Raider dan Defender Kabaddi Jawa Timur Berotot Hampir Sama

A A

Laga eksibisi kabaddi antara Pro Kabaddi All Stars dan Aussie Raiders di Melbourne, Desember 2024. [Foto: CityBoy777/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Lima peneliti Universitas Negeri Surabaya mengukur 19 atlet kabaddi Jawa Timur, 10 raider dan 9 defender, dengan InBody H20
  • Lemak tubuh raider rata-rata 22,03 persen dan defender 21,74 persen, nilai p 0,930, tidak berbeda bermakna
  • Massa otot defender 28,48 kg dan raider 26,09 kg, nilai p 0,223, selisihnya tenggelam dalam sebaran tiap kelompok
  • Para penulis menafsirkan pola bermain bergantian menyerang dan bertahan membuat tuntutan fisik dua posisi hampir setara
Daftar Isi
  1. Yang Menyerang: Menyentuh Lawan dan Kembali Tanpa Tertangkap
  2. Yang Menjaga: Menangkap, Memblok, dan Menahan Serangan
  3. Angka yang Menyamakan: Lemak 22,03 dan 21,74 Persen
  4. Angka yang Membedakan: Otot 26,09 dan 28,48 Kilogram
  5. Yang Ditegaskan Naskah: Peran Berbeda, Tuntutan Hampir Setara
  6. Yang Belum Dijawab Naskah: Angka yang Tidak Selaras

Seorang raider yang menyentuh lawan lalu berlari pulang dan seorang defender yang menjegal serta menahannya ternyata membawa tubuh yang nyaris sama ke atas alat ukur. Di lapangan, keduanya mengerjakan pekerjaan yang berlawanan arah. Di angka komposisi tubuh, keduanya berdiri berdampingan tanpa jarak yang berarti. Itulah temuan yang dibawa lima peneliti Universitas Negeri Surabaya dari sembilan belas atlet kabaddi Jawa Timur.

Temuan itu ditulis Muhammad Wahyu Triatmaja, Andun Sudijandoko, Nur Luthfiatus Solikah, Soni Sulistyarto, dan Noortje Anita Kumaat dalam artikel Comparison of Body Composition between Raiders and Defenders in Kabaddi: Muscle Mass and Fat Percentage, terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 10 Nomor 2, tahun 2025. Tiga penulis berasal dari program Sport Science, dua lainnya dari Physiotherapy, semuanya di Universitas Negeri Surabaya. Naskahnya berbahasa Inggris.

Kabaddi, menurut naskah itu, lahir di Asia Selatan, tepatnya India, lalu menyebar ke Bangladesh dan Nepal. Permainannya berintensitas tinggi dan menuntut kapasitas aerobik sekaligus anaerobik. Di dalamnya hanya ada dua posisi, raider dan defender, dengan peran yang saling bertolak belakang. Justru dari pertentangan peran itulah para peneliti berangkat, dengan dugaan bahwa tubuh keduanya semestinya ikut berbeda.

Yang Menyerang: Menyentuh Lawan dan Kembali Tanpa Tertangkap

Peran raider dijelaskan naskah dengan satu kalimat sederhana: menyerang dengan menyentuh lawan, lalu kembali tanpa tertangkap. Untuk itu ia mengandalkan kecepatan dan kelincahan, bergerak lebih cepat, dan bermanuver secara efektif di wilayah lawan. Para penulis menyebut pekerjaan raider sebagai sprint pendek yang diulang-ulang, menghindar sekaligus menyentuh, sehingga kelincahan menjadi modal utama di posisi penyerang.

Sepuluh raider Jawa Timur yang diukur memiliki tinggi rata-rata 167,20 sentimeter dan berat rata-rata 70,53 kilogram. Persentase lemak tubuh mereka rata-rata 22,03 persen, dengan massa otot rata-rata 26,09 kilogram. Raider paling ringan berbobot 53,75 kilogram, yang paling berat 81,55 kilogram. Lemak tubuh raider terendah 10,59 persen dan tertinggi 35,90 persen, rentang yang sangat lebar untuk sepuluh orang di posisi yang sama.

Bagi raider, naskah memberi catatan tersendiri soal lemak. Para penulis menulis bahwa menjaga persentase lemak di batas normal terutama penting bagi atlet raider, sebab hal itu memengaruhi kemampuan bermanuver cepat saat menyerang atau menyentuh lawan tanpa tertangkap defender. Di bagian pendahuluan, mereka mengutip Stachoń dan rekan bahwa massa lemak berkorelasi negatif dengan kecepatan lari, dan Canli dan rekan bahwa lemak tinggi menurunkan skor gerak fungsional.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Yang Menjaga: Menangkap, Memblok, dan Menahan Serangan

Peran defender dijelaskan dengan kalimat yang sama ringkasnya: menghentikan raider dengan menangkap atau memblok. Pekerjaannya penuh kontak fisik, dan naskah menyebut posisi ini biasanya memerlukan tubuh yang lebih besar untuk bertahan. Kekuatan menangkap dan melompat disebut sebagai kebutuhan fisik yang sama pentingnya dengan kecepatan, sehingga defender ditempatkan sebagai pihak yang mengandalkan kekuatan untuk menahan lawan.

