- Tari Sining dibawakan di atas balok kayu rumah pada ketinggian hingga dua belas meter.
- Tetua adat membacakan mantra meminta izin kepada pohon sebelum kayu ditebang di hutan.
- Mantra itu menyebut nama kayu seperti Jempa, Gesing, Kuli, Keruwing, dan Medang.
- Upacara memandikan raja yang disebut Turun Ku Lut menjadi cara adat mengkritik pemimpin.
- Kedua peneliti hanya memakai sumber tertulis dan tidak melakukan pengamatan lapangan langsung.
Daftar Isi
- Zaman Rumah Reje: Mantra Sebelum Kapak Diayunkan
- Hamzah dan Nurdin: Kayu yang Tak Bisa Ditarik Dua Orang
- Rahman dan Abdullah: Penari Meniru Burung di Ketinggian
- Syamsuddin dan Ariani: Raja yang Bersedia Dimandikan
- Dari Roh Penjaga ke Doa Slamet pada Masa Islam
- Masa Yanti dan Cahyono: Sanggar Menghidupkan yang Hampir Hilang
- Batas Kajian Hartati dan Ramdiana serta Catatan atas Naskahnya
Dahulu, di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, sebatang pohon tidak ditebang begitu saja. Seorang tetua adat lebih dulu berdiri di depannya dan membacakan mantra, meminta izin kepada penghuni alam gaib dan kepada pohon itu sendiri. Dari hutan itulah ritual Sining bermula, sebuah rangkaian adat yang mengiringi pembangunan rumah reje, yakni rumah raja, serta upacara penobatan sang raja.
Rangkaian itu kini ditelaah kembali oleh Tengku Hartati dan Ramdiana dalam artikel The Sining Ritual Tradition in The Gayo Community of Central Aceh as A Form of Revitalization of Educational Values and Local Wisdom, yang dimuat Journal of General Education and Humanities volume 5 nomor 2 tahun 2026. Keduanya mengajar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan menulis naskahnya dalam bahasa Inggris.
Kedua peneliti tidak turun ke kampung untuk menonton ritual itu, melainkan menghimpun buku, artikel jurnal, dan laporan penelitian yang pernah mencatatnya, lalu menyusunnya menjadi satu gambaran utuh. Hasilnya adalah potret Sining sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada tarian: di dalamnya ada pengetahuan tentang kayu, tata cara mendirikan rumah, cara menegur pemimpin, dan doa.
Zaman Rumah Reje: Mantra Sebelum Kapak Diayunkan
Menurut pustaka yang dihimpun Hartati dan Ramdiana, Sining secara turun-temurun dijalankan dalam dua kesempatan, yaitu ketika rumah adat dibangun dan ketika seorang pemimpin dinobatkan atau disucikan. Pada kesempatan pertama, segalanya dimulai dengan memilih dan menebang kayu di hutan. Di situlah tetua adat mengucapkan mantra yang antara lain berbunyi “Tuahmu bang si cacak bepilih kati kutebang”.
Naskah tidak menerjemahkan mantra itu kata demi kata, tetapi menerangkan maksudnya: manusia tidak boleh serakah, dan wajib meminta izin serta menghormati roh yang mendiami alam semesta. Bagi kedua peneliti, pembacaan mantra tersebut melambangkan keselarasan dengan alam. Manusia mengakui dirinya bagian dari lingkungan yang harus dijaga keseimbangannya, bukan pihak yang boleh mengambil sesuka hati.
Mantra yang sama ternyata menyimpan pengetahuan lain. Di dalamnya disebut nama-nama kayu seperti Jempa, Gesing, Kuli, Keruwing, dan Medang. Merujuk kajian Prasetyo dan Widodo tahun 2021, naskah membaca deretan nama itu sebagai tanda bahwa orang Gayo zaman dahulu mengenal betul sifat dan kegunaan tiap jenis kayu untuk bangunan. Menghidupkan Sining, dengan demikian, berarti ikut menghidupkan pengetahuan tentang hutan.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Hamzah dan Nurdin: Kayu yang Tak Bisa Ditarik Dua Orang
Sesudah ditebang, kayu harus sampai ke kampung. Pekerjaan itu dilakukan beramai-ramai oleh sekelompok laki-laki dewasa, diiringi sorak dan nyanyian. Kajian Hamzah dan Nurdin tahun 2022, yang dikutip naskah, mencatat bahwa kayu reje tiang mustahil ditarik satu atau dua orang saja. Ia menuntut tenaga seisi kampung, dan di situlah anak muda melihat sendiri bagaimana kebersamaan mengalahkan beban yang berat.
