Lama Duduk di Kantor, Pekerja Swedia Lebih Jarang Mengeluh Lupa

A A

Ilustrasi meja kerja kantor berwarna kuning dengan dua monitor, laptop, papan ketik, dan cangkir [Foto: Håkan Dahlström/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Rata-rata peserta duduk 4,9 jam sehari saat bekerja.
  • Tiap tambahan satu jam duduk pada waktu luang justru berkaitan dengan peluang 12 persen lebih tinggi.
  • Skornya berkisar dari 20 sampai 100, dan angka 20 berarti tidak ada keluhan sama sekali.
  • Para peneliti tidak memegang data profesi peserta, sehingga tidak bisa memperhitungkan seberapa rumit pekerjaan itu bagi pikiran.
Daftar Isi
  1. Sebelum Bergman: Keluhan Kecil pada Usia di Bawah 70 Tahun
  2. Dillon dan Kawan-Kawan: Jawaban Berubah Mengikuti Alat Ukur
  3. Wanders dan Hayat Lebih Dulu Memisahkan Kantor dari Rumah
  4. Bergman di Umeå: Satu Jam di Kursi Kerja, Satu Jam di Kursi Rumah
  5. Maasakkers dan Dugaan tentang Isi Waktu Duduk
  6. Rizvi dan Pekerjaan yang Tidak Tercatat
  7. Rujukan yang Tertukar dalam Naskah Tahun 2026

Dunia sedang menua, dan bersama itu jumlah orang yang daya pikirnya merosot terus bertambah. Penderita demensia di seluruh dunia diperkirakan naik dari 57,4 juta orang pada 2019 menjadi 152,8 juta orang pada 2050. Di tengah angka sebesar itu, kursi ikut dicurigai. Orang yang terlalu lama duduk sudah lama diduga lebih cepat tumpul, walau buktinya, menurut para peneliti yang menelaahnya, belum sekukuh bukti tentang manfaat bergerak.

Kecurigaan itulah yang diuji ulang oleh Frida Bergman, Carl-Johan Boraxbekk, Pasan Hettiarachchi, Magnus Svartengren, Patrik Wennberg, dan Melony Fortuin-de Smidt. Laporan mereka berjudul Associations between accelerometer-assessed occupational and leisure-time sitting and self-reported cognitive dysfunction in Swedish middle-aged adults: a cross-sectional analysis from the SCAPIS study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka tidak bertanya berapa lama orang duduk, melainkan di mana duduk itu terjadi: di tempat kerja atau pada waktu luang.

Jawabannya membelah dugaan lama menjadi dua. Pada 1.559 pekerja berusia 50 sampai 64 tahun di Umeå, Swedia, tiap tambahan satu jam duduk saat bekerja berkaitan dengan peluang 8 persen lebih rendah untuk melaporkan keluhan daya pikir. Tiap tambahan satu jam duduk pada waktu luang justru berkaitan dengan peluang 12 persen lebih tinggi. Kursi yang sama, arah yang berlawanan.

Sebelum Bergman: Keluhan Kecil pada Usia di Bawah 70 Tahun

Mengapa yang diperiksa keluhan, bukan penyakit? Para peneliti berangkat dari pengertian yang sudah lebih dulu dirumuskan, yaitu kemunduran daya pikir yang dirasakan sendiri. Orang merasa kemampuannya terus menurun dibanding keadaannya dulu, tanpa peristiwa mendadak yang memicunya, padahal hasil tes baku masih normal. Gangguan daya pikir, tulis mereka, membentang dari yang nyaris tidak terasa dalam keseharian sampai yang berat seperti demensia.

Keluhan semacam itu bukan perkara sepele dalam rantai riset yang mereka rujuk. Sebuah telaah atas penelitian jangka panjang oleh Pike dan rekan-rekannya mengaitkan keluhan tersebut dengan risiko lebih besar terkena gangguan kognitif ringan dan demensia kelak. Kaitan itu berbeda menurut umur. Orang di bawah 70 tahun yang mengeluh tercatat menanggung risiko gangguan kognitif ringan yang lebih besar daripada mereka yang berusia di atas 70 tahun.

