- Setiap kenaikan satu satuan indeks keketatan diikuti turunnya pertumbuhan ekonomi kuartalan provinsi sebesar 0,096 poin persentase.
- Pada 2020, angka penurunan itu mencapai 0,180 poin persentase dan bermakna secara statistik.
- Pada 2021 dan 2022, angkanya menyusut menjadi 0,034 dan 0,012 poin, dan keduanya tidak lagi bermakna secara statistik.
- Di provinsi-provinsi timur, angka penurunannya 0,092 poin persentase dan bermakna secara statistik.
Daftar Isi
Angka terburuk dan angka terbaik dalam catatan ekonomi 30 provinsi di China selama pandemi ternyata milik provinsi yang sama. Pada kuartal pertama 2020, ekonomi Hubei menyusut 39,3 persen. Tepat setahun kemudian, pada kuartal pertama 2021, ekonomi provinsi itu tumbuh 58,3 persen. Di antara dua titik yang berseberangan itu terbentang pertanyaan tentang berapa harga sebuah pembatasan, dan apakah harga itu sama dari tahun ke tahun.
Pertanyaan itu dijawab Yisha Ma dan Barjoyai Bin Bardai dalam The impact of China’s non-pharmaceutical interventions on economic growth during COVID-19: a provincial-level panel analysis, yang dimuat BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Ma berafiliasi dengan Xian Kedagaoxin University di Xi’an, sedangkan Bardai mengajar di Faculty of Management, Malaysia University of Science and Technology. Keduanya menelusuri 30 provinsi sepanjang dua belas kuartal, dari awal 2020 sampai akhir 2022.
Yang mereka timbang adalah pembatasan tanpa obat dan vaksin: penutupan sekolah dan tempat kerja, larangan berkumpul, pembatasan perjalanan, karantina kontak erat. Keketatannya diukur dengan indeks yang disusun Oxford COVID-19 Government Response Tracker untuk tiap provinsi. Sepanjang tiga tahun itu indeks rata-rata berada di angka 49,88, dengan rentang dari 19,89 sampai 79,2. Di sisi lain timbangan ada pertumbuhan ekonomi tiap provinsi, yang rata-ratanya 4,71 persen.
Jawaban pendeknya satu angka. Setiap kenaikan satu satuan indeks keketatan diikuti turunnya pertumbuhan ekonomi kuartalan provinsi sebesar 0,096 poin persentase. Kalimat aslinya, dalam naskah berbahasa Inggris itu, berbunyi: “kenaikan satu satuan keketatan pembatasan berkaitan dengan penurunan 0,096 poin persentase pada pertumbuhan PDB kuartalan,” tulis Ma dan Bardai. Jawaban panjangnya terbelah dua kali, sekali menurut waktu dan sekali menurut tempat.
Tahun pertama, ketika seluruh ongkos jatuh sekaligus
Tahun 2020 dibuka dengan penutupan kota Wuhan pada 23 Januari. Seluruh Hubei kemudian dikarantina sampai 8 April. Ma dan Bardai mencatat penutupan itu menghentikan sebagian besar kegiatan produksi dan ekonomi. Nilai tambah industri Hubei pada kuartal pertama merosot 46,9 persen, angka terendah dalam seluruh data mereka. Sektor jasa, perdagangan eceran, dan pariwisata di salah satu provinsi mencatat penurunan sampai 33,3 persen pada kuartal yang sama.
Guncangannya tidak berhenti di satu provinsi. Kedua penulis mengutip data resmi bahwa ekonomi Hubei turun 19,3 persen sepanjang paruh pertama 2020, sementara ekonomi China secara keseluruhan turun 6,8 persen pada kuartal pertama dibanding setahun sebelumnya. Wuhan sendiri, tempat 3.869 kematian tercatat, disebut menyumbang kontraksi 7,6 persen di wilayahnya. Pembatasan pada bulan-bulan itu ketat dan seragam.
