- Dari 136 apoteker itu, 89 orang atau 65,4 persen tercatat mengalaminya, kira-kira dua dari setiap tiga orang.
- Dimensi yang paling sering muncul justru bukan rasa letih, melainkan rasa tidak mencapai apa-apa.
- Sebanyak 103 apoteker atau 75,7 persen mengambil cuti tahunan, dan perempuan lebih banyak mengambilnya, 84,7 persen berbanding 65,6 persen pada laki-laki.
- Karena semua jawaban dikumpulkan pada satu waktu, urutan sebab dan akibat antara kelelahan kerja, gerak, dan tidur tidak dapat ditetapkan.
Daftar Isi
Orang yang banyak bergerak dan cukup tidur semestinya lebih tahan terhadap pekerjaan yang menguras, begitulah anggapan yang lazim dipegang, termasuk dalam banyak riset kesehatan kerja. Di apotek-apotek Douala, ibu kota wilayah Littoral di Kamerun, anggapan itu tidak sepenuhnya bertahan. Para apoteker yang berjam-jam berdiri dan bergerak di antara rak obat untuk melayani pasien ternyata banyak yang kelelahan kerja, dan mereka yang gerak tubuhnya tergolong sedang malah lebih sering menunjukkan salah satu gejalanya dibanding rekan yang jarang bergerak.
Gambaran itu disusun oleh Léon Jules Owona Manga, Jerson Mekoulou Ndongo, dan lima belas rekan penulis mereka, di antaranya Samuel Honoré Mandengue dan Péguy Brice Assomo Ndemba. Artikel mereka berjudul Burnout syndrome, sleep quality and the effect of the practice of physical activities among community pharmacists in Douala, Cameroon: a cross-sectional study dan dimuat di BMC Public Health tahun 2026. Naskah yang tersedia masih berstatus artikel dalam proses terbit, sehingga volume dan nomornya belum tercantum.
Sebagian besar penulisnya bernaung di University of Douala, antara lain di unit fisiologi dan kedokteran aktivitas fisik dan olahraga serta di fakultas kedokteran dan ilmu farmasi, sementara yang lain berasal dari Université Jean Monnet di Saint-Étienne, Prancis, dan University of Yaounde 1. Yang mereka tanyai adalah 136 apoteker apotek komunitas, baik pemilik maupun asisten, yang mengisi kuesioner antara Desember 2023 dan Februari 2024.
Kelelahan yang luas, tetapi dangkal
Kelelahan kerja yang dimaksud di sini adalah sindrom burnout, yang oleh naskah disebut sebagai respons psikologis manusia terhadap stres kerja. Dari 136 apoteker itu, 89 orang atau 65,4 persen tercatat mengalaminya, kira-kira dua dari setiap tiga orang. Namun, angka sebesar itu tidak berarti sebagian besar dari mereka sudah berada di ujung daya tahan, sebab naskah membedakan keparahan menurut jumlah gejala yang muncul bersamaan.
Sindrom ini, menurut naskah, tampil dalam tiga dimensi, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, dan menurunnya rasa pencapaian diri. Seorang apoteker digolongkan ringan bila hanya satu dimensi yang terpenuhi, sedang bila dua, dan berat bila ketiganya hadir sekaligus. Dengan ukuran itu, 73 dari 89 orang atau 82,0 persen berada di tingkat ringan, 7 orang atau 7,9 persen di tingkat sedang, dan 9 orang atau 10,1 persen di tingkat berat.
Dimensi yang paling sering muncul justru bukan rasa letih, melainkan rasa tidak mencapai apa-apa. Pencapaian diri yang rendah ditemukan pada 70 apoteker atau 51,5 persen, jauh di atas kelelahan emosional tinggi yang dialami 28 orang atau 20,6 persen dan depersonalisasi tinggi pada 19 orang atau 14,0 persen. Di antara perempuan dan laki-laki, ketiga dimensi itu tidak berbeda secara bermakna, dan para penulis mengaitkannya dengan beban kerja yang sama pada keduanya.
