- Udara kotor sendiri berjalan seiring dengan stroke pada semua kelompok.
- Kedua polutan itu tidak bisa dijumlahkan begitu saja, sebab keduanya cenderung hadir di tempat yang sama.
- Ada satu hitungan tambahan yang mengecilkan semua angka tadi.
- Stroke yang tidak sampai ke rumah sakit dan tidak berujung kematian juga luput dari catatan.
Daftar Isi
Orang gemar mengira bahwa stroke adalah urusan tubuh dan asal-usul semata, sesuatu yang dibawa seseorang ke mana pun ia pindah dan tidak ada sangkut pautnya dengan jalan tempat ia tinggal. Di Belanda, anggapan itu goyah begitu alamat rumah ikut dihitung, sebab warga keturunan Suriname dan Karibia Belanda, yang lebih sering terkena stroke iskemik daripada orang Belanda asli, juga menghirup udara yang lebih kotor di depan pintu mereka sendiri.
Hitungan itu dikerjakan Lieke van den Brekel, Ilonca Vaartjes, Diederick E. Grobbee, Gerard Hoek, Joreintje D. Mackenbach, dan Yvonne Koop dalam Ethnic inequalities in ischemic stroke occurrence are partly mediated by air pollution: a Dutch nationwide follow-up analysis, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 1390, tahun 2026. Sebagian besar dari mereka bekerja di Julius Center for Health Sciences and Primary Care, University Medical Center Utrecht, sedangkan Hoek berasal dari Institute for Risk Assessment Sciences, Utrecht University, dan Mackenbach dari Amsterdam UMC.
Yang mereka ikuti bukan sekelompok pasien, melainkan hampir seluruh penduduk dewasa sebuah negeri: 9.248.484 orang berusia 30 tahun ke atas yang belum pernah terkena stroke iskemik, dipantau dari awal 2014 sampai akhir 2019. Di antaranya terdapat 314.082 orang berlatar Indonesia, 204.158 orang berlatar Suriname, dan 69.580 orang berlatar Karibia Belanda, di samping 8.660.664 orang Belanda asli yang menjadi pembanding.
Alamat rumah sebagai bagian dari nasib
Ketiga kelompok itu tidak dipilih sembarangan, sebab Suriname, Indonesia, dan Karibia Belanda adalah bekas koloni Belanda dan kini menjadi negeri asal kelompok minoritas terbesar ketiga, keempat, dan keenam di sana. Para penulis menyebut hubungan kolonial dan pascakolonial itu kemungkinan ikut membentuk persoalan sosial dan kesehatan yang sekarang dihadapi komunitas-komunitas tersebut, dan dari situlah pertanyaan tentang udara mereka berangkat.
Etnis, tulis mereka, bukanlah sifat biologis, melainkan bangunan sosial yang dibentuk sejarah bersama, kebiasaan budaya, dan pengalaman hidup. Karena itu jalan dari asal-usul menuju penyakit tidak dicari di dalam tubuh, tetapi di dalam hal-hal yang mengelilinginya: kedudukan sosial ekonomi, akses ke layanan kesehatan, diskriminasi, dan keadaan lingkungan tempat orang bermukim. Semua itu, menurut naskah, tertanam dalam konteks sosial politik yang lebih luas dan ikut menentukan lingkungan hunian serta sumber daya yang dimiliki seseorang.
Angka di alamat rumah memperlihatkan jarak itu dengan terang. Rata-rata nitrogen dioksida, atau NO2, di kediaman orang Belanda asli tercatat 19,5 mikrogram per meter kubik, sedangkan di kediaman warga berlatar Indonesia 21,2, warga berlatar Karibia Belanda 23,2, dan warga berlatar Suriname 24,2. Partikel halus PM2.5 mengikuti urutan yang sama, dari 13,2 pada orang Belanda asli sampai 14,0 pada warga berlatar Suriname.
Selisih itu bukan kabar baru bagi tim yang sama, yang dalam riset terdahulu sudah mendapati kadar NO2 di rumah warga berlatar Suriname lebih tinggi 21,4 persen, warga berlatar Karibia Belanda 18,3 persen, dan warga berlatar Indonesia 8,4 persen dibanding orang Belanda asli. Yang belum pernah dihitung, menurut para penulis, adalah seberapa besar ketimpangan udara itu menjelaskan ketimpangan stroke di antara kelompok-kelompok tersebut.
