- Pada orang yang menyandang keduanya, risikonya naik 83 persen.
- Risiko batu ginjal naik 48 persen pada obesitas saja dan 33 persen pada otot lemah saja.
- Ketika peserta dipisah menurut jenis kelamin, kaitan itu lebih tegas pada perempuan.
- Lima penanda peradangan dalam darah terbukti ikut menjembatani kaitan itu.
- Riwayat batu ginjal dalam keluarga dan asupan oksalat tidak tersedia.
Daftar Isi
- Genggaman dan timbangan memilah peserta menjadi empat golongan
- Dua kelemahan yang bertumpuk mendorong risiko paling jauh
- Kaitan paling jelas terlihat pada perempuan dan usia enam puluh ke atas
- Insulin yang kurang ampuh mengubah suasana air kemih
- Peradangan dari jaringan lemak membuka jalur kedua
- Piring makan dan asam urat sama-sama condong ke arah batu
- Batas penjelasan dan hal yang janggal di dalam naskah
Timbangan badan lazim dipakai untuk menebak siapa yang rawan terkena batu ginjal: makin berat tubuh seseorang, makin besar kemungkinannya. Tebakan itu sering meleset. Ada orang dengan berat badan wajar yang tetap lebih mudah terkena, dan ada orang gemuk yang risikonya jauh melampaui orang gemuk lain. Pembedanya tidak tampak di timbangan, melainkan baru terasa ketika tangan diminta meremas alat pengukur kekuatan genggaman.
Kejanggalan itu ditelusuri Jiahao Zhang, Shuai Jiang, Linghua Huang, Ken Ling, Zhicheng Tang, Juan Wang, Han Cong, Haoliang Wu, Yuxin Qian, Zhaohui He, dan Fucai Tang dalam Association between sarcopenic obesity and kidney stones: evidence from a prospective cohort study on the UK Biobank, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 971, tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bekerja di Department of Urology, The Eighth Affiliated Hospital, Sun Yat-Sen University, Shenzhen, Tiongkok.
Bahan mereka adalah catatan 157.505 warga Inggris, Skotlandia, dan Wales berusia 40 sampai 70 tahun yang tergabung dalam UK Biobank dan belum pernah terkena batu ginjal saat pertama diperiksa. Mereka diikuti hingga 27 April 2024. Selama itu 1.592 orang, kira-kira satu dari seratus, didiagnosis memiliki batu di ginjal atau di saluran ureter. Pertanyaan Zhang dan rekan-rekannya sederhana: tubuh seperti apa yang paling banyak menyumbang angka itu.
Genggaman dan timbangan memilah peserta menjadi empat golongan
Jawabannya bergantung pada dua ukuran yang dipasangkan. Ukuran pertama adalah obesitas, yakni indeks massa tubuh 30 atau lebih. Ukuran kedua adalah sarkopenia, istilah untuk otot yang melemah dan menyusut. Tandanya genggaman tangan di bawah 27 kilogram pada laki-laki dan di bawah 16 kilogram pada perempuan, yang menjadi lebih pasti bila massa otot juga rendah. Karena jumlahnya sedikit, peserta yang baru bertanda genggaman lemah dan yang sudah memenuhi keduanya digabung dalam satu golongan.
Dari dua ukuran itu lahir empat golongan. Sebanyak 118.460 orang tidak gemuk dan tidak berotot lemah, lalu 30.137 orang hanya mengalami obesitas, dan 7.501 orang hanya berotot lemah. Golongan keempat paling kecil. Hanya 1.407 orang, kurang dari satu di antara seratus peserta, yang menyandang keduanya sekaligus. Keadaan inilah yang dalam naskah disebut sarcopenic obesity, obesitas yang disertai otot lemah.
Golongan kecil itu punya rupa yang khas. Lebih dari separuhnya, 54,44 persen, berusia 60 tahun ke atas, sedangkan pada golongan tanpa keduanya hanya 35,54 persen. Enam dari sepuluh adalah perempuan. Nilai tengah genggaman mereka 14 kilogram, kurang dari separuh genggaman golongan pembanding yang mencapai 32 kilogram. Lingkar pinggang mereka 105 sentimeter, dua puluh sentimeter lebih lebar.
