PM2.5 dan NO2 Naikkan Rawat Inap Neurologis di Harbin

A A

Kota Harbin, Tiongkok diselimuti kabut asap tebal akibat polusi udara tinggi. [Foto: Fredrik Rubensson/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Efek berbahaya CO pada sistem saraf tampak lebih menonjol pada musim dingin dibanding musim panas.
Daftar Isi
  1. PM2.5 vs Tiga Polutan Lain: Siapa Paling Berbahaya
  2. Musim Dingin vs Musim Panas: Risiko yang Berbeda Jauh
  3. Perempuan vs Laki–laki, Lansia vs Dewasa Muda
  4. Neuralgia Trigeminal, Subtipe Paling Terpukul oleh NO2
  5. Efek Segera vs Efek yang Bertahan Berhari–hari
  6. Data Satu Rumah Sakit vs Beban Sesungguhnya di Harbin

PM2.5 dan tiga polutan lain sama–sama menaikkan risiko rawat inap gangguan neurologis di Harbin, Tiongkok, tetapi besarnya risiko jauh berbeda satu sama lain. PM2.5 tampil sebagai yang paling berbahaya, sementara NO2 justru mencatat lonjakan risiko paling ekstrem pada satu subtipe gangguan saraf tertentu, jauh melampaui polutan lainnya.

Temuan itu dipaparkan Yong Cao, Qiang Ma, Lanfang Chen, Jingyi Liu, Liu Lang, dan Qiuju Zhang dari Harbin Medical University dalam artikel Short-Term Effects of Ambient Air Pollutants on Neurological Hospital Admissions: A Time-Series Analysis in a Northern Chinese City di jurnal BMC Public Health edisi 2026.

PM2.5 vs Tiga Polutan Lain: Siapa Paling Berbahaya

Penelitian ini menelaah 249.717 rawat inap akibat gangguan neurologis di Harbin sepanjang 2014 hingga 2023. Dari jumlah itu, 58,84 persen pasien laki–laki dan sisanya perempuan, sementara 55,79 persen pasien berusia 60 tahun ke atas dan 44,21 persen berusia 18 sampai 59 tahun.

Setiap kenaikan konsentrasi polutan dari persentil ke–25 ke persentil ke–75, PM2.5 mencatat risiko tertinggi dengan RR=1,23 (95% CI: 1,14–1,32), disusul NO2 pada RR=1,18, PM10 pada RR=1,12, dan CO pada RR=1,10. Keempatnya bermakna secara statistik.

Risiko Rawat Inap Neurologis per Kenaikan PolutanRentang acuan 1 sampai 1. PM2.5 1,23; NO2 1,18; PM10 1,12; CO 1,10.Risiko Rawat Inap Neurologis per KenaikanPolutanRasio risiko (RR) dari persentil ke-25 ke persentil ke-75konsentrasiTanpa peningkatan risiko 1 sampai 11111PM2.51,23NO21,18PM101,12CO1,10
Data: Cao dkk., BMC Public Health (2026).

Peneliti turut menghitung indeks gabungan dari PM2.5, NO2, dan CO, dengan hasil RR=1,188 (95% CI: 1,10–1,27). Fraksi atribusi—estimasi proporsi rawat inap yang bisa dicegah bila konsentrasi ditekan ke persentil ke–25—tertinggi pada PM2.5 sebesar 8,46 persen, dibanding NO2 6,90 persen, PM10 4,55 persen, dan CO 4,09 persen.

Musim Dingin vs Musim Panas: Risiko yang Berbeda Jauh

Dibanding musim panas, risiko rawat inap neurologis akibat paparan polutan jauh lebih tinggi pada musim dingin. Perbedaan ini paling menonjol pada CO, yang menurut peneliti berkaitan dengan pembakaran batu bara untuk pemanas rumah tangga yang meningkat tajam sepanjang musim dingin di Harbin.

“Efek berbahaya CO pada sistem saraf tampak lebih menonjol pada musim dingin dibanding musim panas,” tulis Yong Cao, peneliti utama dari Harbin Medical University, dalam kesimpulan laporannya. Cao menyebut kondisi ini terkait konsentrasi polutan dari emisi pemanas yang lebih tinggi dan penyebaran udara yang lebih lambat pada musim dingin.

