Lansia Jerman Lebih Butuh Jalan yang Aman daripada yang Indah

A A

Ilustrasi bangku kayu dengan rangka parkir alat bantu jalan bertulisan Rollator di Frankfurt (Oder), Jerman [Foto: Sebastian Wallroth/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Di kawasan yang tujuannya dekat, orang yang sehat terbelah lagi menurut keterhubungan jalan di sekitarnya, dan hasilnya tidak sesederhana dugaan.
  • Keindahan lingkungan hanya dinilai penting oleh 6,1 sampai 14,5 persen, dan keran air minum umum oleh 4,2 sampai 11 persen.
  • Rancangan lingkungan, dalam rumusan mereka, dapat menjadi sumber ketimpangan itu sendiri.
  • Apa yang diminta orang-orang ini dari lingkungannya ternyata lebih bersahaja daripada yang mungkin diduga perancang kota.
Daftar Isi
  1. Seperempat berjalan kaki, seperempat lagi bergantung pada mobil
  2. Jarak ke toko dan keadaan badan yang memisahkan mereka
  3. Perempuan yang berjalan kaki karena tidak ada pilihan lain
  4. Permukaan jalan, lampu, dan rasa aman di atas keindahan
  5. Kota yang dirancang bagi orang yang berangkat bekerja
  6. Batas temuan dan hal yang tidak cocok di dalam naskah

Orang tua kerap dibayangkan sebagai satu rombongan yang seragam, yang sama-sama melambat, sama-sama betah di rumah, dan sama-sama membutuhkan hal yang serupa dari jalan di depan pintunya. Bayangan itu runtuh begitu warga lanjut usia di kota kecil dan pedesaan barat laut Jerman ditanya bagaimana mereka pergi ke toko bahan makanan atau ke tempat praktik dokter, sebab jawaban mereka memperlihatkan delapan kelompok yang berlainan kebiasaan, berlainan keadaan badan, dan berlainan pula permintaannya kepada lingkungan tempat tinggal.

Pembelahan itu dikerjakan Sophie Horstmann, Sabine Baumgart, dan Gabriele Bolte dalam artikel Older adults’ active mobility choices and their specific preferences and needs for their living environment: an intersectional approach, yang dimuat BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1145 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Department of Social Epidemiology, Institute of Public Health and Nursing Research, University of Bremen, dan bahan mereka adalah jawaban 2.148 warga berusia 65 tahun ke atas yang tinggal mandiri di sebelas distrik pedesaan dan dua kota berpenduduk di bawah 100.000 jiwa di Metropolitan Region Northwest.

Yang mereka persoalkan adalah kebiasaan riset memperlakukan orang lanjut usia sebagai kelompok yang homogen, padahal, tulis mereka, menua bukan proses yang seragam dan setiap orang menjalaninya dengan cara yang berbeda. Berjalan kaki dan bersepeda ke tujuan sehari-hari mereka sebut sebagai cara yang efektif dan mudah dijangkau untuk memasukkan gerak badan ke dalam keseharian, sehingga pertanyaan tentang siapa yang melakukannya, dan siapa yang tidak, menjadi pertanyaan tentang rancangan lingkungan juga.

Seperempat berjalan kaki, seperempat lagi bergantung pada mobil

Secara keseluruhan, warga itu terbagi hampir rata ke dalam tiga kebiasaan besar, masing-masing kira-kira satu dari empat orang: 25,7 persen terutama berjalan kaki, 26,5 persen berjalan kaki sekaligus bersepeda, dan 24,0 persen bertumpu pada mobil, entah sebagai pengemudi entah sebagai penumpang. Sebanyak 14,9 persen lagi terutama bersepeda, termasuk sepeda listrik, sedangkan sisanya adalah mereka yang jarang bepergian dengan cara apa pun, yakni 6,8 persen yang tidak begitu aktif dan 2,1 persen yang tidak aktif sama sekali.

Pembagian itu tampak serupa pada perempuan dan laki-laki, walaupun angkanya tidak persis sama, sebab yang berjalan kaki sekaligus bersepeda mencapai 29,2 persen di kalangan laki-laki dan 22,4 persen di kalangan perempuan, sementara yang tidak begitu aktif tercatat 9,3 persen pada perempuan dan 4,8 persen pada laki-laki. Angkutan umum nyaris tidak muncul dalam gambaran ini, karena hanya empat orang yang menjadikannya moda utama, dan para peneliti mencatat bahwa layanan angkutan umum di wilayah itu memang terbatas.