Dari sanalah usia paruh baya menjadi penting bagi Bergman dan kawan-kawan. Memahami apa saja yang berkaitan dengan keluhan daya pikir pada kelompok umur ini, tulis mereka, sangat berarti bagi upaya pencegahan dini. Bergerak sepanjang hidup sudah lama dianjurkan untuk mencegah demensia, dan aktivitas fisik pada usia paruh baya pernah dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dalam pengamatan lebih dari 20 tahun.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Dillon dan Kawan-Kawan: Jawaban Berubah Mengikuti Alat Ukur

Soal duduk, rantainya lebih kusut. Telaah gabungan oleh Dillon dan rekan-rekannya atas orang paruh baya dan lanjut usia tidak menemukan kaitan antara lamanya duduk dan daya pikir yang lebih buruk, dengan catatan penelitian yang digabung sangat beragam. Begitu dipilah menurut cara mengukur, gambarnya terbelah. Pada penelitian yang memakai alat, duduk lebih lama berkaitan dengan daya pikir yang lebih buruk.

Pada penelitian yang mengandalkan pengakuan peserta, arahnya terbalik: duduk lebih lama berkaitan dengan daya pikir yang lebih baik, khususnya kecepatan mengolah informasi. Bergman dan kawan-kawan membaca pertentangan itu sebagai tanda bahwa ukuran yang lebih objektif diperlukan. Pengakuan orang tentang lamanya duduk, tulis mereka, bisa meleset dua sampai tiga jam lebih sedikit dari kenyataan, sedangkan alat yang dipasang di paha mampu mengukurnya dengan kesahihan tinggi.

Wanders dan Hayat Lebih Dulu Memisahkan Kantor dari Rumah

Gagasan bahwa tempat duduk itu penting bukan milik Bergman seorang. Wanders dan rekan-rekannya, yang meneliti orang dewasa dengan usia tengah 61 tahun, mendapati daya pikir lebih baik pada peserta dengan waktu duduk total paling panjang. Ketika dirinci, duduk yang terkait pekerjaan dan waktu memakai komputer di luar pekerjaan berkaitan dengan daya pikir lebih baik, sedangkan duduk pada waktu luang secara keseluruhan tidak menunjukkan kaitan bermakna.

Hayat dan rekan-rekannya menempuh jalan serupa dengan melihat kurangnya gerak di tempat kerja dan pada waktu luang. Kurang gerak di tempat kerja berkaitan dengan risiko daya pikir buruk yang lebih rendah, baik pada pengamatan sesaat maupun pengamatan lanjutan. Kurang gerak pada waktu luang berkaitan dengan risiko lebih tinggi, tetapi hanya pada pengamatan sesaat. Kedua penelitian itu, catat Bergman, bertumpu pada laporan peserta sendiri.

Bergman di Umeå: Satu Jam di Kursi Kerja, Satu Jam di Kursi Rumah

Di titik itulah penelitian Umeå menyambung rantai. Selama sepekan sebuah alat perekam gerak menempel di paha tiap peserta, dan jam kerja mereka dicatat dalam buku harian, sehingga duduk di tempat kerja bisa dipisahkan dari duduk di luar itu. Rata-rata peserta duduk 4,9 jam sehari saat bekerja. Pada waktu luang angkanya lebih besar, 6,7 jam sehari.

Dua macam duduk, dua arah kaitanDua macam duduk, dua arah kaitanDua macam duduk, dua arah kaitan1.559 pekerja usia 50-64 tahun di Umea, SwediaDuduk saat kerjaDuduk waktu luang4,9 jam6,7 jamRata-rata per haripeluang -8%peluang +12%Tiap tambah satujam0,921,12Rasio peluangtidak adatidak adaKaitan dengankeparahanPeluang = peluang melaporkan keluhan daya pikir.
Sumber: Frida Bergman, Carl-Johan Boraxbekk, Pasan Hettiarachchi, Magnus Svartengren, Patrik Wennberg, dan Melony Fortuin-de Smidt, Associations between accelerometer-assessed occupational and leisure-time sitting and self-reported cognitive dysfunction in Swedish middle-aged adults: a cross-sectional analysis from the SCAPIS study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pesertanya rata-rata berusia 56,9 tahun, dan 808 orang atau 52 persen di antaranya perempuan. Hampir separuh, 45 persen, berpendidikan tinggi, sementara 48,2 persen berpendidikan menengah. Keluhan daya pikir mereka dihimpun lewat dua puluh pertanyaan tentang seberapa sering kegagalan kecil terjadi dalam keseharian setahun terakhir, mencakup tindakan yang sudah terbiasa, pengetahuan kata, mengenali wajah, orientasi waktu, dan mencari arah.

Skornya berkisar dari 20 sampai 100, dan angka 20 berarti tidak ada keluhan sama sekali. Sebanyak 442 peserta berada tepat di angka itu. Sisanya, 1.117 orang atau sekitar tujuh dari sepuluh peserta, mencatat skor 21 ke atas, dengan skor tengah seluruh peserta 23. Keluhannya, dengan kata lain, lazim tetapi ringan: kebanyakan orang hanya sedikit di atas garis tanpa keluhan.

Keluhan daya pikir pekerja UmeaKeluhan daya pikir pekerja UmeaKeluhan daya pikir pekerja UmeaSkor daftar pertanyaan 20 butir; makin tinggi makin banyak keluhan1.559pekerjausia 50-64 tahun442tanpa keluhanskor tepat 201.117ada keluhanskor 21 ke atas23skor tengahrentang 20-100Jalan risetnyaAlat ukur di pahaCatatan jam kerja20 pertanyaanSkor 20 berarti tidak ada gangguan.
Sumber: Frida Bergman, Carl-Johan Boraxbekk, Pasan Hettiarachchi, Magnus Svartengren, Patrik Wennberg, dan Melony Fortuin-de Smidt, Associations between accelerometer-assessed occupational and leisure-time sitting and self-reported cognitive dysfunction in Swedish middle-aged adults: a cross-sectional analysis from the SCAPIS study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu dua arah itu muncul. Rasio peluang untuk duduk saat bekerja adalah 0,92, dengan rentang kepercayaan 0,87 sampai 0,98 yang seluruhnya di bawah satu. Untuk duduk pada waktu luang rasionya 1,12, dengan rentang 1,03 sampai 1,21 yang seluruhnya di atas satu. Angka itu sudah memperhitungkan jenis kelamin, usia, pendidikan, gerak badan pada waktu luang, lama tidur, kebiasaan minum alkohol yang berisiko, dan keterbatasan akibat masalah emosi.

Kedua kaitan itu juga bertahan ketika duduk di tempat kerja dan duduk pada waktu luang diperhitungkan bersamaan. “Secara keseluruhan, temuan kami menunjukkan bahwa konteks tempat duduk itu terjadi mungkin penting untuk memahami hubungannya dengan kesehatan kognitif subjektif,” tulis Frida Bergman, peneliti pada Department of Public Health and Clinical Medicine Umeå University, bersama lima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia

Ada bagian temuan yang diam. Di antara 1.117 peserta yang sudah melaporkan keluhan, lamanya duduk tidak berkaitan dengan berat ringannya keluhan itu, baik duduk di tempat kerja maupun pada waktu luang. “Hasil kami dengan demikian menunjukkan bahwa duduk mungkin lebih berkaitan dengan munculnya gangguan kognitif daripada dengan keparahannya,” tulis Bergman dan kawan-kawan. Mereka menduga sedikitnya peserta dengan skor tinggi ikut menjelaskan kosongnya kaitan tersebut.

Gerak badan pun tidak mengubah gambar. Riset terdahulu yang mereka kutip menduga gerak badan berintensitas sedang sampai berat bisa mengimbangi sebagian akibat buruk duduk lama pada lanjut usia. Di Umeå kedua kaitan tetap ada sesudah gerak badan pada waktu luang diperhitungkan. Para peneliti mencatat peserta mereka tergolong banyak bergerak, mungkin karena yang bersedia ikut memang orang yang lebih sehat, sehingga pengaruh gerak badan bisa saja sudah mentok.

Maasakkers dan Dugaan tentang Isi Waktu Duduk

Mengapa kursi kantor dan kursi rumah berbeda, penelitian ini tidak bisa menjawab langsung. Alat di paha tahu kapan orang duduk, tetapi tidak tahu apa yang dikerjakannya sambil duduk. Bergman dan kawan-kawan bersandar pada dugaan yang sudah diajukan peneliti lain, antara lain Maasakkers dan rekan-rekannya: jenis kegiatan selama duduk mungkin lebih penting bagi daya pikir daripada lamanya duduk itu sendiri.

Mata rantai pendukungnya mereka sebut satu per satu. Sebuah penelitian yang baru terbit mengaitkan duduk yang aktif secara mental dengan risiko demensia yang lebih rendah. Pada lanjut usia, duduk sambil memakai komputer berkaitan dengan kinerja daya pikir yang lebih baik, sedangkan duduk pasif seperti menonton televisi berkaitan dengan kinerja yang lebih buruk. Duduk saat bekerja dan duduk pada waktu luang, tulis mereka, boleh jadi menuntut pikiran secara berbeda.

