- Anak yang tidur cukup berpeluang hampir tiga kali lebih besar untuk berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah.
- Pada anak laki-laki kaitan itu lebih kuat lagi, dengan rasio 6,26.
- Remaja yang sarapan tiap hari berpeluang 47 persen lebih besar untuk berangkat tanpa diantar.
- Hanya 52,5 persen remaja yang tidur cukup, sedangkan pada anak angkanya 81,4 persen.
- Murid yang ikut tidak mewakili seluruh Spanyol, dan semua jawaban dilaporkan murid sendiri.
Daftar Isi
- Ramírez-Osuna berangkat dari anak yang kurang bergerak
- Huertas-Delgado dan rekan memilah siapa yang cukup tidur
- Chillón dan rekan menemukan beda laki-laki dan perempuan
- Ramírez-Osuna menemukan tidur pada anak, sarapan pada remaja
- Aibar-Solana dan rekan mencari penjelasan di rumah
- Campos-Garzón dan rekan menandai batas temuannya
Ana Ramírez-Osuna dan rekan-rekannya datang ke sekolah membawa setumpuk angket kertas. Di dalamnya ada pertanyaan yang biasa diajukan orang tua, bukan peneliti: jam berapa kamu tidur setiap hari, jam berapa kamu bangun, berapa hari kamu sarapan dari Senin sampai Jumat. Murid-murid menjawabnya dalam satu jam. Lalu ada dua pertanyaan lagi, yakni naik apa ke sekolah dan berangkat bersama siapa.
Jawaban itu dikumpulkan dari 27 sekolah di 11 kota di Spanyol, lalu ditulis Ramírez-Osuna bersama Francisco Javier Huertas-Delgado, Alberto Aibar-Solana, Palma Chillón, dan Pablo Campos-Garzón dalam artikel Are sleep and breakfast behaviours predictors of active or independent commuting to school in Spanish youth?. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Ramírez-Osuna dan Chillón bekerja di Fakultas Ilmu Olahraga University of Granada. Huertas-Delgado mengajar di pusat pendidikan guru La Inmaculada di universitas yang sama, sedangkan Aibar-Solana berasal dari Universidad de Zaragoza di Huesca. Campos-Garzón, penulis yang menjawab surat-menyurat naskah ini, bekerja di Karolinska Institutet, Stockholm.
Yang ingin diketahui Ramírez-Osuna sederhana. Ia bertanya apakah dua kebiasaan sebelum berangkat, tidur dan sarapan, berkaitan dengan cara anak tiba di sekolah. Cara itu ia pilah dua kali: berjalan kaki atau bersepeda dibanding naik kendaraan bermotor, dan berangkat tanpa orang dewasa dibanding diantar.
Ramírez-Osuna berangkat dari anak yang kurang bergerak
Ramírez-Osuna memulai naskahnya dari kegelisahan yang lebih besar. Ia mencatat bahwa kurang dari separuh anak muda Spanyol memenuhi anjuran bergerak aktif setidaknya 60 menit sehari. Padahal anak sekolah menempuh jalan pergi dan pulang paling sedikit sepuluh kali dalam seminggu. Perjalanan itulah yang ia lihat sebagai peluang paling dekat untuk menambah gerak.
Angka yang dikutip Campos-Garzón dan rekan menunjukkan peluang itu belum habis dipakai. Di Spanyol, sekitar 50 sampai 60 persen anak berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda, dan angka itu bertahan meski berbagai program sudah dijalankan. Di seluruh Eropa, anak yang berangkat tanpa pengawasan orang dewasa masih di bawah 35 persen.
Riset terdahulu, tulis Chillón dan rekan, lebih banyak menyoroti jarak rumah, keadaan ekonomi keluarga, dan rasa aman orang tua. Kebiasaan pagi sebelum anak keluar rumah jarang diperiksa, dan hasil yang ada saling bertentangan. Belum ada pula yang menanyakan kaitannya dengan berangkat tanpa diantar. Celah itulah yang hendak diisi kelima penulis.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Huertas-Delgado dan rekan memilah siapa yang cukup tidur
Dari 1.501 murid yang bersedia ikut, Huertas-Delgado dan rekan memakai jawaban 1.381 murid yang lengkap. Mereka terdiri atas 226 anak berusia 6 sampai 11 tahun dan 1.155 remaja berusia 12 sampai 17 tahun. Angket itu diisi antara Maret 2015 dan Juni 2021 di delapan sekolah dasar dan 19 sekolah menengah.