Baca juga PM2.5 dan NO2 Naikkan Rawat Inap Neurologis di Harbin
Yang terhirup dan yang kemudian menyumbat
Selama enam tahun pemantauan, 120.462 orang, atau 1,3 persen dari seluruh penduduk yang diikuti, terkena stroke iskemik, baik yang berujung rawat inap maupun kematian. Setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, risiko warga berlatar Suriname 1,30 kali risiko orang Belanda asli, dan risiko warga berlatar Karibia Belanda 1,21 kali, sehingga keduanya berada jelas di atas kelompok mayoritas.
Udara kotor sendiri berjalan seiring dengan stroke pada semua kelompok. Setiap kenaikan NO2 sebesar 6,85 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan risiko 1,054 kali lebih tinggi, dan setiap kenaikan PM2.5 sebesar 1,66 mikrogram per meter kubik dengan risiko 1,048 kali. Angkanya kecil, dan para penulis mengakui bahwa hanya data sebesar satu negeri yang sanggup menangkap pengaruh sehalus itu.
Naskah itu juga merangkum jalan yang diduga ditempuh polusi di dalam tubuh, yakni peradangan, stres oksidatif, dan darah yang lebih mudah membeku, yang berujung pada terganggunya lapisan dalam pembuluh dan bertambahnya plak. Di luar itu, paparan udara kotor disebut memperberat faktor risiko yang sudah lama dikenal, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan irama jantung yang disebut fibrilasi atrium.
Bagian yang bisa dijelaskan oleh udara
Namun, pertanyaan pokoknya bukan apakah udara kotor berbahaya, melainkan berapa banyak dari selisih antaretnis itu yang melewati udara. Jawaban para penulis: pada warga berlatar Suriname, NO2 menjelaskan 13,8 persen selisih risiko terhadap orang Belanda asli dan PM2.5 menjelaskan 7,9 persen, sedangkan pada warga berlatar Karibia Belanda, NO2 menjelaskan 14,7 persen dan PM2.5 8,0 persen.
Kedua polutan itu tidak bisa dijumlahkan begitu saja, sebab keduanya cenderung hadir di tempat yang sama. Ketika dihitung bersama, bagian yang dijelaskan udara menjadi 11,8 persen pada warga berlatar Suriname dan 12,3 persen pada warga berlatar Karibia Belanda, kira-kira satu dari delapan bagian selisih. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa pengaruh kedua polutan sebagian saling menutupi.
Gambarnya bergeser lagi ketika penyakit penyerta dan kedudukan sosial ekonomi ikut diperhitungkan, dan di situlah terlihat betapa udara dan kemiskinan sulit dipisahkan. Separuh warga berlatar Karibia Belanda, 50,9 persen, dan 42,9 persen warga berlatar Suriname berada di lapis sosial ekonomi terbawah, sedangkan pada orang Belanda asli hanya 21,9 persen. Dengan penyesuaian itu, bagian yang dijelaskan NO2 naik menjadi 20,8 persen pada warga berlatar Suriname dan 27,5 persen pada warga berlatar Karibia Belanda.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Orang Indonesia yang tidak mengikuti pola
Justru sebaliknya yang terjadi pada kelompok ketiga. Warga berlatar Indonesia menghirup udara yang lebih kotor daripada orang Belanda asli, tetapi risiko stroke iskemik mereka lebih rendah, 0,92 kali, dan karena kedua arah itu berlawanan, para penulis menyatakan persentase yang dijelaskan udara tidak dapat dihitung secara bermakna untuk kelompok ini. Kelompok ini pula yang paling besar di antara ketiga minoritas, 3,4 persen dari seluruh penduduk yang diikuti.
Di situlah persoalannya, dan para penulis tidak berpura-pura memegang jawabannya. “Kami tidak memiliki penjelasan atas lebih rendahnya risiko stroke iskemik pada orang Indonesia dibanding orang Belanda asli, selain kemungkinan bahwa risiko penyakit pada populasi imigran yang lebih sehat berangsur menyamai risiko populasi mayoritas,” tulis van den Brekel dan kelima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Pengakuan itu makin menarik karena riset lebih lama, yang memakai data 1998 sampai 2010, melaporkan arah yang berbeda: angka kejadian stroke iskemik warga berlatar Indonesia 194 per 100.000 orang per tahun, sedikit di atas orang Belanda asli yang 187. Menurut para penulis, Belanda belum memiliki data tren faktor risiko dan penyakit jantung serta pembuluh darah pada kelompok minoritas, termasuk orang Indonesia, yang diperlukan untuk menerangkan perubahan itu.
