- Sebanyak 720 orang menjawab pernah, kira-kira satu dari enam peserta.
- Tanpa penyesuaian apa pun, delapan jejak berkaitan dengan keropos tulang gigi.
- Di kalangan bukan perokok, tidak satu pun jejak menunjukkan hubungan yang bermakna.
- Penelitian ini memotret satu waktu, tidak mengikuti orang dari tahun ke tahun.
Daftar Isi
- Sebelum Wei: Sebab Keropos Dicari pada Diri Pasien
- Dai, Jiang, dan Dong pada 2024–2025: Radang Lebih Dulu Diperiksa
- Data 2011–2020: 720 dari 4.345 Orang Dewasa Amerika
- Temuan Wei dan Rekan: Tiga Jejak yang Bertahan
- Perokok dan Laki-laki: Kaitan yang Tidak Merata
- Dari Formaldehida ke Hidrogen Sulfida: Jalur yang Diduga
- Batas yang Diakui Wei dan Catatan atas Naskahnya
Selama beberapa dasawarsa terakhir, industrialisasi dan urbanisasi yang melaju cepat melepaskan senyawa organik menguap dalam jumlah besar ke udara di dalam dan di luar rumah. Senyawa itu terkandung dalam barang yang akrab di tangan, mulai dari cat berwarna, cairan pembersih, perekat, lem, pelumas, sampai pengharum ruangan. Tubuh menyerapnya lewat napas, makanan, dan kulit, lalu sebagian besar diolah hati dan dibuang bersama urine. Di urine itulah jejaknya tertinggal dan bisa dibaca.
Jejak tersebut dibaca Luyun Wei, Shengzhu Huang, He Huang, Yuanfan Li, Juan Ye, dan Xiaoxiao Zhou untuk satu pertanyaan yang belum pernah diajukan. Artikel mereka berjudul The associations between volatile organic compounds and bone loss around teeth among US adults, dimuat BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2100, tahun 2026. Keenam penulis bekerja di Guangxi Medical University dan rumah sakit afiliasinya di Nanning, Guangxi, China.
Yang mereka tanyakan adalah nasib tulang di sekitar gigi, penyangga yang membuat gigi tetap tegak di tempatnya. Ketika tulang itu menyusut, tulis para penulis, gigi mulai goyang dan fungsi mengunyah terganggu. Bila tinggi tulang turun jauh dan gusi ikut menyusut, akar gigi terbuka, gigi bergeser, lalu pada akhirnya tanggal. Masalah ini mereka sebut sebagai gangguan kesehatan mulut yang umum dijumpai.
Sebelum Wei: Sebab Keropos Dicari pada Diri Pasien
Daftar penyebab yang selama ini dikenal hampir seluruhnya menunjuk ke dalam diri orang yang mengalaminya. Naskah itu menyebut radang jaringan penyangga gigi, radang gusi, cara membersihkan gigi yang keliru, masalah gigitan, penyakit seperti diabetes dan osteoporosis, kebiasaan merokok, serta usia yang menua. “Sebagian besar penelitian terdahulu tentang keropos tulang di sekitar gigi berfokus pada individu,” tulis Wei dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Di luar daftar itu, hubungan antara pencemaran dan penyakit mulut baru disinggung sepotong-sepotong. Vianna dan rekan-rekannya mendapati lamanya paparan kabut asam berkaitan dengan luka pada selaput lendir mulut pekerja yang bibirnya tidak mengatup rapat. Tort dan rekan menunjukkan kemungkinan kaitan antara paparan timbal yang tinggi dan masalah mulut pada anak, termasuk tumpukan plak dan penyakit gusi. Riset lain menghubungkan kadar fluor air minum dengan bercak fluorosis pada gigi.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Dai, Jiang, dan Dong pada 2024–2025: Radang Lebih Dulu Diperiksa
Senyawa organik menguap baru masuk ke percakapan itu beberapa tahun terakhir, dan pintu masuknya adalah radang jaringan penyangga gigi, bukan tulangnya. Dai dan rekan-rekannya pada 2024 melaporkan kaitan positif antara jejak senyawa itu di urine dan radang tersebut, dengan jumlah sel darah putih dan limfosit sebagai perantara sebagian hubungan. Temuan itu mengarah pada peran peradangan di seluruh tubuh.
Jiang dan rekan pada 2025 sampai pada hasil serupa, lalu menunjuk monosit, salah satu sel kekebalan, sebagai perantara penting. Dong dan rekan pada 2024 mendapati risiko radang penyangga gigi naik seiring kadar 1,4-diklorobenzena, dengan bilirubin total sebagai perantara. Ketiga riset berhenti di jaringan lunak. Tulang yang menjadi tempat gigi tertanam belum disentuh siapa pun.
