angka dalam naskah tidak cocok satu sama lain. Teks menyebut 47,7 persen kelompok terendah duduk delapan jam lebih, sedangkan tabelnya menulis 47,3 persen. Jumlah orang di kelompok kedua tertulis 1.682 di teks dan 1.685 di tabel.

Teks juga menyebut kelompok kepadatan terendah lebih banyak beraktivitas fisik. Tabel menunjukkan sebaliknya. Skor aktivitas kelompok itu 3,61, terendah dari keempatnya, sedangkan kelompok tertinggi 5,54.

Pembahasan menyebut jenis kelamin mengubah kaitan secara bermakna, padahal nilai ujinya 0,650. Di tabel subkelompok, baris perokok persis sama angkanya dengan baris kulit putih non-Hispanik. Pertanyaan soal duduk pun dikutip dalam dua rumusan, satu tentang duduk dan satu tentang duduk atau berbaring.

Para penulis meminta riset besar yang mengikuti orang dari waktu ke waktu untuk menguji temuan ini. Sampai itu ada, yang tercatat baru satu kaitan: lebih lama duduk, lebih rendah kepadatan tulang panggul.

Bagikan

Baca Juga

Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Asuransi Kesehatan Disatukan, Pendapatan Warga Desa China Naik
Pengawas Makanan Kota Inggris Tinggal Sembilan untuk 4.000 Usaha
Anak Autis di Tiongkok Diajak Berbaur, Kesepiannya Belum Terjawab
Anak Spanyol yang Cukup Tidur Lebih Sering Jalan Kaki ke Sekolah
Vitamin B12 Warga Iran Selatan Membaik, Folat Malah Berlebih