- Pada 2015 tercatat 183.011 kecelakaan berkorban di seluruh Turki, dan 3.900 di antaranya dikaitkan dengan alkohol.
- Dua tahun terakhir hampir kembar, 0,73 persen pada 2023 dan 0,72 persen pada 2024.
- Para penulis menyatakan kecenderungan waktu yang bermakna secara statistik tidak dapat dikonfirmasi.
- Batas sah kadar alkohol dalam darah pengemudi di Turki saat ini 0,05 gram per desiliter.
Daftar Isi
Larangan menjual minuman beralkohol di toko sesudah pukul 22.00 dan catatan polisi tentang kecelakaan yang menelan korban tampak seperti dua urusan yang tidak bersinggungan. Yang satu mengatur rak dan jam buka, yang lain menghitung orang tewas dan luka di jalan. Di Turki, keduanya dipertemukan dalam satu tabel sepuluh tahun, dan hasilnya menggembirakan sekaligus menggantung.
Tabel itu disusun Omer Acat, Okan İmre, Osman Ulusal, Sona Çağlar, dan Fatih Kara, dari fakultas kedokteran Karamanoglu Mehmetbey University dan Selcuk University. Mereka menuliskannya dalam artikel Alcohol-related fatal-and-injury traffic crashes in Türkiye (2015–2024): temporal trends and an ecological evaluation of alcohol control policies, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, artikel nomor 2120, tahun 2026. Türkiye adalah ejaan resmi yang dipakai naskah itu untuk Turki.
Bahannya adalah statistik tahunan Turkish Statistical Institute, lembaga statistik negara itu, untuk 2015 sampai 2024. Yang dihitung hanya kecelakaan dengan korban tewas atau luka yang ditangani polisi dan gendarmerie. Di antara semua kecelakaan itu, sebagian diberi kode resmi: alkohol sebagai penyebab kesalahan. Bagian itulah yang diikuti tahun demi tahun.
Di tabel, pangsa alkohol menyusut hampir tanpa jeda
Pada 2015 tercatat 183.011 kecelakaan berkorban di seluruh Turki, dan 3.900 di antaranya dikaitkan dengan alkohol. Pangsanya 2,13 persen, kira-kira dua dari setiap seratus kecelakaan. Setahun kemudian angkanya 1,91 persen. Pada 2017 menjadi 1,75 persen, lalu 1,54 persen pada 2018. Setiap baris tabel lebih kecil daripada baris di atasnya.
Urutan itu tidak putus sampai akhir. Pangsa alkohol 1,33 persen pada 2019, 1,24 persen pada 2020, 1,12 persen pada 2021, dan 0,91 persen pada 2022. Dua tahun terakhir hampir kembar, 0,73 persen pada 2023 dan 0,72 persen pada 2024. Artinya, pada ujung catatan itu kurang dari satu di antara seratus kecelakaan berkorban yang dikaitkan dengan alkohol.
Di sisi lain, jumlah seluruh kecelakaan justru bergerak ke arah berlawanan. Dari 183.011 pada 2015, totalnya menjadi 266.854 pada 2024, sesudah sempat turun ke 150.275 pada 2020. Kecelakaan yang dikaitkan dengan alkohol pada tahun terakhir berjumlah 1.934, tinggal kira-kira separuh dari angka awal. Satu angka membesar, satu angka mengecil.
Karena itu para penulis memberi batas pada cara membaca tabelnya. Yang mereka ukur adalah porsi alkohol di dalam seluruh beban kecelakaan, bukan peluang seorang warga mengalami kecelakaan karena pengemudi mabuk. Mereka menyebutnya perubahan pangsa relatif. Pembedaan itu penting, sebab pangsa bisa menyusut hanya karena kecelakaan jenis lain bertambah banyak.
Baca juga Mabuk-Menyetir Pasif, Konsep Baru dari Data Bengaluru
Di hitungan, penurunan itu belum bisa dipastikan
Pertanyaan berikutnya: apakah susutnya pangsa itu cukup kokoh untuk disebut kecenderungan? Hitungan pertama Acat dan rekan-rekannya menjawab ya dengan sangat yakin. Setiap pertambahan satu tahun bertalian dengan turunnya beban relatif kecelakaan akibat alkohol kira-kira 11,7 persen. Rentang ketidakpastiannya sempit sekali, dari 0,880 sampai 0,887 pada ukuran yang bernilai 1 bila tidak ada perubahan.