Sembilan defender yang diukur memiliki tinggi rata-rata 171,44 sentimeter dan berat rata-rata 74,12 kilogram. Lemak tubuh mereka rata-rata 21,74 persen, massa otot rata-rata 28,48 kilogram. Defender paling ringan 61,55 kilogram, paling berat 86,35 kilogram. Rentang lemak mereka 12,57 sampai 32,68 persen, dan massa otot mereka bergerak dari 18,66 sampai 33,11 kilogram. Defender terpendek tercatat 157 sentimeter, tertinggi 182 sentimeter.

Untuk defender, catatan naskah mengarah ke otot. Para penulis mengutip Schoenfeld dan rekan bahwa massa otot lebih besar memungkinkan atlet menghasilkan daya lebih besar pada gerak eksplosif. Mereka juga menulis, diterjemahkan dari bahasa Inggris, bahwa “defender, di sisi lain, perlu memiliki massa otot sedikit lebih banyak daripada raider agar mampu menahan lawan yang menyerang dan menjegalnya.” Kalimat itu muncul di bagian diskusi.

Rata-rata tubuh raider dan defender kabaddi Jawa TimurDefender rata-rata 4 cm lebih tinggi dan 2,4 kg lebih berotot, tetapi beda otot dan lemak tidak bermakna.Rata-rata tubuh raider dan defender kabaddiJawa TimurRata-rata, diukur dengan InBody H20RaiderDefender109Jumlah atlet167,20171,44Tinggi (cm)70,5374,12Berat (kg)22,0321,74Lemak tubuh (%)26,0928,48Massa otot (kg)Uji t: beda lemak p = 0,930, beda otot p = 0,223; keduanya tidakbermakna.
Sumber: Muhammad Wahyu Triatmaja, Andun Sudijandoko, Nur Luthfiatus Solikah, Soni Sulistyarto, dan Noortje Anita Kumaat, Comparison of Body Composition between Raiders and Defenders in Kabaddi: Muscle Mass and Fat Percentage, Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan, 10(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Angka yang Menyamakan: Lemak 22,03 dan 21,74 Persen

Pada persentase lemak tubuh, dua posisi itu nyaris berhimpit. Rata-rata raider 22,03 persen dan rata-rata defender 21,74 persen, selisih 0,29 poin. Uji beda dua kelompok menghasilkan nilai p sebesar 0,930, jauh di atas ambang 0,05 yang dipakai para peneliti. Dengan kata lain, selisih sekecil itu sangat mungkin muncul hanya karena kebetulan siapa yang ikut diukur, bukan karena posisi bermain.

Simpangan baku lemak raider 7,58 dan defender 6,31 memperjelas gambarannya. Variasi di dalam satu posisi jauh lebih besar daripada selisih antarposisi. Ada raider dengan lemak 10,59 persen dan ada raider dengan lemak 35,90 persen, keduanya bermain di posisi yang sama. Ada defender 12,57 persen dan defender 32,68 persen. Posisi tidak memilah siapa yang kurus dan siapa yang berlemak.

Kesamaan ini, menurut naskah, sejalan dengan Roy dan Sarkar yang pada 2022 membandingkan raider dan defender perempuan dan menemukan beda otot serta lemak yang kecil dan tidak bermakna. Para penulis Surabaya lalu memperluas cakupannya ke sampel tanpa pembatasan gender, dan hasilnya sama. Dua studi, dua kelompok atlet, satu kesimpulan yang serupa tentang lemak.

Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah

Angka yang Membedakan: Otot 26,09 dan 28,48 Kilogram

Pada massa otot, jaraknya sedikit lebih terlihat. Defender rata-rata membawa 28,48 kilogram otot, raider 26,09 kilogram, selisih 2,39 kilogram. Defender juga lebih tinggi 4,24 sentimeter dan lebih berat 3,59 kilogram secara rata-rata. Angka-angka ini seolah membenarkan dugaan awal bahwa penjaga memang bertubuh lebih besar daripada penyerang.

Namun uji beda tidak mengesahkan dugaan itu. Nilai p untuk massa otot 0,223, tetap di atas 0,05. Simpangan baku otot raider 3,92 dan defender 4,33 kilogram, sehingga selisih 2,39 kilogram tenggelam di dalam sebaran masing-masing kelompok. Naskah menyebut defender mempunyai otot “sedikit lebih tinggi” dan segera menambahkan bahwa perbedaannya tidak bermakna secara statistik.

Di sisi lain, ada temuan luar yang berbeda arah. Naskah mengutip Dhanjal yang pada 2025 mengukur atlet kabaddi India dan mendapati massa lemak raider secara bermakna lebih rendah daripada defender, dengan nilai p 0,015. Para penulis Surabaya menduga perbedaan itu mungkin lahir dari perbedaan gerakan antara kedua posisi, tetapi tidak menguraikan lebih jauh mengapa hasil di Jawa Timur tidak menunjukkan hal serupa.