Celah itulah yang diisi Wei dan rekan-rekannya. “Sejauh pengetahuan kami, ini adalah penelitian pertama yang menilai hubungan antara paparan senyawa organik menguap dan keropos tulang di sekitar gigi,” tulis mereka. Bahan yang dipakai bukan data baru dari klinik, melainkan survei kesehatan dan gizi nasional Amerika Serikat yang dikenal dengan singkatan NHANES, dari empat putaran antara 2011 dan 2020.
Data 2011–2020: 720 dari 4.345 Orang Dewasa Amerika
Dari survei itu terkumpul 4.345 orang dewasa yang urinenya diperiksa dan yang menjawab satu pertanyaan sederhana, yaitu apakah seorang tenaga profesional gigi pernah memberi tahu bahwa tulang di sekitar gigi mereka hilang. Sebanyak 720 orang menjawab pernah, kira-kira satu dari enam peserta. Sisanya, 3.625 orang, menjadi kelompok pembanding yang tidak pernah menerima kabar semacam itu.
Kedua kelompok ternyata berbeda bahkan sebelum urine mereka dibandingkan. Di kelompok keropos, 41,37 persen berusia di atas 60 tahun, sedangkan di kelompok pembanding 28,44 persen. Perokok mencapai 63,82 persen, jauh di atas 46,45 persen pada pembanding. Mereka yang lajang juga lebih banyak, 38,63 persen berbanding 30,29 persen, dan kontak gigi belakang yang buruk hampir dua kali lebih sering dijumpai.
Satu perbedaan justru berbalik arah. Peminum alkohol lebih sedikit di kelompok keropos, 75,37 persen berbanding 83,38 persen. Sementara itu, jenis kelamin, pendidikan, ras, indeks massa tubuh, pemakaian benang gigi, dan diabetes tidak berbeda bermakna di antara keduanya. Indeks massa tubuh rata-rata bahkan nyaris kembar, 29,83 pada kelompok keropos dan 29,97 pada pembanding.
Temuan Wei dan Rekan: Tiga Jejak yang Bertahan
Lima belas jejak senyawa organik menguap diperiksa dalam urine tiap peserta. Sepuluh di antaranya lebih tinggi pada kelompok yang tulang giginya keropos, sedangkan lima sisanya tidak berbeda. Perbandingan mentah seperti itu belum banyak berarti, sebab kelompok keropos juga lebih tua dan lebih banyak merokok. Karena itu para penulis menyaring hasilnya secara bertahap.
Tanpa penyesuaian apa pun, delapan jejak berkaitan dengan keropos tulang gigi. Sesudah usia, jenis kelamin, ras, status perkawinan, indeks massa tubuh, dan pendidikan diperhitungkan, tersisa tujuh. Ketika rokok, alkohol, benang gigi, diabetes, dan kontak gigi belakang ikut dimasukkan, yang bertahan tinggal tiga. Ketiganya dicatat dengan kode URXAAM, URXAMC, dan URXCYM, semuanya turunan asam amino sistein yang keluar bersama urine.
Besarnya kaitan itu tidak seragam. Orang dengan kadar URXAAM di perempat teratas memiliki peluang keropos 1,69 kali peluang mereka yang berada di perempat terbawah. Untuk URXAMC angkanya 1,53 kali, dan untuk URXCYM 1,35 kali. Ada pula satu hasil yang berlawanan arah: kadar perempat ketiga dari URX34M, turunan asam metilhipurat, berkaitan dengan risiko yang lebih rendah pada semua tahap penyaringan.
Para penulis juga menelusuri apakah risiko naik selangkah demi selangkah mengikuti kadar. Lima jejak memperlihatkan pola lurus semacam itu, yakni URX2MH, URXAAM, URXCYM, URXMB3, dan URXPMM. URXAMC berkaitan pula, tetapi polanya tidak lurus. Sembilan jejak lain tidak menunjukkan hubungan yang bermakna, sehingga gambaran akhirnya adalah senyawa tertentu, bukan seluruh keluarga senyawa menguap.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Perokok dan Laki-laki: Kaitan yang Tidak Merata
Kaitan itu berubah rupa ketika peserta dipilah. Di kalangan perokok, URXAAM dan satu jejak lain, URXPHG, berkaitan dengan keropos pada semua tahap penyaringan. Di kalangan bukan perokok, tidak satu pun jejak menunjukkan hubungan yang bermakna. Para penulis mengingatkan bahwa rokok sendiri diakui sebagai sumber utama senyawa organik menguap dan mampu mengubah susunan senyawa itu dalam napas seseorang.