Siapa mereka juga ikut menjelaskan angka-angka itu. Usia rata-rata para apoteker ini 32 tahun, 52,9 persen di antaranya perempuan, 85,3 persen berstatus asisten, dan 72,8 persen bekerja kurang dari lima tahun. Lebih dari separuh, tepatnya 53,7 persen, tidak puas dengan gajinya, 38,2 persen menyebut pekerjaannya melelahkan, dan hanya 13,2 persen yang menyebutnya menyenangkan, suatu hal yang dibaca para penulis sebagai tanda beban kerja yang berat.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Tidur buruk dan letih yang tidak sama dengan kelelahan kerja
Tidur para apoteker ini pun tidak baik. Sebanyak 96 orang atau 70,6 persen tergolong berkualitas tidur buruk, dan naskah mengingatkan bahwa banyak apoteker rutin bekerja pada giliran malam sambil mengandalkan kopi atau teh untuk melawan kantuk. Wajar bila orang menduga tidur buruk itulah yang mendorong kelelahan kerja. Justru sebaliknya, ketika keduanya disandingkan secara keseluruhan, tidak ada hubungan bermakna yang muncul, dengan rasio odds 0,88 dan nilai P 0,74.
Di situlah persoalannya, karena hubungan itu baru tampak ketika kelelahan kerja diurai ke dalam dimensinya. Apoteker yang tidurnya buruk memiliki peluang kelelahan emosional tingkat sedang atau tinggi 2,26 kali peluang mereka yang tidurnya baik, dengan selang kepercayaan 1,10 sampai 4,78 dan nilai P 0,03. Jadi yang berjalan seiring dengan tidur buruk adalah rasa terkuras secara emosional, bukan sindromnya sebagai satu kesatuan, dan bukan pula dua dimensi yang lain.
Para penulis menawarkan penjelasan dari kepustakaan yang mereka rujuk, bukan dari pengukuran mereka sendiri. Stres, tulis mereka, bekerja pada poros hipotalamus, hipofisis, dan korteks adrenal: hipotalamus yang teraktivasi melepaskan hormon yang merangsang hipofisis, lalu korteks adrenal mengeluarkan hormon termasuk kortisol. Paparan stres kerja yang menahun, menurut rujukan itu, berkaitan dengan tidur yang buruk, tetapi studi di Douala ini tidak mengukur satu pun hormon tersebut.
Gerak tubuh yang tidak melindungi
Bagian yang paling melawan dugaan ada pada gerak tubuh. Dua pertiga apoteker, yakni 90 orang atau 66,2 persen, tergolong beraktivitas fisik sedang, sedangkan yang rendah dan yang tinggi masing-masing 23 orang atau 16,9 persen. Terhadap kelelahan kerja secara keseluruhan, tingkat aktivitas itu tidak menunjukkan hubungan bermakna, baik pada kelompok sedang dengan rasio odds 1,93 maupun pada kelompok tinggi dengan rasio odds 2,10.
Namun, pada dimensi depersonalisasi arahnya berbalik dari yang diharapkan. Apoteker dengan aktivitas fisik sedang memiliki peluang depersonalisasi tingkat sedang atau tinggi 5,10 kali peluang mereka yang aktivitasnya rendah, dengan nilai P 0,01, meskipun selang kepercayaannya sangat lebar, dari 1,41 sampai 18,40. Pada kelompok beraktivitas tinggi angkanya 3,56, tetapi tidak bermakna secara statistik, sehingga pola itu tidak dapat dikatakan menanjak seiring bertambahnya gerak.
Di titik inilah naskah berbelok dari keyakinan yang dibawanya sendiri di bagian pendahuluan. “Temuan ini tidak mendukung anggapan luas bahwa aktivitas fisik adalah sarana yang ampuh untuk mencegah burnout,” tulis Owona Manga dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mencatat hasil serupa pada studi lain di Kamerun, antara lain pada dokter dan pada tenaga kesehatan di masa COVID-19, yang juga tidak menemukan hubungan melindungi.
Penjelasan yang mereka ajukan terletak pada jenis gerak yang terhitung. Kuesioner yang dipakai menjumlahkan seluruh aktivitas fisik, yakni saat bekerja, saat bepergian, dan saat senggang, tanpa memisahkan olahraga rekreasi dari gerak yang memang melekat pada profesi. Padahal apoteker mengumpulkan banyak gerak lewat berdiri lama dan berjalan melayani pasien, dan gerak semacam itu, menurut para penulis, boleh jadi tidak punya hubungan yang sama dengan kelelahan kerja seperti olahraga di waktu luang.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Cuti tahunan dan perbandingan dengan negeri lain
Kalau tidur dan gerak tidak memberi jawaban yang rapi, satu hal di sekitar pekerjaan justru tampil lebih tegas, yaitu cuti. Sebanyak 103 apoteker atau 75,7 persen mengambil cuti tahunan, dan perempuan lebih banyak mengambilnya, 84,7 persen berbanding 65,6 persen pada laki-laki. Mengambil cuti tahunan berkaitan dengan peluang kelelahan kerja yang lebih rendah, dengan rasio odds 0,34, selang kepercayaan 0,13 sampai 0,89, dan nilai P 0,02.
