Infeksi Saluran Kemih Anak Korea Berkaitan dengan Debu Halus

A A

Ilustrasi pemandangan kota Seoul dari N Seoul Tower dengan udara keruh oleh asap dan debu [Foto: taylorandayumi/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Risiko seorang anak terkena infeksi saluran kemih tercatat 5 persen lebih tinggi tiap PM2.5 tahunan naik 5 mikrogram per meter kubik.
  • Pada kasus yang diobati dengan antibiotik, angkanya 7 persen.
  • Di daerah yang digolongkan desa risikonya tercatat 16 persen lebih tinggi, sedangkan di kota kaitan itu tidak tampak sama sekali.
  • Kadar rata-rata PM2.5 tahunan mencapai 29,7 mikrogram per meter kubik, hampir enam kali batas yang dianjurkan WHO.
  • Kadar debu ditetapkan menurut distrik, bukan menurut anak, dan hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan.
Daftar Isi
  1. Sebelum Choi dan rekan: debu halus dan ginjal orang dewasa
  2. Catatan 2002–2019: 28.129 anak datang dengan infeksi kemih
  3. Hitungan Choi dan rekan: tiap tambahan debu, risiko naik lima persen
  4. Desa dan kota dalam tabel Choi: dua arah yang berbeda
  5. Dibanding UK Biobank 2025: angka pada anak jauh lebih kecil
  6. Dari Tavera Busso 2018 sampai Glencross 2020: jalan debu ke ginjal
  7. Yang belum terjawab sesudah pengamatan 2019

Selama bertahun-tahun, debu halus di udara dibicarakan terutama sebagai urusan paru-paru dan jantung, sebab ke sanalah sebagian besar penelitian tentang polusi udara diarahkan. Belakangan perhatian itu bergeser ke ginjal, seiring bertambahnya bukti bahwa udara kotor berkaitan dengan menurunnya fungsi organ tersebut pada orang dewasa. Satu pertanyaan masih tertinggal di belakang: apakah debu yang sama juga bersangkut paut dengan infeksi saluran kemih, salah satu infeksi bakteri yang paling sering dialami anak-anak.

Pertanyaan itu dijawab Jung Eun Choi, Hyemin Jang, Whanhee Lee, Jongmin Oh, Hae Soon Kim, Ji Hyen Lee, Jung Won Lee, dan Eunhee Ha, peneliti dari Ewha Womans University, Seoul National University, dan Pusan National University di Korea Selatan. Artikel mereka, Association between long-term PM2.5 exposure and risk of urinary tract infection in children: a nationwide longitudinal cohort study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2475 tahun 2026. Bahannya catatan asuransi kesehatan 395.032 anak dan remaja berusia 0 sampai 19 tahun, yang diikuti dari 2002 hingga 2019.

Infeksi saluran kemih bukan penyakit kecil bagi anak, demikian para peneliti membuka naskahnya dengan merujuk kajian Shaikh dan rekan tahun 2008. Penyakit ini ditemukan pada 3 sampai 7,5 persen anak yang demam setiap tahun, baik di tengah masyarakat maupun di rumah sakit. Dalam jangka pendek ia dapat berujung pada gagal ginjal akut, sedangkan dalam jangka panjang ia dapat meninggalkan jaringan parut di ginjal, tekanan darah tinggi, bahkan gagal ginjal tahap akhir.

Sebelum Choi dan rekan: debu halus dan ginjal orang dewasa

Debu halus yang dimaksud adalah PM2.5, partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru lalu masuk ke peredaran darah. Isinya beragam, dari debu, asam organik, logam berat, sampai partikel tanah, dan sebagian di antaranya disebut mengganggu kerja hormon serta melemahkan daya tahan tubuh. Partikel semacam itu, menurut rujukan yang dikumpulkan para peneliti, memicu peradangan dan stres oksidatif yang dampaknya terasa di banyak organ sekaligus.

Rantai riset tentang ginjal sudah cukup panjang ketika tim Ewha memulai pekerjaannya. Di Amerika Serikat, Lee dan rekan pada 2022 menemukan kaitan antara paparan polusi udara jangka panjang dan rawat inap karena cedera ginjal akut, bahkan pada kadar paparan yang rendah. Di Beijing, Chu dan rekan pada 2021 mencatat bahwa paparan jangka pendek berkaitan dengan naiknya angka penyakit saluran kemih, dengan pengaruh terbesar pada paparan yang menumpuk selama 11 hari.

