- Anak diajari berenang pada usia tiga sampai lima tahun dengan bantuan sebuah jeriken air yang kosong.
- Pada usia lima tahun anak laki-laki Bajo Sampela mulai diikutsertakan melaut bersama bapaknya.
- Peneliti menemukan empat sebutan untuk cara melaut, dan yang paling banyak dijalani warga bernama palilibu.
- Para orang tua tidak pernah membahas pendidikan formal, sebab anak dianggap sukses bila bisa memperoleh uang.
Daftar Isi
Wa Ode Sitti Nurhaliza mencatat sebuah upacara kecil di atas perahu di kampung Bajo Sampela. Seorang ibu duduk bersila di atas leppa, sebutan orang Bajo untuk perahu, bersama bayinya yang berumur tiga bulan. Bayi itu diserahkan kepada bapaknya yang berada di samping perahu, dilewatkan di bawah perahu, lalu disambut lagi oleh sang ibu di atas. Tujuannya satu, yaitu agar jiwa anak laki-laki itu menyatu dengan laut.
Catatan itu dituangkan Wa Ode Sitti Nurhaliza dalam artikel berjudul Studi Etnografi Komunikasi: Aktivitas Melaut sebagai Sumber Kehidupan Masyarakat Suku Bajo Sampela. Artikel tersebut dimuat Jurnal Ilmu Komunikasi UHO: Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi volume 6 nomor 4 pada 2021. Nurhaliza adalah dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, dan bahannya ia kumpulkan lewat pengamatan langsung serta wawancara di Desa Sama Bahari.
Desa itulah kampung orang Bajo Sampela, yang letaknya di antara Pulau Kaledupa dan Pulau Hoga di Wakatobi. Nurhaliza menggambarkan rumah-rumah panggung yang berdiri di tengah laut. Dindingnya gabungan kayu dan anyaman bambu, atapnya daun rumbia, dan beberapa rumah sudah memakai seng. Kendaraan utama warganya perahu, yang sekaligus menjadi alat untuk mencari nafkah.
Orang Sampela, tulis Nurhaliza, menolak menetap di daratan. Tinggal di laut sudah turun-temurun mereka jalani, dan laut dipandang sebagai satu-satunya tempat untuk menetap. “Dalam pandangan masyarakat Bajo Sampela, meninggalkan cara hidup di laut sama halnya dengan meninggalkan adat istiadat hidup mereka,” tulis dosen itu dalam naskahnya. Nelayan adalah satu-satunya pekerjaan yang dipilih, dari generasi terdahulu sampai sekarang.
Nurhaliza mendata empat cara orang Sampela melaut
Pekerjaan pertama Nurhaliza adalah mengumpulkan istilah. Ia menemukan empat sebutan untuk cara melaut. Yang paling banyak dijalani warga bernama palilibu, yaitu mencari ikan di sekitar kampung dan pulang membawa tangkapan untuk dijual. Lamanya sampai satu hari, dan perahunya tidak pergi jauh dari perkampungan. Bila hasilnya berlimpah, ikan ditukar dengan sayuran dan bahan pokok lain.
Cara kedua yang dicatat Nurhaliza disebut pongka, dan hanya dilakukan pada musim teduh. Empat sampai enam orang berangkat bersama selama tujuh sampai sepuluh hari, lalu tinggal di karang yang dianggap banyak ikannya. Kalau karang itu dekat dengan sebuah pulau, mereka mendirikan pondok untuk tempat tinggal sementara. Tangkapan berupa ikan, teripang, dan udang diawetkan dengan es batu atau dikeringkan. Pongka biasa dijalani pada Oktober sampai Desember.
Dua istilah lain membawa orang Sampela lebih jauh lagi. Sakai, menurut catatan Nurhaliza, berarti mencari ikan, teripang, dan lola di tempat yang sangat jauh sampai melintasi batas daerah dan negara. Wilayah Australia, Timor Leste, hingga Madagaskar ia sebut sebagai tujuan utamanya. Lamaa berarti merantau dan bekerja pada pihak yang menangkap ikan dalam skala besar di daerah lain. Jumlah warga yang menjalani lamaa sedikit.
Dari empat cara itu Nurhaliza juga mencatat ke mana ikan pergi setelah tiba di kampung. Tangkapan ditukar dengan beras, sayuran, dan kebutuhan makan lain, sehingga ia menyimpulkan sistem barter masih hidup di Sampela. Sebagian lagi dijual kepada nelayan lain untuk mendapat uang. Tugas menjual ke daratan Kaledupa dipegang para ibu, yang pulang sambil membawa air bersih.
Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Nurhaliza mengikuti pelajaran dari jeriken sampai jaring
Sesudah upacara mandi pada usia tiga bulan, pelajaran berikut yang diamati Nurhaliza adalah berenang. Anak diajari pada usia tiga sampai lima tahun dengan bantuan sebuah jeriken air yang kosong. Jeriken itu ditangkupkan di bawah dada supaya tubuh anak mengapung di laut. Sang bapak duduk di atas jembatan, mengawasi, dan sesekali menunjuk ke arah anaknya.
Pada usia lima tahun, tulis Nurhaliza, anak laki-laki mulai diikutsertakan melaut. Anak perempuan menempuh jalan lain, yakni mengikuti ibunya mencari air bersih dan kayu untuk memasak. Bila sebuah keluarga punya anak laki-laki, dialah yang menemani bapak menangkap ikan. Harapan orang tua sederhana saja: anak itu kelak menjadi pelaut tangguh seperti mereka.
Pelajaran membuat jaring berlangsung di atas jembatan dan di teras rumah. Nurhaliza mencatat bahan yang disebutkan bapak satu per satu, yaitu tasi, tali, bola hitam sebagai pelampung, potongan sandal, dan timah. Sambil menyebut, ia menunjukkan cara menjahitnya. Anak mendengarkan, melihat, lalu mencoba sendiri dalam suasana santai.
Ujian sesungguhnya ada di tengah laut. Dalam catatan Nurhaliza, bapak mematikan mesin perahu, lalu mendayung dari ujung perahu supaya lajunya pelan dan terarah. Anak berdiri di tengah perahu dan menurunkan jaring sedikit demi sedikit sesuai perintah. Panjang jaring yang diturunkan anak itu mencapai seribu meter.
Tiga alat lain diajarkan dengan urutan serupa: dibuat dulu di rumah, baru dipakai di karang. Panah ikan, tulis Nurhaliza, dirakit dari besi dan kayu yang diikat dengan karet ban, lalu bapak dan anak terjun dan menyelam bersama. Tombak dibuat dari bambu yang disambung besi bercabang tiga atau lima. Anak mula-mula menombak dari atas perahu, kemudian sambil menyelam.
Alat terakhir yang didata Nurhaliza adalah pancing tradisional. Bapak mengambil tasi, sedangkan anak mencari umpan berupa cacing atau ikan kecil. Cara mengaitkan umpan di mata pancing diajarkan supaya yang terpancing ikan besar, seperti ikan putih dan ekor kuning. Pelajaran ini dicatat menuntut kesabaran, sebab memancing butuh waktu.
Nurhaliza mencatat pantangan dan doa di karang
Tidak semua pelajaran menyangkut alat. Di karang, tulis Nurhaliza, bapak memberi tahu anaknya apa saja yang tidak boleh dilakukan. Contoh yang ia catat adalah membuang air panas, lada, dan cabai ke laut. Nasihat semacam itu disampaikan ketika keduanya sedang berada di tempat menangkap ikan, bukan di rumah.
Sebelum berangkat ke karang, bapak biasanya membaca doa untuk keselamatan anak yang sedang belajar. Nurhaliza menulis bahwa doa itu ditujukan kepada Bojanggo, Dewa Laut, agar melindungi dan tidak mengganggu selama mereka berada di karang. Ia juga mencatat kepercayaan akan roh halus penjaga laut. Sesajen yang disiapkan ketika melaut dianggap persembahan bagi roh itu.
Semua pelajaran tersebut disampaikan dalam bahasa Bajo. Bentuknya, menurut pengamatan Nurhaliza, berupa pernyataan, perintah, dan nasihat, dalam obrolan santai yang tetap sopan. Ekspresi wajah dan gerak tangan dipakai untuk menegaskan ucapan. “Bahasa menjadi kunci transfer pesan,” tulisnya. Di antara kedua orang tua, bapaklah yang paling banyak menyampaikan pengetahuan melaut kepada anak.
Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani
Nurhaliza mendengarkan para bapak di kolong rumah
Dari keluarga, perhatian Nurhaliza berpindah ke para tetangga. Sebelum melaut, para bapak duduk di bawah kolong rumah dan membicarakan angin serta ombak sambil melihat bintang. Dari obrolan itulah lokasi melaut ditentukan. Bila berangkat pada waktu subuh, para tetangga saling memanggil dan membangunkan.