Penyakit lain ikut menumpuk pada tubuh yang sama. Diabetes tercatat pada 18,27 persen anggota golongan ini, padahal pada golongan pembanding hanya 2,46 persen. Hipertensi ditemukan pada 22,10 persen, berbanding 5,51 persen. Lebih dari sepertiganya memakai obat yang memengaruhi kadar kalsium dan magnesium. Nilai tengah aktivitas fisik berat mereka nol hari dalam sepekan, sementara golongan pembanding dua hari.
Dua kelemahan yang bertumpuk mendorong risiko paling jauh
Hitungan kasarnya sudah memperlihatkan arah. Di golongan tanpa obesitas dan tanpa otot lemah, 0,87 persen peserta terkena batu ginjal. Di golongan berotot lemah saja angkanya 1,03 persen, dan di golongan obesitas saja 1,51 persen. Golongan yang menyandang keduanya mencatat 2,06 persen. Artinya kira-kira dua dari seratus orang, lebih dari dua kali lipat golongan pembanding.
Angka kasar bisa menipu karena golongan keempat lebih tua dan lebih banyak mengidap penyakit lain. Karena itu, para penulis memperhitungkan usia, jenis kelamin, gaya hidup, pola makan, dan penyakit penyerta. Kaitannya menyusut tetapi tidak hilang. Risiko batu ginjal naik 48 persen pada obesitas saja dan 33 persen pada otot lemah saja. Pada orang yang menyandang keduanya, risikonya naik 83 persen.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Urutan itu tidak berubah ketika obesitas diukur dengan cara lain. Dengan lingkar pinggang atau persentase lemak tubuh sebagai patokan, risiko golongan keempat tercatat 1,85 dan 2,01 kali golongan pembanding. Ketika peserta yang terkena batu pada tahun pertama dikeluarkan dari hitungan, angkanya 1,90 kali. Para penulis membaca pola ini sebagai kemungkinan efek yang saling menambah antara lemak berlebih dan otot yang melemah.
Kaitan paling jelas terlihat pada perempuan dan usia enam puluh ke atas
Ketika peserta dipisah menurut jenis kelamin, kaitan itu lebih tegas pada perempuan. Perempuan yang gemuk sekaligus berotot lemah menanggung risiko 2,08 kali, dan perempuan yang hanya berotot lemah 1,43 kali. Pada laki-laki, gabungan keduanya berkaitan dengan risiko 1,69 kali. Otot lemah saja pada laki-laki, dengan angka 1,24 kali, tidak cukup kuat untuk dibedakan dari kebetulan.
Usia memperlihatkan pola serupa. Pada peserta 60 tahun ke atas, gabungan obesitas dan otot lemah berkaitan dengan risiko 2,03 kali, sedangkan otot lemah saja 1,36 kali. Pada peserta di bawah 60 tahun, angkanya 1,61 dan 1,28 kali, keduanya tidak meyakinkan secara statistik. Yang membuatnya rumit, uji yang membandingkan langsung antarkelompok itu juga tidak menemukan perbedaan yang bermakna, baik menurut jenis kelamin maupun usia.
Insulin yang kurang ampuh mengubah suasana air kemih
Lalu bagaimana tubuh yang gemuk dan lemah bisa sampai pada batu di ginjal? Zhang dan rekan-rekannya menguji dua jalur. Jalur pertama adalah resistansi insulin, keadaan ketika tubuh kurang menanggapi insulin, yang mereka baca dari dua penanda darah berbasis trigliserida. Penanda pertama, indeks trigliserida-glukosa, menjelaskan 11,2 persen kaitan antara obesitas berotot lemah dan batu ginjal. Penanda kedua menjelaskan 7,2 persen.
Cara kerjanya dirangkai dari riset yang mereka rujuk. Peradangan di jaringan lemak memicu resistansi insulin di otot rangka. Resistansi insulin lalu berkaitan dengan air kemih yang lebih asam dan sitrat yang lebih sedikit, keadaan yang memudahkan terbentuknya batu asam urat dan batu kalsium oksalat. Rantai ini menjelaskan mengapa penanda yang sama muncul pada otot yang melemah dan pada ginjal yang berbatu.