Mereka juga menempatkan temuan ini di samping teka-teki lain yang disebut paradoks aktivitas fisik. Gerak badan pada waktu luang sudah dikenal menyehatkan, tetapi gerak badan karena pekerjaan belum tentu demikian. Sebuah telaah gabungan yang mereka kutip mengaitkan aktivitas fisik pada waktu luang dan saat mengurus rumah dengan risiko demensia lebih rendah, sementara aktivitas fisik dalam pekerjaan dan perjalanan ke tempat kerja dikaitkan dengan risiko lebih tinggi.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Rizvi dan Pekerjaan yang Tidak Tercatat

Batas penelitian ini ditulis terang oleh para penelitinya. “Karena penelitian ini bersifat potong lintang, kami tidak dapat menarik kesimpulan apa pun tentang sebab-akibat,” tulis mereka. Bisa jadi orang yang waktu luangnya banyak dihabiskan dengan duduk lebih sering mengalami gangguan daya pikir. Bisa jadi pula orang yang daya pikirnya terganggu lebih cenderung menghabiskan waktu luang dengan duduk.

Yang diukur pun keluhan, bukan hasil tes. Keluhan, menurut mereka, bisa mencerminkan keadaan emosi, stres, dan kepekaan seseorang terhadap perubahan dirinya, selain kemampuan yang sebenarnya. Daftar pertanyaan yang dipakai belum memiliki angka batas klinis untuk menyatakan seseorang terganggu. Keadaan emosi peserta hanya ditanyakan lewat dua pertanyaan, tanpa keterangan tentang depresi atau kecemasan.

Lubang terbesar ada pada jenis pekerjaan. Para peneliti tidak memegang data profesi peserta, sehingga tidak bisa memperhitungkan seberapa rumit pekerjaan itu bagi pikiran. Padahal Rizvi dan rekan-rekannya, yang mereka kutip, mendapati kaitan duduk lama di tempat kerja dengan daya pikir lebih baik sebagian terjelaskan oleh gabungan kerumitan pekerjaan dan pendidikan. Sebuah penelitian atas lebih dari 100.000 orang juga mengaitkan pekerjaan yang merangsang pikiran dengan risiko demensia lebih rendah.

Rujukan yang Tertukar dalam Naskah Tahun 2026

Pembaca yang membuka naskah ini akan menemukan beberapa hal kecil yang patut diperiksa. Uraian tentang cara menghitung merujuk ke Gambar 2, padahal Gambar 2 memuat sebaran skor keluhan, sedangkan hasil hitungan itu ada di Gambar 3. Kalimat tentang persetujuan tertulis peserta merujuk ke sumber nomor 11, yaitu penelitian Wanders, bukan ke uraian rancangan SCAPIS yang bernomor 13.

Angka waktu luang juga tampil dua rupa. Ringkasan menyebut 12 persen, sementara bagian hasil dibuka dengan 14 persen, angka dari hitungan sebelum duduk di tempat kerja ikut diperhitungkan. Naskah pun menyebut pemilihan acak dari penduduk umum memperkuat keberlakuan temuan, padahal yang dianalisis hanya satu dari enam lokasi SCAPIS dan hanya peserta yang masih bekerja, 1.559 dari 2.507 orang di Umeå.

Dalam rantai panjang yang berawal dari kecurigaan terhadap kursi, penelitian Umeå menambahkan satu mata yang sebelumnya longgar: ukuran dengan alat, dipisah menurut tempat. Hasilnya tidak membebaskan duduk dan tidak pula menghukumnya. Yang tersisa bagi peneliti sesudah Bergman adalah pertanyaan yang ia tulis sendiri di ujung naskah, yakni apa yang sebenarnya dikerjakan orang selama duduk dan ke mana arah kaitannya bila diikuti bertahun-tahun.

Bagikan

Baca Juga

Perokok Muda Yordania Yakin Bisa Berhenti, Sebagian Terjebak
Tulang Gigi Lebih Sering Keropos Saat Urine Berjejak Uap Kimia
Bayi Tabung Sichuan Lebih Sering Jadi Usai Satu Gelombang Panas
Bayi Tabung Masih Asing bagi Hampir Separuh Responden di Yordania
Karyawan Jeddah Diam Saat Dihina Atasan, Badannya yang Bicara
Toko Dekat Rumah, Warga Alabama Tetap Tak Sanggup Makan Sehat