Perempuan vs Laki–laki, Lansia vs Dewasa Muda

Perbandingan antar kelompok jenis kelamin menunjukkan perkiraan risiko PM2.5 dan NO2 sedikit lebih tinggi pada perempuan dibanding laki–laki, sejalan dengan penelitian serupa sebelumnya. Sementara itu, perbandingan antar kelompok usia menunjukkan lansia berusia 60 tahun ke atas mencatat perkiraan risiko yang lebih tinggi dibanding kelompok dewasa muda untuk PM2.5, NO2, CO, dan indeks gabungan.

Peneliti belum menjelaskan secara pasti penyebab perbedaan kerentanan itu, namun menilai temuan ini menegaskan perlunya perlindungan yang lebih terarah bagi kelompok lansia dan perempuan saat konsentrasi polutan tinggi.

Neuralgia Trigeminal, Subtipe Paling Terpukul oleh NO2

Saat rawat inap dipilah berdasarkan subtipe penyakit sesuai ICD–10, hasilnya jauh lebih beragam. Gangguan episodik dan paroksismal (G40–G47), yang mencakup epilepsi dan migrain, tercatat paling terkait dengan PM2.5. Gangguan pada saraf, akar saraf, dan pleksus (G50–G59) justru paling terkait dengan NO2.

Di dalam kelompok G50–G59, neuralgia trigeminal (G50) mencatat lonjakan risiko paling ekstrem: RR NO2 mencapai 4,457 (95% CI: 2,658–7,474), jauh melampaui RR PM2.5 sebesar 1,421 dan RR CO sebesar 1,294 untuk subtipe yang sama.

Risiko Neuralgia Trigeminal Menurut PolutanPM2.5: RR 1,42; NO2: RR 4,46; CO: RR 1,29.Risiko Neuralgia Trigeminal Menurut PolutanRasio risiko rawat inap akibat neuralgia trigeminal (G50)0123451,42PM2.54,46NO21,29CO
Data: Cao dkk., BMC Public Health (2026).

Neuralgia trigeminal adalah nyeri wajah paroksismal yang sangat intens dan muncul tiba–tiba, salah satu sindrom nyeri paling berat yang dikenal dalam neurologi klinis. Sebaliknya, gangguan pada saraf tepi lain seperti polineuropati (G60–G64) mencatat asosiasi dengan NO2 yang menurut peneliti perlu dibaca hati–hati karena jumlah kasus hariannya sangat sedikit.

Dampak PM2.5 pada gangguan neurologis ini sejalan dengan pola yang ditemukan dalam studi tentang suhu ekstrem dan PM2.5 yang meningkatkan angka kematian di Tiongkok, sementara kerentanan lansia dan perempuan terhadap polutan udara juga muncul dalam studi PM2.5 di Xinjiang yang menaikkan risiko influenza.

Efek Segera vs Efek yang Bertahan Berhari–hari

Dibanding dampak polutan pada penyakit pernapasan atau jantung yang biasanya muncul dan mereda lebih cepat, dampak polutan pada gangguan neurologis dalam studi ini bertahan jauh lebih lama. Risiko akibat paparan PM2.5, NO2, CO, dan O3 pada persentil ke–75 tetap terlihat sampai 15 hingga 18 hari setelah paparan.

Peneliti menduga proses gangguan neurologis akibat polusi berjalan lebih lambat dibanding gangguan pernapasan atau jantung, sehingga efeknya baru terlihat penuh setelah beberapa pekan, bukan hanya dalam hitungan hari seperti pada penyakit pernapasan.

Data Satu Rumah Sakit vs Beban Sesungguhnya di Harbin

Peneliti mengingatkan, data rawat inap dalam studi ini hanya berasal dari satu rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Afiliasi Kedua Harbin Medical University, sehingga belum tentu mencerminkan seluruh beban gangguan neurologis di kota itu. Konsentrasi polutan yang dipakai juga berupa rata–rata kota dari stasiun pemantauan tetap, bukan paparan pribadi tiap pasien.

Peneliti juga mencatat, temuan pada subtipe penyakit yang jarang seperti neuralgia trigeminal dan polineuropati perlu divalidasi lebih lanjut lewat sampel yang lebih besar, karena jumlah kasus harian yang sedikit membuat perkiraan risikonya lebih mudah berubah antar metode penghitungan.

Bagikan

Baca Juga

Perempuan Dominasi Rawat Inap Korban Kapal Karam di Gambia
Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air