Pada hitungan kedua, keyakinan itu luruh. Data tahunannya ternyata menyebar lebih lebar daripada yang sanggup ditampung hitungan pertama, sehingga para penulis mengulanginya dengan model yang memberi ruang bagi sebaran itu. Arah penurunannya tetap sama dan besarnya nyaris tidak bergeser. Namun rentang ketidakpastiannya melebar dari 0,709 sampai 1,097, melewati angka 1.
Rentang yang melewati 1 berarti kemungkinan tidak ada perubahan belum tersingkir. Nilai p pada hitungan kedua adalah 0,260, jauh di atas batas 0,05 yang dipakai naskah itu. Dalam kesimpulannya, para penulis menyatakan kecenderungan waktu yang bermakna secara statistik tidak dapat dikonfirmasi. Tabelnya tetap turun, tetapi hitungannya tidak mau menjamin.
Tahun pandemi sempat dicurigai sebagai pengganggu, sebab 2020 adalah tahun dengan jumlah kecelakaan paling sedikit. Para penulis mengeluarkan 2020 dari hitungan, lalu mengeluarkan 2019 dan 2020 sekaligus. Hasilnya nyaris tidak berubah. Penurunan yang tidak bermakna itu, menurut mereka, bukan buah dari tahun-tahun yang ganjil.
Di toko dan kedai, alkohol dibatasi jam, usia, dan iklan
Lalu apa hubungannya dengan rak toko? Naskah itu merangkum aturan yang sudah berlaku ketika catatan dimulai. Undang-undang Nomor 4250 melarang penjualan dan penyajian alkohol kepada orang di bawah 18 tahun. Penjualan lewat pers, siaran, dan pos juga dilarang. Penjualan eceran ditutup antara pukul 22.00 dan 06.00, dan ada pembatasan di lokasi-lokasi tertentu.
Kerangka itu diperbarui dua kali selama masa yang diamati. Pada 2020, Undang-undang Nomor 7255 menambah sanksi administratif bagi pelanggaran sebagian ketentuan tadi, termasuk pembatalan izin bila pelanggaran berulang. Pada 2023, sebuah perubahan peraturan memperbarui tata cara penjualan dan penyajian produk tembakau serta minuman beralkohol, mulai dari definisi sampai prosedur perizinan.
Menurut para penulis, aturan semacam itu dapat memengaruhi kebiasaan mengemudi sesudah minum walau tidak ditujukan ke sana. Pembatasan jam jual, batas usia, dan larangan iklan mengubah seberapa mudah alkohol dijangkau secara spontan dan seberapa sering ia tampak di ruang publik. Mereka juga mencatat kemungkinan lain: risiko tidak hilang, melainkan berpindah dari tempat umum ke ruang pribadi.
Ada satu angka pendamping yang mereka sodorkan dengan hati-hati. Warga berusia 15 tahun ke atas yang mengaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir turun dari 14,9 persen menjadi 12,1 persen antara 2010 dan 2022. Angka itu berasal dari pengukuran yang berbeda dengan statistik kecelakaan. Para penulis menegaskan kesejajaran keduanya bukan bukti sebab-akibat.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Di jalan, pengemudi berhadapan dengan razia dan sanksi
Pada sisi kedua, aturannya langsung menyasar pengemudi. Pasal 48 Undang-undang Lalu Lintas Jalan Raya Nomor 2918 melarang mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Penegakannya, sebagaimana dirangkum naskah itu, berupa pemeriksaan alkohol, sanksi administratif, penangguhan surat izin mengemudi, dan penahanan kendaraan. Kerangka ini berlaku sepanjang sepuluh tahun yang diamati.
Batas sah kadar alkohol dalam darah pengemudi di Turki saat ini 0,05 gram per desiliter. Para penulis mengusulkan batas itu ditinjau ulang dengan menimbang ambang yang lebih rendah di tempat lain, yaitu 0,03 gram per desiliter atau kurang. Syaratnya mereka sebut sekaligus: penegakan yang kuat dan kemampuan menjalankannya di lapangan.
Dari kedua sisi itu, naskah ini tidak memilih pemenang soal penyebab. “Dari sudut pandang ini, tidak tepat mengaitkan penurunan yang teramati dengan satu penyebab tunggal,” tulis Acat, dari bidang kesehatan masyarakat Karamanoglu Mehmetbey University, bersama keempat rekannya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris. Aturan penjualan, sanksi lalu lintas, dan norma sosial mereka perlakukan sebagai satu kesatuan.