Siapa mereka juga perlu disebut, karena rata-rata usianya 74,5 tahun, 38,3 persen di antaranya melaporkan keterbatasan gerak, entah kesulitan berjalan, kesulitan melihat, atau gangguan lain, dan 41,5 persen menilai kesehatannya sedang, buruk, atau sangat buruk. Hanya 7,5 persen yang tinggal di komunitas pedesaan berpenduduk kurang dari 5.000 jiwa, sedangkan kelompok terbesar, 36,7 persen, tinggal di kota kecil yang lebih besar, dengan penduduk 10.000 sampai 19.999 jiwa.

Cara lansia mencapai tujuan sehari-hariJalan kaki: Persen peserta +25,7%; Sepeda: Persen peserta +14,9%; Jalan+sepeda: Persen peserta +26,5%; Mobil: Persen peserta +24,0%; Jarang: Persen peserta +6,8%; Tidak aktif: Persen peserta +2,1%.Cara lansia mencapai tujuan sehari-hariModa utama 2.148 warga berusia 65 tahun ke atas, dalam persen10%20%30%0Jalan kaki25,7%Sepeda14,9%Jalan+sepeda26,5%Mobil24,0%Jarang6,8%Tidak aktif2,1%Moda utama berarti dipakai sedikitnya tiga kali sepekan. Mobilmencakup pengemudi dan penumpang.
Sumber: Sophie Horstmann, Sabine Baumgart, Gabriele Bolte, Older adults’ active mobility choices and their specific preferences and needs for their living environment: an intersectional approach, BMC Public Health, 26(1145), 2026. Grafik: Cekricek.id

Jarak ke toko dan keadaan badan yang memisahkan mereka

Namun angka rata-rata itu menyembunyikan lebih banyak daripada yang ditunjukkannya. Ketika para peneliti mencari hal apa yang paling memisahkan satu kebiasaan dari kebiasaan lain, tiga hal menonjol, yaitu keterbatasan gerak, ragam tujuan sehari-hari yang terjangkau dengan berjalan kaki dari rumah, dan kesehatan menurut penilaian sendiri. Pemisah yang pertama kali bekerja adalah jarak itu, yang dihitung dari taksiran peserta tentang berapa menit mereka harus berjalan ke toko bahan makanan, dokter, atau pusat rekreasi.

Di kawasan yang tujuannya dekat, orang yang sehat terbelah lagi menurut keterhubungan jalan di sekitarnya, dan hasilnya tidak sesederhana dugaan. Pada 360 orang sehat yang tinggal di lingkungan dengan jalan yang kurang terhubung, mobil menjadi moda utama bagi 37,2 persen, sedangkan yang terutama berjalan kaki hanya 17,5 persen. Justru sebaliknya pada 252 orang sehat yang jalannya terhubung baik, sebab di sana 20,2 persen terutama bersepeda dan 28,6 persen berjalan kaki sekaligus bersepeda.

Kelompok terbesar, 678 orang, justru tinggal di kawasan yang tujuannya jauh tetapi tidak memiliki keterbatasan gerak, dan mereka pula yang termuda, dengan rata-rata usia 72,9 tahun, serta 63,0 persen di antaranya berpendapatan di atas median. Di antara mereka dan kelompok sehat tadi berdiri 132 orang yang tinggal dekat dengan tujuan, menilai kesehatannya sedang atau buruk, tetapi tidak terbatas geraknya; 34,1 persen dari mereka memakai mobil dan 28,8 persen berjalan kaki.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Perempuan yang berjalan kaki karena tidak ada pilihan lain

Di situlah persoalannya menjadi lebih tajam, karena pada orang yang geraknya terbatas, jenis kelamin ikut memisahkan. Laki-laki dengan keterbatasan gerak yang tinggal dekat dengan tujuan, 216 orang, paling banyak memakai mobil, 33,8 persen, dan dari mereka yang mengaku sulit berjalan, hampir 40 persen tetap mengemudi sedikitnya tiga kali sepekan. Laki-laki serupa yang tinggal jauh dari tujuan, 152 orang, terutama berjalan kaki, 28,3 persen, atau berjalan kaki sekaligus bersepeda, 27,0 persen.

Perempuan dengan keterbatasan gerak yang tinggal dekat dengan tujuan, 219 orang, adalah kelompok tertua, dengan rata-rata usia 77,4 tahun, dan kelompok yang paling banyak berdiam: 20,9 persen tidak begitu aktif dan 7,7 persen tidak aktif sama sekali. Sebanyak 34,5 persen dari mereka bertumpu pada mobil, hampir seperempatnya, 23,7 persen, berpendidikan rendah, dan 33,8 persen tinggal sendiri, angka tertinggi di antara kedelapan kelompok; pemegang surat izin mengemudi di kelompok ini tercatat 78,8 persen.