Pembagian kerja dalam ritual itu tergambar jelas. Kaum laki-laki mengambil kayu dan menegakkan tiang, sedangkan para ibu dan gadis memasak bersama-sama untuk kenduri yang kemudian dihidangkan kepada para pekerja dan semua peserta ritual. Hampir semua lapisan warga ikut serta, dari anak-anak sampai orang tua. Naskah menyebut momen makan bersama itu menumbuhkan kepedulian untuk berbagi rezeki dan kegembiraan.
Rumah adat itu sendiri bukan pekerjaan ringan. Kayunya harus dipilih, diukir, lalu dirakit tanpa paku. Aturan adat mengatur pula pemilihan tempat, arah hadap rumah menurut kiblat dan mata angin, hingga upacara menegakkan tiang utama. Mengutip Susanto dan Hidayat tahun 2022, naskah menulis bahwa rumah bagi orang Gayo bukan sekadar tempat berteduh, melainkan gambaran jagat raya dan hubungan selaras antara penghuni dan alamnya.
Rahman dan Abdullah: Penari Meniru Burung di Ketinggian
Bagian yang paling mudah dibayangkan dari ritual ini adalah tarinya. Tari Sining dibawakan di atas balok kayu rumah, yang dalam bahasa setempat disebut bere ni umah, pada ketinggian hingga dua belas meter. Penarinya meniru tingkah burung: mengepakkan kain seperti sayap dan melompat ringan dari satu sudut ke sudut lain.
Kajian Rahman dan Abdullah tahun 2022, yang menjadi sandaran naskah pada bagian ini, menafsirkan gerak tersebut sebagai cerminan kewaspadaan, keseimbangan, dan kebijaksanaan menghadapi hidup. Gerak itu melambangkan seorang pemimpin atau kepala keluarga yang harus selalu awas, gesit, dan berpandangan jauh, seperti burung yang mengawasi dari atas. Posisi penari di balok, menurut naskah, menggambarkan tanggung jawab atas keselamatan seluruh warga.
Penari tidak hanya berada di atas. Sebagian menari di lantai, dan hubungan keduanya dibaca sebagai percakapan antara alam atas, yaitu dunia rohani, dan alam bawah, yaitu dunia manusia. Pola lantai tegak lurus yang mereka bentuk dikenal sebagai reje tiang. Wijaya dan Putra, dalam kajian tahun 2021 yang dirujuk naskah, memaknainya sebagai kesatuan dalam membangun hidup, baik rumah maupun masyarakat.
Ada pula nyanyian yang menyertai gerak itu. Jannah, Fadlin, dan Naiborhu pada 2021 mencatat bahwa orang Gayo memandang sining sebagai gerak dan lagu yang membuka setiap prosesi adat. Lagu yang dilantunkan disebut jangin, dan berfungsi sebagai panggilan kepada kekuatan rohani sekaligus pengingat akan peristiwa masa lampau.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Syamsuddin dan Ariani: Raja yang Bersedia Dimandikan
Kesempatan kedua bagi Sining adalah upacara memandikan raja, yang disebut Turun Ku Lut. Prosesi ini memuat unsur tari Sining dan, menurut naskah yang merujuk Syamsuddin dan Ariani tahun 2020, merupakan cara adat mengkritik pemimpin. Rakyat yang baik bersedia mengingatkan pemimpinnya, dan pemimpin yang baik bersedia memperbaiki diri.
Dari upacara itu, kedua peneliti menarik pelajaran tentang keadilan, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kerendahan hati menerima kritik. Rakyat punya hak sekaligus kewajiban untuk menegur lewat tata cara adat, sementara pemimpin menunjukkan kerendahan hati dengan bersedia disucikan. Naskah menyebutnya hubungan timbal balik yang seimbang antara yang memimpin dan yang dipimpin.
Seluruh pelajaran itu, dari disiplin menjalankan peran sampai kerja keras merakit rumah, dirangkum Hartati dan Ramdiana dalam satu ungkapan. “Ritual Sining berfungsi sebagai kurikulum kehidupan,” tulis keduanya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Setiap orang yang terlibat, entah penari, pemusik, atau tetua adat, memikul tugas yang harus dijalankan dengan cermat, sebab kekeliruan kecil pun dapat dianggap melanggar adat.