Di Korea sendiri, Kim dan rekan pada 2018 melaporkan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM10 dan nitrogen dioksida berkaitan dengan menurunnya kemampuan ginjal menyaring darah pada orang dewasa, walaupun kaitannya dengan penyakit ginjal kronis tidak lagi bermakna sesudah faktor lain diperhitungkan. Semua penelitian itu berbicara tentang orang dewasa dan tentang ginjal. Sampai naskah ini ditulis, kata para peneliti, belum ada penelitian yang secara khusus memeriksa kaitan debu halus dengan infeksi saluran kemih pada anak.

Catatan 2002–2019: 28.129 anak datang dengan infeksi kemih

Selama delapan belas tahun pengamatan di 226 distrik, tercatat 28.129 anak yang untuk pertama kali datang berobat karena infeksi saluran kemih, kira-kira tujuh dari setiap seratus anak yang diikuti. Sebanyak 14.128 di antaranya, sekitar separuh, mendapat resep antibiotik pada kunjungan yang sama, dan kelompok ini diperlakukan para peneliti sebagai kasus yang lebih berat. Pada anak yang sakit, nilai tengah jarak antara awal pengamatan dan munculnya penyakit adalah empat tahun.

Anak-anak itu rata-rata berusia 6,7 tahun ketika mulai diikuti, dengan anak laki-laki sedikit lebih banyak, 52,2 persen berbanding 47,8 persen. Susunan itu berbalik pada mereka yang sakit: 54,3 persen kasus infeksi saluran kemih dialami anak perempuan, sejalan dengan temuan terdahulu. Wilayah ibu kota, yakni Seoul, Incheon, dan Gyeonggi, menyumbang 51 persen kasus, tidak jauh dari porsinya dalam seluruh peserta yang sebesar 48,1 persen.

Dari sisi ekonomi, 42,7 persen kasus muncul di keluarga berpendapatan tinggi dan hanya 9,7 persen di kelompok berpendapatan terendah. Udara yang dihirup anak-anak itu jauh dari bersih. Sepanjang masa pengamatan, kadar rata-rata PM2.5 tahunan mencapai 29,7 mikrogram per meter kubik, hampir enam kali batas 5 mikrogram yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kadar tertinggi, sekaligus jumlah kasus terbanyak, umumnya dijumpai di wilayah ibu kota di barat laut dan di kawasan tenggara.

Debu halus dan infeksi kemih anakDebu halus dan infeksi kemih anakDebu halus dan infeksi kemih anakKorea Selatan, 226 distrik395.032anak dan remajausia 0-19 tahun28.129kasus infeksisaluran kemih29,7kadar PM2.5mikrogram per meterkubikJalan risetnyaCatatan 2002-2019PM2.5 per distrikRisiko naik 5%Batas anjuran WHO untuk PM2.5 tahunan: 5 mikrogram per meterkubik.
Sumber: Jung Eun Choi, Hyemin Jang, Whanhee Lee, Jongmin Oh, Hae Soon Kim, Ji Hyen Lee, Jung Won Lee, dan Eunhee Ha, Association between long-term PM2.5 exposure and risk of urinary tract infection in children: a nationwide longitudinal cohort study, BMC Public Health, 26(2475), 2026. Grafik: Cekricek.id

Hitungan Choi dan rekan: tiap tambahan debu, risiko naik lima persen

Temuan utamanya dinyatakan dalam satu ukuran yang sederhana. Untuk setiap kenaikan kadar PM2.5 tahunan sebesar 5 mikrogram per meter kubik di distrik tempat tinggal, risiko seorang anak terkena infeksi saluran kemih tercatat 5 persen lebih tinggi. Pada kasus yang diobati dengan antibiotik, angkanya 7 persen. Kedua kaitan itu bertahan sesudah usia, jenis kelamin, pendapatan keluarga, dan keadaan distrik seperti jumlah perokok, tempat tidur rumah sakit, serta luas taman diperhitungkan.

Bentuk kaitannya tidak sepenuhnya lurus. Di bawah kadar rata-rata 29,7 mikrogram, risiko naik hampir segaris dengan bertambahnya debu. Di atas kadar itu, risikonya sempat sedikit menurun lalu menanjak tajam, dengan rentang ketidakpastian yang melebar. Para peneliti menduga bagian ujung kurva tersebut dipengaruhi oleh sedikitnya data atau oleh nilai yang menyimpang jauh pada kadar paparan tertinggi.

Pemilahan menurut kelompok memperlihatkan pola yang tidak seragam. Pada anak perempuan risikonya 6 persen lebih tinggi, pada anak laki-laki 4 persen dengan rentang ketidakpastian yang menyentuh angka nol. Menurut pendapatan, kaitan terbesar untuk seluruh kasus ada pada keluarga berpendapatan rendah, 9 persen, disusul keluarga berpendapatan tinggi, 7 persen, sementara pada kelompok menengah hanya 2 persen dan tidak dapat dipastikan. Untuk kasus berantibiotik urutannya berubah: keluarga berpendapatan tinggi mencatat angka terbesar, 16 persen.

Baca juga Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea

Desa dan kota dalam tabel Choi: dua arah yang berbeda

Perbedaan paling lebar muncul ketika anak-anak dipisah menurut tempat tinggal. Di daerah yang digolongkan desa, yaitu di luar Gyeonggi dan kota-kota metropolitan seperti Seoul dan Busan, risiko infeksi saluran kemih tercatat 16 persen lebih tinggi untuk setiap tambahan 5 mikrogram debu halus. Di kota, kaitan itu tidak tampak sama sekali. Untuk kasus berantibiotik, angka desa tetap bermakna, 10 persen, sedangkan angka kota 4 persen dan tidak dapat dipastikan.

Kaitan terbesar tercatat pada anak di desaSeluruh anak: Risiko +5%; Anak perempuan: Risiko +6%; Anak laki-laki: Risiko +4%; Pendapatan rendah: Risiko +9%; Pendapatan menengah: Risiko +2%; Pendapatan tinggi: Risiko +7%; Tinggal di desa: Risiko +16%.Kaitan terbesar tercatat pada anak di desaRisiko infeksi kemih lebih tinggi tiap PM2.5 naik 55%10%15%0Seluruh anak5%Anak perempuan6%Anak laki-laki4%Pendapatan rendah9%Pendapatan menengah2%Pendapatan tinggi7%Tinggal di desa16%PM2.5 naik 5 mikrogram per meter kubik. Di kota tidak tampak kaitan(rasio 0,99).
Sumber: Jung Eun Choi, Hyemin Jang, Whanhee Lee, Jongmin Oh, Hae Soon Kim, Ji Hyen Lee, Jung Won Lee, dan Eunhee Ha, Association between long-term PM2.5 exposure and risk of urinary tract infection in children: a nationwide longitudinal cohort study, BMC Public Health, 26(2475), 2026. Grafik: Cekricek.id

Penjelasan yang ditawarkan para peneliti menyangkut asal debunya. Di kota, PM2.5 terutama berasal dari pembakaran yang terkait lalu lintas dan industri. Di desa, debu itu lebih banyak berasal dari tanah, debu pertanian, pembakaran biomassa, dan kegiatan bertani. Perbedaan susunan itulah yang mungkin berhubungan dengan perbedaan dampak kesehatan antarwilayah. Namun, naskah ini tidak memiliki data tentang kandungan kimia debu, sehingga dugaan tersebut tidak dapat diuji.

Karena itu, mereka sendiri meminta pembaca menahan diri. “Perbedaan antarkelompok ini harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena mungkin mencerminkan perbedaan dalam pemanfaatan layanan kesehatan dan pencatatan pengobatan, bukan keragaman biologis yang sesungguhnya,” tulis Jung Eun Choi, peneliti Departemen Pediatri Ewha Womans University, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Akses ke layanan kesehatan, kebiasaan menegakkan diagnosis dan meresepkan antibiotik, serta keadaan sosial ekonomi disebut sebagai kemungkinan sumber perbedaan itu.

Dibanding UK Biobank 2025: angka pada anak jauh lebih kecil

Mata rantai terdekat dengan penelitian ini adalah kajian Chen dan rekan tahun 2025, yang memakai data UK Biobank dari kira-kira 375.000 orang dewasa. Kajian itu melaporkan kaitan yang kuat antara paparan PM2.5 jangka panjang dan infeksi saluran kemih, dengan risiko 43 persen lebih tinggi untuk setiap kenaikan 5 mikrogram per meter kubik, serta bentuk kaitan yang juga tidak lurus. Angka pada anak Korea, 5 persen, searah tetapi jauh lebih kecil.

Tim Ewha tidak memandang selisih itu sebagai pertentangan. Menurut mereka, angka yang lebih kecil pada anak dapat mencerminkan perbedaan sebaran usia, kerentanan biologis, sebaran paparan, dan ciri penduduk antara anak dan orang dewasa, di samping perbedaan cara menetapkan kasus dan cara menaksir paparan. Rujukan lain yang mereka sebut, kajian Liu dan rekan tahun 2024, mengaitkan polusi udara di dalam rumah dengan gangguan menahan kencing.

Ketahanan temuan itu diuji dari beberapa arah. Ketika batasan penyakit diperluas dengan memasukkan diagnosis tambahan, kaitannya menipis menjadi 2 persen dan rentang ketidakpastiannya melewati angka nol. Ketika yang dihitung adalah paparan setahun sebelumnya, kasus berantibiotik mencatat risiko 5 persen lebih tinggi, yang dibaca para peneliti sebagai tanda bahwa pengaruh debu mungkin menumpuk atau tertunda. Memperhitungkan nitrogen dioksida, menurut naskah itu, tidak mengubah hasil utama.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Dari Tavera Busso 2018 sampai Glencross 2020: jalan debu ke ginjal

Bagaimana debu yang dihirup dapat berurusan dengan saluran kemih dijelaskan lewat tiga jalur yang dihimpun dari penelitian terdahulu. Jalur pertama bekerja di seluruh tubuh. Debu halus yang terserap ke aliran darah memicu peradangan, stres oksidatif, dan kacaunya sistem kekebalan. Kajian Glencross dan rekan tahun 2020 dirujuk untuk menerangkan bahwa paparan PM2.5 melemahkan sel pemangsa kuman, mengurangi keutuhan lapisan pelindung selaput lendir, dan mengacaukan produksi zat pengatur radang, sehingga tubuh lebih sulit menyingkirkan kuman penyebab infeksi.

Jalur kedua khusus menyangkut ginjal. Debu halus diduga mengaktifkan sistem hormon pengatur tekanan darah, mendorong stres oksidatif dan kerusakan DNA di jaringan ginjal, lalu berujung pada terbentuknya jaringan parut. Para peneliti mengakui bahwa temuan tentang jalur ini belum seragam. Jalur ketiga datang dari percobaan pada hewan, antara lain karya Tavera Busso dan rekan tahun 2018 serta Angel dan rekan tahun 2024, yang menunjukkan partikel terhirup dapat berpindah ke peredaran darah, mengendap di ginjal, dan disertai peradangan di sana.

Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik

Yang belum terjawab sesudah pengamatan 2019

Batas penelitian ini dituliskan panjang oleh penulisnya sendiri. Kadar debu ditetapkan menurut distrik, bukan menurut anak, sehingga waktu di dalam ruangan, perjalanan ke tempat penitipan atau sekolah, dan pemakaian penyaring udara tidak terhitung. Kelainan bawaan saluran kemih, kebiasaan menjaga kebersihan, riwayat menyusu, kegemukan, asap rokok orang lain, dan pendidikan orang tua juga tidak tercatat. Kasus ringan pun mungkin tidak terjaring.

Kesimpulan mereka karena itu ditahan pada tingkat kaitan. “Oleh karena itu, kaitan yang teramati harus ditafsirkan dengan hati-hati, dan hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan,” tulis para peneliti dalam naskah berbahasa Inggris itu. Untuk langkah berikutnya mereka menyebut pengukuran paparan pada tiap anak, pemastian kasus secara klinis, dan pemeriksaan penanda biologis, serta penelitian yang mengikuti anak sejak lahir dengan data pengasuhan, sekolah, dan lingkungan.

Ada pula beberapa hal yang dapat diperiksa pembaca di dalam naskah. Jumlah kasus berantibiotik ditulis 14.128 di ringkasan dan bagian hasil, tetapi 14.137 di kepala tabel ciri peserta. Hasil dengan paparan setahun sebelumnya disebut memperlihatkan kaitan yang lebih kuat, padahal angka yang dicantumkan, 5 persen, lebih kecil daripada angka utama untuk kasus berantibiotik, 7 persen. Keterangan pendanaan tertulis tidak ada, sementara bagian ucapan terima kasih menyebut dukungan sebuah proyek kesehatan lingkungan.

Dengan begitu, penelitian ini menambahkan satu mata rantai pada riset yang semula berbicara tentang paru-paru, jantung, lalu ginjal orang dewasa: infeksi saluran kemih anak kini ikut masuk ke dalam daftar. Para peneliti mencatat kadar PM2.5 tahunan di Korea memang menurun perlahan selama sepuluh tahun terakhir, tetapi laju perbaikannya melambat dan kadarnya masih jauh di atas anjuran WHO. Mata rantai berikutnya, yakni kepastian sebab dan cara kerjanya, mereka serahkan kepada penelitian sesudah ini.

Bagikan

Baca Juga

Sakit Akibat Panas di Honolulu Mengikuti Lembap, Bukan Termometer
Kisah Berhenti Vape 13 Pria di Qatar, dari Istri sampai Ramadan
Suku Yei Menjaga Hutan Merauke lewat Tujuh Larangan Adat
Udara Kotor Ikut Menjelaskan Stroke Warga Suriname di Belanda
Perempuan Turki Diajari Ibunya Sendiri Menyembunyikan Haid
Orang Tobelo Melawan Tambang Nikel Halmahera Tanpa Kekerasan