Meski begitu, ketika menimbang apa yang paling menentukan di dunia nyata, mereka menunjuk jalan raya. “Namun, komponen yang menentukan bagi dampak di dunia nyata adalah penegakan lalu lintas yang sangat terlihat, berkelanjutan, dan terarah pada waktu serta tempat,” tulis kelima peneliti itu, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menambahkan satu pelengkap: pilihan pulang yang aman pada malam hari, seperti angkutan umum malam dan taksi.
Pandemi memberi contoh mengapa keterlihatan itu mereka anggap penting. Para penulis mengutip sebuah kajian dari Queensland: ketika pemeriksaan napas acak di pinggir jalan dihentikan sementara, kebiasaan mengemudi sesudah minum tidak hilang. Kajian lain dari Kanada mencatat perilaku berisiko bertahan walau jalanan lebih sepi. Jalan yang lengang, simpul mereka, tidak dengan sendirinya berarti risiko yang lebih kecil.
Yang tidak terukur oleh catatan resmi
Batas pertama terletak pada sumber datanya. Angka yang dipakai adalah jumlah nasional per tahun, sehingga tidak ada yang dapat dikatakan tentang pengemudi perorangan, kadar alkohol mereka, atau keadaan tiap kecelakaan. Cara menetapkan sebuah kecelakaan sebagai akibat alkohol pun berada di luar kendali para peneliti. Bila cara mencatatnya berubah dari tahun ke tahun, tabelnya ikut berubah.
Batas kedua lebih mengganjal. Data terbuka itu tidak memuat berapa banyak pengemudi yang diperiksa kadar alkoholnya pada tiap tahun. Para penulis mengakui sebagian naik-turun angka mungkin mencerminkan perbedaan dalam mendeteksi dan mencatat, bukan perubahan nyata di jalan. Sepuluh titik tahunan juga terlalu sedikit untuk menghasilkan hitungan yang stabil.
Hal-hal yang paling ingin diketahui justru tidak terekam. Volume lalu lintas, jumlah pengemudi, kepemilikan kendaraan, intensitas razia, dan perbedaan antarwilayah tidak masuk ke dalam hitungan. Zat lain selain alkohol juga tidak tercatat. Karena itu, tulis mereka, kecenderungan yang teramati tidak boleh ditafsirkan sebagai akibat dari satu peraturan tertentu.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya
Ada beberapa hal dalam naskah itu yang tidak sepenuhnya seiring. Judulnya menjanjikan evaluasi atas kebijakan pengendalian alkohol. Di dalamnya, para penulis menyatakan aturan-aturan tersebut tidak dimasukkan ke dalam hitungan dan hanya dipakai sebagai latar tafsir. Keterangan di bawah tabel aturan bahkan menyebut tabel itu tidak memberi bukti sebab-akibat.
Bagian hasil menyebut pangsa alkohol turun berangsur-angsur, dan itu benar untuk persentasenya. Namun pada tabel yang sama, jumlah kecelakaan akibat alkohol naik dua kali: dari 1.869 pada 2020 menjadi 2.099 pada 2021, lalu dari 1.721 pada 2023 menjadi 1.934 pada 2024. Pangsanya tetap turun pada kedua tahun itu karena jumlah seluruh kecelakaan naik lebih cepat.
Dua hal kecil lain juga tampak. Angka peminum alkohol yang disebut sejalan waktunya mencakup 2010 sampai 2022, sedangkan catatan kecelakaan mencakup 2015 sampai 2024. Dalam pembahasan, Turki disebut menunjukkan penurunan yang lebih nyata daripada Amerika Serikat, padahal hitungan kedua naskah itu sendiri tidak bisa memastikan penurunan tersebut.
Jam tutup toko dan kecelakaan di jalan akhirnya tetap berdiri berdampingan dalam naskah ini, tidak lebih dekat dan tidak lebih jauh. Sepuluh baris angka menunjukkan pangsa alkohol menyusut dari 2,13 persen ke 0,72 persen. Hitungan yang lebih berhati-hati menolak memastikannya, dan tidak satu pun aturan, di toko maupun di jalan, dinyatakan sebagai penyebabnya.