Tabel mereka memberi sedikit gambaran tentang kelompok ini tanpa menjadikannya penjelasan. Warga berlatar Indonesia dalam data itu berusia median 53,6 tahun, nyaris setua orang Belanda asli yang 54,6 tahun, dan hanya 25,6 persen di antaranya berada di lapis sosial ekonomi terbawah. Dari 314.082 orang, 3.376 orang atau 1,1 persen terkena stroke iskemik selama pemantauan.
Ketika peta wilayah ikut dihitung
Ada satu hitungan tambahan yang mengecilkan semua angka tadi. Ketika Belanda dibagi ke dalam 40 wilayah dan pembagian itu dimasukkan ke dalam perhitungan, bagian yang dijelaskan udara pada warga berlatar Suriname susut menjadi 3,1 persen untuk NO2 dan 3,4 persen untuk PM2.5, sedangkan pada warga berlatar Karibia Belanda menjadi 5,4 persen dan 5,0 persen.
Para penulis tidak membaca penyusutan itu sebagai bantahan, melainkan sebagai akibat dari cara ketimpangan itu sendiri terbentuk. Orang Belanda asli berkumpul di wilayah yang udaranya lebih bersih dan kelompok minoritas di wilayah yang lebih tercemar, sehingga menyamakan wilayah berarti menghapus sebagian dari hal yang hendak diukur. Mereka juga mengakui bahwa kebiasaan seperti merokok dan kurang bergerak bisa mengelompok di kawasan tercemar, dan data tentang itu tidak mereka miliki.
Dari sana mereka menarik arah kebijakan, bukan kepastian. Karena ketimpangan paparan udara bisa dicegah dan menjelaskan sebagian selisih stroke, naskah itu menekankan pentingnya kebijakan pengurangan polusi udara, serta penanganan faktor struktural, termasuk rasisme sistemik yang membentuk pola permukiman dan mutu lingkungan tempat tinggal, bagi kelompok yang menanggung beban stroke lebih besar. Mereka juga meminta riset berikutnya memetakan pengelompokan etnis bersama sebaran faktor lingkungan yang merugikan maupun yang melindungi.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Batas yang diakui dan angka yang berselisih
“Keterbatasan terbesar penelitian ini adalah tidak adanya data tentang faktor perancu potensial,” tulis para penulis, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kadar polusi hanya diukur untuk satu tahun, 2014, sehingga perubahan selama pemantauan dan paparan seumur hidup tidak terlihat. Stroke yang tidak sampai ke rumah sakit dan tidak berujung kematian juga luput dari catatan.
Batas lain menyangkut cara orang digolongkan. Etnis ditentukan dari negara kelahiran seseorang dan orang tuanya, sehingga keturunan generasi berikutnya tidak tertangkap, dan keragaman budaya serta leluhur di dalam kelompok Suriname dan Karibia Belanda sendiri tidak dapat diperhitungkan. Temuan ini juga berupa kaitan yang diurai dari catatan kependudukan, bukan bukti bahwa udara menjadi sebab stroke pada orang per orang.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak seiring di dalam naskah. Kesimpulan menulis udara menjelaskan sampai 13,8 persen selisih risiko, padahal bagian hasil memuat 14,7 persen untuk warga berlatar Karibia Belanda. Angka 8,0 persen pada kelompok yang sama diberi rentang 8,1 sampai 23,3 persen, rentang yang tidak memuat angkanya sendiri dan muncul lagi pada angka 12,3 persen.
Satu hal lagi patut dicatat dengan tenang. Bagian hasil menyebut penyesuaian penyakit penyerta dan kedudukan sosial ekonomi membuat persentase yang dijelaskan udara lebih tinggi, sedangkan bagian pembahasan menulis penyesuaian yang sama menurunkannya. Abstrak naskah, setidaknya pada salinan yang dibaca untuk tulisan ini, juga tersusun acak pada kalimat-kalimat hasilnya, sehingga angka di atas diambil dari badan naskah.
Yang tersisa adalah gambaran tentang penyakit yang tidak seluruhnya berdiam di dalam tubuh, tetapi sebagian menggantung di udara jalan tempat orang bermukim, kira-kira satu dari delapan bagian selisih bagi warga berlatar Suriname dan Karibia Belanda. Lalu mengapa warga berlatar Indonesia, yang menghirup udara lebih kotor daripada orang Belanda asli, justru lebih jarang terkena stroke iskemik, dan apa yang melindungi mereka?