Ketika hitungan dipisah per tahun, tahun pertama inilah yang menanggung beban paling jelas. Pada 2020, angka penurunan itu mencapai 0,180 poin persentase dan bermakna secara statistik. Besarnya hampir dua kali angka rata-rata tiga tahun. Para penulis menyebut masa ini tahap pengendalian darurat. Kesehatan masyarakat diberi prioritas mutlak di hadapan galur awal virus yang mematikan, dan runtuhnya sistem layanan medis terhindarkan dengan bayaran kontraksi ekonomi yang tajam.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Dua tahun berikutnya, ketika ongkos itu sulit lagi terbaca
Pada dua tahun berikutnya, pembatasan belum dicabut. China tetap berpegang pada strategi yang disebut naskah itu Dynamic Zero-COVID sampai 2022, berbeda dari banyak negara yang beralih ke kebijakan hidup berdampingan dengan virus. Namun jejak pembatasan pada pertumbuhan ekonomi memudar. Pada 2021 dan 2022, angkanya menyusut menjadi 0,034 dan 0,012 poin, dan keduanya tidak lagi bermakna secara statistik. Dengan kata lain, hitungan itu tidak bisa lagi membedakannya dari nol.
Untuk 2021, Ma dan Bardai menawarkan penjelasan berupa penyesuaian di dua pihak. Pemerintah beralih dari larangan menyeluruh ke pembatasan terarah, misalnya hanya di kawasan berisiko tinggi, disertai pengecualian bagi industri tertentu. Perusahaan dan rumah tangga beralih ke kerja jarak jauh dan niaga digital. Stimulus kebijakan ikut menopang. Kuartal pertama tahun itulah yang mencatat lonjakan Hubei, 58,3 persen, bersama kenaikan nilai tambah industri 90,3 persen.
Untuk 2022, penjelasannya lain. Tahun itu ditandai gelombang Omicron yang berulang, stimulus yang surut, dan lingkungan ekonomi luar negeri yang memburuk. Meski begitu, angka pembatasan tetap tidak bermakna. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa vaksinasi yang meluas, pengalaman mengelola pembatasan terarah, dan penyesuaian para pelaku ekonomi telah meringankan ongkos tambahan dari tiap pengetatan.
Dari tiga tahun itu mereka merangkai pola tiga tahap: guncangan, keseimbangan, lalu adaptasi. Dalam kalimat mereka, yang juga diterjemahkan dari bahasa Inggris, “pertukaran antara kesehatan masyarakat dan ekonomi tidak statis, melainkan berkembang secara dinamis melalui tahap-tahap yang dapat diperkirakan sepanjang pandemi yang berkepanjangan.” Tahun pertama dan dua tahun sesudahnya memakai ukuran yang sama, tetapi menghasilkan bacaan yang berlainan.
Di timur, pabrik dan jasa yang saling bergantung
Belahan kedua adalah tempat. Mengikuti pembagian Biro Statistik Nasional China, ke-30 provinsi dikelompokkan menjadi wilayah timur, tengah, dan barat. Di provinsi-provinsi timur, angka penurunannya 0,092 poin persentase dan bermakna secara statistik. Besarnya nyaris sama dengan angka nasional. Dari tiga wilayah, hanya timur yang hasilnya cukup tegas untuk disebut demikian.
Ma dan Bardai mengaitkannya dengan susunan ekonomi. Provinsi seperti Guangdong dan Jiangsu hidup dari manufaktur dan jasa yang beragam, dan keduanya bersandar pada rantai pasok yang lancar, tenaga kerja yang leluasa berpindah, serta permintaan dari luar. Pembatasan pergerakan dan penutupan tempat kerja memutus sistem yang saling bergantung itu secara langsung. Makin rumit sebuah perekonomian, menurut kerangka yang mereka pakai, makin terasa dampak kebijakannya.
Gambarannya tidak seluruhnya suram bagi timur. Ketika tiap provinsi diberi angka sendiri, Guangdong muncul dengan nilai positif 3,508 dan Jiangsu 4,421, walau yang terakhir hanya bermakna secara tipis. Untuk Jiangsu, para penulis menyebut pembatasan yang presisi sehingga rantai industri inti tidak ikut terhenti, fondasi industri yang kokoh, dan dukungan kebijakan yang tepat waktu. Provinsi yang paling peka terhadap pembatasan ternyata juga yang punya bantalan paling tebal.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Di barat dan tengah, angka yang lebih samar
Di sisi lain, wilayah barat menyajikan angka yang ganjil. Besarnya persis sama dengan timur, yakni 0,092 poin persentase, dari jumlah amatan yang juga sama, 132. Bedanya, angka barat tidak bermakna secara statistik. Penurunan yang serupa di atas kertas itu, dengan demikian, tidak cukup ajek untuk dipastikan. Timur dan barat sama dalam besaran, berbeda dalam kepastian.