Lain lagi 139 perempuan dengan keterbatasan gerak yang tinggal jauh dari tujuan, sebab di kelompok inilah berjalan kaki paling menonjol, yakni 44,2 persen, padahal jarak yang mereka hadapi lebih panjang. Para peneliti tidak membacanya sebagai kegemaran. “Banyak perempuan dalam subkelompok ini mungkin tidak punya pilihan selain berjalan kaki ke tujuan sehari-hari mereka,” tulis Sophie Horstmann, peneliti di Department of Social Epidemiology, University of Bremen, bersama Sabine Baumgart dan Gabriele Bolte dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Kalimat itu mengubah arah seluruh pembacaan, karena berjalan kaki yang semula tampak sebagai tanda hidup aktif ternyata bisa juga menjadi tanda sempitnya pilihan. Para peneliti mencatat bahwa laki-laki dengan keterbatasan gerak menempuh ragam yang lebih lebar, berjalan kaki maupun bersepeda, sedangkan perempuan dengan keterbatasan serupa terutama berjalan kaki, dan mereka menawarkan dua kemungkinan penjelasan, yaitu perbedaan rasa aman dan perbedaan keyakinan atas kemampuan badan, sambil mengakui bahwa kuesioner mereka tidak mengukur keyakinan itu secara langsung.

Perempuan dengan keterbatasan gerakPerempuan dengan keterbatasan gerakPerempuan dengan keterbatasan gerakDua dari delapan kelompok lansia di barat laut Jerman44,2%Berjalan kakitujuan jauh,Kelompok 734,5%Memakai mobiltujuan dekat,Kelompok 488,1%Risiko jatuhpenting bagiKelompok 733,8%Tinggal sendiriKelompok 4Jalan risetnyaJarak ke tujuanKeadaan badanDelapan kelompokKelompok 4 berisi 219 orang, Kelompok 7 berisi 139 orang. Dekat-jauhdiukur dari waktu berjalan kaki.
Sumber: Sophie Horstmann, Sabine Baumgart, Gabriele Bolte, Older adults’ active mobility choices and their specific preferences and needs for their living environment: an intersectional approach, BMC Public Health, 26(1145), 2026. Grafik: Cekricek.id

Permukaan jalan, lampu, dan rasa aman di atas keindahan

Apa yang diminta orang-orang ini dari lingkungannya ternyata lebih bersahaja daripada yang mungkin diduga perancang kota. Di semua kelompok, yang paling banyak dinilai penting adalah mutu permukaan jalan, dengan 59,8 sampai 84,4 persen peserta per kelompok, penerangan yang baik, 57,3 sampai 86,4 persen, keamanan dari lalu lintas, 69,7 sampai 87,3 persen, dan keamanan dari kejahatan, 71,4 sampai 90,4 persen. Keindahan lingkungan hanya dinilai penting oleh 6,1 sampai 14,5 persen, dan keran air minum umum oleh 4,2 sampai 11 persen.

Namun kesamaan itu pun bertingkat. Perempuan dengan keterbatasan gerak yang tinggal jauh dari tujuan adalah kelompok yang paling banyak menilai penting hampir segala hal, terutama prasarana pejalan kaki yang baik serta keamanan dari lalu lintas, di penyeberangan, dan dari kejahatan. Penilaian penting paling jarang datang dari orang sehat yang tinggal dekat dengan tujuan tetapi jalannya kurang terhubung, dan dari laki-laki dengan keterbatasan gerak yang tinggal dekat dengan tujuan.

Ketika ditanya apa yang menentukan pilihan moda mereka, perempuan yang berjalan jauh itu menyebut tiga hal dengan angka yang hampir bulat: keamanan dari kejahatan penting bagi 80,7 persen, keamanan dari lalu lintas bagi 88,1 persen, dan risiko jatuh juga bagi 88,1 persen, kira-kira sembilan dari sepuluh orang. Dua kelompok perempuan dengan keterbatasan gerak, yang dekat maupun yang jauh, sama-sama mengutamakan waktu tempuh yang bisa diperkirakan, 69,6 dan 70,5 persen, serta waktu tempuh yang singkat, 67,0 dan 66,2 persen.

Ada pula pertimbangan yang dimiliki bersama oleh semua kelompok, meski kadarnya berbeda, yaitu manfaat bagi kesehatan, yang dinilai penting oleh 57,9 sampai 71,4 persen, dan manfaat bagi lingkungan, 50,7 sampai 67,9 persen. Privasi dan kenyamanan justru berada di dasar daftar pada semua kelompok, masing-masing 18 sampai 29,3 persen dan 18,5 sampai 25,8 persen, sementara perempuan dengan keterbatasan gerak menilai ketersediaan tempat duduk lebih penting daripada kelompok lain.

Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh

Kota yang dirancang bagi orang yang berangkat bekerja

Dari temuan itu para peneliti menarik pembacaan yang lebih luas tentang siapa yang selama ini dilayani oleh rancangan ruang. Perencanaan kota dalam beberapa dasawarsa terakhir, tulis mereka, sangat dipengaruhi sudut pandang dan kebutuhan penduduk yang bekerja, sehingga ruang kerap tersusun di sekitar perjalanan bermotor pergi dan pulang kerja, dan susunan seperti itu dapat merugikan orang lanjut usia, yang pola dan kebutuhan bergeraknya berbeda. Rancangan lingkungan, dalam rumusan mereka, dapat menjadi sumber ketimpangan itu sendiri.

Pemakaian mobil yang tinggi, termasuk pada orang yang geraknya terbatas, mereka baca sebagai bagian dari persoalan yang sama, sebab di pedesaan yang tujuannya berjauhan dan jalannya kurang terhubung, jarak bisa melampaui kemampuan orang tua untuk berjalan atau bersepeda. Karena itu mereka menekankan perlunya moda pengganti agar orang tetap dapat ikut dalam kehidupan sehari-hari ketika tidak punya akses ke mobil atau berhenti mengemudi, seraya mengingatkan bahwa riset lain mengaitkan berhenti mengemudi dengan risiko keterasingan sosial yang lebih tinggi.

Usulan mereka sendiri tetap dekat dengan tanah: keterhubungan jalan, penyeberangan yang dirancang sesuai kemampuan orang tua, misalnya dalam hal waktu menyeberang dan jarak pandang, serta jalur pejalan kaki dan sepeda yang terawat. “Untuk mendorong mobilitas aktif, perencanaan kota harus mengakui keragaman ini, menelaah secara kritis kebutuhan dan kemampuan orang lanjut usia dalam bepergian, dan menerapkan solusi yang disesuaikan serta berorientasi pada kebutuhan,” tulis Horstmann, Baumgart, dan Bolte di bagian kesimpulan naskah mereka.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Batas temuan dan hal yang tidak cocok di dalam naskah

Para peneliti sendiri membatasi bobot temuan ini. Karena semua jawaban dikumpulkan pada satu waktu, tulis mereka, tidak dapat dipastikan apakah keinginan orang atas lingkungannya yang membentuk cara mereka bepergian, atau kebiasaan bepergian itulah yang membentuk keinginannya. Dari 10.999 warga yang dikirimi kuesioner, hanya 20,6 persen yang menjawab, dan dibandingkan penduduk Lower Saxony, mereka yang menjawab lebih banyak laki-laki, lebih banyak yang menikah, dan lebih banyak yang merasa sehat, sehingga temuan ini diminta dibaca dengan hati-hati.

Beberapa hal di naskah tidak saling cocok dan dapat diperiksa pembaca. Kelompok perempuan yang paling banyak berjalan kaki disebut tinggal di kawasan dengan tujuan yang jauh pada ringkasan, bagan, dan pembahasan, tetapi pada uraian hasil ditulis tinggal di kawasan dengan tujuan yang dekat. Pembahasan juga menyebut kelompok itu paling sedikit memegang surat izin mengemudi dan paling banyak tinggal sendiri, padahal uraian hasil mencatat 81,6 persen untuk mereka dan 78,8 persen, beserta angka tinggal sendiri tertinggi, untuk kelompok perempuan yang lain.

Satu catatan lagi lebih kecil, yaitu jumlah perempuan dan laki-laki di tabel, 976 dan 1.099 orang, yang bila dijumlahkan belum mencapai 2.148 peserta, tanpa keterangan tentang sisanya. Selebihnya, yang ditinggalkan penelitian ini adalah gambaran yang tidak selesai tentang orang-orang tua yang ternyata bukan satu rombongan, dan satu pertanyaan yang belum dijawabnya: apabila permukaan jalan diratakan, lampu dinyalakan, dan penyeberangan diperlambat, apakah perempuan yang kini berjalan karena terpaksa akan berjalan karena memilih?

Bagikan

Baca Juga

Anak Desa di Jepang Makin Besar Makin Larut Tidur, Lama di Layar
Ibu Hamil Desa yang Tidur Kurang atau Berlebih Lebih Sering Stres
Lama Duduk di Kantor, Pekerja Swedia Lebih Jarang Mengeluh Lupa
Perokok Muda Yordania Yakin Bisa Berhenti, Sebagian Terjebak
Tulang Gigi Lebih Sering Keropos Saat Urine Berjejak Uap Kimia
Bayi Tabung Sichuan Lebih Sering Jadi Usai Satu Gelombang Panas