Rentang otot dan lemak raider dan defender tumpang tindihOtot raider (kg) 19,02 ke 30,74; Otot defender (kg) 18,66 ke 33,11; Lemak raider (%) 10,59 ke 35,90; Lemak defender (%) 12,57 ke 32,68.Rentang otot dan lemak raider dan defendertumpang tindihNilai terendah dan tertinggi per posisi, 10 raider dan 9 defenderAtlet terendahAtlet tertinggi010203040Otot raider (kg)19,0230,74Otot defender (kg)18,6633,11Lemak raider (%)10,5935,90Lemak defender (%)12,5732,68Sebaran di dalam satu posisi (lemak raider 10,59 sampai 35,90persen) jauh lebih lebar daripada beda rata-rata antarposisi.
Sumber: Muhammad Wahyu Triatmaja, Andun Sudijandoko, Nur Luthfiatus Solikah, Soni Sulistyarto, dan Noortje Anita Kumaat, Comparison of Body Composition between Raiders and Defenders in Kabaddi: Muscle Mass and Fat Percentage, Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan, 10(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Yang Ditegaskan Naskah: Peran Berbeda, Tuntutan Hampir Setara

Penjelasan yang dipilih para peneliti bertumpu pada cara kabaddi dimainkan. Seorang raider yang selesai menyerang kembali ke posisinya untuk bertahan. Ketika raider keluar lapangan, seorang defender yang gantian menyerang. Pola bergantian ini membuat kedua posisi menjalani beban fisik yang saling melengkapi, sehingga tubuh mereka terbentuk oleh tuntutan yang hampir sama meskipun label perannya berbeda.

Kalimat kuncinya ditulis Muhammad Wahyu Triatmaja dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu: “Karena pola permainan yang saling melengkapi dan dinamis dalam kabaddi, atlet dari kedua posisi memiliki kebutuhan fisik yang hampir setara, yang mengarah pada komposisi tubuh yang serupa.” Kalimat itu muncul di abstrak dan diulang di kesimpulan, menandai bahwa inilah tafsir utama yang mereka pegang.

Dari situ, para penulis menyimpulkan bahwa perbedaan antara raider dan defender lebih dipengaruhi faktor kondisi fisik, teknik, dan strategi permainan daripada komposisi tubuh. Keseimbangan antara massa otot dan persentase lemak disebut sebagai salah satu faktor pendukung performa optimal di kedua posisi. Pelatih, tulis mereka, dapat merancang program latihan kelincahan, kecepatan, dan kekuatan untuk tiap posisi dengan menekankan keseimbangan itu.

Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

Yang Belum Dijawab Naskah: Angka yang Tidak Selaras

Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri di naskah ini. Rata-rata lemak raider di teks hasil ditulis 22,24 persen, sementara tabel deskriptif menulis 22,03 dan tabel uji beda menulis 22,0360. Bagian diskusi memakai 22,03. Selisihnya kecil dan tidak mengubah kesimpulan, tetapi angka yang berbeda untuk satu besaran yang sama tetap patut dicatat.

Hal kedua menyangkut tinggi badan. Defender rata-rata lebih tinggi, namun defender terpendek tercatat 157 sentimeter, lebih pendek dari raider terpendek yang 161 sentimeter, dan defender tertinggi 182 sentimeter. Rentang 25 sentimeter untuk sembilan orang menunjukkan kelompok defender sangat beragam. Hal ketiga, populasi awal terdiri dari 12 atlet laki-laki dan 12 perempuan, tetapi komposisi gender dari 19 responden yang akhirnya diukur tidak dilaporkan di mana pun.

Hal keempat lebih halus. Setelah menyatakan beda otot tidak bermakna, bagian diskusi tetap menulis bahwa defender perlu otot sedikit lebih banyak dan raider cenderung berotot lebih rendah, seolah beda itu nyata. Pembaca juga bisa menengok daftar pustaka: definisi metode komparatif dan potong lintang dirujuk ke tulisan tentang arsitektur sistem informasi aset properti dan tugas perencanaan geometrik jalan, bukan ke sumber keolahragaan.

Keterbatasannya pun jelas dari angkanya sendiri. Sembilan belas atlet dari satu provinsi, diukur satu kali, hanya pada dua variabel komposisi tubuh, dengan lima dari 24 atlet populasi yang tidak ikut. Naskah tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri, sehingga pembaca harus menimbang sendiri seberapa jauh temuan Jawa Timur ini bisa dibawa ke tim kabaddi lain.

Yang tersisa adalah dua posisi yang tetap berbeda pekerjaannya dan tetap serupa tubuhnya, setidaknya pada sembilan belas orang ini. Raider tidak terbukti lebih ramping, defender tidak terbukti lebih berotot. Naskah ini tidak memenangkan salah satu, dan barangkali itulah temuannya: di kabaddi, pembeda antara penyerang dan penjaga tampaknya bukan pada timbangan, melainkan pada apa yang mereka lakukan begitu peluit berbunyi.

Bagikan

Baca Juga

Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia
Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Carrick Akui Manchester United Belum Ideal Usai Imbang 1-1 di Fulham
Arteta: Brighton Layak Menang, Arsenal Lupa Hal Dasar di Kalah 0-3
Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur