Sakit Akibat Panas di Honolulu Mengikuti Lembap, Bukan Termometer

A A

Ilustrasi pengunjung di Pantai Waikiki, Honolulu, Hawaii, dengan Diamond Head di kejauhan, Maret 2024 [Foto: Frank Schulenburg/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Selama tiga tahun, 969 orang di Honolulu County datang berobat karena sakit akibat panas.
  • Dari 969 kasus, 698 atau 72,0 persen dialami warga dan 271 atau 28,0 persen dialami pelancong.
  • Pada hari dengan suhu bola basah lebih tinggi, risiko warga sakit akibat panas naik menjadi 1,60 kali.
  • Ketika indeks panas tinggi, risiko warga menjadi 2,13 kali dan risiko pelancong 2,68 kali.
Daftar Isi
  1. Termometer Kering yang Diam
  2. Termometer Basah yang Bersuara
  3. Warga yang Tinggal Sepanjang Tahun
  4. Pelancong yang Datang Bermusim
  5. Yang Tercatat di Ruang Periksa
  6. Yang Luput dari Catatan

Termometer biasa dan termometer yang dibasahi sama-sama mengukur panas di Honolulu, tetapi hanya satu yang seirama dengan ramainya ruang periksa. Selama tiga tahun, 969 orang di Honolulu County datang berobat karena sakit akibat panas. Jumlah mereka naik bersama ukuran panas yang ikut menghitung kelembapan, bukan bersama angka suhu udara semata.

Temuan itu ditulis Grayson N. Kallas, Jared Wagner, Daniel D. Nguyen, James McCallen, dan Diana J. Felton. Artikel mereka berjudul An ecological time-series study of heat-related illness in Honolulu County, Hawaiʻi: implications for heat preparedness and public health response. Naskah itu dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit, tahun 2026.

Kallas, Wagner, Nguyen, dan Felton bekerja di Hawaiʻi State Department of Health, sedangkan McCallen di Hawaiʻi Public Health Institute. Mereka menelusuri kunjungan ke instalasi gawat darurat, pusat perawatan mendesak, dan klinik rawat jalan dari Januari 2022 sampai Desember 2024. Honolulu County mencakup seluruh Pulau Oʻahu.

Ada dua pasangan yang terus disandingkan dalam naskah itu. Pasangan pertama adalah dua cara mengukur panas, yang kering dan yang lembap. Pasangan kedua adalah dua kelompok orang yang jatuh sakit, yakni warga yang menetap dan pelancong yang singgah. Dari 969 kasus, 698 atau 72,0 persen dialami warga dan 271 atau 28,0 persen dialami pelancong.

Termometer Kering yang Diam

Suhu bola kering adalah suhu udara yang terbaca pada termometer biasa, tanpa memperhitungkan kelembapan. Selama masa yang diteliti, suhu maksimum harian jenis ini rata-rata 84,9 derajat Fahrenheit di Honolulu. Angka tengahnya 85 derajat, dan separuh hari berada di antara 82 dan 88 derajat.

Angka itu ternyata tidak banyak bercerita. Ketika para penulis membandingkan hari yang lebih panas dengan hari yang lebih sejuk selama dua hari berturut-turut, risiko warga jatuh sakit nyaris tidak bergeser, 1,02 kali. Pada pelancong angkanya 1,06 kali. Keduanya tidak bermakna secara statistik, sehingga tidak bisa dibedakan dari kebetulan.

Ada alasan mengapa suhu udara saja mudah menyesatkan di kepulauan itu. Para penulis mencatat suhu di Hawaiʻi biasanya tidak mencapai titik ekstrem di atas 100 derajat Fahrenheit. Suhu yang sedang dan angin pasat yang menyejukkan, tulis mereka, bisa memberi kesan bahwa risiko gangguan kesehatan akibat panas di sana lebih rendah.

Kesan itu disebut para penulis sebagai salah persepsi. Negara bagian itu, menurut naskah, termasuk yang kelembapan relatifnya paling tinggi, dan kelembapan adalah faktor penting dalam cara tubuh mengatur suhunya. Tubuh mendinginkan diri lewat keringat yang menguap dari kulit. Di udara lembap, penguapan itu berjalan kurang efisien.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Termometer Basah yang Bersuara

Di sisi lain, ada suhu bola basah, yaitu suhu yang ditunjukkan termometer yang dibasahi lalu dibiarkan terkena udara. Makin lembap udara, makin dekat angkanya dengan suhu bola kering, dan keduanya sama ketika kelembapan relatif mencapai 100 persen. Rata-rata maksimum hariannya di Honolulu 72,5 derajat Fahrenheit.

Ukuran inilah yang bergerak bersama jumlah pasien. Pada hari dengan suhu bola basah lebih tinggi, risiko warga sakit akibat panas naik menjadi 1,60 kali. Pada pelancong kenaikannya lebih besar, 2,54 kali, atau lebih dari dua setengah kali lipat. Yang dibandingkan adalah hari bersuhu 74 derajat dengan hari bersuhu 71 derajat.

Ukuran lembap yang kedua adalah indeks panas, gabungan suhu udara dan kelembapan relatif untuk menaksir seberapa panas udara terasa di tubuh. Naskah menyebut ukuran ini dikembangkan Robert G. Steadman pada 1979. Rata-rata maksimum hariannya 86,5 derajat Fahrenheit, sedikit di atas suhu udara biasa.

Polanya sejajar dengan termometer basah. Ketika indeks panas tinggi, risiko warga menjadi 2,13 kali dan risiko pelancong 2,68 kali, keduanya lebih dari dua kali lipat. Para penulis menyimpulkan bahwa ukuran yang memuat kelembapan lebih mampu menangkap tekanan panas yang benar-benar dialami orang di lingkungan lembap seperti Hawaiʻi.

Risiko sakit menurut tiga ukuran panasSuhu udara biasa: Warga +1,02, Pelancong +1,06; Suhu bola basah: Warga +1,60, Pelancong +2,54; Indeks panas: Warga +2,13, Pelancong +2,68.Risiko sakit menurut tiga ukuran panasRisiko relatif hari panas dibanding hari sejuk, 2022-2024WargaPelancong1230Suhu udara biasa1,021,06Suhu bola basah1,602,54Indeks panas2,132,68Angka 1 berarti risiko tidak berubah. Hari panas dan sejuk diwakilipersentil ke-75 dan ke-25.
Sumber: Grayson N. Kallas, Jared Wagner, Daniel D. Nguyen, James McCallen, dan Diana J. Felton, An ecological time-series study of heat-related illness in Honolulu County, Hawaiʻi: implications for heat preparedness and public health response, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kesimpulan itu mereka nyatakan terang. “Temuan kami menegaskan perlunya memperhitungkan kelembapan dalam prakiraan panas dan kesehatan di lingkungan tropis,” tulis Kallas dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu berlaku bagi kedua kelompok, sebab kaitan dengan ukuran lembap muncul baik pada warga maupun pada pelancong.

Warga yang Tinggal Sepanjang Tahun

Warga adalah bagian terbesar dari catatan itu, hampir tiga dari tiap empat kasus. Usia mereka rata-rata 44,7 tahun, lebih tua daripada pelancong yang jatuh sakit. Laki-laki mencakup 62,8 persen kasus warga, kira-kira lima dari tiap delapan orang.

Para penulis menduga selisih itu berhubungan dengan pekerjaan. Laki-laki, tulis mereka, lebih mungkin bekerja di luar ruang dan terpapar panas, misalnya di konstruksi, utilitas, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Mereka juga disebut lebih jarang melindungi diri dari matahari. Ini dugaan penulis, bukan hasil hitungan atas pekerjaan pasien.

Kunjungan warga tersebar rata dari Senin sampai Minggu, tanpa hari yang menonjol. Para penulis membacanya sebagai tanda paparan harian yang lebih ajek. Musim tetap terlihat, sebab 62,8 persen kasus warga datang pada bulan-bulan musim panas dan 37,2 persen pada bulan-bulan musim dingin. Jumlah penduduk tetap relatif stabil sepanjang masa yang diteliti. Warga Honolulu County, menurut naskah, mencakup sekitar 69 persen penduduk Hawaiʻi. Karena itu naik-turunnya kasus warga lebih mudah dibaca sebagai naik-turunnya panas dan lembap, bukan naik-turunnya jumlah orang di pulau.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Pelancong yang Datang Bermusim

Pada kelompok kedua, gambarnya bergeser. Pelancong yang sakit akibat panas rata-rata berusia 39,6 tahun, lima tahun lebih muda daripada warga. Laki-laki dan perempuan hampir seimbang, 52,0 persen berbanding 48,0 persen. Para penulis menduga paparan pelancong terutama berasal dari rekreasi, yang lebih merata antara kedua jenis kelamin. Hari kedatangan mereka juga tidak rata. Kunjungan pelancong memuncak pada akhir pekan, yang mencakup 41,7 persen kasus. Seperti warga, mereka lebih sering sakit pada bulan-bulan musim panas, 58,7 persen berbanding 41,3 persen pada bulan-bulan musim dingin.

Warga dan pelancong di ruang periksa HonoluluDari 969 kasus sakit akibat panas di Honolulu County, 698 dialami warga dan 271 dialami pelancong; warga rata-rata lebih tua dan lebih banyak laki-laki.Warga dan pelancong di ruang periksa HonoluluKunjungan karena sakit akibat panas, Januari 2022-Desember 2024WargaPelancong698271Jumlah kasus72,0%28,0%Bagian dari 969kasus44,7 tahun39,6 tahunRata-rata usia62,8%52,0%Laki-laki62,8%58,7%Datang di musimpanas
Sumber: Grayson N. Kallas, Jared Wagner, Daniel D. Nguyen, James McCallen, dan Diana J. Felton, An ecological time-series study of heat-related illness in Honolulu County, Hawaiʻi: implications for heat preparedness and public health response, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka risiko pelancong pada kedua ukuran lembap lebih besar daripada angka warga. Para penulis menyebut pelancong mungkin punya kerentanan tersendiri, yakni belum terbiasa dengan iklim setempat dan lebih banyak berkegiatan rekreasi di luar ruang. Warga, sebaliknya, mungkin menanggung paparan yang lebih menahun dari pekerjaan atau rekreasi.