Faktor lain tidak sampai ke ambang bermakna. Jenis kelamin, usia, status perkawinan, kedudukan sebagai pemilik atau asisten, dan lama bekerja tidak berkaitan dengan kelelahan kerja, sedangkan kepuasan terhadap gaji hanya mendekati, dengan nilai P 0,06. Naskah juga menyebut apoteker yang punya kegiatan lain berkaitan dengan kelelahan kerja tingkat ringan, dengan rasio odds 2,29, tetapi tidak menerangkan kegiatan apa yang dimaksud.
Angka 65,4 persen itu ditempatkan para penulis di tengah rentang 51 sampai 74,9 persen yang dilaporkan studi apoteker sebelumnya. Ia jauh di atas 7,3 persen di Portugal dan 10,5 persen di Italia, lebih tinggi daripada 56,2 persen di Prancis, hampir sama dengan 67,2 persen di negara bagian Ohio, Amerika Serikat, dan di bawah 76,8 persen di Lebanon serta 76 persen di Tunisia. Perbedaan alat ukur dan konteks kesehatan, tulis mereka, ikut membuat angka-angka itu berjauhan.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Batas yang diakui para penulis
Naskah ini cukup terbuka tentang apa yang tidak bisa dikatakannya. Karena semua jawaban dikumpulkan pada satu waktu, urutan sebab dan akibat antara kelelahan kerja, gerak, dan tidur tidak dapat ditetapkan. Seluruh rasio odds yang dilaporkan juga masih kasar, belum disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, lama bekerja, atau kondisi kerja, sebab kasus tingkat sedang dan berat terlalu sedikit untuk analisis yang lebih kokoh.
Beberapa taksiran, lanjut mereka, memiliki selang kepercayaan lebar karena sedikitnya orang di sejumlah kategori, sampelnya relatif kecil, dan semua alat ukur diisi sendiri oleh peserta. “Temuan yang tidak bermakna tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa hubungan itu benar-benar tidak ada,” tulis para penulis, yang karena itu meminta hasilnya dikonfirmasi oleh studi yang lebih besar, disesuaikan, dan idealnya mengikuti peserta dari waktu ke waktu.
Angka yang tidak saling cocok di dalam naskah
Ada beberapa hal yang dapat diperiksa sendiri oleh pembaca naskah. Abstrak dan uraian hasil menyebut kelelahan kerja lebih banyak pada laki-laki dengan 45 orang atau 50,6 persen, sedangkan tabelnya menaruh angka 45 dan 50,6 persen itu pada perempuan dan 44 orang pada laki-laki. Uraian hasil juga menyebut 56 penderita berkonflik dengan rekan kerja, sementara tabel menempatkan angka 56 pada baris yang tidak berkonflik.
Baris cuti pada tabel yang sama mencatat 62 penderita tidak mengambil cuti, padahal tabel karakteristik peserta hanya mencatat 33 orang yang tidak cuti; angka 62 dan 27 di baris itu sama persis dengan baris kualitas tidur. Selain itu, bagian pembahasan dibuka dengan pernyataan bahwa tidak ditemukan hubungan dengan tidur dan gerak, padahal dua hubungan pada tingkat dimensi dilaporkan, dan abstrak menulis jumlah perempuan sebagai 72 persen.
Yang tersisa dari Douala, dengan demikian, bukan bantahan terhadap manfaat bergerak, melainkan sebuah pertanyaan tentang gerak yang mana. Bila berdiri berjam-jam di antara rak obat ikut dihitung sebagai aktivitas fisik, apakah yang selama ini disebut melindungi itu sebenarnya gerak tubuh, ataukah kebebasan untuk bergerak di luar pekerjaan, sebagaimana cuti tahunan yang dalam data ini justru berkaitan dengan kelelahan yang lebih jarang?














