Suku Muyu di Ninati Siapkan Empat Hektare untuk Bibit dari Jawa

A A

Ilustrasi tiga warga mencangkul bedeng tanah hitam di samping kebun dan bukit berhutan berkabut [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Para mama di Kampung Ninati bergiliran naik minibus ke pasar Tanah Merah seminggu sekali.
  • Sebagian besar warga Muyu di Ninati masih hidup dari berburu dan meramu.
  • Ninati berada pada ketinggian sekitar 1.500 sampai 1.700 meter dan bertanah cokelat kehitaman.
  • Bibit pepaya, terong, sawi, mentimun, cabai rawit, kentang, dan wortel dikirim dari Banyumas pada 22 Juni 2023.
  • Catatan kedua penulis berhenti pada lahan empat hektare yang siap ditanami, belum sampai panen.
Daftar Isi
  1. Jalan ke Tanah Merah
  2. Petatas, paku, dan buah merah
  3. Tanah cokelat kehitaman
  4. Paket bibit dari Banyumas
  5. Atat bond setiap 10 Oktober
  6. Yang belum tercatat

Para mama di Kampung Ninati tidak berangkat ke pasar bersama-sama. Mereka bergiliran, satu kelompok lalu kelompok berikutnya, menunggu minibus yang akan membawa dagangan ke Tanah Merah, pusat Kabupaten Boven Digoel. Giliran itu datang seminggu sekali. Bila hujan turun deras, jalan menjadi lumpur dan perjalanan ke pasar ikut tersendat.

Gambaran itu dicatat Antik Tri Susanti dan Tunjung Wijanarka dalam artikel Ninati Sedang ‘Merias’ Diri: Sebuah Kajian Pemberdayaan Masyarakat Adat. Tulisan mereka terbit di Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat volume 04 nomor 01 tahun 2023. Susanti mengajar sosiologi, Wijanarka hubungan internasional, keduanya di Universitas Kristen Satya Wacana.

Ninati terletak di Distrik Ninati, Papua Selatan, di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Penghuni utamanya suku Muyu. Kedua penulis menyebut kampung ini termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar, dengan akses ekonomi dan pendidikan yang masih serba terbatas. Dari kampung inilah mereka mencatat sebuah percobaan kecil: kebun baru yang dirancang lewat layar.

Jalan ke Tanah Merah

Jalan trans Papua sudah sampai ke kawasan ini. Susanti dan Wijanarka mengakui jalan itu memudahkan warga menjangkau pasar di ibu kota kabupaten. Namun kemudahan itu berhenti ketika curah hujan tinggi. Jalan berlumpur, sebagian tergenang banjir, dan akses menuju Tanah Merah menjadi sangat terkendala.

Di dalam kampung, sekolah hanya tersedia sampai jenjang sekolah dasar. Guru pun, menurut catatan kedua penulis, datang beberapa kali saja dalam seminggu. Anak Muyu yang ingin melanjutkan ke sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi biasanya mengandalkan beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah dari pemerintah untuk naik ke jenjang berikutnya.

Satu hal berubah cepat. Sebelum 2022, listrik dan internet di Ninati hanya menyala pada jam-jam tertentu. Sejak 2023 warga menikmatinya secara penuh, 24 jam. Kedua penulis mengaitkan perubahan itu dengan pembangunan Pos Lintas Batas Negara Yetetkun, yang juga membawa perbaikan pada jalan dan jangkauan internet.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Petatas, paku, dan buah merah

Sebagian besar warga Muyu di Ninati masih hidup dari berburu dan meramu. Ada yang sudah berkebun, tetapi caranya sangat sederhana. Tidak ada mesin, tidak ada alat yang meringankan kerja. Pengetahuan tentang tanah, iklim, dan tanaman mana yang laku mahal juga belum menyebar luas di kampung itu.

Isi kebun pun nyaris seragam. Warga terutama menanam petatas, sebutan setempat untuk ubi, dan itulah yang dibawa ke pasar Tanah Merah. Selebihnya mereka mengambil tanaman paku dan buah merah yang tumbuh liar di kebun dan hutan. Keduanya dimakan sehari-hari, dan sebagian dijual.

Buah merah menyimpan ironi kecil. Minyaknya, tulis Susanti dan Wijanarka, berharga tinggi di Pulau Jawa. Di Ninati buah itu masih sebatas lauk, disantap bersama tanaman paku. Beberapa orang dan kelompok keluarga memang mulai menjadikan kebun sebagai sandaran hidup, tetapi mereka terbentur pengetahuan yang terbatas dan pilihan tanaman yang sempit.