Namun naskah itu sendiri menahan pembacanya di sini. Jumlah kasus pelancong per hari jauh lebih sedikit, sehingga kemampuan hitungan untuk menemukan kaitan di kelompok ini terbatas. Rentang ketidakpastiannya pun lebar, misalnya 1,33 sampai 5,41 untuk indeks panas. Jumlah pelancong di pulau juga naik-turun tajam menurut musim dan tahun.

Yang Tercatat di Ruang Periksa

Catatan pulang pasien memperlihatkan wujud sakit itu. Kode yang paling sering dipakai adalah pingsan atau kolaps, 23,1 persen, disusul dehidrasi 20,7 persen dan kelelahan akibat panas 15,2 persen. Dalam sebulan, jumlah kasus bergerak dari enam pada November dan Desember 2022 sampai 53 pada Agustus 2024. Kunjungan semacam itu datang sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan terpanas. Para penulis mengingatkan hal ini bisa membebani layanan kesehatan ketika panas ekstrem bertemu bencana lain. Mereka mengusulkan pemantauan khusus di sekitar kegiatan besar di luar ruang, seperti maraton, konser, dan pawai.

Sistem pencatatnya sendiri sedang tumbuh. Pada 2022 baru 30 persen sistem layanan kesehatan di Honolulu County yang menyetor data, mewakili hampir 44 persen kunjungan pasien. Pada 2024 angkanya 77 persen sistem dan hampir 97 persen kunjungan. Kenaikan kasus dari 2022 ke 2024, tulis para penulis, bisa sebagian berasal dari perluasan itu.

Pariwisata ikut bergerak pada masa yang sama. Kedatangan wisatawan ke seluruh negara bagian naik 4,3 persen selama 2022 sampai 2024. Para penulis karena itu tidak menarik kesimpulan tentang tren dari tahun ke tahun. Yang mereka pegang adalah kaitan harian antara ukuran panas dan jumlah kasus.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Yang Luput dari Catatan

Di luar ruang periksa, lebih banyak hal yang tidak terlihat. Penelitian ini hanya menghitung orang yang datang berobat, sehingga para penulis mengakui beban sakit yang sebenarnya kemungkinan lebih besar. Orang yang ditangani di tempat oleh Ocean Safety Department tanpa dibawa ke rumah sakit tidak tercatat. Begitu pula pasien di fasilitas kesehatan militer.

Data cuaca pun datang dari satu tempat saja, stasiun di Daniel K. Inouye International Airport. Padahal Oʻahu punya bentang alam, iklim mikro, dan lingkungan terbangun yang beragam. Usia, pekerjaan, dan penyakit penyerta tiap pasien juga tidak masuk hitungan, jadi kerentanan lansia atau pekerja luar ruang tidak bisa dinilai langsung.

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak rapi dalam naskah. Abstrak menyebut hitungan memakai jeda kumulatif tiga hari, sedangkan badan naskah menyebut jeda paling lama satu hari. Abstrak juga menyatakan suhu udara biasa tidak berkaitan, padahal untuk hari yang sama naskah mencatat risiko pelancong 2,52 kali.

Satu hal lagi menyangkut waktu. Naskah menulis puncak kasus bulanan terjadi sebulan sebelum puncak indeks panas. Angka yang dicantumkan menunjuk Agustus 2024 untuk kasus terbanyak dan September 2023 untuk indeks panas tertinggi, 92,7 derajat Fahrenheit. Keduanya berada di tahun yang berbeda. Sebagian paragraf hasil pada salinan yang kami baca juga tersusun acak.

Pada akhirnya dua termometer itu membaca udara yang sama dan dua kelompok itu menghirupnya bersama. Naskah ini tidak menyatakan warga lebih tahan atau pelancong lebih rapuh; ia hanya mencatat keduanya lebih sering jatuh sakit ketika udara panas sekaligus lembap. Hawaiʻi, tulis para penulis, belum punya definisi gelombang panas, ambang bahaya, atau sistem peringatan panas untuk keduanya.

Bagikan

Baca Juga

Kisah Berhenti Vape 13 Pria di Qatar, dari Istri sampai Ramadan
Udara Kotor Ikut Menjelaskan Stroke Warga Suriname di Belanda
Perempuan Turki Diajari Ibunya Sendiri Menyembunyikan Haid
Kampung Adat Yoboi di Sentani Masih Dipimpin Dua Kepala Kampung
Makin Banyak Protein Hewani, Makin Tinggi Risiko Kematian di Iran
Ritual Dayak Benuaq Jadi Warisan Budaya, Warga Tak Tahu Artinya