Sepulang melaut, warga berkumpul di depan rumah untuk melihat hasil tangkapan. Nurhaliza mencatat sebagian orang berdiri, sebagian duduk berhadapan di jembatan, dan semuanya bercakap dalam bahasa Bajo dengan suara keras. Bapak dan ibu memeriksa jenis ikan yang didapat. Ibu lalu bersiap naik leppa untuk menjualnya.
Sebulan sekali, pada malam terang bulan, kumpul-kumpul itu berubah menjadi makan bersama di atas jembatan. Para bapak membakar ikan, para ibu memasak nasi, dan anak-anak ikut hadir. Suasananya ramai, tulis Nurhaliza, dan kebiasaan ini sudah dilakukan sejak nenek moyang orang Bajo Sampela. Tujuannya mempererat hubungan sesama warga.
Isi obrolan ikut ia perhatikan. Para bapak membicarakan kemajuan anak-anak dalam melaut, tangkapan hari itu, dan tujuan esok hari, sedangkan para ibu membicarakan kebutuhan dapur. Satu hal tidak pernah muncul. “Para orang tua tidak pernah sama sekali membahas tentang pendidikan formal untuk anak-anaknya,” tulis Nurhaliza. Seorang anak dianggap sukses bila bisa memperoleh uang, dan uang datang dari melaut.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Nurhaliza mengamati anak-anak sepulang melaut
Anak-anak punya tempat berkumpul sendiri, dan Nurhaliza mendapati tempatnya bergantung pada umur. Mereka yang belum sepuluh tahun kebanyakan berkumpul di balai desa. Anak perempuan bermain tali sambil berulang-ulang bernyanyi dalam bahasa Bajo, sedangkan anak laki-laki bermain kartu. Ada pula yang bermain air di samping rumah atau belajar mendayung bersama temannya.
Anak laki-laki yang lebih besar berkumpul di bawah kolong rumah. Sambil berdiri dan bermain biliar, catat Nurhaliza, mereka membahas tangkapan dan rencana melaut besok. Mereka juga pergi dengan leppa atau solo-solo ke sekitar Pulau Hoga untuk memancing ikan putih. Kegiatan itu disebut sudah lama dilakukan karena permukiman mereka jauh dari darat.
Ada pula tugas rutin pagi dan sore, yakni membeli air bersih. Anak-anak naik perahu membawa banyak jeriken kosong ke daratan Kaledupa, lalu pulang dengan jeriken terisi. Nurhaliza mencatat cara mereka menyeberang. Bila angin bertiup kencang, layar tradisional dipasang, dan bila tidak, mereka mendayung.
Kegiatan yang paling digemari bernama nubba, dan hanya bisa dilakukan saat air laut turun. Anak laki-laki dan perempuan turun bersama dalam kelompok tiga sampai lima orang, dengan air setinggi betis. Tangan mereka dimasukkan ke pasir dan meraba sampai menemukan udang pasir, teripang, bulu babi, atau keong kecil. Nurhaliza memberi alasannya dengan singkat: anak-anak itu tidak memiliki daratan untuk berjalan.
Yang belum terjawab dalam catatan Nurhaliza
Catatan Nurhaliza berasal dari satu kampung, sehingga tidak bisa dibaca sebagai gambaran semua orang Bajo. Naskahnya tidak menyebut berapa orang yang diwawancarai dan berapa lama pengamatan berlangsung. Tidak ada seorang warga pun yang dikutip ucapannya. Kehidupan anak perempuan juga hanya disinggung sekilas, karena perhatian tertuju pada bapak dan anak laki-laki.
Beberapa hal kecil dalam naskah Nurhaliza bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Ungkapan Bajo Guru Sibbea sekali diartikan bekerja bersama dan sekali lagi belajar bersama, dalam dua paragraf yang meringkas penelitian yang sama. Lalu, sedikitnya warga yang menjalani lamaa dijelaskan dengan kurangnya pemahaman tentang batas perairan, alasan yang lebih dekat dengan sakai. Judul berbahasa Inggris pun menulis nama kampung itu Samplea.
Yang tertinggal dari catatan Nurhaliza adalah sebuah urutan yang rapi. Bayi dilewatkan di bawah perahu, balita mengapung di atas jeriken kosong, lalu anak lima tahun duduk di perahu bapaknya. Naskah itu tidak menilai apakah urutan tersebut baik atau buruk bagi anak-anak Sampela. Ia hanya memperlihatkan bahwa di kampung ini, pelajaran melaut dimulai sejak upacara di atas leppa.