Modal kebun Kampung NinatiModal kebun Kampung NinatiModal kebun Kampung NinatiSuku Muyu, Distrik Ninati, Boven Digoel, Papua Selatan4 haLahan kebunsiap pada 2 Juli20231.500Meter di ataslauthingga 1.700 m7Jenis bibitkirimandari Banyumas10 OktUpacara atatbondpesta hasil bumiJalan risetnyaKunjungan 2022Rapat daringBibit dikirim
Sumber: Antik Tri Susanti dan Tunjung Wijanarka, Ninati Sedang 'Merias' Diri: Sebuah Kajian Pemberdayaan Masyarakat Adat, Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 04(01), 2023. Grafik: Cekricek.id

Tanah cokelat kehitaman

Padahal kampung ini punya modal alam. Ninati berada pada ketinggian sekitar 1.500 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut, berhawa sejuk, dengan lahan yang luas dan hujan yang cukup. Tanahnya berwarna cokelat kehitaman. Bagi kedua penulis, warna itu menandakan unsur hara yang tinggi dan pengairan yang memadai dari hujan.

Keterangan soal tanah itu datang dari dua orang kampung. Yang pertama Pastor Tutuboy Fabianus, pastor paroki Ninati yang disegani dan dihormati warga. Yang kedua Gabriel Oleh, pemuda yang merintis pertanian di sana. Keduanya menceritakan pengalaman mengolah tanah, menyemai bibit, dan jenis tanaman yang pernah mereka coba.

Cerita mereka tidak seluruhnya menggembirakan. Selain petatas, kebun mereka pernah diisi sawi, bayam, kacang panjang, dan cabai kecil yang oleh orang Muyu disebut rica gigi anjing. Hasilnya berukuran kecil. Tanaman itu juga sering habis dimakan hama serangga sebelum sempat dipanen dengan baik.

Kedua tokoh itu menyampaikan pengalamannya dalam rapat daring, sebab jarak dan biaya perjalanan Jawa–Papua terlalu berat untuk pertemuan langsung. Di seberang layar hadir Aji Naufal, praktisi sekaligus pengusaha pertanian dari Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia menilai gagal panen terjadi karena tiap tahapan menanam belum dikerjakan secara maksimal.

Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan

Saran Aji Naufal turun sampai ke urusan tangan. Setiap jenis tanaman, katanya, menuntut perlakuan berbeda. Cabai perlu disemai terpisah sampai tunasnya berdaun dua hingga tiga helai, baru dipindah ke lahan. Bibit pepaya harus disemai di tempat teduh agar tunasnya tumbuh kuat.

Untuk menahan hama dan serangga, ia menganjurkan bedeng, yakni gundukan tanah yang ditutup plastik. Kebun juga perlu pagar pembatas yang kokoh. Alasannya khas Boven Digoel: babi hutan, yang dalam naskah disebut satwa endemik kawasan itu, bisa masuk dan merusak tanaman kapan saja.

Pupuk menjadi soal tersendiri karena kota kabupaten jauh dan biayanya tidak ringan. Jalan keluarnya diambil dari kandang. Aji Naufal menyarankan kotoran ternak, seperti babi, diolah menjadi kompos alami. Dengan begitu kebun tidak bergantung pada pupuk yang harus dibeli di Tanah Merah.

Paket bibit dari Banyumas

Dari rapat pada 18 dan 19 Juni 2023 lahir satu kesepakatan. Pastor Fabianus dan Gabriel Oleh bersedia mencoba menanam bibit yang dikirim Aji Naufal dari Banyumas. Sebagian bibit itu memang tidak bisa ditemukan Gabriel di pusat kota kabupaten, sehingga kiriman dari Jawa menjadi satu-satunya jalan.

Isi paketnya dipilih dengan menimbang harga pasar. Ada pepaya jenis California, terong, sawi, mentimun, dan cabai rawit yang bernilai tinggi. Ada pula kentang dan wortel, dua tanaman yang juga laku mahal. Beberapa di antaranya belum pernah ditanam di Ninati. Bibit itu dikirim pada 22 Juni 2023.

Sepekan kemudian pembicaraan beralih ke lahan: cara menyiapkan tanah, membuat bedeng, dan menyemai tiap jenis sayur serta buah yang wataknya berlainan. Hingga 2 Juli 2023, tulis Susanti dan Wijanarka, Pastor Fabianus dan Gabriel Oleh sudah menyiapkan lahan seluas empat hektare untuk kebun percobaan warga Muyu itu.