Aibar-Solana dan rekan lalu menetapkan batasnya. Seorang anak disebut cukup tidur bila tidur 9 sampai 11 jam, seorang remaja bila tidur 8 sampai 10 jam. Sarapan tiap hari berarti sarapan pada kelima hari sekolah. Berangkat mandiri berarti berangkat sendirian, bersama teman, bersama kakak atau adik, atau bersama anak lain.
Gambaran pertama yang diperoleh Ramírez-Osuna cukup menenangkan untuk kelompok anak. Sebanyak 81,4 persen anak tidur cukup dan 84,5 persen sarapan tiap hari, kira-kira empat dari lima. Lebih dari separuh berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah. Namun kurang dari seperempat yang berangkat tanpa orang dewasa.
Pada remaja, Ramírez-Osuna menemukan gambaran yang berbalik. Hanya 52,5 persen remaja yang tidur cukup, kira-kira satu dari dua, dan 73,6 persen yang sarapan tiap hari. Sebaliknya, lebih dari 65 persen berjalan kaki atau bersepeda, dan 66,7 persen berangkat tanpa diantar. Makin besar anak, makin lepas ia dari orang tuanya dan makin pendek tidurnya.
Campos-Garzón dan rekan juga mencatat jarak. Sebanyak 81,9 persen anak tinggal dalam radius tiga kilometer dari sekolahnya. Pada remaja, angkanya 82,9 persen untuk laki-laki dan 78,9 persen untuk perempuan. Karena jarak dikenal sebagai penentu utama di Spanyol, kelima penulis memperhitungkannya dalam semua hitungan berikutnya, bersama usia dan jenis kelamin.
Chillón dan rekan menemukan beda laki-laki dan perempuan
Ketika jawaban dipilah menurut jenis kelamin, Chillón dan rekan menemukan jarak yang sudah tampak sejak kecil. Di antara anak, 63,6 persen laki-laki berangkat aktif, sedangkan perempuan 49,1 persen. Yang berangkat tanpa diantar 26,4 persen pada laki-laki dan 19,8 persen pada perempuan. Soal tidur dan sarapan, anak laki-laki dan perempuan belum berbeda.
Pada remaja, Ramírez-Osuna melihat perbedaan itu melebar ke kebiasaan pagi. Remaja laki-laki yang tidur cukup mencapai 57,4 persen, perempuan 48,1 persen. Yang sarapan tiap hari 79,2 persen pada laki-laki dan 68,6 persen pada perempuan. Berangkat tanpa diantar pun lebih sering pada laki-laki, 70,8 persen berbanding 63,0 persen.
Huertas-Delgado dan rekan tidak membiarkan angka itu lewat begitu saja. Mereka mengingatkan riset terdahulu yang menunjukkan anak perempuan lebih sering diantar dengan mobil dan lebih jarang berangkat sendiri, terutama karena kekhawatiran orang tua akan keselamatan. Karena itu mereka meminta perhatian khusus bagi anak perempuan, lewat rute jalan kaki yang aman dan rombongan berangkat bersama.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Ramírez-Osuna menemukan tidur pada anak, sarapan pada remaja
Temuan utama Ramírez-Osuna muncul pada kelompok anak. Anak yang tidur cukup berpeluang hampir tiga kali lebih besar untuk berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dibanding anak yang tidurnya kurang. Rasio peluangnya 2,98. Pada anak laki-laki kaitan itu lebih kuat lagi, dengan rasio 6,26. Pada anak perempuan, rasionya 1,11 dan tidak bermakna.
Untuk remaja, Campos-Garzón dan rekan mendapati kaitan yang lain. Remaja yang sarapan tiap hari berpeluang 47 persen lebih besar untuk berangkat tanpa diantar. Hanya itu yang bertahan. Tidur cukup tidak berkaitan dengan cara remaja berangkat, dan sarapan tidak berkaitan dengan berjalan kaki atau bersepeda, baik pada remaja laki-laki maupun perempuan.
Sisanya kosong, dan Chillón dan rekan menuliskannya apa adanya. Sarapan tidak berkaitan dengan cara anak berangkat. Tidur dan sarapan sama-sama tidak berkaitan dengan berangkat mandiri pada anak. Ketika diuji apakah kaitan-kaitan itu berbeda antara laki-laki dan perempuan, hasilnya juga tidak bermakna pada kedua kelompok usia.
