- Penggantinya pun tidak boleh sembarang kambing, melainkan harus kambing kumbang.
- Sepanjang besale berlangsung, redap harus terus ditabuh dan tidak boleh berhenti.
- Besale tidak dimulai dari tabuhan, melainkan dari sebuah pinangan.
- Di Tanjung Lebar ketiganya bermakna sama, yaitu dukun yang memimpin besale, bertanggung jawab sejak persiapan sampai selesai, dan mampu berkomunikasi dengan alam gaib.
Daftar Isi
- Sebelum 1972, besale sudah mengenal dua versi dan tiga tingkatan
- Maisaroh dan dua rekannya membawa pulang empat belas kata
- Dari kulit macan zaman leluhur ke kulit kambing kumbang
- Kamus 2021 dan tuturan di Tanjung Lebar tidak selalu sejalan
- Lima langkah, dari penampan sirih sampai bekunci
- Masa sekarang, ketika anak muda memilih pengobatan medis
- Yang masih perlu diperiksa dalam naskah 2023 itu
Kawasan Bahar di Kabupaten Muaro Jambi pada umumnya adalah daerah transmigrasi. Di kawasan itu Desa Tanjung Lebar mula-mula berdiri sebagai dusun pada 1972, lalu tercatat sebagai desa pertama dan tertua di Bahar. Jauh sebelum tahun itu, Suku Anak Dalam Batin Sembilan sudah lebih dulu mendiami tanah tersebut, dan bersama mereka hidup sebuah upacara pengobatan yang dinamai besale.
Upacara itulah yang ditelusuri kata demi kata oleh Siti Maisaroh, Ade Kusmana, dan Julisah Izar dalam artikel Leksikon Budaya Tradisi Besale Suku Anak Dalam Batin Sembilan di Desa Tanjung Lebar Kecamatan Bahar Selatan Kabupaten Muaro Jambi, Tinjauan: Kajian Etnolinguistik, yang dimuat Kajian Linguistik dan Sastra volume 1 nomor 3 tahun 2023. Ketiganya berasal dari Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi. Dari tuturan tiga orang Batin Sembilan di desa itu, mereka membawa pulang empat belas kata beserta makna yang dilekatkan para penuturnya.
Sebelum 1972, besale sudah mengenal dua versi dan tiga tingkatan
Batin Sembilan, menurut naskah itu, adalah suku asli Melayu Jambi yang pertama mendiami Bahar, bukan suku Jawa ataupun suku lain yang datang kemudian. Kini mereka terhitung kelompok minoritas di desanya sendiri. Besale adalah cara mereka berobat, dan upacara itu tidak tunggal: ada saleh kecik, yang dilakukan untuk membersihkan orang sakit dari segala yang kotor dan disebut pula bekasai, serta saleh besak, yang dilakukan untuk melihat penyakit.
Selain dua versi itu, besale juga bertingkat menurut beratnya sakit. Tingkat pertama diperuntukkan bagi penyakit ringan, tingkat kedua bagi penyakit sedang, dan tingkat ketiga bagi penyakit berat. Pembagian semacam ini sudah menunjukkan bahwa yang dihadapi ketiga peneliti bukan sekadar satu malam tetabuhan, melainkan sebuah tata cara yang punya nama untuk setiap benda, setiap orang, dan setiap langkahnya.
Maisaroh dan dua rekannya membawa pulang empat belas kata
Keempat belas kata itu terbagi dalam tiga kelompok. Lima di antaranya nama perlengkapan, yaitu balai, ancak kembang, redap, gambar koneng, dan bedak kramasan. Lima lagi nama cara atau proses, yakni penampan sirih, beterkas, bekampung, berentak, dan bekunci. Empat sisanya sebutan bagi orang yang terlibat: malim yang juga dipanggil sidi atau datuk, inang, sunting, dan biduan.
Balai adalah pusat upacara. Ia dibuat dari janur batang asam payo atau kelumbi, tumbuhan rawa berbatang duri yang buahnya mirip salak dan berasa asam, lalu dibentuk seperti rumah, dihias janur kelapa, dan diberi atap daun pisang yang dipanasi. Di dalamnya diletakkan sesaji dari ketan, kelapa, gula merah, minyak sayur, sahang, dan bawang merah, juga ingkung, punjung, kue-kue, bertih, lemang, cace, dan wajik.
Sesaji itu kebanyakan manis, sebab rasa manis dipandang sebagai bentuk penghargaan dan disukai makhluk yang tidak terlihat. Para peneliti membaca balai sebagai gambaran bahwa manusia membutuhkan rumah dan juga makan. Balai dipakai untuk mengobati orang yang kesurupan atau diganggu roh halus, dan jenisnya banyak, disesuaikan dengan penyakit yang diderita pasien.
Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Di dekat balai ada ancak kembang, pagar melingkar dari bambu yang diisi 33 macam kembang, di antaranya kantil, kenanga, dan kembang tangkul. Kembang yang berbau menyengat tidak boleh dipakai; yang dipilih harus wangi dan indah. Ancak ini ditujukan khusus kepada siluman, dedemit, atau lelembut, karena penyakit yang bukan penyakit awam dipercaya akan menuju ke sana. Daun lentubung ikut diletakkan di dalamnya.
Dua perlengkapan lain lebih kecil tetapi tidak kalah berpantang. Gambar koneng berbentuk menyerupai orang, dibuat dari kayu pulai dan diwarnai kuning dengan kunyit, dipegang atau digantung dengan tali, dan tanpa kemampuan khusus diyakini dapat membuat gila. Bedak kramasan adalah tanda putih di dahi dari beras rendaman yang digiling, sudah dijampi dukun agar pemakainya tidak kesambat, dan wajib dikenakan orang yang membantu sejak balai mulai dibuat.
Dari kulit macan zaman leluhur ke kulit kambing kumbang
Di antara semua kata itu, redap menyimpan perubahan yang paling jelas terbaca. Redap adalah gendang yang mengiringi besale dari awal sampai akhir. “Dulu redap terbuat dari kulit macan atau kulit kijang, akan tetapi karena hutan yang semakin menipis, kini redap terbuat dari bahan kulit kambing yang mana lebih mudah mendapatkannya,” tulis Siti Maisaroh, Ade Kusmana, dan Julisah Izar dalam naskah mereka.
Penggantinya pun tidak boleh sembarang kambing, melainkan harus kambing kumbang. Tentang masa lalu, naskah mencatat bahwa para leluhur memakai kulit harimau karena pada waktu itu hewan tersebut termasuk hama dan belum ada peraturan yang melarang. Badan gendangnya dibuat dari kayu merbau, duren daun, dan klutum, sedangkan rotan dipakai untuk menyetel agar suaranya kencang dan nyaring.
Sepanjang besale berlangsung, redap harus terus ditabuh dan tidak boleh berhenti. Karena itu penabuhnya, yang disebut biduan, harus memiliki kemampuan khusus, apalagi lagu yang dimainkan berjumlah 33 dan masing-masing punya makna sendiri. Redap juga pantang dipegang perempuan. Orang Batin Sembilan meyakini gendang itu akan retak, bahkan terbelah dua, bila pantangan tersebut dilanggar, dan upacara pun terganggu.
Kamus 2021 dan tuturan di Tanjung Lebar tidak selalu sejalan
Enam dari empat belas kata itu disandingkan para peneliti dengan Kamus Melayu Jambi Dialek Suku Anak Dalam-Indonesia, yang disusun Mira dan kawan-kawan dan diterbitkan Kantor Bahasa Provinsi Jambi pada 2021. Di titik inilah catatan lapangan dan kamus memperlihatkan jarak. Kamus mengartikan redap sebagai “rebana keramat yang dilumas minyak dan tepung hanya boleh dipukul oleh malim”, sedangkan di Tanjung Lebar penabuhnya punya sebutan sendiri, biduan.
Jarak serupa tampak pada ancak. Kamus menerangkannya sebagai anyaman bambu berukuran 30 kali 20 sentimeter yang digantung dengan empat utas tali di dekat pintu rumah, tempat meletakkan juadah. Tuturan informan menggambarkan benda yang lain rupa dan lain tujuan: pagar melingkar berisi puluhan macam kembang untuk makhluk halus. Balai pun bergeser, dari panggung untuk ritual adat di dalam kamus menjadi rumah-rumahan berisi sesaji.
Sebutan bagi orang mengalami hal yang sama. Di dalam kamus, malim ialah orang yang mampu mengusir roh jahat penyebab sakit, sidi ialah pemantra roh dalam upacara kematian, dan datuk adalah sebutan hormat untuk harimau, yang dipercaya satu keturunan dengan nenek moyang. Di Tanjung Lebar ketiganya bermakna sama, yaitu dukun yang memimpin besale, bertanggung jawab sejak persiapan sampai selesai, dan mampu berkomunikasi dengan alam gaib.