Para penulis merangkum jalur itu dalam satu kalimat berbahasa Inggris yang diterjemahkan di sini. “Obesitas sarkopenik disertai resistansi insulin, yang dapat memengaruhi parameter terkait urine, dan memiliki pola makan yang sama dengan yang berkaitan dengan batu ginjal, sehingga bersama-sama menciptakan lingkungan urine yang kondusif bagi pembentukan batu,” tulis Jiahao Zhang dan rekan-rekannya dari Department of Urology, The Eighth Affiliated Hospital, Sun Yat-Sen University, dalam naskah itu.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Peradangan dari jaringan lemak membuka jalur kedua
Jalur kedua adalah peradangan. Lima penanda peradangan dalam darah terbukti ikut menjembatani kaitan itu. Protein C-reaktif menjelaskan 8,7 persen, dan rasionya terhadap albumin 8,9 persen. Neutrofil menjelaskan 4,5 persen, sel darah putih secara keseluruhan 2,7 persen, dan monosit 1,2 persen. Limfosit tidak berperan sama sekali, sedangkan satu skor gabungan peradangan hanya berada di ambang kemaknaan.
Penjelasan yang ditawarkan kembali bersandar pada riset terdahulu. Lemak di sekitar ginjal dapat membuat dan melepas zat pemicu peradangan. Neutrofil yang terpanggil ke ginjal ikut memperantarai mengendapnya kristal kalsium oksalat di jaringan ginjal. Persoalannya, semua jalur itu hanya menjelaskan sebagian. Penanda terkuat pun cuma mencakup sekitar sepersembilan dari kaitan yang ditemukan, sehingga bagian terbesarnya belum terjelaskan.
Piring makan dan asam urat sama-sama condong ke arah batu
Jejak lain terlihat di meja makan. Golongan gemuk berotot lemah mengonsumsi kalsium lebih sedikit, dengan nilai tengah 925,54 miligram sehari berbanding 952,74 miligram, dan natrium lebih banyak, 1.883,64 berbanding 1.829,19 miligram. Menurut riset yang dirujuk naskah, asupan kalsium yang rendah merupakan faktor risiko batu ginjal. Natrium yang tinggi menambah kalsium dalam air kemih dan mengurangi sitrat.
Asam urat menambah satu lapis lagi. Kadar urat darah golongan ini 337,20, jauh di atas golongan pembanding yang 287,60. Menariknya, orang yang hanya berotot lemah justru mencatat kadar terendah, 269,90. Para penulis menduga kadar urat pada tubuh gemuk berotot lemah terutama ditentukan oleh obesitasnya. Golongan ini bahkan minum lebih banyak, tiga gelas air sehari berbanding dua gelas, tetapi tetap lebih sering terkena batu.
Baca juga Raider dan Defender Kabaddi Jawa Timur Berotot Hampir Sama
Dari rangkaian itu para penulis menarik satu arah. Massa dan kekuatan otot, tulis mereka, mulai menurun di sekitar usia 40 tahun. Karena itu, mereka menekankan pentingnya aktivitas fisik teratur dan pengendalian berat badan pada usia paruh baya dan lanjut. Dalam simpulan naskah, memperkuat otot disebut sebagai bagian dari upaya mencegah batu ginjal, terutama pada perempuan dan orang berusia lanjut.
Batas penjelasan dan hal yang janggal di dalam naskah
Penjelasan ini berhenti di beberapa tempat, dan para penulis mengakuinya. Peserta UK Biobank cenderung lebih sehat daripada penduduk umumnya, sehingga orang berotot lemah sedikit dan terpaksa digabung dengan yang baru bertanda genggaman lemah. Riwayat batu ginjal dalam keluarga dan asupan oksalat tidak tersedia. Waktu terbentuknya batu tidak teramati persis. Semua peserta berusia 40 sampai 70 tahun dan tinggal di Britania, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di tempat lain.
Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya sendiri. Abstrak menyebut risiko naik 103 persen pada peserta di bawah 60 tahun dan 61 persen pada yang lebih tua, sedangkan tabel dan uraian hasil mencatat sebaliknya. Urutan dua cara ukur obesitas pengganti juga tertukar antara bagian awal dan catatan tabel. Selain itu, nilai tengah massa otot golongan gemuk berotot lemah, 20,84 kilogram, sedikit di atas golongan pembanding yang 20,11 kilogram.
Maka tebakan timbangan tadi meleset bukan karena berat badan tidak penting. Obesitas saja sudah berkaitan dengan risiko batu ginjal yang lebih tinggi. Timbangan hanya tidak bisa membedakan lemak dari otot, dan tidak tahu seberapa kuat tangan pemiliknya meremas. Pada catatan ratusan ribu orang Britania itu, risiko tertinggi justru berkumpul di tempat angka timbangan yang besar bertemu genggaman yang lemah.