Dari Roh Penjaga ke Doa Slamet pada Masa Islam
Sining berakar pada tradisi sebelum Islam, dan naskah tidak menutupi hal itu. Mantranya mula-mula mungkin memuat seruan kepada roh penjaga. Dalam praktik yang dihidupkan kembali, mantra itu lebih diarahkan sebagai doa memohon keselamatan dan berkah kepada Allah SWT. Doa slamet dibacakan sebelum dan sesudah prosesi.
Sesajen pun berubah. Kajian Ibrahim, Hasan, dan Usman tahun 2023 yang dikutip naskah menerangkan bahwa aneka makanan tradisional di dalamnya melambangkan hasil panen dan kekayaan alam, sehingga sesajen menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur. Kini sesajen itu disiapkan secara lebih sederhana. Nida, Rahman, dan Syarifuddin pada 2025 menamai perpaduan semacam ini sinkretisme budaya yang dinamis.
Masa Yanti dan Cahyono: Sanggar Menghidupkan yang Hampir Hilang
Lalu datang masa ketika ritual itu makin jarang digelar dan orang tua yang memahami seluk-beluknya makin sedikit. Naskah menautkannya dengan gejala yang lebih luas. Mengutip Jamiati dan rekan-rekannya tahun 2025, kedua peneliti mencatat kegelisahan wakil Majelis Adat Gayo: banyak anak muda enggan berbahasa Gayo bahkan di rumah, dan sapaan khas seperti Ine untuk ibu pun tergantikan oleh sebutan mama.
Di tengah keadaan itu, Yanti dan Cahyono pada 2021 mendokumentasikan upaya Sanggar Kuta Dance Teater menghidupkan kembali tari Sining. Upaya tersebut berjalan lewat enam langkah, yakni perumusan ulang, komunikasi, pengorganisasian, penyesuaian, perubahan bentuk, dan pembiasaan. Anak muda yang bergabung tidak hanya belajar gerak, tetapi juga sejarah dan falsafah di baliknya.
Lembaga pemerintah ikut bekerja. Wanti, Zaini, dan Sulaiman pada 2020 mencatat program Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh yang berjalan lewat survei, diskusi kelompok, rekonstruksi, pelatihan menulis, lokakarya, dan pementasan. Naskah juga menyebut tari Sining telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang memberi pijakan bagi pemerintah daerah untuk menyusun program lanjutan.
Wujud Sining pun bergeser. Dulu ia sangat sakral dan hanya hadir dalam kesempatan adat tertentu; sekarang ia juga dikemas lebih singkat dan padat untuk pariwisata dan festival budaya. Maulana, Supardi, dan Fitriani pada 2022 menulis bahwa pertunjukan itu membawa manfaat ekonomi bagi warga setempat. Hartati dan Ramdiana menilai upaya yang ada masih sepotong-sepotong dan belum menggali nilai falsafahnya secara mendalam.
Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu
Batas Kajian Hartati dan Ramdiana serta Catatan atas Naskahnya
Kedua peneliti terbuka soal batas pekerjaan mereka. “Temuan ini hanya didasarkan pada sumber dokumenter dan tidak mencakup pengamatan lapangan langsung atau pengukuran empiris atas dampak ritual terhadap pembentukan karakter generasi muda,” tulis mereka, masih dalam bahasa Inggris. Kesimpulannya, kata mereka, bersifat tafsir dan khusus untuk orang Gayo. Penelitian lapangan disarankan sebagai langkah berikutnya.
Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan beberapa hal yang patut diperiksa. Bagian hasil dan bagian pembahasan memuat uraian yang nyaris sama kalimat demi kalimat. Dua nomor dalam daftar pustaka menunjuk artikel yang sama karya Fikri dengan rentang halaman berbeda. Penetapan Warisan Budaya Takbenda dirujukkan ke tulisan tentang norma Sumang, dan di satu tempat ritual Sining tertulis “ritual singing”.
Dengan batas-batas itu, kajian ini berdiri sebagai satu mata rantai di antara tulisan yang sudah ada: ia tidak menambah catatan lapangan baru, tetapi merangkai catatan Jannah, Yanti, Rahman, dan peneliti lain menjadi satu cerita. Cerita itu bermula dari seorang tetua yang meminta izin kepada pohon, dan mata rantai berikutnya menunggu peneliti yang datang sendiri ke kampung-kampung Gayo.