Inang, yang dalam kamus berarti istri seorang sidi, di lapangan diterangkan sebagai pendamping malim. Ia mengiringi sang dukun selama upacara, bernyanyi ketika redap dibunyikan, dan membantu menyadarkannya dengan jampi karena selama besale malim berada di bawah alam sadar. Adapun orang yang sakit dan hendak diobati disebut sunting, kata yang oleh para peneliti dijadikan contoh kosakata Melayu khas Batin Sembilan.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Lima langkah, dari penampan sirih sampai bekunci
Besale tidak dimulai dari tabuhan, melainkan dari sebuah pinangan. Keluarga si sakit, didampingi orang tua-tua yang paham, mendatangi dukun dengan penampan sirih berisi sirih, pinang, kapur, duit seringgit, rokok, lading besarung atau besi tajam, dan cincin sebentuk. Mereka memohon dengan kata “tolong saya”. Bila dukun bersedia, sirih itu dimakan dan hari baik ditetapkan; bila tidak, sirih dibiarkan dan keluarga diminta mencari dukun lain.
Langkah berikutnya bernama beterkas, yang berarti mulai bekerja: para inang atau ibu-ibu mulai memasak, sementara alat dan bahan perlengkapan disiapkan. Sesudah itu orang berkumpul di tikar pengampungan, dan inilah yang disebut bekampung. Dukun duduk, menginang, merokok, lalu permisi kepada yang tua-tua di tempat itu sebelum mulai membaca jampi.
Kemudian datang berentak, yaitu mengelilingi balai. Putaran pertama disebut rentak sale, dan jumlah putarannya bermacam-macam, mulai dari lima, tujuh, sampai sembilan. Yang berkeliling bukan hanya orang yang berobat, melainkan banyak orang. Setelah besale selesai, dukun melakukan bekunci dengan jampi, memakai sirih, kain paling sedikit dua meter, besi tajam seperti jarum atau gunting, dan jeruk nipis, supaya penyakit tidak kembali lagi.
Masa sekarang, ketika anak muda memilih pengobatan medis
Seluruh kosakata itu dicatat pada saat upacaranya sendiri mulai jarang digelar. “Seperti yang dikatakan informan bahwa Suku Anak Dalam Batin Sembilan pada masa sekarang sudah jarang melaksanakan tradisi Besale dikarenakan anak muda sudah mengikuti perkembangan zaman dengan pengobatan medis,” tulis ketiga peneliti. Mereka berharap catatan ini dapat menjadi bahasa tulis bagi masyarakat Bahar sebagai bentuk pelestarian.
Dalam rantai riset tentang besale, naskah ini menempati mata rantai yang berbeda dari pendahulunya. Para penulis menyebut kajian Dwi Kurniawan dan Rista Aldilla Syafri di Desa Nyogan, Kecamatan Mestong, yang menelusuri sejarah besale dan menyimpulkannya sebagai warisan budaya untuk pengobatan nonmedis sekaligus doa agar terhindar dari malapetaka. Maisaroh dan dua rekannya tidak mengulang pertanyaan itu, tetapi menggeser perhatian ke kata-katanya.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Yang masih perlu diperiksa dalam naskah 2023 itu
Catatan tersebut punya batas yang tampak dari naskahnya sendiri. Keterangannya bersumber dari tiga informan di satu desa, yakni ketua adat dan dukun pemimpin besale, sehingga belum tentu mewakili Batin Sembilan di tempat lain. Hanya enam kata yang dibandingkan dengan kamus, sementara 33 lagu redap dan 33 macam kembang disebut jumlahnya saja tanpa dirinci satu per satu.
Beberapa hal kecil juga dapat diperiksa pembaca. Tabel temuan menaruh gambar koneng di urutan keempat dan inang di urutan kedua belas, sedangkan uraiannya menukar keduanya dengan bedak kramasan dan sunting. Sebutan dukun ditulis malim pada satu bagian dan malin pada bagian lain. Kajian Kurniawan dan Syafri disebut dalam pendahuluan tetapi tidak tercantum di daftar pustaka, dan beda keterangan soal siapa yang boleh memukul redap tidak dibahas.
Simpulan naskah itu sendiri bersahaja: sebagian kata besale adalah kosakata Melayu Batin Sembilan, seperti sunting, dan sebagian lagi kata bahasa Indonesia yang diucapkan berbeda, seperti gambar koneng. Di desa tertua di Bahar, yang penghuni pertamanya sudah ada jauh sebelum 1972, empat belas kata itu kini punya bentuk tertulis. Ia menjadi satu mata rantai baru, menyusul sejarah besale yang lebih dulu dicatat di Nyogan.