Pemilahan menurut jenis kelamin memberi gambaran serupa. Pada laki-laki, empat jejak tetap berkaitan sesudah penyesuaian penuh, yaitu URXAAM, URXAMC, URXDHB, dan URXHPM. Pada perempuan, sesudah penyesuaian yang sama, tidak ada yang tersisa. Wei dan rekan menawarkan tiga penjelasan yang diambil dari riset terdahulu: sebaran lemak tubuh yang berbeda, hormon yang mengatur enzim pengolah di hati, dan pola paparan dari pekerjaan, produk perawatan diri, rokok, serta alkohol.
Usia pun mengubah daftar. Pada peserta berusia 60 tahun ke bawah, kadar URXAAM tertinggi berkaitan dengan peluang keropos 1,80 kali. Pada mereka yang lebih tua, yang muncul justru tiga jejak lain, yakni URXCEM, URXDHB, dan URXMAD. Daftar itu bergeser lagi antara peminum dan bukan peminum, juga antara yang lajang dan yang tidak. Jenis dan jumlah senyawa yang berkaitan, simpul para penulis, berbeda dari satu kelompok ke kelompok lain.
Dari Formaldehida ke Hidrogen Sulfida: Jalur yang Diduga
Bagaimana uap kimia bisa sampai ke tulang rahang belum diketahui pasti, dan para penulis mengakuinya. Mereka lalu menyusun dugaan dari percobaan yang sudah ada. Paparan formaldehida jangka panjang pada tikus merusak matriks tulang penyangga gigi dan memutus serat kolagennya. Hidrogen sulfida mendorong pengikisan tulang yang sama dengan menaikkan jumlah sel pengikis tulang. Turunan benzena, klorobenzena, dan m-xilena mengubah sinyal kimia yang mengatur pembentukan sel tulang.
Dari potongan-potongan itu mereka mengusulkan tiga jalur. Senyawa organik menguap mungkin langsung merusak matriks tulang, mungkin mengaktifkan pembentukan sel pengikis tulang, atau mungkin mengganggu sinyal yang menjaga tulang terus diperbarui. Monosit, sel yang oleh Jiang dan rekan disebut sebagai perantara pada radang penyangga gigi, kembali muncul di sini sebagai sasaran senyawa itu. Semua ini masih berstatus usulan, belum diuji dalam penelitian Wei.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Batas yang Diakui Wei dan Catatan atas Naskahnya
Penelitian ini memotret satu waktu, tidak mengikuti orang dari tahun ke tahun. “Penelitian ini memakai rancangan potong lintang, yang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat antara senyawa organik menguap dan keropos tulang di sekitar gigi,” tulis para penulis. Urine diukur hanya sekali. Keropos tulang pun dicatat dari ingatan peserta atas ucapan dokter giginya, bukan dari pemeriksaan klinis atau foto rontgen.
Radang penyangga gigi dan osteoporosis juga tidak masuk hitungan utama karena datanya tidak lengkap di semua putaran survei. Ketika keduanya diperhitungkan pada sebagian peserta, lima jejak berkaitan dengan keropos, tetapi dari tiga jejak utama hanya URXCYM yang muncul lagi. Para penulis menyebut hasil itu meneguhkan temuan pokok. Pembaca dapat menimbang sendiri seberapa jauh dua daftar itu sejalan.
Ada beberapa hal kecil lain yang bisa dicek. Pada tabel ciri peserta, jumlah peminum dan bukan peminum di kelompok keropos sama-sama tertulis 551, padahal kelompok itu hanya berisi 720 orang. Kode URXCYM sekali tertulis URXCMY di bagian pembahasan. Tabel kadar senyawa berkepala nanogram per mililiter, sedangkan uraian naskah menyebut semua kadar dinyatakan per gram kreatinin.
Rantainya kini bertambah satu mata. Mula-mula keropos tulang gigi dicari sebabnya pada sikat gigi, rokok, gula darah, dan umur. Kemudian Dai, Jiang, dan Dong membawa uap kimia ke jaringan penyangga gigi. Wei dan rekan meneruskannya ke tulang, dengan tiga jejak di urine 4.345 orang dewasa Amerika sebagai pegangan. Mata rantai berikutnya, menurut mereka sendiri, adalah penelitian yang mengikuti orang dari waktu ke waktu dan memeriksa tulangnya langsung.