Dari kunjungan ke lahan 4 hektareDari kunjungan ke lahan 4 hektareDari kunjungan ke lahan 4 hektareRangkaian pendampingan jarak jauh suku Muyu, 2022-20232022Juli-Desember: Antik Tri Susanti bolak-balik ke Ninatisebagai konsultan sosial18/618-19 Juni 2023: rapat daring, sepakat mencoba bibitkiriman22/6Bibit sayur dan buah dikirim dari Banyumas ke Ninati29/6Diskusi persiapan tanah, bedeng, dan penyemaian2/7Lahan seluas 4 hektare sudah disiapkan
Sumber: Antik Tri Susanti dan Tunjung Wijanarka, Ninati Sedang 'Merias' Diri: Sebuah Kajian Pemberdayaan Masyarakat Adat, Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 04(01), 2023. Grafik: Cekricek.id

Kedua penulis juga menawarkan langkah yang lebih jauh kepada Pastor Fabianus, yaitu berdagang bersama Aji Naufal. Bila pasar terbentuk dan tanaman bernilai tinggi di Ninati seperti minyak buah merah, gaharu, dan vanili berkembang, kerja sama itu diharapkan tumbuh menjadi usaha milik warga. Naskah menyebutnya terus terang sebagai impian.

Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani

Atat bond setiap 10 Oktober

Ada alasan mengapa kebun dipilih, dan alasannya bukan hanya tanah. Agama Katolik, menurut kedua penulis, menjadi pemersatu budaya paling kuat di Distrik Ninati. Masuknya agama itu ke wilayah Ninati diperingati setiap 10 Oktober dengan upacara adat bernama atat bond.

Dalam atat bond warga berpesta, menyembelih ternak, dan mempersembahkan hasil bumi. Pastor Fabianus kemudian menambahkan satu acara: lomba hasil bumi antarkelompok warga. Pemenangnya kelompok yang membawa sayur, buah, dan hasil kebun lain paling banyak. Kebun, dengan begitu, sudah punya panggung di dalam adat.

Upacara itu bahkan pernah dikenal di luar kampung. Naskah mencatat atat bond meraih juara tiga nasional untuk kategori video dan budaya di Yogyakarta pada 2022, lewat unggahan Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Boven Digoel. Bagi Susanti dan Wijanarka, pertanian dan budaya adalah dua kekuatan terbesar yang dimiliki warga Muyu di Ninati.

Harapan mereka dirumuskan dalam satu kata, yaitu kemandirian. Ilmu yang sampai kepada Pastor Fabianus dan Gabriel Oleh diharapkan menular ke warga lain, sampai Ninati kelak menjadi pusat pertanian di Boven Digoel. “Lambat laun, label sebagai wilayah 3T akan semakin bisa dihilangkan dan berubah menjadi wilayah mandiri dengan pembangunan manusia yang kompetitif,” tulis Antik Tri Susanti dan Tunjung Wijanarka dalam naskahnya.

Yang belum tercatat

Harapan itu belum punya bukti panen. Catatan kedua penulis berhenti pada lahan yang siap ditanami, sehingga belum diketahui apakah kentang, wortel, dan pepaya California tumbuh baik di Ninati. Pendampingan pun baru menjangkau dua orang, dan seluruhnya berlangsung lewat rapat daring serta kiriman foto dan video perkembangan tanaman.

Mereka sendiri tidak menutupi batas itu. “Penulis menyadari bahwa kontribusi dan peran yang dilakukan bersama rekan-rekan kerja masih sangat terbatas,” tulis Susanti dan Wijanarka. Di bagian simpulan keduanya kembali menyebut peran mereka belum maksimal dan masih menyimpan banyak kekurangan.

Beberapa rincian naskah juga patut dicocokkan pembaca. Rapat daring disebut berlangsung dua jam tiap sesi, tetapi jamnya ditulis pukul 19.00 sampai 22.00 WIB dan pukul 21.00 sampai 23.00 WIT. Tabel kegiatan berakhir pada 29 Juni 2023, sedangkan lahan disebut siap pada 2 Juli. Nama pastor pun sekali tertulis Fabinaus.

Di luar catatan kecil itu, yang tertinggal dari tulisan ini adalah gambar sebuah kampung di tengah perubahan. Empat hektare tanah cokelat kehitaman sudah menunggu bibit dari Banyumas. Para mama masih bergiliran naik minibus ke Tanah Merah seminggu sekali. Bedanya, kedua penulis berharap bawaan mereka kelak tidak lagi hanya petatas.

Bagikan

Baca Juga

Adat Dayak Kenyah di Lung Anai Hapus Hukuman Sembelih Babi 50 Kg
Hukum Adat Rejang Menghukum Pencuri Pusaka dengan Tiga Kambing
Lembaga Adat Manggarai Membagi Tanah Adil tetapi Tak Sama Rata
Orang Rimba Memungut Sawit Orang karena Hutan Mereka Sudah Habis
Maulid Adat Wetu Telu di Bayan Mengarak Adam dan Hawa ke Masjid
Orang Rimba di Jambi Sudah Mengenal Satu Tuhan Sebelum Berislam