Penjelasan kedua penulis untuk barat kembali ke susunan ekonomi. Provinsi-provinsi di sana bertumpu pada industri berbasis sumber daya alam dan pertanian, dua kegiatan yang tidak terlalu bergantung pada lalu-lalang orang. Bagi mereka, perbedaan ini menegaskan bahwa pertukaran antara kesehatan dan ekonomi tidak seragam antarwilayah, sehingga pendekatan satu ukuran untuk semua patut dihindari.
Wilayah tengah berada di antara keduanya dengan cara yang lain lagi. Angkanya paling kecil, 0,027 poin persentase, dan juga tidak bermakna. Jumlah amatannya pun paling sedikit, 96, dibanding 132 di masing-masing wilayah lain. Ma dan Bardai sendiri mengingatkan bahwa sampel yang lebih kecil itu dapat memengaruhi keandalan taksiran untuk wilayah tengah.
Yang ditegaskan hitungan ini
Angka utama 0,096 itu tidak berdiri sendirian. Dengan cara hitung yang berbeda-beda, besarnya bergeser antara 0,078 dan 0,154 poin persentase, tetapi arahnya selalu turun. Kedua penulis menyandingkannya dengan kajian lintas 44 negara yang mendapati angka 0,09, serta kajian lain yang menaksir negara penganut strategi nol-Covid tumbuh 0,092 poin lebih rendah daripada negara yang tidak menganutnya.
Arah yang sama muncul ketika ukurannya diganti. Bila yang dilihat hanya sektor tersier, yaitu jasa, eceran, dan pariwisata yang paling bergantung pada tatap muka, angka penurunannya 0,084 poin persentase. Bila sepersepuluh masa pembatasan yang paling keras disisihkan dari hitungan, angkanya justru membesar menjadi 0,153. Artinya hasil itu bukan semata-mata bawaan segelintir karantina paling ekstrem.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Yang masih longgar di dalam naskah
Di sisi lain, ada batas yang diakui penulisnya. Data diambil dari basis data resmi yang berwibawa, tetapi tetap bisa tidak lengkap atau tidak akurat, dan sebagian provinsi memiliki nilai yang hilang. Tibet tidak masuk hitungan karena datanya tidak tersedia. Beberapa ukuran pembanding, seperti belanja pemerintah dan nilai tambah industri, membawa kecenderungan waktu sendiri yang dapat mengaburkan taksiran utama.
Ada pula beberapa hal yang bisa dicocokkan pembaca. Tabel naskah mencantumkan angka 2021 dan 2022 bertanda negatif, sedangkan teksnya di beberapa tempat menulis 0,034 dan 0,012 tanpa tanda itu. Satu kalimat menyebut dampak pembatasan bermakna di semua wilayah dan paling lemah di barat, padahal tabel yang sama hanya menandai timur, dengan angka barat setara timur. Bagian pembahasan juga sempat menyebut kerugian 2022 kembali bermakna.
Salinan naskah yang tersedia masih berstatus belum disunting. Kalimat kuncinya pun memakai kata berkaitan, bukan menyebabkan, walau para penulis di bagian lain menyebut hasilnya sebagai pengaruh sebab-akibat. Mereka juga mencatat selisih kecil antara angka resmi kontraksi Hubei pada kuartal pertama 2020, yakni 39,2 persen, dan angka 39,3 persen dalam data mereka, yang menurut naskah berasal dari penyeragaman pembulatan desimal.
Hubei, pada akhirnya, memuat kedua sisi cerita ini dalam satu tempat. Kejatuhan 39,3 persen menunjukkan ongkos pembatasan ketika semuanya dihentikan sekaligus, dan lonjakan 58,3 persen setahun kemudian menunjukkan seberapa jauh ekonomi yang sama dapat berbalik. Naskah Ma dan Bardai tidak menimbang mana yang lebih menentukan. Yang dicatatnya adalah bahwa pembatasan yang sama terasa berat pada tahun pertama, lalu samar pada dua tahun sesudahnya.