Aibar-Solana dan rekan mencari penjelasan di rumah
Mengapa tidur berkaitan dengan jalan kaki justru pada anak kecil? Aibar-Solana dan rekan menunjuk orang tua, sebab pada usia itu orang tualah yang memutuskan cara anak berangkat. “Jika mereka memandang anaknya sudah beristirahat dan segar, mereka mungkin lebih cenderung memilih cara berangkat yang aktif,” tulis kelima penulis. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.
Temuan itu berbeda dari kajian Villa-González dan rekan pada anak-anak di Ekuador, yang tidak menemukan kaitan antara tidur dan berangkat aktif. Soal sarapan, kedua kajian sejalan: tidak ada kaitan pada anak. Ramírez-Osuna menduga anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk sarapan di pagi hari, sehingga waktu untuk berjalan kaki menjadi sempit.
Pada remaja, Campos-Garzón dan rekan membaca sarapan sebagai tanda pagi yang teratur. Remaja yang sudah terbiasa sarapan tiap hari mungkin lebih tertib mengatur waktu, sehingga sanggup merencanakan perjalanannya sendiri. Mereka juga mencatat kajian Martinez-Gomez dan rekan, yang dulu menemukan remaja Spanyol yang rajin sarapan malah lebih jarang berangkat aktif.
Untuk anak kecil yang tetap diantar, Huertas-Delgado dan rekan kembali ke orang tua. Pembatasan terhadap anak lebih banyak berasal dari kecemasan soal lalu lintas dan bahaya sosial daripada dari kebiasaan anak itu sendiri. Orang tua kerap memilih mengantar dengan mobil karena alasan keselamatan dan sempitnya waktu. Tidur yang cukup tidak mengubah keputusan semacam itu.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Campos-Garzón dan rekan menandai batas temuannya
Campos-Garzón dan rekan tidak menyebut tidur atau sarapan sebagai penyebab. “Keterbatasan utama studi ini terletak pada rancangannya yang observasional, karena kaitan yang teramati tidak menyiratkan hubungan sebab-akibat,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Kaitan sarapan pada remaja, misalnya, bisa saja berasal dari dukungan orang tua atau pertemanan baru yang tidak mereka ukur.
Batas lain dicatat Ramírez-Osuna satu per satu. Jam tidur, sarapan, jarak, dan cara berangkat semuanya dilaporkan murid sendiri, sehingga bisa sedikit meleset. Murid yang ikut tidak mewakili seluruh Spanyol, dan sekolahnya kebanyakan berada di kawasan berpenghasilan menengah ke atas. Keadaan ekonomi keluarga dan keterangan dari orang tua tidak tersedia.
Aibar-Solana dan rekan juga mengakui penyederhanaan dalam pengelompokan. Pesepeda dan pengguna angkutan umum terlalu sedikit untuk dihitung terpisah, sehingga semua cara berangkat hanya dibagi dua, aktif dan pasif. Angkutan umum dimasukkan ke kelompok pasif walau penumpangnya tetap berjalan kaki sebentar. Mereka menyarankan kajian berikutnya memperlakukan perjalanan campuran sebagai golongan tersendiri.
Naskah Ramírez-Osuna dan rekan menyisakan beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Rasio 2,98 pada anak disebut hampir tiga kali di bagian pembahasan, tetapi lebih dari dua kali di bagian kesimpulan. Rasio 6,26 pada anak laki-laki punya rentang sangat lebar, dari 1,32 sampai 29,8. Rata-rata usia kelompok anak pun tercatat 11,0 tahun, padahal kelompok itu disebut mencakup usia 6 sampai 11 tahun.
Dari semua itu Chillón dan rekan menarik usulan yang hati-hati. Keluarga dan sekolah bisa bersama-sama mengajarkan kebiasaan tidur lewat rutinitas sederhana. “Karena itu, sekolah, keluarga, dan komunitas harus bekerja sama untuk memadukan promosi kesehatan ke dalam program pendidikan dan sosial,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.
Angket kertas yang dibawa Ramírez-Osuna ke ruang kelas itu akhirnya memberi dua jawaban dan banyak ruang kosong. Anak yang cukup tidur lebih sering berjalan kaki ke sekolah, dan remaja yang rajin sarapan lebih sering berangkat tanpa diantar. Selebihnya masih menunggu orang tua yang belum sempat ia tanyai.















